Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Salah satu pilihan mie kering Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya...

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat,...

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Author Archive

Belajar Vektor [lagi blank...]


Beberapa hari belakangan ini saya sedang keranjingan belajar vector. Sebenarnya sih sudah lama, cuman baru 2 minggu ini saya punya waktu luang di malam hari. Sebelumnya, setiap kali sehabis matahari tenggelam, saya harus mulai bertugas. Eittss…jangan salah sangka dulu, saya tugasnya bukan kayak sodara-sodara kita di Taman Lawang ato Karebosi, itu mah sudah lama saya tinggalkan..halah..!!. surely, tugas yang saya jalankan tiap malamnya adalah tugas mencari lembaran rupiah dengan memanfaatkan kemampuan menggambar. Yup..apalagi kalau bukan menggunakan AutoCAD, dan gambarnya ya tau sendirilah….gak jauh-jauh dari profesi di Taman Lawang, eitss…maksudnya profesi sebagai drafter. Begitulah, saat orang lain asyik terlelap dalam tidurnya, saya malah asyik melotot didepan monitor 15”. Yaa…namanya kepala keluarga, tanggung jawab mencari nafkah emang sudah seharusnya ada di pundak saya kan..?,namanya juga mencari sesuap berlian…

Kembali ke laptop..eh, vektor. Awalnya saya terkesan banget sama karya friend-ku nun jauh di Surabaya sana, Helman. Waktu jamannya liga Champion lagi hangat-hangatnya, teman ini sibuk mengganti avatar di Friendsternya dengan foto-foto bintang AC Milan. Hasilnya cakep euy..makanya saya kemudian jadi pengen juga bikin kayak gituan..vektor maksudnya.

Berbekal pengarahan singkat dari Helman, mulailah saya secara membabi katarak (ndak sampe buta) memulai belajar vektor. Pake CorelDraw kayak saran Helman. Hasilnya..?, hancur..!!!!. tapi bukan Ipul namanya kalau langsung patah semangat (trus siapa dong..?). Tahap berikutnya..?, jalan ke Gramedia, cari buku yang membahas tentang vektor dan….baca ditempat. Belum punya duit boss…catat di kepala, pulangnya langsung dipraktekkan…hasilnya ?, masih ancur juga….!!!!.

Nah, minggu lalu setelah kerjaan sampingan (yang kadang-kadang jadi kerjaan utama) udah kelar semua, saya punya waktu luang lagi untuk memulai belajar vektor. Oke deh, perlahan tapi pasti hasilnya mulai meninggalkan status hancur menuju ke lumayan…Hasil pertama yang saya anggap setingkat di atas level hancur langsung membakar samangat di dada yang awalnya memang sudah membara (perang kali yee). Kemudian belajar lagi, dan kemudian merasa sudah cukup bagus. Tapi….setelah melihat hasil kerja orang lain kok masih kalah jauh ya….

Berikutnya, mulai belajar vektor pake Photoshop. Donlot tutorial dari internet, tapi sayangnya pake bahasa Inggris. Mo mina tolong sama istri buat ditranslate, kasian..beliau juga lagi sibuk sama tugas utama sebagai istri dan ibu. Ya sudahlah…raba-raba aja, toh nggak bakal dikemplang sama tuh Tutorial, nggak kayak kalo meraba-raba cewek orang…hehehe..

Sipp…dari hari senin kemarin sudah mulai sibuk-sibuk belajar vektor pake Photoshop. Kadang sampe jam 12 malam…keasyikan. kalau tidak ingat lagunya Bang Oma, “begadang jangan begadang, kalau tiada artinya..”, mungkin saya nggak bakal berenti belajar. Tapi sebenarnya ada artinya juga koq…minimal jadi tau cara-cara yang salah buat bikin sketsa pake vektor…

Oya, gara-gara belajar vektor ini juga salah satu hasil karya saya akhirnya terpasang di pinggir jalan besar di Makassar. Bagi teman-teman yang tau lokasi pembangunan Kalla Tower jalan Ratulangi mungkin sudah pernah liat pagar protek yang dihiasi gambar siluet gedung Kalla Tower. Naaaa…itu dia hasil karya saya…hehehe…narsis dikit ndak papalah…jarang-jarang lho saya narsis..biasanya cuma jalla..(makassar:sombong-red), hehehe…

Oke deh, besok-besok kalau ada kesempatan saya mo beli buku yang banyak tentang vektor ini. Baik yang pake Corel atopun Photoshop. Untuk sementara belajar otodidak dulu deh….see ya..!!

