Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Salah satu pilihan mie kering Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya...

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat,...

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Author Archive

Komik ; Kamu Ditilang !! 11

Komik ; Kamu Ditilang !!

Rasanya sudah lama saya tidak menyentuh lagi sketch book dan pensil 2B. Karena dorongan beberapa teman, akhirnya saya kembali berhasrat menyentuhnya dan mulai mencorat-coret kembali.

Sekitar seminggu yang lalu, tagar #kamuditilang ramai di lini masa saya. Pelakunya sebagian besar adalah anak-anak Makassar. Mulanya karena iseng di tengah malam dan kemudian jadi efek domino dan membuat banyak yang ikut serta meramaikan. Isinya lucu-lucu, lumayan membuat geli dan bahkan gelak tawa.

Bertepatan dengan masa ketika saya merasa kembali bersemangat mencorat-coret di sketch book, akhirnya saya tergoda untuk membuat komik dengan tema dari tagar #kamuditilang itu. Hanya butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya saya berhasil membuat dua komik.

Saya baru ingat seminggu kemudian. Komik yang sudah saya bikin akhirnya saya pindahkan ke komputer. Tadinya berniat untuk mewarnai, tapi keburu malas sehingga akhirnya saya cuma memberi dialog.

Dan, inilah kedua komik saya. Masih kasar karena memang belum sempat saya perhalus apalagi saya warnai. Dua komik ini membuat saya bersemangat untuk membuat komik-komik lainnya, meneruskan hobi yang sudah lama tertinggal.

Selamat menikmati dan mohon kritikannya.

Kamu ditilang 1

 

Kamu ditilang 2

 

January 21, 2012 in Coretan, Sabtu-Minggu
Makassar Nol Kilometer ; Dari Supporter PSM Hingga Cafe di Losari 10

Makassar Nol Kilometer ; Dari Supporter PSM Hingga Cafe di Losari

Makassar Nol Kilometer

Mengenal Makassar tidak hanya lewat brosur wisata atau catatan manis di situs-situs travel atau milik pemerintah saja. Makassar punya banyak cerita, dari pinggiran kota hingga ke pusat kota. Sebagian cerita itu dirangkum 14 orang warga dalam buku Makassar Nol Kilometer.

Cerita ini dibuka dengan kisah para supporter setia klub sepakbola PSM. Cerita tentang bagaimana mereka bersedia menyabung nyawa mengawal klub kesayangan mereka yang tandang ke kota-kota lain di luar Sulawesi, tentang bagaimana mereka harus berhadapan dengan amarah supporter tuan rumah yang jumlahnya berlipat ganda. Juga cerita tentang semangat mereka memerahkan stadion Mattoangin setiap kali PSM menjadi tuan rumah untuk klub tamu.

Cerita seperti ini mungkin sudah sering terbaca di berbagai media, utamanya media lokal. Tapi kedalaman cerita yang dipaparkan di bab : Pengawal Pasukan Ramang karya Muh. Nur Abdurrahman ini melebihi kedalaman cerita wartawan biasa.

Buku ini memang dibuat dengan dasar menggali kepedulian warga biasa tentang kotanya. Ragam cerita yang terangkum adalah ragam cerita tentang keseharian, tentang kehidupan warga biasa yang mungkin tidak akan bisa ditemukan di media mainstream, apalagi media mainstream lokal yang lebih banyak diisi acara seremonial pejabat dan gosip artis.

Simak cerita tentang penjual jajanan buroncong ( kue pancong khas Makassar ) di seputaran Tamalanrea atau tentang para payabo ( sebutan untuk para pengumpul barang bekas atau pemulung ) Kisah remeh temeh itu biasanya tidak mendapat tempat di koran lokal, atau kalaupun mendapat tempat, porsinya kecil dan nyaris tidak terlihat.

Buku ini dibagi dalam 4 bagian, Komunitas, Kuliner, Fenomena dan Ruang. Masing-masing memotret lebih dalam tentang kehidupan warga biasa di kota Makassar. Cara penulisannya beragam, sesuai dengan gaya dari keempatbelas penulis meski tetap punya benang merah yang sama yaitu feature yang dalam dan memikat.

Makassar Nol Kilometer terbitan penerbit Ininnawa ini sudah masuk cetakan kedua. Tiga orang editornya dikenal baik sebagai orang-orang yang aktif di dunia literasi kota Makassar. Mereka adalah Anwar J. Rahman, Nurhady Sirimorok dan M. Aan Mansyur.

Kedalaman cerita, sudut pandang yang berbeda dan cara mengemas yang apik menjadikan Makassar Nol Kilometer sebagai sebuah buku yang harus dibaca oleh mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang Makassar, atau mereka yang ingin mendengar kisah nyata perjuangan masyarakat pinggiran sebuah kota yang terus berkembang dan memoles wajahnya hingga kelihatan menor.

Makassar Nol Kilometer dibuka oleh tulisan tentang supporter setia pasukan Ramang ( julukan PSM ) dan ditutup dengan cerita tentang cafe di sekitar pantai Losari yang makin hari makin terjepit hingga sekarang nyaris menghilang. Mari melihat sisi terdalam kota Makassar lewat buku Makassar Nol Kilometer.

 

[dG]

January 20, 2012 in Buku-ku, Jumat, Review
Mari Membantu Mereka Yang Telah Membantu 3

Mari Membantu Mereka Yang Telah Membantu

Sokola Pesisir Mariso

Sekola Pesisir atau Sokola Makassar, sebuah oase di tengah padang bagi warga pesisir Mariso. Selama 10 tahun mereka sudah membantu warga miskin kota di pesisir pantai Makassar untuk bisa mengenal huruf dan memiliki keterampilan. Sekarang mereka sedang kesulitan dan butuh bantuan kita.

Namanya Habibie, tubuh jangkungnya dibalut kulit legam. Tampilannya agak sangar dengan rambut gondrong sebahu. Tapi siapa yang sangka kalau hatinya sangat lembut. Habibie adalah salah satu relawan di Sekola Pesisir atau kadang disebut Sokola Makassar. Selama bertahun-tahun dia mengabdikan hidupnya bersama relawan lainnya membantu anak-anak dan warga pesisir Mariso untuk hidup lebih layak.

Sekolah Pesisir adalah sebuah oase, dia lahir di tengah-tengah pemukiman kumuh di pesisir pantai Makassar tidak jauh dari landmark kota ini, Pantai Losari. Awalnya mereka hanya ingin membantu anak-anak miskin yang tidak sempat bersekolah formal itu agar bisa mengenal huruf, membaca dan menulis. Perlahan-lahan mereka diterima dengan baik oleh warga di sana. Bukan hanya anak-anak kecil yang ikut larut bersama mereka tapi juga anak remaja dan bahkan orang tua yang dengan diam-diam meminta diajarkan tulis dan baca.

Mereka bukan cuma mengajarkan baca tulis, belakangan Sekola Pesisir mulai mengajarkan keterampilan. Komputer, photoshop, membuat kerajinan tangan, dan bahkan fotografi mereka ajarkan kepada anak-anak dan remaja itu. Berharap bisa menjadi bekal mereka untuk hidup lebih layak di masa depan.

Habibie, Salah satu relawan pengajar di Sokola Pesisir

Sekola Pesisir berdiri di atas tanah pinjaman milik seorang warga setempat. Bangunan dari kayu milik mereka adalah sumbangan dari Pertamina. Untuk operasional tiap bulan mereka mendapat bantuan dari Sokola pusat di Jakarta. Sekola Pesisir memang berafiliasi pada Sokola Rimba punya Butet Manurung. Selebihnya mereka memutar roda aktifitas dari sumbangan para sukarelawan.

” Selalu saja ada sumbangan yang bisa membuat kami bertahan hidup,” Kata Habibie.

Akhir tahun 2011 berita tidak mengenakkan menghampiri Sekola Pesisir. Pemilik tanah yang meminjamkan tanahnya berharap mereka bisa pindah secepatnya, sang pemilik ingin mengambil tanahnya kembali. Tak soal apa alasannya, toh itu memang haknya dia. Sekola Pesisir diberi waktu sampai bulan Mei 2012 untuk pindah dan mencari tempat baru.

Sekarang teman-teman dari Sekola Pesisir sedang meretas jalan mengumpulkan donasi untuk membiayai kepindahan mereka. Sempat terbetik niat untuk menutup sekolah itu, tapi warga setempat bersikeras agar mereka tidak pindah, mereka sudah terlanjur jatuh hati pada Sekola Pesisir yang sudah banyak membantu mereka selama ini.

Jaringan komunitas di Makassar sekarang ini sedang berusaha merapatkan barisan, melakukan segala macam cara untuk bisa membantu agar Sekola Pesisir tetap berdiri dan memberi manfaat untuk warga kurang mampu di pesisir Makassar itu.

Bagi anda yang berniat untuk mengulurkan tangan, ada banyak ragam cara. Di antaranya :

Memberikan donasi sukarela kepada mereka melalui akun :

BNI Cab. Mattoangin,

a.n. Andi Sulfiani qq Sokola Pesisir

no. 0243682214

Menyumbangkan pakaian layak pakai anda yang nantinya akan dijual murah kepada masyarakat setempat dan hasil penjualannya akan ditabung untuk penggalangan dana sekolah mereka. Sumbangan pakaian layak pakai anda bisa diberikan langsung ke alamat

  • Sokola Pesisir Mariso di Jl. Nuri lr. 300, no 131, Makassar (a.n Efi Sulfiani di 081355505895,?Habibi?di? 081242249056 dan Imran di 082190358797)
  • Kampung Buku, Komp. CV Dewi, Jl. Abd. Dg. Sirua 192E, Makassar (a.n Anwar Jimpe Rahman, 081342398338)

Membeli produk karya anak-anak Pesisir Mariso berupa kerajinan tangan, buku, foto, lukisan dan film. Info mengenai produk anak-anak Pesisir Mariso bisa menghubungi : Efi Sulfiani (081355505895)

Menyebarluaskan informasi ini ke sanak, kerabat, teman dan handai taulan lainnya.

Memberitahu bos, pimpinan, direksi kantor tempat anda bekerja agar diikutkan kedalam program CSR kantor anda.

