
Pagi itu Makassar sedang cerah. Musim hujan memang belum sepenuhnya jadi penguasa meski mendung kadang rajin bergelayut. Pagi itu belasan manusia muda sedang sibuk mempersiapkan sesuatu di sebuah cafe di bilangan Tamalanrea, cafe Blogger namanya.
Manusia-manusia muda itu adalah kumpulan para blogger yang dekat dengan kota Makassar, mereka anggota AngingMammiri.org, komunitas blogger Makassar. Dan hari itu, Minggu 6 Desember 2009 adalah puncak perayaan hari ulang tahun ke-3 komunitas Blogger Makassar. Agak terlambat memang karena sebenarnya hari ulang tahun AngingMammiri jatuh dibulan November. Tapi tak apalah, yang penting niat merayakannya tetap terlaksana.
Acara tahun ini memang penuh dengan tantangan, jauh melebihi persiapan tahun-tahun sebelumnya. Masalah dimulai dengan kesibukan luar biasa sang ketua panitia, Akmal Alamsyah. Sang ketua terjebak dalam situasi yang luar biasa melelahkan akibat krisis listrik yang melanda SulSel. Sang ketua panitia memang mengabdi pada perusahaan yang sekarang sedang jadi primadona para pengumpat yang kesal akibat listrik yang putus nyambung-putus nyambung. Akibatnya, sang ketua panitia sangat sulit membagi konsentrasi untuk mengurus persiapan ulang tahun AM di antara kesibukan kerjaannya yang luar biasa.
Persiapan acara sempat terkatung-katung selama beberapa waktu, bahkan puncak acaranyapun mengalami revisi beberapa kali termasuk juga format acara. Semua karena kesibukan luar biasa dari para teman-teman panitia. Nah, kesibukan kerjaan utama yang luar biasa ini pula yang kemudian membuat munculnya beberapa miskomunikasi antar panitia dan sponsor.
Salah satu sponsor sempat menghembuskan angin surga ke kuping para panitia. Katanya akan ada kucuran dana yang lumayan untuk menutupi sebagian besar keperluan acara. Teman-teman panitia sempat terlena beberapa saat, tapi sayangnya beberapa hari sebelum acara muncul pemberitahuan kalau mereka tak jadi mengucurkan dana saat ini, mereka hanya menanggung publikasi saja. Saya masih ingat betul bagaimana kagetnya teman-teman panitia mendengar kabar ini, saya juga bisa merasakan bagaimana rasa kesal luar biasa menjalar seketika meski itu hanya lewat milis. But..show must go on..
Tuhan masih sayang pada mereka. Di saat-saat kritis, ada uluran tangan dari seseorang. Sebuah bank syariah besar berbaik hati mengajukan diri menjadi sponsor. Nafas lega bisa dihela kembali meski rasa kesal dan khawatir juga tetap muncul.
Dan benar saja, rasa kesal itu kembali muncul ke permukaan waktu tahu realisasi janji sponsor soal publikasi. Waktu yang mepet dan kerjasama yang tak jelas membuat publikasi jadi berantakan. Sang sponsor seperti setengah-setengah memberi ruang untuk publikasi, buktinya banyak teman-teman yang komplain dan resah soal penempatan baliho dan spanduk, belum lagi soal penayangan iklan koran yang hanya dimuat di koran kelas abal-abal. Luar biasa mengesalkan..!!
Hasilnya terlihat di hari H. Sejam sudah lewat dari tenggat di mana seharusnya acara dimulai, tapi peserta yang hadir betul-betul bikin cemas. Kursi yang sudah ditata rapi masih kosong melompong. Beberapa panitia sudah mulai kasak-kusuk. Seorang panitia yang hari itu bertugas sebagai MC malah berharap bisa menarik rombongan pengantar orang mati yang kebetulan melintas di depan cafe Blogger untuk bisa singgah dan memeriahkan acara.
Tapi sekali lagi, show must go on..tak ada kata mundur..
Get the whole story »