*lagi blank, gak tau mo nulis apaan…*

hasil belajar vektor n trace pake Corel

nah, kalo ini nge-trace pake Photoshop….masih kasar euyy..



August 23, 2007 in Random Post

Lebih Enak Jaman Soeharto (?)..

Momen kemerdekaan tahun ini saya habiskan dengan mencari pembenaran atau penyangkalan atas sebuha pernyataan yang berbunyi, “ lebih enak jaman Soeharto”. Entah kenapa kata-kata ini tiba-tiba saja singgah di kepalaku, seperti sebuah kereta yang berhenti utuk menurunkan penumpang di sebuah stasiun. Entah awalnya dari mana, tahu-tahu dia sudah muncul dan mengusikku. Akhirnya momen liburan panjang 3 hari selain diisi dengan acara bersantai dan menikmati video Pearl Jam hasil kiriman Wyndo minggu lalu, saya isi juga dengan menggali memori mencari data dan fakta seputar pernyataan itu.

Sebenarnya saya sudah sering mendengar ungkapan ini, tapi entah kenapa kali ini terasa lebih mengganggu. Dalam sebuah percakapan dengan teman di kantor yang usianya memasuki usia 40-an, terlontar kata-kata berikut : lebih enak jamannya Suharto, minyak tidak pernah susah, dollar cuma 2.500, tidak ada demo-demo, semuanya aman dan tenteram..”. Saat jalanan macet karena terhalang demonstrasi mahasiswa yang (katanya) memperjuangkan nasib rakyat, sang bapak kembali berkomentar, “ ah..kalo jamannya Suharto mana berani anak mahasiswa demo kayak begini. Sudah untung kalau cuma ditangkap, yang parah kalau sampe dihilangkan”. Saat membaca kasus pertikaian antara presiden SBY dan Zaenal Ma’arif, sang bapak berkomentar, “ ah..presiden sekarang ndak ada wibawanya lagi. Dilecehkan kanan-kiri. Jangankan sesama pejabat, pelawak saja sudah berani mencela presiden di televisi. Jaman Suharto dulu, mana ada yang berani seperti ini..”.

Ah..betulkah lebih enak jaman Suharto ?.

Saya jadi ingat seorang tetangga di Cileungsi, Bogor. Sang bapak bisa secara spontan mengeluarkan kallimat caci maki saat disebut nama Suharto. “ ah, Suharto itu ****ng”, katanya sambil menyebut salah seekor nama binatang. Wajar, kalau mengingat bagaimana kisah hidupnya yang berubah 180 derajat karena ulah anak-anak Suharto. Sebelumnya si bapak ini hidup tenang dan berkecukupan dengan beberapa swalayan miliknya. Namun sebuah tawaran kerjasama dengan pemodal asing membuat hidupnya berubah. Salah seorang anak Suharto rupanya juga tertarik dengan bidang usaha yang hendak dilakoni si bapak, sayangnya si anak penguasa waktu itu lebih tertarik lagi untuk memonopoli. Si bapak bertahan, dia tidak rela melepas begitu saja ladang bisnis barunya. Akibatnya, kekuasaan memaksa si bapak menutup satu demi satu swalayan miliknya. Menjual mobil, rumah dan kemudian tersisih ke sebuah rumah type 36 di Cileungsi. Entah ada bumbu atau tidak dalam ceritanya, yang jelas saya merasa telah bertemu dengan seorang korban permainan monopoli kroni Suharto.