Turut hadir dan berpartisipasi pada acara penggalangan dana yang pelaksanaannya akan diumumkan dalam waktu dekat.

Mari luangkan sedikit waktu, tenaga dan mungkin rejeki anda untuk ikut bersama-sama membantu Sekola Pesisir. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi mereka, bagi warga kurang beruntung di pesisir Mariso.

Sekarang saatnya membantu mereka yang sudah membantu. Help Sokola Makassar

?Tulisan lain tentang Sokola Pesisir bisa diklik di sini :

1. Sekolah Pesisir

2. Radioholicz.

 

[dG]

January 19, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Merindukan Persimpangan Bernama Panyingkul 9

Merindukan Persimpangan Bernama Panyingkul

Panyingkul.com

Dalam kehidupan kadang kita bertemu dengan banyak orang-orang yang luar biasa, beberapa di antaranya menjadi guru yang meninggalkan jejak ilmu yang mendalam. Saya pernah menemukan orang-orang seperti itu di sebuah persimpangan bernama Panyingkul.

Suatu hari di bulan Juni tahun 2007. Saya masih anggota baru di milis Anging Mammiri, saya malah belum pernah kopdar dengan salah satu dari mereka. Suatu perbincangan di milis mengangkat tema tentang bioskop Makassar jaman dulu. Saya tertarik untuk ikut menimpali. Sewaktu remaja saya terobsesi memasuki semua bioskop yang ada di kota Makassar yang waktu itu jumlahnya banyak dan beragam. Ternyata ingatan saya masih kuat, dan timpalan saya soal bioskop itu menarik perhatian seorang teman di milis yang kemudian akrab dengan saya.

Adalah Rusle yang kemudian memberi saya semangat untuk menuliskan cerita tentang bioskop-bioskop di Makassar yang sudah almarhum itu dan mengirimnya ke Panyingkul. Ragu, itulah reaksi pertama saya. Sebelumnya saya sudah wara-wiri ke situs itu, menyimak tulisannya satu persatu dan merasa kalau tulisan yang ada di sana sangat berkualitas. Reportase warga yang dikemas dengan sangat rapih mengikuti kaidah jurnalistik yang baku. Rapih tapi tidak kaku.

Rusle terus menyemangati saya, dan akhirnya saya coba menuliskan cerita tentang bioskop Makassar itu. Menunggu beberapa lama sebelum dapat email dari editor. Tulisan saya masih harus diperbaiki di beberapa tempat. Wajar pikir saya, toh ini pengalaman pertama saya membuat sebuah tulisan yang agak serius dan berkualitas. Proses asistensi berlangsung beberapa kali dan ditutup dengan beberapa kritikan dan masukan yang sangat berharga.

26 Juli 2007 akhirnya tulisan Bioskop-bioskop Makassar dalam kenangan tayang di Panyingkul. Bangga merasuk ke dalam dada. Saya tahu bukan hal yang mudah bagi penulis pemula untuk membuat tulisannya bisa dipajang di sana. Prosesnya ketat dan tidak asal muat. Hari itu saya resmi bergabung dengan situs jurnalisme warga yang dilahirkan sepasang penulis dan jurnalis, Lily Yulianti Farid dan Farid M Ibrahim itu.

Berikutnya saya semakin terpacu untuk menulis. Saya seperti seorang anak SD yang begitu bersemangat di hari-hari pertamanya masuk sekolah. Saya tidak hanya bersemangat, saya juga makin rajin mengumpulkan semua ilmu yang berserakan di setiap pembicaraan di maling list atau email revisi selepas saya mengirim tulisan. Situs Panyingkul jadi bacaan wajib setiap hari.

Panyingkul menjadi bayangan yang melekat di kepala saya, ke manapun saya pergi saya selalu berusaha mencari bahan tulisan apa saja yang bisa di-panyingkul-kan ( istilah kami untuk sebuah cerita yang layak ditulis dan ditayangkan di Panyingkul ) Saya makin peka pada susana sekitar, saya makin peduli pada apa yang terjadi. Buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo” karangan Goenawan Mohammad menjadi “kitab suci” dalam membuat ragam tulisan feature.

Sebelum bergabung dengan Panyingkul ( dan sebelum menjadi blogger) saya adalah orang yang cuek. Apa yang terjadi sepanjang tidak menyangkut saya, saya biarkan berlalu. Tak perlu mencari tahu.

Panyingkul adalah bahasa Makassar yang diplesetkan. Artinya persimpangan. Sebuah pilihan nama yang sangat tepat, karena di sana kami semua berkumpul persis seperti rombongan remaja yang berkumpul di persimpangan, di sudut pertemuan beragam jalan dan kemudian berbagi apa saja.

Panyingkul memang persimpangan, tempat orang-orang dari beragam latar belakang pekerjaan, latar belakang gender dan latar belakang geografis berkumpul, berbagi cerita dan berbagi ilmu. Saya ikut di sana dan selalu merasa kagum pada diskusi-diskusi yang mengalir lancar tanpa ada yang merasa lebih tahu atau lebih pandai dari yang lainnya. Bertahun-tahun di sana saya tetap setia memunguti remah-remah ilmu yang bertebaran. Menghimpunnya sedikit demi sedikit dan kemudian berusaha membingkainya dalam praktek agar tak hilang.

Tulisan saya di Panyingkul.com

Saya sangat bersemangat. Sepanjang masa aktif saya, total saya menyumbang 32 tulisan. Termasuk yang paling produktif bersama Daeng Nuntung dan Dandy.

Hari ini saya masih bersemangat untuk menulis, bersemangat untuk mengisi blog sederhana ini dengan apa saja yang ada di kepala saya. Ada waktu ketika saya menengok ke belakang dan melihat kalau saya hari ini terbentuk oleh pengalaman bertahun-tahun selama berkumpul dengan teman-teman di Anging Mammiri dan tentu saja di Panyingkul.

Saya selalu merasa Panyingkul dan Anging Mammiri sesungguhnya dua universitas yang membentuk saya sekarang ini. Di Panyingkul saya belajar memperbaiki tulisan, belajar mencari gaya tulisan saya sendiri dan tentu saja belajar dari orang-orang hebat namun rendah hati. Di Anging Mammiri saya belajar berorganisasi, belajar menghargai persahabatan dan belajar menertawakan kehidupan. Saya yang sekarang setengahnya dibentuk oleh Anging Mammiri dan setengahnya dibentuk oleh Panyingkul.

Hari ini entah kenapa saya tiba-tiba merindukan persimpangan itu, tempat di mana kami dulu pernah bercanda, saling mencela dan saling belajar satu sama lain. Saya merindukan sebuah persimpangan bernama Panyingkul.

 

 

[dG]

January 18, 2012 in Blogging, Rabu
Mencicipi Alam di Bantimurung 9

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung

Air terjun Bantimurung

Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan karst atau gunung kapur dengan gua-gua alaminya serta tentu saja air terjun yang terletak di Taman Nasional Bantimurung. Daerah yang dulu juga dikenal sebagai Kingdom Of Butterfly

Minggu sore yang berawan, agak berbeda dengan hari-hari lain di bulan Januari yang biasanya dirundung hujan deras. Saya kembali menjejakkan kaki di Bantimurung, sekitar 50 Km sebelah utara kota Makassar. Sore itu saya berniat bertemu dengan teman-teman Blogger Maros, memenuhi undangan mereka untuk sekadar berkumpul dan berbagi.

Bantimurung tidak terlalu ramai meski hari itu hari minggu. Musim hujan yang sedang lucu-lucunya memang membuat orang agak enggan meluangkan waktunya menikmati liburan di alam bebas. Ketika saya datang, beberapa orang nampak mulai beranjak pulang. Beberapa baruga ( rumah serupa pendopo ) juga nampak kosong melompong, mungkin sudah ditinggal para pengunjung.

Aliran air di sungai

Aliran air di sungai

Air sungai nampak agak deras meski tidak terlalu tinggi. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu pernah datang ke Bantimurung tepat ketika musim hujan mencapai puncaknya, ketika itu air mengalir sangat deras dan sangat tidak mungkin untuk dinikmati. Beberapa orang nampak menikmati aliran air yang tidak terlalu deras itu, pun dengan air terjun yang masih bersahabat. Jumlahnya tak sebanyak biasanya ketika sungai selebar kira-kira 20 meter itu terasa sesak oleh pengunjung.

Bantimurung, setiap mendengar namanya yang terbayang di kepala saya adalah air terjun dan kupu-kupu. Saya lupa kapan tepatnya pertama kali mengunjungi tempat wisata terkenal itu. Mungkin sekitar 19 tahun lalu. Jaman kecil dulu, ketika hiburan masih sangat kurang, Bantimurung adalah tujuan favorit untuk berwisata. Saingannya tak banyak, paling-paling hanya pantai Barombong, Pulau Khayangan dan Pulau Lae-Lae.

Tahun berganti tahun, beragam hiburan pilihan mulai menggantikan kehadiran Bantimurung. Mall dan hiburan modern masuk dan tumbuh di kota Makassar. Perlahan-lahan Bantimurung tidak menjadi favorit lagi. Ada rentang yang lama bagi saya sebelum kembali mengunjunginya.

Meski bukan tujuan utama lagi, Bantimurung ternyata tetap memukau. Deretan pohon tinggi yang rapat dan mungkin berusia ratusan tahun bersanding dengan semilir angin yang sejuk, gemericik air di sungai dan tentu saja air terjunnya yang kadang deras tapi masih bersahabat. Perubahan tetap terasa memang, setidaknya saat ini sudah lebih susah mendapati kupu-kupu liar beterbangan. Lebih gampang menemukan kupu-kupu yang diawetkan dan ditaruh di dalam bingkai kaca di dekat gerbang masuk.

Beberapa sudut Bantimurung

Beberapa sudut Bantimurung

Bantimurung adalah Kingdom Of Butterfly, sebuah kerajaan bagi spesies kupu-kupu. Sebagian di antaranya tidak ditemukan di tempat lain. Perlahan kerajaan itu seperti mulai memudar kejayaannya. Memang ada penangkaran khusus buat mereka yang ingin mengabadikannya dalam bentuk kering dan berbingkai, tapi di alam liar sendiri kupu-kupu itu semakin susah dilihat dengan mata telanjang.

