Category Archives: angingmammiri

Merayakan Keragaman di Makassar

Lelaki itu berperawakan kecil, berkacamata dan berjenggot lumayan tebal. Saya menjulukinya sebagai lelaki yang di kepalanya ada kantor yang tak pernah libur, merujuk ke puisi ciptaannya sendiri. Dia memang seorang penyair, seorang penulis, seorang pembuat film dan seorang yang selalu penuh dengan ide.

Namanya Aan Mansyur. Sabtu malam (21/8) di Dapur Makassar Jl. A. Mappanyukki dia tampil di depan sekitar 100-an orang yang merupakan wakil dari berbagai komunitas di kota Makassar untuk menjelaskan banyak hal dan berdiskusi banyak hal tentang gerakan warga yang bertajuk ?Makassar Tidak Kasar?. Diskusi ini adalah rangkaian acara yang digelar komunitas blogger Makassar, AngingMammiri.org hari itu selain Tudang Sipulung dan sharing antar komunitas. Keseluruhan acara adalah rangkaian Pesta Blogger 2010

Tahun ini kota Makassar memang mendapat kehormatan untuk menjadi kota pertama yang dikunjungi oleh tim Pesta Blogger 2010 sebelum bertandang ke 9 kota lainnya di Indonesia. Namun, kehormatan ini pula yang membuat menjadi beban bagi kami dari AngingMammiri sebagai panitia lokal. Kami merasa tertantang untuk menampilkan sesuatu yang luar biasa yang bisa jadi inspirasi dan contoh bagi komunitas blogger lain yang akan didatangi oleh rombongan dari Pesta Blogger 2010. Sayangnya waktu persiapan yang mepet membuat kami sedikit pesimis juga akan bisa memenuhi ekspektasi kami sendiri.

Get the whole story »

Kenapa Harus Saya ?

Ya,kenapa harus saya ? Itu pertanyaan yang saya ajukan ketika wacana memunculkan nama saya sebagai ketua komunitas Blogger Makassar, AngingMammiri.org muncul di permukaan. Proses penggiringan nama saya ke permukaan sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Adalah Rara dan pak Amril yang pertama kali memuculkannya. Keduanya bukan orang biasa di komuntas blogger Makassar, mereka adalah orang-orang terbaik yang pernah dimiliki oleh Blogger Makassar. Rara bahkan adalah ketua komunitas ini sejak tahun 2007.

Entah sejak kapan Rara mulai merasa dirinya sudah kurang efektif untuk berperan sebagai ketua mengingat jam terbangnya yang semakin tinggi sehingga lebih sering berada di luar Makassar. Wacana penggantian ketuapun bergulir, bersamaan dengan wacana regenerasi dalam tubuh komunitas yang selama ini kesannya hanya diisi oleh 4L ( Lu Lagi Lu Lagi). Karena semangat regenerasi itu pula maka muncul beberapa nama orang baru dan muda dalam tubuh komunitas Blogger Makassar yang dianggap mampu untuk menanggung beban sebagai ketua komunitas.

Sayangnya karena seiring perjalanan waktu, nama-nama itu kemudian mengabur hingga menghilang sama sekali. Wacana regenerasi dan ketua barupun kemudian mengambang.

Suatu hari saya chatting dengan Rara. One thing led to another hingga kemudian bermuara pada penyebutan saya untuk menggantikan Rara sebagai ketua. Sebelumnya di milis juga sudah ada pak Amril yang meneriakkan nama saya sebagai calon ketua. Saya spontan menolak dorongan Rara. Saya bergeming karena merasa tak mampu dan tak pantas menakhodai komunitas blogger luar Jawa yang terbesar ini. Karena saya bergeming, wacana menjadi mentah kembali.

Selang berbulan-bulan kemudian, dalam sebuah acara kumpul-kumpul para survivor ( saya menyebutnya begitu ) wacana tersebut mencuat kembali. Seluruh peserta acara kumpul-kumpul seperti bersekongkol menyebut satu nama meneruskan usulan Rara via telepon. Sebenarnya bukan satu, tapi tiga yaitu : Ipul, Syaifullah dan Daeng Ipul. Sama saja..!!

Get the whole story »

Konsistensi dan Passion : itu kuncinya

Namanya Kamaruddin Azis, di komunitas Blogger Makassar dan Panyingkul kami mengenalnya dengan nama Daeng Nuntung, karena memang itu nama paddaengannya. Orangnya ramah, santai dan senang melucu. Hebatnya lagi, joke yang dia sebar itu adalah joke-joke cerdas, beda sama joke-joke yang kebanyakan wara-wiri di layar televisi kita.