Kita mungkin juga sudah sering mendengar banyaknya aktifis kampus maupun ormas yang dilenyapkan tanpa bekas, atau sekedar disiksa (alah…disiksa kok cuma sekedar..). Seorang aktifis ormas Islam pernah bercerita tentang nasibnya yang mengharu biru di tahanan polisi, hanya gara-gara isi ceramahnya yang menyerang kekuasaan orde baru. Kuku kaki dan tangannya jadi saksi bisu. Lepas dan cacat permanen.

Jadi, betulkan jaman Suharto lebih enak ?.

Seorang kawan, (mantan) aktifis sebuah partai politik memberikan teori bahwa kekacauan yang terjadi sekarang adalah buah dari kesalahan pemimpin orde baru. Utang luar negeri bertumpuk karena di masa lalu penggunaannya tidak sesuai rencana, alias lebih banyak masuk ke kantong pribadi. Nafsu KKN memuncak karena telah dilatih selama puluhan tahun selama masa Orde Baru. Mahasiswa berdemo dengan bebas dan kadang di luar batas karena telah terkungkung selama puluhan tahun. Oke, teorinya saya terima.

Seorang bapak, yang dulu dekat dengan lingkaran orde baru bercerita. Katanya Suharto sebenarnya baik. Dia punya banyak program demi kemajuan bangsanya. Hanya saja orang-orang di sekelilingnya yang tidak bisa diatur dan kemudian kebablasan dan lebih mementingkan diri sendiri. Suharto punya program memajukan perekonomian rakyat dengan cara memberi kemudahan kepada para konglomerat untuk berbisnis. Harapannya sang konglomerat nantinya bisa membagi hasil usahanya untuk peningkatan perekonomian rakyat kecil. Sayang, karena sebagian besar konglomerat justru lupa diri dan lupa pada tujuan utama sang Bapak Pembangunan. Suharto pun tak bisa apa-apa lagi. Keadaan makin parah ketika anak-anak beliau terjun dan tenggelam makin dalam di dunia bisnis. Menggerogoti apa saja, dan memonopoli apa saja. Hmmm..sampai di sini saya kembali ragu.

Jadi, betulkan jaman Suharto lebih enak ?.

Akhirnya saat mentok denganberbagai fakta dan data yang saling berlawanan, saya bertanya pada diri saya. Mana yang lebih enak ?. ah, saya tak mau menjawab pertanyaan ini. Prinsip saya sih sederhana. Apa yang sudah terjadi terjadilah. Sekarang tinggal bagaimana kita menatap jalan di depan sana. Mempersiapkan diri untuk segala hal bahkan yang terburuk sekalipun. Tak pernah berhenti belajar dari masa lalu. Saya yakin, masa Orde Baru tetap ada bagusnya, walaupun jelas ada jeleknya juga. Mungkin saya hanyalah orang biasa yang hidup di negeri yang tidak biasa ini, dengan pemimpin yang “luar biasa”. Saya tak pernah kenal dengan teori-teori politik atau retorika berbagai model yang dipakai para pemimpin. Saya dan mungkin anda semua hanya ingin tahu pemimpin kita telah melakukan sesuatu untuk kita, rakyat yang sedikit banyaknya telah membuat mereka jadi pemimpin. Saya dan mngkin anda tentunya ingin tak ada lagi kata-kata “ lebih enak jaman Suharto”, karena itu tak ada gunanya….

Mari meperbaiki begeri kita, mulai dari kita sendiri…

Selamat Ulang Tahun Negeriku….

Semoga aman, sentosa, sejahtera dan makmur rakyatnya…..

August 21, 2007 in Random Post

5 tahun yang luar biasa

aku adalah seorang lelaki biasa yang dikelilingi wanita-wanita yang luar biasa. (Ipul)

Saya terima nikahnya Tusiana Noor Alfisyahr binti Sugito Sudarman, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 10 gram, tunai.

Tepat tanggal 11 bulan Agustus lima tahun yang lalu, sekitar pukul 10 pagi waktu Semarang, saya mengucapkan kata-kata di atas. Hingga hari ini saya masih ingat dengan jelas, bagaimana berdebarnya dadaku menjelang momen yang sangat bersejarah itu. Hampir sepanjang malam saya tidak bisa tidur, pagi hari datang seperti sangat lambat. Perjalanan ke rumah mempelai wanitapun seperti meniti titian bambu di atas kobaran api, sangat mendebarkan. Seingat saya, hanya ada 3 momen yang efek tegangnya sebanding dengan hari itu. Momen saat disunat dan tentu saja momen saat menanti kelahiran putri pertama kami.