Bantimurung bukan cuma air terjun, sungai dan kupu-kupu. Luangkan waktu anda sejenak untuk sekadar menikmati gua alami yang bertebaran di sekitar taman nasional itu. Masuklah ke dalamnya dan nikmati hasil karya sang pencipta yang tergores pada stalagmit dan stalagtit yang memukau. Setidaknya ada dua gua yang bisa dijadikan tempat rekreasi di sekitar permandian alam Bantimurung.

Akses ke Bantimurung memang agak jauh meski tidak bisa dibilang susah. Berkendaraan pribadi atau sewaan hanya memakan waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Makassar. Jalanannya lumayan mulus meski memang tidak terlalu lebar. Dengan berkendaraan umum memang agak lama. Dari kota Makassar bisa mengambil kendaraan umum ke kota Maros, dan dari ibukota kabupaten itu menumpang kendaraan umum lagi yang akan membawa anda ke Bantimurung. Harga karcis masuknyapun tidak mahal, cukup dengan Rp. 10.000,- bagi orang dewasa.

Tahun berganti tahun, Bantimurung masih tetap menarik. Pemda Maros sepertinya berusaha menarik pengunjung dengan berbagai inovasi. Ada tempat untuk outbound, ada permainan bola air dan ada flying fox. Patut diacungin jempol. Bantimurung memang terlalu indah untuk dilewatkan. Merasakan segarnya aliran air sungai selepas jatuh di air terjunnya memang sungguh menggoda. Merasakan sejuknya udara yang bersih terasa seperti memberi ruang baru di paru-paru kita warga kota yang terbiasa dengan udara berpolusi.

Tahun berganti tahun, Bantimurung masih menjadi sebuah tempat untuk mencicipi alam dengan segala kesegarannya. Semoga untuk waktu yang lama, atau bahkan selamanya. Ayo, datang dan nikmati Bantimurung.

January 17, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Bisnis Online ; Sekarang dan Besok 17

Bisnis Online ; Sekarang dan Besok

Bisnis Online ( sumber : Google )

Jaman sekarang, bagi masyarakat di perkotaan Internet sudah jadi bahan pokok kesepuluh. Melengkapi 9 bahan pokok lainnya. Internet ada di mana-mana dan digunakan siapa saja. Perlahan, bisnis online jadi salah satu celah yang dimanfaatkan pelaku Internet.

Suatu hari seperti biasa saya menyambungkan diri dengan internet. Sebuah kebiasaan yang susah untuk dihilangkan, minimal dalam 5 tahun belakangan ini. Satu persatu laman saya kunjungi, sampai akhirnya berhenti di sebuah laman luar negeri yang khusus dibuat sebagai toko online. Satu persatu itemnya saya amati dan kemudian jatuh cinta pada sebuah item yang memang sudah lama saya inginkan.

Pilih barang, ikuti prosedurnya, masukkan nomor kartu kredit dan voila !! Selesai sudah. Beberapa minggu kemudian barang yang saya inginkan sudah ada di tangan. Tak perlu repot ke toko, apalagi item yang saya inginkan memang tidak tersedia di toko manapun di Makassar.

Sekali berhasil, selanjutnya ketagihan. Kali ini bukan cuma laman dari luar, tapi juga beberapa laman dari dalam negeri. Buku, kaos, hingga kamera dan perlengkapannya sukses tiba di tangan saya tanpa ada ritual belanja konvensional yang terlibat di dalamnya.

Itulah bisnis online. Ketika makin banyak orang terhubung ke internet, makin banyak pula yang merasa nyaman dengan interaksi dunia maya yang menghapus kontak mata dan sentuhan fisik. Belanjapun tak perlu capek ke toko dan kadang berdesakan. Semua prosesnya hanya sebatas layar monitor dan papan kunci.

“Dapat uang dari blog itu mudah, asal tahu caranya”

Tagline itu saya temukan di sebuah weblog. Melihat isinya, blog itu memang menawarkan cara mudah untuk menjaring uang menggunakan blog dan internet tentu saja. Itu bukan satu-satunya blog yang menawarkan cara seperti itu. Gunakan Google, tuliskan kata kunci “Bisnis Online” dan akan ada jutaan hasil temuan. Menakjubkan bukan ?

Satu dasawarsa terakhir bisnis online jadi pilihan hidup bagi para praktisi internet. Lupakan bisnis konvensional, internet sudah menawarkan banyak peluang untuk jadi ladang uang yang baru. Ragam bisnisnyapun bermacam-macam, dari yang jualan benda, jualan jasa hingga hanya jualan spot untuk iklan. Selalu saja ada sesuatu yang baru yang bisa dijadikan alat untuk menggarap ladang uang itu.

Lupakan cara lama ketika kita harus masuk ke toko, menyentuh sebuah benda, merasakan teksturnya, mematutnya di kaca dan membayarnya di kasir. Lupakan juga cara lama ketika kita membuka halaman demi halaman sebuah koran, mencari deretan iklan di iklan baris hanya demi sebuah layanan jasa.

Cara itu perlahan akan menjadi cara yang purba.

Toko jaman sekarang sudah banyak berubah. Tak perlu susah payah memacu kendaraan ke toko, tinggal menghubungkan diri dengan internet, bukan laman, pilih barangnya, lakukan transaksi online dan bersabarlah, barangnya akan datang.

Tapi memang tidak segampang itu. Orang Indonesia masih banyak yang tidak percaya pada toko online. Ritual melihat langsung barang yang dimaksud, menyentuhnya, merasakan tekturnya, mencium aromanya dan mematutnya di cermin masih jadi ritual yang susah untuk dilepaskan. Salah satu penghambat bisnis online memang adalah ritual itu. Tapi semua akan berjalan alami, toko online akan jadi pilihan pada waktunya.

Tapi bisnis online juga ibarat pisau yang tajam. Jatuh di tangan koki akan jadi alat membuat masakan yang lezat, tapi jatuh di tangan pembunuh akan jadi senjata mematikan.

Bisnis online dengan segala plus dan minusnya tidak hanya memudahkan orang mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkannya, tapi juga memudahkan orang untuk tertipu. Bukan hanya satu dua orang yang terjatuh pada kenyataan barang yang dipesannya tidak sebagus impian, atau bahkan sama sekali tertipu. Uang melayang, barang tak datang.

Celah selalu ada, dan orang jahat selalu hidup di mana saja untuk mengintip celah kecil itu dan memanfaatkannya. Tapi dunia memang begitu bukan ? Semua punya sisi buruk dan baik, malaikat berbaju putih selalu bersanding dengan setan berbaju hitam.

Bisnis online juga jadi celah untuk mereka yang berniat membantu orang-orang yang mau terjun ke dalamnya. Weblog yang saya sebut di atas salah satunya. Menawarkan cara yang jitu untuk terjun ke dunia bisnis online, termasuk tentu saja bagaimana mensiasatinya agar benar-benar bisa menjadi alat panen di ladang uang.

Selain cara seperti itu, sekolah blog juga sudah hadir. Cara yang mungkin lebih rumit karena ada proses pendaftaran dan tatap muka di kelas, tapi hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan bukan ? Sekolah blog yang baik adalah yang tidak sekadar mengajarkan cara berbisnis online, tapi juga bagaimana menggunakan etika dalam berbisnis online. Percuma punya toko online kalau cuma menyesatkan konsumen. Ini tentu jadi tantangan untuk mereka yang berniat menularkan cara berbisnis online lewat sekolah blog.

Jaman terus berubah,suatu hari nanti internet akan jadi kebutuhan yang luar biasa besar melampaui apa yang kita bayangkan sekarang. Saat itulah bisnis online akan menghadapi tantangan yang semakin besar dan tentu saja keuntungan yang semakin besar. Hanya yang kuat dan jujurlah yang akan bertahan, karena dunia maya sesungguhnya sangat kejam. Bersiaplah untuk menantikan masa itu.

Tulisan ini diikutkan pada lomba blog yang diadakan oleh Astamedia Group.

January 16, 2012 in Opini, Senin
Bahasa Gaul Makassar ; Dari Pace Sampai Blender 25

Bahasa Gaul Makassar ; Dari Pace Sampai Blender

Pantai Losari

Pantai Losari

Tiap daerah biasanya punya bahasa gaul sendiri. Ada yang lahir karena pengaruh budaya lokal, ada juga yang lahir sebagai resapan budaya kontemporer dari kota besar. Berikut adalah sebagian kecil bahasa gaul anak Makassar yang entah masih sering terpakai saat ini atau sudah mulai punah.

Tiap daerah di Indonesia sepertinya punya bahasa gaul. Bahasa yang berkembang dari bahasa daerah ataupun serapan dari luar. Belakangan ini fenomena bahasa gaul sendiri semakin marak di Indonesia, penggunanya kebanyakan adalah anak-anak muda yang masih ABG atau komunitas-komunitas tertentu.

Menurut laman : BahasaKita.com :

bahasa gaul sudah muncul sejak awal 70-an. Awalnya digunakan para bromocorah agar orang diluar komunitas mereka tidak mengerti, jadi mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Lama kelamaan kebiasaan itu mulai ditiru oleh anak-anak remaja usia belasan tahun, bahkan menjadi semakin bervariatif kosakatanya misalnya kata saya yang dalam dialek jakarta atau betawi menjadi gue berubah menjadi ogut atau gout.

Makassar juga punya bahasa gaul sendiri. Beberapa di antaranya berasal dari bahasa daerah yang berkembang menjadi bahasa sehari-hari lintas suku di kota Makassar dan beberapa di antaranya adalah serapan dari bahasa luar, termasuk bahasa Indonesia.

Berikut adalah beberapa contoh bahasa gaul anak Makassar.

Pace, Mace dan Kace. Ketiga kata ini adalah bahasa gaul yang menggantikan kata Bapak, Ibu dan Kakak. Pace adalah singkatan dari : Papa Cerewet, Mace singkatan dari Mama Cerewet dan Kace adalah singkatan dari Kakak Cerewet. Entah kapan mulainya, yang jelas saya sudah mengenal bahasa ini sejak masa SMP sekitar awal tahun 90an dan sampai sekarang masih dipakai.