Dalam dunia blog, boleh dibilang beliau ini masih junior saya. Dia bergabung di Blogger Makassar dan Panyingkul selang beberapa bulan setelah saya bergabung. Pun sebagai kontributor di Panyingkul, dia berkontribusi belakangan, selang beberapa bulan setelah saya. Tapi, soal kualitas tulisan semuanya jadi terbalik. Meski terhitung junior sebagai Blogger dan Panyingkuler, tapi kualitas tulisannya luar biasa.

Di awal bergabung dengan Panyingkul, beliau konsisten menulis tentang berbagai isu kelautan karena latar belakang pekerjaannya yang aktif pada LSM yang membahas tentang isu kelautan serta tentu saja lata belakang pendidikannya sebagai sarjana kelautan. Topik lain yang selalu jadi cirri khasnya adalah tentang berbagai cerita dari tanah rencong, Aceh. Yah, kisaran tahun 2007-2008 beliau memang sedang berada di Aceh dan ikut serta dalam berbagai proyek pembangunan kembali Aceh pasca Tsunami.

Setelah kembali ke Makassar, topik tulisannya makin beragam, tidak melulu tentang laut dan Aceh lagi. Namun, meski topiknya beragam, Daeng Nuntung tetap setia pada garis yang diyakininya sejak awal. Garis yang lebih banyak berpihak pada mereka yang kadang tak pernah diekspos media, mereka yang kadang jadi komoditi para penguasa. Beberapa orang di komunitas Panyingkul menyebutnya sebagai penulis beraliran sosialis, yang banyak membahas tentang persoalan-persoalan sosial yang ada di sekitar kita.

Makin lama saya merasa tulisannya makin memikat. Gaya bertuturnya khas, ringan, lancar dan memikat. Meski kadang topik yang diangkatnya termasuk berat, tapi caranya bertutur membuat topik itu terasa ringan dan gampang dicerna. Daeng Nuntung juga punya kelebihan dari segi pengambilan sudut pandang, beberapa cerita mungkin sudah pernah kita lihat atau baca di tempat lain tapi dengan sudut pandang yang berbeda Daeng Nuntung menjadikan cerita itu berbeda dan terasa fresh.

Get the whole story »

KOIN, PRITA dan KEADILAN

koinpritaam

Seorang teman saya- namanya Kele – datang dengan sekantong plastik kecil berisi uang logam dalam berbagai nominal. Saya tidak tahu jumlahnya berapa tapi jelas berpuluh-puluh ribu rupiah.

“ Ini sumbangan Naufal untuk ibu Prita”, katanya ketika menyerahkan kantong plastik kecil itu ke saya. Naufal adalah nama anak pertamanya, usianya belum 3 tahun saya rasa.
Sehari sebelumnya saat pertama kali saya mengedarkan kaleng berisi koin sumbangan untuk Prita, Kele memang sudah cerita kalau dia punya celengan berisi koin punya anaknya di rumah.

Yah, seminggu yang lalu saya memang berinisiatif untuk mengedarkan kaleng kecil bekas tempat sarung di kantor saya sebagai wadah untuk menampung koin-koin berbagai nominal sebagai bentuk dukungan untuk ibu Prita Mulyasari. Kaleng itu sudah terisi lebih dari ¾ bagian, hasil tabungan saya setiap kali saya ada uang koin kembalian. Biasanya kaleng itu saya buka setahun sekali atau sepenuhnya saja. Biasanya isinya lebih dari Rp. 100 ribu, tapi pernah juga hanya sekitar 90-an ribu.

Terus terang saya cukup tergugah dengan kasus ibu Prita ini. Ada sesuatu dalam diri saya yang rasanya terusik oleh kasus yang ibaratnya David vs Goliath ini. Sebenarnya agak terlambat sih karena inisiatif mengumpulkan koin sudah lama bergulir sebelum saya menyadarinya. Ketika riuh rendah acara puncak ulang tahun komunitas AngingMammiri baru saja berakhir, saya berinisiatif mengajak teman-teman blogger Makassar untuk ikut mendukung gerakan moral ini dan syukurlah teman-teman menyambut baik. Kami lalu menyebar di sekitar tempat tinggal dan tempat kerja kami untuk mengumpulkan koin sebanyak mungkin dan kemudian menyatukannya untuk dikirim ke posko koinkeadilan.com. Beritanya bisa dibaca di sini.