Hari itu garis hidup kami bertemu. Adalah Cileungsi yang menjadi tempat awal pertemuan kami, sekitar bulan Juli 2000. Desember 2000, tepatnya tanggal 23 giliran Gambir yang jadi saksi penyatuan kami. Dengan sepotong lirik lagu “Black “ milik Pearl Jam, Ofie resmi jadi kekasihku. Hubungan yang sangat berat, jarak yang jauh menjadi halangan yang terus menguji cinta kami. Entah telah berapa ratus ribu atau bahkan juta rupiah yang keluar hanya demi bisa bertemu. Bahkan setiap sapaan lewat telepon pun ibarat semilir angin yang menyejukkan.

Satu tahun, tujuh bulan dan delapan belas hari sejak awal komitmen itu kami akhirnya meresmikannya di mata Allah dan negara. Upacara sederhana di kota Semarang menjadi awal perjalanan hidup kami selanjutnya. Jutaan mimpi mulai kami rajut, bersama dalam suka dan duka, berharap semuanya bisa bertahan hingga maut memisahkan. Menumpang kapal laut, saya memboyong wanita yang telah resmi melengkapi tulang rusukku yang hilang. Awalnya tak ada yang mudah, dua insan dengan latar belakang budaya yang bertolak belakang seakan-akan memberi ruang yang lebar bagi datangnya perpecahan. Pertengkaran, diam-diaman bahkan air mata adalah bumbu dalam pernikahan kami yang baru seumur jagung. Ofie yang terbiasa hidup dalam keluarga yang terbuka,penuh kelembutan dan perhatian bertemu saya yang terbiasa hidup dalam keluarga yang tertutup, keras, tegas dan mandiri bahkan cenderung cuek. Shock culture, ditambah dengan merasa terasingnya Ofie di dunia yang baru, jauh dari teman dan keluarganya membuat emosinya tidak stabil. Sayangnya saya masih sering menuruti emosi, dan tetap berlaku seolah-olah masih sendiri.


Kami hidup penuh keterbatasan. Ofie yang terbiasa bekerja, sementara harus hidup mendekam di rumah. Tanpa kegiatan, tanpa teman. Hanya satu tape butut sebagai hiburan. Perlahan kami mulai mengumpulkan semuanya. Benda berharga pertama yang kami beli adalah TV, sebuah TV 14” hasil tabungan kami. Selanjutnya semua bergulir sesuai skenario Yang Maha Mengatur.

Rejeki tidak dapat ditolak. Walaupun telah berusaha menghindari kehamilan tanpa menggunakan alat kontrasepsi, Ofie tetap hamil. Awalnya kami tidak ikhlas menerimanya, target awal kami sebenarnya adalah pacaran dengan halal dulu selama setahun mengingat selama ini kami pacaran jarak jauh. Mungkin Allah menghukum kami, karena memasuki usia kandungan 2 bulan, kandungan Ofie tidak bisa dipertahankan. Ada yang salah dengan janinnya, janin itu tidak berkembang dengan sempurna hingga tubuh kemudian melakukan penolakan. Kuret adalah satu-satunya jalan.

Beberapa bulan kemudian, Ofie hamil lagi. Hampir seperti yang pertama,kali ini janin itu gugur lagi. Kecapean, itu kata dokter. Waktu itu Ofie memang baru mulai bekerja lagi setelah sekian lama menganggur. Karena usia kandungan yang baru beberapa minggu, maka hanya obat-obatan yang kemudian jadi jalan keluar untuk si calon janin. Tak perlu kuret dan bedrest seperti yang pertama. Kami kemudian mulai melupakan program punya anak. Ofie sibuk dengan kerjaannya di proyek sebuah Mall di Tanjung Bunga. Namun rupanya Allah memang sangat mengasihi kami. Bulan Juli 2007, Ofie kembali terlambat bulan. Testpack menunjukkan tanda positif. Alhamdulillah, kali ini kami telah siap menerima anugerah-Nya.