Toloaaaa ( dibaca dengan A pajang di akhir kata ). Istilah ini kurang lebih berarti : memangnya saya tolol ? Biasanya digunakan dalam percakapan ketika seseorang menyarankan sebuah hal bodoh kepada kita. Saya pertama mendengarnya sekitar pertengahan tahun 90an dan sekarang sudah sangat jarang digunakan lagi.

Ces, Cika, Parner, Dekkeng . Tiga kata ini adalah kata sapaan. Cess diambil dari kata cs, umum dipakai dalam pergaulan anak muda di Indonesia. Cika’ asal katanya dari Cikali atau sepupu dalam bahasa Makassar. Parner aslinya adalah partner, sedang Dekkeng berarti beking dalam bahasa Makassar. Bahasa ini biasanya digunakan oleh warga urban di pinggiran kota Makassar. Sekarang saya sudah jarang mendengarnya.

Talekang. Kata ini mungkin hampir sama artinya dengan : ingin dipuji. Biasanya disematkan pada orang yang banyak gaya dan kelihatan memang ingin dipuji. Sepertinya kata ini adalah serapan dari bahasa Makassar, tale-telakang. Sampai sekarang masih banyak digunakan.

Tantara ko ? . Kalimat tanya yang artinya kurang lebih : memangnya kamu tentara ? Digunakan ketika seseorang berlagak agak berlebihan atau sok jagoan sehingga teman lainnya jadi sedikit kesal. Populer di tahun 90an, dan sekarang sepertinya sudah jarang digunakan.

Parecu. Arti harfiahnya kira-kira membuat ricuh. Disematkan kepada orang yang dianggap membuat kericuhan atau kegaduhan atau mungkin curang. Masih sering digunakan jaman sekarang dan asalnya memang dari bahasa Makassar.

Kabbulampe, Anassambala, Anassongkolo. Tiga kata itu adalah tiga kata umpatan halus dalam bahasa gaul anak Makassar. Kadarnya mungkin sama dengan kata jancuk dalam bahasa Jawa. Saya belum pernah menemukan arti persis dari kalimat-kalimat itu, tapi biasanya memang dipakai untuk mengumpat meski belakangan artinya sudah tidak sekasar dulu. Varian lainnya ada juga anassikopang atau bermakna : anak sekop. Entah apa artinya.

Piti-piti. Bermakna ngasal atau asal ngomong. Ini berasal dari bahasa Makassar, biasanya disandingkan dengan kata kerja semisal piti kana-kanai atau asal ngomong. Sampai sekarang masih sering digunakan.

Sibi’, Limbi’, Sisa’, Limrats. Kata-kata ini menggambarkan besaran mata uang dari bahasa Makassar. Sibi berarti sibilanggang atau seratus. Limbi berarti limam bilanggang atau lima ratus, sisa’ berarti sisabbu atau seribu dan limrats adalah varian singkatan dari lima ratus. Masih sering digunakan, khususnya di daerah urban pinggiran kota.

Kompor. Bukan kompor buat masak pastinya, tapi singkatan dari Kombinasi Pongoro atau kombinasi gila-gilaan. Biasanya digunakan untuk menggambarkan sebuah kombinasi pakaian yang warnanya tabrakan dan tidak matching. Sudah lama saya tidak mendengar istilah ini.

Pabote‘. Artinya tukang bohong, kalau berbohong jadinya cukup dengan bote’. Masih sering digunakan jaman sekarang.

Nagigi’ makie dan Nablender makie. Dua kalimat yang artinya kurang lebih : kena gigit deh atau diblender deh. Entah asal katanya dari mana, tapi saat ini dua kalimat di atas sudah jarang digunakan. Sudah masuk kategori bahasa gaul yang jadul.

Apa yang saya tulis di atas adalah sebagian kecil dari bahasa gaul yang beredar di kalangan remaja Makassar. Masih banyak lagi bahasa lainnya meski kalau saya amati jaman sekarang anak-anak muda Makassar sudah mulai lebih sering menggunakan bahasa gaul dari ibukota. Pengaruh ibukota sudah semakin deras sehingga kadang anak-anak itu sudah malu menggunakan bahasa gaul yang lebih berciri lokal.

Di laman panyingkul.com pernah dimuat sebuah artikel yang merangkum lebih banyak bahasa gaul Makassar. Silakan dibaca di sini.

January 12, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Oblong Merah Muda Menghiasi Kota Malang 18

Oblong Merah Muda Menghiasi Kota Malang

Oblong Merah Muda

Saya beruntung dapat kesempatan mengunjungi kota Malang sekaligus menghadiri rangkaian acara puncak peringatan ulang tahun komunitas Blogger Malang. Meski hadir atas undangan dari Blogger Nusantara, saya tetap membawa pesan dari Anging Mammiri.

Sabtu (7/1) udara Malang masih terasa sejuk, awan kelabu menggantung di atas sana. Di sebuah kampus di bilangan Jalan Candi Kalasan, Malang berkumpul ratusan orang. Sebagian besarnya adalah anak muda, mungkin mahasiswa. Mereka semua bersemangat di bawah udara yang sejuk dan awan mendung menggantung. Hari itu teman-teman dari komunitas Blogger Malang menggelar acara puncak ulang tahun mereka yang diberi nama : Oblong Merah Muda ; Obrolan Blogger Malang Mengenang Sejarah, Memajukan Budaya.

Sekitar pukul 9 acara dimulai dengan tarian tradisional. Hari itu ada beberapa segmen yang kesemuanya berbentuk talkshow. Setelah perkenalan dari para sponsor seperti XL, ID Blognetwork dan Blogger Nusantara acara kemudian memasuki talkshow inti yang disela dengan pemutaran video pendek tentang sejarah kota Malang.

Suasana acara Oblong Merah Muda

Di segmen pertama, hal yang dibahas adalah tentang budaya dan sejarah kota Malang. Ada dua orang pembicara yaitu Dwi Cahyono, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Timur, penggagas Festival Malang Kembali (Malang Tempo Dulu), Ovan Tobing, penyiar Radio Senaputra FM, MC, mantan pengurus tim sepakbola PERSEMA dan AREMA serta perwakilan dari XL Axiata.

Tema yang dibahas adalah tentang sejarah dan perkembangan kota Malang. Kota Malang adalah salah satu kota yang memiliki sejarang panjang di Indonesia karena sudah ada sejak jaman kerajaan Singosari. Nama kota Malang sendiri sebenarnya dilekatkan sebagai gambaran betapa daerah tersebut sangat sulit untuk ditaklukkan. Salah satunya karena letaknya yang secara alami dipagari oleh 4 gunung.

Sebagai kota dengan perjalanan sejarang yang panjang, Malang ternyata bernasib malang. Kota yang dulu pernah diikutkan dalam kontes desain tata kota di Perancis oleh pemerintah Hindia-Belanda itu makin lama makin kehilangan ciri khasnya. Banyak bangunan bersejarah yang kemudian dihilangkan satu persatu, digantikan oleh ruko modern dan mall. Malang susah payah melawan gerusan kemajuan jaman, tertatih menjaga tapak sejarah mereka yang sesungguhnya menyimpan sejuta kenangan indah dan berjuta-juta pelajaran penting lainnya. Malang bernasib sama dengan banyak kota lain di Indonesia, termasuk Makassar.

Talkshow sesi pertama membuat saya banyak berpikir dan kemudian miris melihat keadaan kota-kota besar di Indonesia. Semua kota ingin menjadi kota yang lebih modern, hanya saja sayangnya mereka kadang lupa untuk mempertahankan ciri khas dan jejak rekam sejarah di kota mereka. Akibatnya, kota-kota menjadi seragam, modern dan kadang tidak manusiawi.

Selepas istirahat yang dibarengi dengan penampilan grup nasyid yang memukau, acara dilanjutkan dengan dua segmen lagi. Satu segmen yang menghadirkan Farid Gaban ( jurnalis dan traveler ) bersama Paman Tyo ( blogger senior ) serta di segmen penutup yang menghadirkan Moch. Zamroni, penggiat konten lokal dan web developer Kota Malang dan Herdian Ferdianto, web/mobile developer, pembuat aplikasi Blackberry Translator.

Lewat pukul empat sore acara hari pertama selesai sudah. Seperti umumnya acara para blogger, acara hari itu juga ditutup dengan foto bersama.

Keesokan harinya, acara berlanjut. Kali ini adalah sesi jelajah kota Malang yang membawa para peserta mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota Malang. Saya tidak sempat ikut dari awal, saya hanya sempat bergabung ketika teman-teman berkumpul di Museum Brawijaya.

Oblong Merah Muda di Museum Brawijaya

Ada hal yang unik dari acara di hari kedua ini. Warna merah muda biasanya akrab dengan kaum Hawa, dan kadang kaum Adam merasa enggan menggunakan apapun yang berwarna merah muda, takut tingkat keadaman mereka turun beberapa strip. Tapi, karena tema acara adalah Oblong Merah Muda, maka suasana jadi berbeda. Puluhan cowok-cowok kemudian lalu-lalang dengan kaos oblong merah muda yang jadi kaos khas acara hari itu. Sungguh pemandangan yang tidak umum, dan menurut saya semua terlihat bagus-bagus saja. Tidak ada yang kemudian terlihat jadi lebih feminin hanya karena berkaos oblong merah muda.

Hari itu oblong merah muda menghiasi kota Malang.

Dari museum Brawijaya rombongan kemudian bergerak ke Restoran Inggil. Seperti yang saya tulis sebelumnya, restoran ini terasa sangat berbeda dengan menggabungkan konsep museum dan tempat makan. Sayang sekali di tempat itu saya tidak bisa berlama-lama karena harus secepatnya mengejar pesawat dari Jakarta.

Secara umum rangkaian acara Oblong Merah Muda itu bisa dibilang berhasil meski memang ada beberapa catatan kecil di sana-sini. Teman-teman blogger Malang mengaku ini acara besar mereka yang pertama dan karenanya bisa dimaklumi kalau memang masih ada beberapa kekurangan, utamanya di koordinasi antar panitia. Semoga saja acara ini bisa jadi pelajaran penting bagi mereka untuk membuat acara lain yang lebih keren di hari yang lain.