Bagi saya gerakan ini penting, sangat penting malah. Intinya bukan pada berapa jumlah koin yang terkumpul, atau seberapa besar sensasi yang ditimbulkan, tapi intinya adalah pada seberapa besar kita peduli pada sebuah ketidakadilan yang sedang terjadi. Kasus ibu Prita melawan RS.Omni International ini adalah preseden buruk tentang wajah keadilan di negeri kita. Bagaimana mungkin seorang ibu rumah tangga yang jadi korban buruknya pelayanan rumah sakit yang kemudian berkeluh kesah tentang kesusahannya malah kemudian berakhir sebagai korban.

Get the whole story »

Catatan Tentang Sebuah Kebersamaan

IMG_4398

Pagi itu Makassar sedang cerah. Musim hujan memang belum sepenuhnya jadi penguasa meski mendung kadang rajin bergelayut. Pagi itu belasan manusia muda sedang sibuk mempersiapkan sesuatu di sebuah cafe di bilangan Tamalanrea, cafe Blogger namanya.

Manusia-manusia muda itu adalah kumpulan para blogger yang dekat dengan kota Makassar, mereka anggota AngingMammiri.org, komunitas blogger Makassar. Dan hari itu, Minggu 6 Desember 2009 adalah puncak perayaan hari ulang tahun ke-3 komunitas Blogger Makassar. Agak terlambat memang karena sebenarnya hari ulang tahun AngingMammiri jatuh dibulan November. Tapi tak apalah, yang penting niat merayakannya tetap terlaksana.

Acara tahun ini memang penuh dengan tantangan, jauh melebihi persiapan tahun-tahun sebelumnya. Masalah dimulai dengan kesibukan luar biasa sang ketua panitia, Akmal Alamsyah. Sang ketua terjebak dalam situasi yang luar biasa melelahkan akibat krisis listrik yang melanda SulSel. Sang ketua panitia memang mengabdi pada perusahaan yang sekarang sedang jadi primadona para pengumpat yang kesal akibat listrik yang putus nyambung-putus nyambung. Akibatnya, sang ketua panitia sangat sulit membagi konsentrasi untuk mengurus persiapan ulang tahun AM di antara kesibukan kerjaannya yang luar biasa.

Persiapan acara sempat terkatung-katung selama beberapa waktu, bahkan puncak acaranyapun mengalami revisi beberapa kali termasuk juga format acara. Semua karena kesibukan luar biasa dari para teman-teman panitia. Nah, kesibukan kerjaan utama yang luar biasa ini pula yang kemudian membuat munculnya beberapa miskomunikasi antar panitia dan sponsor.

Salah satu sponsor sempat menghembuskan angin surga ke kuping para panitia. Katanya akan ada kucuran dana yang lumayan untuk menutupi sebagian besar keperluan acara. Teman-teman panitia sempat terlena beberapa saat, tapi sayangnya beberapa hari sebelum acara muncul pemberitahuan kalau mereka tak jadi mengucurkan dana saat ini, mereka hanya menanggung publikasi saja. Saya masih ingat betul bagaimana kagetnya teman-teman panitia mendengar kabar ini, saya juga bisa merasakan bagaimana rasa kesal luar biasa menjalar seketika meski itu hanya lewat milis. But..show must go on..

Tuhan masih sayang pada mereka. Di saat-saat kritis, ada uluran tangan dari seseorang. Sebuah bank syariah besar berbaik hati mengajukan diri menjadi sponsor. Nafas lega bisa dihela kembali meski rasa kesal dan khawatir juga tetap muncul.

Dan benar saja, rasa kesal itu kembali muncul ke permukaan waktu tahu realisasi janji sponsor soal publikasi. Waktu yang mepet dan kerjasama yang tak jelas membuat publikasi jadi berantakan. Sang sponsor seperti setengah-setengah memberi ruang untuk publikasi, buktinya banyak teman-teman yang komplain dan resah soal penempatan baliho dan spanduk, belum lagi soal penayangan iklan koran yang hanya dimuat di koran kelas abal-abal. Luar biasa mengesalkan..!!

Hasilnya terlihat di hari H. Sejam sudah lewat dari tenggat di mana seharusnya acara dimulai, tapi peserta yang hadir betul-betul bikin cemas. Kursi yang sudah ditata rapi masih kosong melompong. Beberapa panitia sudah mulai kasak-kusuk. Seorang panitia yang hari itu bertugas sebagai MC malah berharap bisa menarik rombongan pengantar orang mati yang kebetulan melintas di depan cafe Blogger untuk bisa singgah dan memeriahkan acara.

Tapi sekali lagi, show must go on..tak ada kata mundur..

Get the whole story »