Sukses untuk teman-teman Blogger Malang, semoga makin jaya. Keep blogging in a free world !!

January 11, 2012 in Blogging, Rabu
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi 32

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang

Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di sebelah selatan Surabaya itu. Akhirnya keinginan saya terwujud juga, meski judulnya bukan jalan-jalan.

Jumat jam 15:00 WIB, pesawat Sriwijaya yang saya tumpangi mendarat dengan agak kurang mulus di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Setelah ditunda selama sejam, akhirnya saya berhasil meninggalkan Cengkareng dan sejam kemudian mendarat di Malang. Langit Malang dirundung awan kelabu, hujan agak deras meski tidak dibarengi angin kencang. Keluar dari pesawat kami disambut beberapa petugas yang menyodorkan payung. Bandara Abdul Rachman Saleh ternyata lebih kecil dari yang saya duga. Tentu berbeda jauh dengan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya saya meninggalkan bandara. Saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman saya pada bandara kecil itu. Ini adalah bandara kecil pertama yang saya datangi setelah selama ini hanya mendatangi bandara semacam Sultan Hasanuddin, Soekarno Hatta, Adi Sucipto dan Juanda.

Perlahan taksi bandara yang saya tumpangi meninggalkan bandara menuju hotel D?Fresh di bilangan Blimbing, tepatnya di Jalan Candi Trowulan. Malang lumayan ramai, itu kesan pertama yang saya tangkap. Udaranya juga sejuk apalagi karena hujan mengguyur kota itu.? Setelah sempat kebingungan, akhirnya sampai juga saya di D?Fresh. Hotel baru yang menggabungkan konsep etnik dan minimalis. Begitu tiba saya langsung tertarik dengan arsitekturnya, apalagi di dinding tangga menuju lantai dua terpasang beberapa foto legenda musik seperti Jimmi Hendrixx, Kurt Cobain, Bob Marley dan lain-lain. Belakangan saya juga melihat poster besar musisi lainnya seperti John Lennon, Freddie Mercury, Marilyn Monroe dan Michael Jackson. Suasana hotelnya nyaman, sepi dan memang cocok untuk beristirahat.

Tak berapa lama saya kemudian bergabung dengan rombongan dari Id Blognetwork. Ada mbak Rika, mas Verry, mas Arief EW dan ki demang Suryaden. Siang itu kami cuma makan di restoran hotel, karena belum makan sedari pagi saya memilih nasi goreng dan segelas kopi french press. Hujan mulai reda, tapi udara sejuk masih memeluk.

Malam mulai tiba ketika kami ke kamar dan bersiap-siap untuk makan malam. Selepas maghrib, teman-teman dari Blogger Ngalam datang menjemput. Saya dan rombongan dari IBN memang datang untuk menghadiri acara Oblong Merah Muda yang digelar teman-teman Blogger Ngalam.

Dari D?Fresh kami bergerak ke Grand Foodcourt Jl. Jenderal Ahmad Yani. Sebuah tempat makan yang merupakan tempat berkumpulnya beberapa warung makan top di kota Malang. Awalnya saya sempat bingung mau memilih apa dan meminta rekomendasi dari Haqqi, ketua komunitas blogger ngalam yang menemani kami malam itu.

” Semuanya enak koq “, Begitu kata Haqqi.

Baiklah, saya mulai menimbang-nimbang. Saya mencoba memilih makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya, dan pilihan jatuh pada tahu campur. Saya sudah pernah menikmati tahu campur sebelumnya, tapi mungkin sudah sekitar 10 tahun lalu, itupun di Makassar.

Tahu Campur

Tak perlu menunggu lama sebelum makanan datang. Saya mulai mencicipi. Ah, rasanya ada yang kurang pas. Tahu campur di Malang rasanya agak manis dan gurih, berbeda dengan makanan khas Bugis-Makassar yang asin-asin. Kekurangan lainnya adalah karena tidak ada jeruk nipis, sebagai orang Makassar asli, makan makanan berkuah tanpa jeruk nipis rasanya memang agak aneh. Untung karena mas Verry yang memesan ayam bakar madu dapat jatah jeruk nipis meski kecil. Jeruk nipis punya mas Verrylah yang kemudian saya tebarkan ke tahu campur sebelum saya santap. Lumayan, ada rasa kecut yang saya rindukan.

Malam itu kami tidak banyak ke mana-mana, setelah makan kami mengunjungi persiapan teman-teman panitia Oblong Merah Muda di STIEM Malang dan kemudian mengunjungi barak tempat penginapan para blogger tamu yang berada di sebuah kompleks TNI AD. Malang makin terasa menggigit malam itu, dinginnya mengingatkan saya pada kota Malino, apalagi di beberap tempat pohon pinusnya juga masih banyak.

Malam itu saya tertidur dengan lelap.

Keesokan harinya agenda kami padat. Dari pagi sampai sore saya dan rombongan IBN mengikuti acara Oblong Merah Muda yang diadakan dalam rangkaian ulang tahun komunitas blogger Malang atau Globbers. Saya suka tempat pelaksanaan acaranya, berada dalam lingkungan kampus STIEM yang asri dengan beberapa pohon pinus tinggi dan udara yang sejuk. Tentang acara ini akan saya tulis tersendiri.

Tempat acara Oblong Merah Muda

Acara berlangsung sampai sore hari sebelum akhirnya kami kembali ke hotel. Sebenarnya malam harinya kami berencana menjelajahi kuliner lainnya dari kota Malang, sayang karena hujan kemudian turun dan ternyata bukan perkara mudah mencari taksi di kota Malang. Akhirnya kamu hanya makan di restoran hotel. Di penghujung malam kami akhirnya sempat berkunjung ke barak tempat teman-teman blogger luar kota menginap.

Keesokan harinya, Malang lumayan cerah meski udaranya masih sejuk. Setelah mandi dan bersiap-siap kami yang sudah dijemput teman dari Blogger Malang kemudian bersiap mengikuti rangkaian acara Oblong Merah Muda hari kedua. Tapi sebelumnya kami mampir dulu menikmati salah satu kuliner terkenal dari Malang. Apalagi kalau bukan Bakso Kota Cak Man.

Bakso Kota Cak Man

Baksonya enak, dengan beragam pilihan selain bakso. Sebenarnya di Makassar Bakso Kota Cak Man juga sudah buka cabang meski memang rasanya tentu saja tidak selezat di tanah aslinya.

Dari bakso Cak Man kami bergabung dengan rombongan Oblong Merah Muda yang sedang berada di museum Brawijaya. Saya sudah ketinggalan penjelasan sejarah dari guide museum dan akhirnya berkeliling sendiri di museum itu. Berbagai peninggalan sejarah militer tersimpan rapih di sana meski kelihatan sedikit berdebu. Seperti umumnya museum di Indonesia, museum Brawijaya juga terlihat agak kumuh dan kurang menarik. Ini memang masalah klasik museum di negeri kita.

Selepas dari museum kami beranjak ke restoran Inggil. Sebuah restoran yang konsepnya sangat menarik. Gabungan antara museum dan restoran. Saya yang penggemar sejarah dan barang-barang lama merasa sangat betah melihat koleksi restoran berupa poster tua, mesin jahit tua, radio tua, perangko tua dan banyak lagi.

Salah satu sudut Restoran Inggil

Sayangnya saya tidak bisa lama-lama. Jadwal pesawat jam 21:00 dari Surabaya memaksa saya dan Rara untuk buru-buru meninggalkan acara. Macet di Porong tidak terduga katanya, dan kami tentu saja tidak mau ketinggalan pesawat. Setelah berpamitan dengan panitia dan teman-teman blogger lainnya, kami meluncur ke hotel untuk siap-siap pulang.

Tiga hari dua malam di Malang rasanya tentu belum cukup. Masih banyak hal lain yang harus saya jelajahi di Malang. Kunjungan perdana itu kemudian membuat saya bertekad untuk kembali lagi ke sana, tentunya dengan alasan yang lain, jalan-jalan.

Malang, saya akan kembali..!!

January 10, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Jadilah Penemu Yang Mengubah Dunia ; Ikuti Lenovo DoNetworkID Program 6

Jadilah Penemu Yang Mengubah Dunia ; Ikuti Lenovo DoNetworkID Program

Lenovo DoNetworkID

Pernah berpikir hidup di jaman 150 tahun lalu ? Ketika televisi belum ditemukan, internet belum dibayangkan dan bahkan listrik dan bola lampu masih dianggap impian ? Beruntung ya kita hidup di abad ini, abad di mana semua serba mudah.

Coba bayangkan hidup di zaman dahulu kala; Belum ada sepeda, listrik, apalagi internet. Ke luar kota harus berjalan kaki berhari-hari. Mau mengirim pesan, harus minta bantuan merpati pos. Mau mengumumkan sebuah berita penting ke seisi kampung, harus pakai kentongan.

Sepertinya kita memang harus berterima kasih kepada para inovator yang telah membantu membuat hidup kita jauh lebih baik. Terima kasih kepada Thomas Alva Edison yang telah menemukan lampu listrik. Terima kasih kepada Wright Bersaudara yang telah menemukan pesawat terbang. Kalau mau menyebutkan mereka satu-persatu, tentu postingan ini akan jadi sangat panjang tidak karuan.

Tapi para innovator itu bukan hanya di luar negeri Di Indonesia pun, kita bisa menyebut banyak nama yang telah sukses sebagai inovator. Ada nama Tirto Utomo, orang yang pertama kali memproduksi dan menjual air putih dalam kemasan. Ada nama Satya Witoelar, orang yang membangun layanan sosial media pertama di dunia yang berbasis lokasi. Dan masih banyak nama lainnya.

Orang kemudian berpikir dan merenung, Bisakah saya jadi innovator dan penemu juga ? Ada yang bilang bisa dan tentu ada yang bilang : Tidak Bisa. Tapi ternyata ada cara untuk jadi seorang innovator, berikut adalah beberapa tipsnya :

  1. Tekuni hobi dan passion Anda secara serius dan mendalam.
  2. Cari masalah apa yang paling sering dipermasalahkan orang-orang di lingkungan Anda, tapi sampai saat ini belum ada solusinya.
  3. Pikirkan dan cari tahu, ide kreatif apa yang bisa digunakan untuk mengatasi masalah tersebut.
  4. Langsung action. Segera wujudkan ide tersebut menjadi sebuah inovasi baru.

Pernah mendengar tentang program DoNwtworkID ? Ini adalah sebuah program yang bisa membantu anda untuk menjadi penemu atau seorang innovator. Program ini juga member ruang yang sebesar-besarnya bagi anda untuk ikutan.

Berikut ada penjelasan singkat tentang program ini, silakan dibaca dan disimak baik-baik. Siapa tahu, informasi ini bisa menjadi peluang besar bagi Anda untuk menjadi seorang inovator yang mengubah peradaban dunia menjadi lebih baik dari sebelumnya.

  • Pendaftaran: 8 Desember 2011 s/d 25 Januari 2012
  • Pemilihan peserta favorit: 5 s/d 25 Januari 2012
  • Finalis: 26 Januari s/d 29 Februari 2012
  • Pengumuman pemenang: 1 Maret 2012

Berita yang sangat menyenangkan: Tim Anda akan dipandu oleh 3 mentor terhandal di Indonesia, yaitu:

  1. Budi Putra (konsultan teknologi
  2. Nurdiansyah (peneliti dan pemerhati pendidikan)
  3. Onno W Purbo (independent IT writer)

Bila Anda tertarik, coba bentuk tim dari sekarang. Sebab program ini memang mengharuskan seperti itu. Lalu cari dan urun rembug mengenai ide dan proyek inovatif apa yang akan diikutsertakan.

Setelah itu, silahkan langsung bergabung dengan Lenovo DoNetworkID Program. Jangan lupa untuk dukung program Do Network ini dengan menggunakan twibbon di http://t.co/Yae7e1Dt

Info lebih lanjut mengenai program ini bisa dibaca di http://bit.ly/t5zUmm

Semoga bermanfaat ya.

Oh ya, berikut ini juga ada beberapa pendapat dari para mentor acara ini, silakan disimak di sini :

Pak Onno :? http://bit.ly/xg2Ov8

Pak Nurdiansyah :? http://bit.ly/zF9bvi

 

January 10, 2012 in Random Post
Apa Sih Susahnya Antre ? 4

Apa Sih Susahnya Antre ?

Antri (sumber : Google )

Entah kenapa, orang Indonesia banyak yang masih susah untuk diajak antre dengan tertib. Sebagian karena memang tidak tahu fungsi antre, sebagian lagi karena memang bebal.

Suatu hari di Bandara Sultan Hasanuddin. Di depan konter sebuah maskapai saya berdiri dengan tabah. Di depan saya ada segerombolan anak-anak muda, kalau tidak salah ada 5 orang. Sebagian dari mereka berjaket almamater sebuah sekolah tinggi yang memproduksi abdi negara. Antrian masih panjang. Saya masih sabar sembari menunduk melekatkan mata pada blackberry.

Barisan berjalan perlahan dan saya masih serius memandang BB. Ketika menengadahkan kepala tahu-tahu seorang ibu berdiri di depan saya agak menyamping, persis di belakang rombongan anak-anak muda tadi. Saya mengernyitkan dahi. Saya lupa apa ibu itu sudah lama berdiri di sana atau memang baru menyerobot antrean. Barisan antrean memang kurang rapih karena anak-anak muda di depan saya bergerombol, tidak berbaris.

Perang batin muncul di kepala saya. Haruskah saya menegur ibu itu ? Satu sisi saya kesal karena dia menyerobot antrean meski saya juga kurang yakin dia menyerobot. Bagaimana kalau dia memang sudah duluan di depan saya ? Kebetulan saya juga sedang malas beradu argumen apalagi melayani celoteh seorang ibu-ibu yang dari tampangnya kelihatan ketus. Sudahlah pikir saya, dan akhirnya saya membiarkan ibu itu check in duluan.

Beberapa menit sebelum ibu itu selesai check in tiba-tiba seorang wanita tua berdiri di depan saya dan siap-siap maju ke konter check in. Saya menegurnya dengan halus.

” Maaf, ibu satu rombongan dengan ibu itu ? “, Sambil menunjuk ibu yang sedang check in.

Dia menggeleng. Kemudian masih dengan halus saya bilang, ” Maaf bu, antre dulu ya..? ”

Dia meminta maaf dan kemudian berjalan ke antrean paling belakang. Dari pakaiannya saya menganggap beliau tidak tahu makna antre, karena itu juga saya menegurnya dengan halus.

Dan, bisa jadi saya sedang diuji hari itu. Persis ketika ibu di depan saya selesai antre, tiba-tiba seorang bapak dengan jaket hitam necis dan koper yang ditarik menerobos antrean dan maju ke konter check in. Kali ini saya tidak menegur halus lagi. Nada suara saya tinggikan sedikit.

” Pak, maaf pak..antre dong !! ”

Petugas konter check in juga menegur dengan kalimat yang hampir sama dan si bapak dengan senyum yang entah karena malu ketahuan atau karena apa kemudian berjalan ke belakang antrean. Saya hanya menggeleng. Hampir saja saya meledak hari itu.

Kejadian itu bukan pertamakalinya, saya lupa tepatnya kapan tapi yang jelas saya pernah hampir meledak dan menegur keras seorang bapak yang menyerobot antrean di depan konter check in bandara. Si bapak kelihatan rapih dan saya yakin sangat mengerti soal antre, tapi herannya dengan santainya dia menyerobot antrean tepat di depan saya. Saya menegurnya dengan agak keras, dia berbalik dan saya menatapnya tajam. Waktu itu saya tidak peduli apa yang akan terjadi, kalau memang harus berantem saya siap meladeni. Beruntung karena petugas juga menegur keras si bapak dan dengan bersungut-sungut dia berjalan ke antrean paling belakang.

Saya jadi bertanya-tanya, sebegitu susahnyakah untuk antre ? Sebegitu susahnyakah untuk bersabar sedikit dan tertib sedikit biar semuanya lancar ? Menyerobot antrean dan kemudian bergerombol karena tidak sabar dan ingin buru-buru justru membuat semuanya jadi kacau bukan ?

Saya jadi ingat postingan teman saya di sini yang cerita tentang kebiasaan orang Indonesia menyikapi antrean. Banyak masalah yang kemudian timbul dari keengganan kita untuk tertib mengantre, bahkan beberapa di antaranya berbuah menjadi petaka yang merenggut korban jiwa. Antre zakat, antre tiket sepakbola dan bahkan antre produk Blackberry.

Apa sih susahnya antre ? Entah sampai kapan saya dan mungkin juga anda akan mengajukan pertanyaan yang sama. Mungkin sampai kita sudah tidak menemukan lagi orang-orang yang menerobos antrean di saat kita sedang sabar berdiri mengantri.

Bagaimana menurut anda ?

January 09, 2012 in Opini, Senin
Apollo Dalam Genggaman 6

Apollo Dalam Genggaman

Blackberry Curve Apollo

Saya mungkin memang berjodoh dengan Blackberry. Setelah tahun lalu menang lomba blog yang diadakan XL, tahun ini kembali menang live twit yang diadakan oleh Indosat. Dua-duanya berhadiah Blackberry.

Malam di sebuah tempat makan terkenal di Makassar yang letaknya di tepi pantai. Saya bersama 5 orang teman lainnya, sebagian besar dari komunitas Blogger Makassar-Anging Mammiri duduk tenang mengikuti sebuah acara yang diadakan oleh Indosat. Hari itu kami diundang oleh Indosat dalam rangka launching produk mereka, Indosat Mobile yang dikhususkan untuk pengguna Blackberry

Seperti layaknya acara yang diadakan oleh provider, beragam hadiah juga dibagi dalam acara itu. Mulai dari pulsa bernominal ratusan ribu sampai beberapa biji Blackberry. Salah satunya adalah yang dibagikan untuk pemenang lomba live twit.

Mendengar ada lomba live twit, saya dan teman-teman yang datang otomatis langsung semangat. Mulailah kami membanjiri lini masa dengan twit-twit tentang acara yang berlangsung. Isinya macam-macam tentu saja, dari informasi acara sampai twit-twit santai. Blackberry Apollo yang jadi hadiah utama tentu jadi incaran. Jadilah kami ngetwit sekreatif mungkin sambil berharap BB Apollo itu jatuh ke tangan.

Menjelang akhir acara, undian door prize dibacakan. Pemenangnya juga berhak atas BB Apollo dan jatuh tepat dua meter di samping saya. Seorang bapak yang beruntung. Dengan sumringah dia naik ke panggung. Saya masih tenang, selama ini saya memang kurang berjodoh dengan yang namanya undian, selama belasan tahun ikut undian saya hanya menang dua kali. Terakhir waktu ikut FGD Internet Sehat dengan Acer Iconia sebagai hadiahnya.

Di penghujung acara, pengumuman pemenang live twit kemudian dibacakan. Sang MC naik ke panggung dan kemudian membacakan isi twit pemenang. Isinya :

Keren !! @indosatmobile adalah provider pertama di Asia-Pasifik yang menyediakan layanan unduh di App World dengan mata uang lokal | @isatbb

denTaq yang duduk di depan saya langsung melonjak dan bilang : itu twitta..!! ( itu twit kamu ) , saya masih tidak percaya sebelum nama akun twitternya dibacakan. Dan yah, Alhamdulillah karena memang ternyata saya yang berhak mendapatkan BB Apollo itu. Wuih, rasanya sungguh luar biasa, bahkan beberapa menit setelah proses penyerahan hadiah saya masih saja gemetaran. Meski bukan pertama kalinya tapi tetap saja momen keberuntungan itu membuat saya gemetaran dan senang bukan main.

Begitulah, akhirnya keesokan harinya BB Apollo itu saya pakai secara resmi. Menggantikan BB Gemini yang sudah setia menemani saya selama satu tahun ini. Bagaimana kesan saya memegang BB Apollo ? Senang tentu saja.

Saya bukan orang yang hapal spesifikasi atau mengerti banyak tentang gadget, jadi setidaknya saya hanya bisa cerita soal performance luarnya saja. Sejauh ini BB Apollo yang saya pegang memang belum terlalu nyaman. Penyebab utamanya adalah karena bodinya yang terlalu tipis, beda dengan Gemini yang agak ramping. Hal lainnya adalah karena bagian belakangnya yang licin sehingga agak mengkhawatirkan di genggaman. Keyboardnya juga agak keras, mungkin karena masih baru.

Tapi selain itu, semuanya terasa menyenangkan. OS7 yang jadi platformnya tentu memberikan kelebihan dibanding OS yang saya pakai sebelumnya. Kelebihan lainnya tentu saja ada pada kameranya yang 5MP plus flash yang tertanam.

Saya tidak bisa bicara banyak soal kelebihan ataupun kekurangan Apollo dibanding Gemini misalnya, yang saya tahu saya senang menggunakannya. Apalagi karena gratis !!

Berikut adalah spesifikasi resmi dari Blackberry Apollo :

  • Quad-band GSM and tri-band 3G support
  • 7.2 Mbps HSDPA and 2 Mbps HSUPA
  • 2.46″ 16M-color TFT landscape display of HVGA+ resolution (480×360)
  • Full QWERTY keyboard
  • Optical trackpad
  • 800MHz processor
  • 512MB RAM, 512MB ROM
  • Wi-Fi b/g/n connectivity
  • NFC support
  • GPS with A-GPS connectivity
  • Bluetooth v2.1
  • 5 megapixel fixed focus, VGA video recording
  • BlackBerry OS 7
  • Hot-swappable microSD card slot (up to 32GB), 4GB card in the box
  • 3.5 mm audio jack
  • Decent audio quality
  • Office document editor
  • Smart dialing
  • DivX and XviD video suppor
January 06, 2012 in Review
Rekayasa Lalu Lintas Yang Bikin Nyaman 6

Rekayasa Lalu Lintas Yang Bikin Nyaman

Macet Kota Makassar

Makassar dan macet mulai akrab. Seperti sahabat yang makin sering bercengkerama. Semakin hari, kota ini makin akrab bercumbu dengan macet. Dan adalah rekayasa lalu lintas yang kemudian hadir di antara mereka.

Ada yang berbeda dengan jalur yang biasa saya jalani hampir setiap hari. Dari arah Timur menuju ke Barat biasanya saya akan tertahan agak lama di sekitar perempatan Hertasning – Toddopuli – Tamalate. Kendaraan akan membentuk barisan panjang, serupa antrian zakat menjelang Idul Fitri. Waktunyapun tidak singkat, kadang sampai bermenit-menit dan membuat pegal.

Selepas tahun baru kemarin ada lewat jalan itu dan tiba-tiba sadar kalau ada yang berbeda. Kebetulan saya juga lewat jalan itu tepat di jam pulang kantor, jam yang biasanya menjadi jam paling sibuk dan padat. Tapi hari itu berbeda.

Dari jauh terlihat jalanan padat tapi tidak merayap. Ketika mendekati perempatan, tidak ada yang tertahan. Saya melirik lampu lalu lintas, semua mati. Tanpa sengaja pandangan saya jatuh pada bagian tengah perempatan tersebut. Ada barikade di sana, beberapa palang besar berwarna kuning hitam dan beberapa buah kasting yang diletakkan untuk menutup jalan.

Ternyata itu penyebabnya. Jadi semua kemudian diubah. Lampu lalu lintas dimatikan, perempatan ditutup. Jadi semua kendaraan yang dari arah Barat dan hendak ke Selatan harus terus dulu melewati perempatan dan memutar agak jauh. Kendaraan dari arah Utara yang hendak ke Selatan juga begitu, harus belok kiri dulu ke arah Timur dan memutar agak jauh.

Rekayasa Lalu Lintas di Jl. Hertasning

Sepintas memang agak merepotkan, jarak jadi bertambah karena harus memutar dulu. Tapi, khasiatnya terasa, persis seperti minum obat yang manjur. Jalanan menjadi lancar, padat tapi tidak merayap. Area Tamalate, Hertasning, Toddopuli yang biasanya jadi sumber stress di waktu-waktu tertentu kini berubah jadi lebih ramah.

Buat saya ini langkah brilian yang dilakukan polantas Makassar. Mereka berhasil mencari jalan keluar yang menyenangkan untuk mengurai setidaknya satu titik kemacetan.

Dari beberapa teman saya juga mendapat kabar kalau Polantas Makassar berhasil melakukan rekayasa lalu lintas yang positif di malam pergantian tahun. Mereka mengatur lalu lintas sedemikian rupa, membuat barikade di beberapa titik dan hasilnya, jalanan Makassar di tahun baru jadi lebih nyaman. Padat tapi tidak sampai macet berjam-jam.

Buat saya apa yang dilakukan oleh Polantas Makassar itu sebuah langkah kecil yang cukup memuaskan. Makin hari macet di kota ini memang makin mengkuatirkan dan memang dibutuhkan pihak berkuasa untuk melakukan sesuatu, setidaknya mengurangi titik kemacetan.? Polantas memang tidak bisa melakukannya sendirian, karena ada juga pemerintah kota yang punya peran lebih besar. Sekarang tinggal bagaimana mereka bisa bekerjasama membuat jalanan kota ini jadi lebih nyaman.

Sebagai warga kami hanya bisa menantikan gebrakan lainnya dari pemerintah dan polantas. Semoga Makassar tidak sampai serumit Jakarta dalam mengurai kemacetan.

January 05, 2012 in Sekitarku
Corong Promosi Wisata 8

Corong Promosi Wisata

Blogger Makassar di Taka Bonerate

Dua minggu yang lalu tiba-tiba sebuah pertanyaan muncul di kepala saya. Pertanyaan tentang kenapa pemerintah daerah masih kurang yang berpikir untuk menggaet blogger sebagai salah satu corong promosi wisata daerah ?

Pertanyaan itu melintas begitu saja sebagai buah pemikiran dari diskusi kelautan yang digelar ISLA Unhas dua minggu yang lalu. Di sesi terakhir banyak mengangkat kegalauan peserta dan pembicara soal potensi wisata SulSel yang bukan saja belum digarap serius tapi juga belum dipromosikan dengan baik.

Dalam kalender wisata SulSel ada dua kegiatan besar yang selama tiga tahun belakangan ini berlangsung secara beruntun. Ada Taka Bonerate Island Expedition yang mengangkat potensi wisata laut Kabupaten Selayar dan ada Lovely December yang mengangkat potensi wisata eksotis Tana Toraja. Dua kegiatan ini sudah rutin digelar dalam 3 tahun terakhir.

Sayangnya, meski sudah masuk tahun ketiga tapi tetap saja kedua acara tersebut belum terdengar menggaung jauh ke tingkat nasional dan bisa dipastikan efeknya pada pariwisata SulSel masih belum terasa. Saat berkunjung ke Taka Bonerate November silam, jelas sekali terasa kalau acara ini sama sekali tidak menggaung. Tidak ada informasi akurat tentang acara ini, tidak ada promosi yang menggebu yang kira-kira bisa memancing rasa ingin tahu orang untuk datang. Mencari informasi di internetpun rasanya sia-sia. Benar-benar tidak mencerminkan sebuah promosi wisata yang digarap serius.

Lovely December setali tiga uang. Sepi dari promosi dan terkesan dibiarkan begitu saja. Padahal kedua agenda promosi wisata itu juga menyediakan dana miliaran rupiah sebagai bahan bakarnya. Jumlah yang rasanya tidak sebanding dengan penyelenggaraan acara.

Ketika berada di Taka Bonerate, terlihat jelas kalau acara TIE lebih kepada acara seremonial tanpa visi promosi wisata yang jelas. Undangan yang datang kebanyakan adalah para pejabat beserta jajarannya, mereka yang mungkin memang datang sekadar sebagai tamu, bukan sebagai corong untuk mempromosikan wisata daerah tersebut dengan lebih luas.

Dari situ saya kemudian berpikir, kenapa mereka tidak mengajak para blogger atau penggiat social media untuk menjadi bagian dari promosi wisata ya ?

Blogger dan penggiat social media adalah pilihan paling tepat untuk diminta ikut membantu promosi wisata daerah asalnya. Mereka pasti sudah punya jaringan sendiri dan sudah eksis di dunia maya. Melibatkan mereka adalah sebuah keniscayaan di jaman di mana internet dan segala tetek-bengeknya sudah begitu jauh mempengaruhi kehidupan masyarakat. Para blogger dan penggiat social media itu bisa jadi alat bantu promosi yang tepat, cepat dan tentu saja murah.

Kenapa murah ? Bayangkan saja berapa banyak biaya yang ditekan bila blogger dan penggiat social media dilibatkan dalam sebuah agenda promosi wisata. Biayanya tentu tidak sebesar bila mengundang pejabat dan jajarannya yang tentunya membutuhkan pelayanan kelas satu. Blogger dan penggiat social media pada umumnya adalah orang-orang yang santai dan tidak manja. Mereka pasti akan menerima layanan apa saja yang diberikan, yang penting bisa diajak liburan gratis meski memang ada beberapa yang sudah berlabel seleb yang mungkin menuntut pelayanan lebih.

Undanglah mereka, libatkan mereka dan mintalah mereka mengabarkan kepada dunia tentang potensi wisata di daerah asal mereka. Meski tidak bisa memetik hasilnya secara instant tapi saya yakin impact-nya akan terasa. Minimal potensi wisata daerah akan lebih terekspos di dunia maya dan sisi baik lainnya adalah berita di dunia maya lebih gampang diakses dan terarsip dalam waktu lama.

Masalah mungkin akan timbul bila pihak pengundang menaruh ekspektasi terlewat besar yang hanya berorientasi pada promosi dan menutup diri pada kritikan. Blogger dan penggiat social media yang diundangnya diberi batasan dalam menuliskan catatan perjalanannya. Tidak boleh menuliskan hal-hal yang kurang apalagi yang buruk dari acara tersebut.

Ini tentu bertentangan dengan spirit kebebasan berekspresi yang dianut para blogger dan penggiat social media.

Jadi intinya memang ada pada niat pemerintah daerah. Bila memang mereka mau dan punya niat tulus untuk mempromosikan wisata daerah mereka maka tidak ada alasan untuk tidak melibatkan blogger atau penggiat social media dalam rangkaian acara promosi wisata. Tapi, karena niatnya untuk promosi wisata, mereka juga tidak boleh menutup mata atas kekurangan dan kritikan yang masuk. Toh, kalau semua disikapi dengan wajar maka daerah juga yang akan kena imbas positifnya.

Mudah-mudahan di 2012 ini pemerintah daerah Sulawesi Selatan makin terbuka matanya untuk memanfaatkan kemajuan teknologi serta mereka yang terlibat di dalamnya. Kami siap untuk liburan gratis lagi.

January 04, 2012 in Blogging
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan 24

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering

Salah satu pilihan mie kering

Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya menyerupai Ifu Mie tapi agak berbeda di rasa dan penyajian.

Januari adalah bulan yang akrab dengan hujan, apalagi kota Makassar yang dikenal bercurah hujan tinggi. Ketika puncaknya tiba, bisa saja kota ini diguyur hujan seminggu penuh dan nyaris tanpa henti. Ketika hujan jadi sahabat akrab, biasanya makanan akan jadi pelengkap mengusir rasa dingin yang dibawa sang hujan. Bila anda di Makassar, salah satu pilihannya adalah mie kering.

Mie kering ini adalah makanan dengan bahan utama mie yang dikeringkan hingga kriuk-kriuk menyerupai kerupuk. Kemudian mie akan disiram dengan kuah kental yang berisi beragam daging mulai dari daging bakso, daging ayam dan terkadang sea food sesuai selera. isi kuah yang lain adalah sayuran berupa sawi. Aroma bawang putihnya akan sangat terasa. Selepas disiram kita bisa mencampurkan sambal, merica atau pelengkap lainnya. Rasanya ? Jangan tanya deh. Sungguh nikmat dan pas untuk melewatkan cuaca dingin.

Mie ini biasanya disajikan dalam dua pilihan, porsi kecil atau porsi besar. Sebenarnya perbedaannya tidak terlalu signifikan antara porsi besar ataupun porsi kecil, tapi bagi anda yang tidak biasa makan dalam porsi yang banyak maka porsi kecil bisalah untuk jadi pilihan. Beberapa teman dari Jawa yang datang ke Makassar dan sempat mencicipi mie kering selalu merasa kesulitan menghabiskan mie kering dalam porsi besar. Jadi, bila makan untuk pertama kali saya sarankan anda mencoba porsi kecil dulu. Harga porsi besar berkisar antara Rp. 16.000 ? Rp. 20.000, sedang porsi kecil biasanya lebih murah Rp. 2.000,-

Mie kering ini adalah makanan khas warga chinese Makassar. Mungkin di berbagai kota lainnya juga ada makanan yang sama dengan nama yang berbeda atau malah dengan rasa yang agak berbeda.

Di Makassar ada banyak pilihan untuk menikmati Mie Kering. Yang paling tekenal adalah yang bernama Mie Titi. Gerai ini awalnya hanya buka di Jl. Irian, itupun baru mulai buka selepas maghrib hingga jauh malam. Pengunjungnya makin ramai ketika malam makin larut. Sekarang Mie Titi sudah buka cabang di beberapa tempat dengan model gerai yang lebih luas, bersih dan modern. Jam bukanyapun sudah mulai dari jam makan siang. Saking terkenalnya, Mie Titi sempat menjadi merek generik untuk mie kering jenis apa saja yang ada di Makassar.

Selain Mie Titi, mie kering tekenal lainnya adalah mie kering milik gerai Mie Awa di Jl. Pattimura dan Mie Anto di? Jl. Bali. Sekarang ada banyak tambahan mie kering lainnya yang baru buka meski rasanya memang bisa saja sangat berbeda.

Itulah teman-teman, bila berkunjung ke Makassar di musim hujan seperti ini dan anda terjebak di udara dingin yang membuat lapar, maka saran saya segeralah merapat ke gerai mie kering terdekat. Pesan satu porsi dan beri sambal yang banyak. Nikmatilah kelezatan dan kehangatannya. Slurrrppp..!!

January 03, 2012 in Jalan-Jalan, Keliling Makassar
Kenangan di 2011 19

Kenangan di 2011

2011-2012

Ini hari pertama di tahun 2012, kalender 2011 harus diganti . Selama tahun 2011, banyak kejadian yang bergulir. Sebagiannya adalah kenangan yang patut untuk dicatat.

Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun 2011 ini juga menyimpan banyak cerita dengan pusat edarnya adalah saya. Tahun ini luar biasa, ada beberapa kejadian yang mungkin akan mengubah jalan cerita hidup saya di 2012, meski tidak semua bisa saya tuliskan dan bagi. Ada tiga highlight dalam perjalanan 2011 saya, di dunia blog, kesan jalan-jalan dan pekerjaan.

Dunia Blogging

Tahun 2011 saya makin serius ngeblog. Total ada 184 jumlah postingan dengan bulan Februari sebagai rajanya. Di bulan kedua itu saya memang bertekad posting setiap hari dan berhasil !! Selanjutnya memang tidak seganas bulan Februari. Postingan saya mulai bolong-bolong, utamanya di akhir pekan. Tapi, bagaimanapun saya tetap serius membuat postingan. Rasanya tidak nyaman bila sudah 2-3 hari terlewati tanpa postingan. Kecuali bila memang waktu tidak memungkinkan.

Daenggassing.com di Google

Saya juga terus berusaha menjaga kualitas sambil belajar memperbaikinya. Saya tidak mau hanya karena mengejar kuantitas sampai saya harus mengorbankan kualitas. Sedapat mungkin saya berusaha menyeimbangkan kualitas dan kuantitas, meski memang berat.

Mungkin karena konsistensi itu juga maka perlahan tapi pasti blog ini mendapat tempat di mata mesin pencari terbesar Google. Indexnya makin bertambah dan skor Alexa makin rendah. Jumlah pengunjung juga signifikan mesti memang pasti masih ditertawakan oleh mereka para pakar dan pekerja SEO. Saya juga tidak melakukan langkah khusus seperti para pekerja SEO pada umumnya, paling-paling hanya langkah sederhana untuk membuat inbound link. Selebihnya tidak ada. Saya hanya fokus pada konten dan kadang-kadang blogwalking.

Bersama Anging Mammiri di 2011

Konsistensi ngeblog juga saya imbangi dengan makin intensnya berkenalan dan berinteraksi dengan sahabat blogger dari luar daerah Makassar. Setelah bergabung dengan Loenpia di awal tahun, saya kembali dapat kesempatan untuk bertemu dengan teman-teman blogger lainnya pada acara FGD Internet Sehat bulan September 2011 dan kemudian puncaknya adalah pada perhelatan Blogger Nusantara di Sidoarjo sebulan kemudian.

Komunitas blogger tempat saya bernaung juga mencatat banyak hal penting di 2011. Anging Mammiri akhirnya bisa kembali eksis setelah sempat melewati fase rehat.? Kami bisa membuat acara rutin setiap bulan dan mulai makin sering menjalin kerjasama dengan komunitas lain di kota Makassar. Memang masih banyak hal yang harusnya bisa kami lakukan untuk kota Makassar dan mudah-mudahan di tahun 2012 ini kami bisa mencicilnya sedikit demi sedikit.

Jalan-jalan bersama mereka

2011 juga mencatat banyak momen mengasyikkan bila berbicara tentang jalan-jalan. Tahun 2011 saya dan teman-teman Anging Mammiri makin sering mengikatkan diri dalam berbagai perjalanan. Tujuan kami beragam, dari pulau Barrang Lompo, pulau Kodingareng Keke, pegunungan di Bantaeng sampai terakhir mengunjungi Taka Bonerate. Semua terasa menyenangkan bersama mereka yang luar biasa itu.

Liburan bersama anak-anak Anging Mammiri

Kopdar juga semakin menggila di tahun 2011. Pernah kami bahkan kopdar setiap hari selama dua minggu penuh. Perlahan-lahan kopdar memang menjadi sebuah candu yang membuat kami tidak bisa melepaskan diri satu sama lain. Dan itulah bahan bakar paling utama untuk komunitas kami. Kebersamaan yang lahir dari interaksi offline.

Tahun 2012, kopdar dan jalan-jalan tentu masih masuk dalam agenda kami. Setidaknya masih banyak pulau-pulau di sekitar kota Makassar yang belum kami kunjungi dan bila tak ada halangan kami juga akan kembali ke Taka Bonerate atau bahkan ke Wakatobi.

Tentang Pekerjaan

Sebuah kejadian mengubah segalanya. Tiba-tiba saya dipinggirkan dan dianggap tidak dibutuhkan lagi. Setelah masa pengabdian panjang rupanya balasan ini yang saya terima. Suasana kemudian menjadi tidak nyaman lagi. Saya kehilangan kesempatan untuk mengabdi dan memberikan sesuatu untuk tempat saya bekerja.

Tak mengapalah, saya harus tahu diri. Saya hanya orang yang bekerja bila mereka memang masih membutuhkan saya. Belakangan saya memang diminta untuk kembali pada posisi yang berbeda. Tapi suasana sudah terlanjur tak nyaman dan saya memutuskan untuk tidak menerima tawaran itu.

Dan inilah saya, memulai 2012 dengan status yang berbeda. Berani keluar dari zona nyaman dengan segala konsekuensinya yang mungkin tidak terpikirkan sebelumnya. Sebuah langkah sudah saya ambil dan bagaimanapun saya harus siap menanggung semuanya meski kekecewaan tetap ada.

2011 sudah terlewatkan, entah berapa lagi bilangan waktu yang masih bisa saya jalani. Tidak pernah ada yang tahu bukan ? Saya hanya tahu kalau 2012 ini sepertinya bakal jadi tahun yang berat. Banyak tantangan yang menunggu dan banyak kejadian penting yang akan terjadi. Semoga.

Selamat tahun baru semuanya.

January 01, 2012 in Kenangan

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site