Enam bulan terlewati dengan penuh kehati-hatian. Sesekali perselisihan masih menjadi bumbu dalam kebersamaan kami. Di usia kandungan 6 bulan dan kontraknya telah selesai, Ofie pun kembali ke Semarang. Hal yang wajar apabila setiap wanita ingin bisa melahirkan anak pertamanya di dekat sang Ibu. 3 bulan kemudian menjelang kelahiran si jabang bayi, saya menyusul ke rumah ibu mertua. Hanya berselang seminggu sejak kedatangan saya, bayi mungil itu hadir di muka bumi. Kami memberinya nama “NADAA FATHIYA FARAH”, nama dari bahasa Arab yang artinya kira-kira, Embun Pagi Pembuka Kesenangan.

Hari ini si kecil telah melewati 4 tahun 4 bulan sejak pertama kali dia hadir di muka bumi. Tingkahnya lucu, Alhamdulillah sehat dan cerdas walaupun kadang memang bikin capek. Dalam segi finansial kami mungkin belum punya apa-apa. Tak ada yang bisa kami banggakan apalagi untuk disombongkan. Sampai hari inipun kami masih berstatus kontraktor, alias ngontrak. Perbedaan pendapatpun kadang masih hadir dalam kehidupan kami. Namun sedikitnya kami telahlebih dewasa dalam menghadapi segalanya.

Ofie adalah guru terbaik bagi saya. Dia mengajari saya lebih sabar, lebih lembut dan lebih dewasa menghadapi segala persoalan. Dia adalah istri yang komplit, dia hadir sebagai teman diskusi, teman ngobrol, teman dalam suka dan duka. Ofie adalah sosok wanita luar biasa yang memiliki keberanian yang luar biasa. Dia berani meninggalkan pekerjaannya yang bergaji diatas angka 1 juta demi mengikuti seorang lelaki yang hanya bergaji 600 ribu saat itu. Dia berani meninggalkan keluarga dan teman-temannya untuk mengikuti seorang lelaki yang lebih banyak dikenalnya lewat telepon dan internet menuju sebuah pulau yang hanya sekali diinjaknya. Dia dan segala pegorbanan dan keihlasannya adalah alasan terbesar buat saya untuk tetap hidup, tetap pulang ke rumah. Pulang ke pelukan seorang wanita yang luar biasa.

Ofie adalah wanita luar biasa yang mau mencintai seorang lelaki biasa. Dan 5 tahun yang terlewati memang bukan 5 tahun yang biasa, 5 tahun yang penuh perjuangan, penuh air mata namun juga penuh senyum dan kebahagiaan. Masih ada 5, 10, 20 dan bahkan 100 tahun buat kami untuk terus bersama…Amin.

Seribu peluk dan cium sayang untuk istriku yang selalu menemaniku, maaf kalau aku sering mengecewakanmu sayang…..without you, i have nothing…I Love You, I Love You and I Love You….happy 5th anniversary dear.




August 14, 2007 in Random Post

Sepakbola dan Daster…

Apa hubungan antara sepakbola dan daster ?. secara kasat mata sih gak ada, soalnya saya sendiri belum pernah melihat pemain-pemain sepakbola profesional bermain di lapangan hijau menggunakan seragam daster. Walaupun mungkin saja banyak ibu-ibu yang menemani suaminya atau gadis-gadis yang nonton bola menggunakan daster.

Tapi hari minggu kemarin (12/8) saya jadi tahu kalau ternyata sepakbola dan daster bisa bersinergi jadi satu tontonan yang lucu dan mengasyikkan. Sabtu sorenya saya dapat telpon dari Ibu, beliau meminta saya mewakili bapak membela Blok B4 dalam laga sepakbola berdaster dalam rangka HUT RI. Memang Bapak sedang tidak sehat dan atas anjuran dokter juga tidak boleh berolahraga yang banyak dulu. Okelah pikir saya, mumpung sedang santai dan tidak ada jadwal kegiatan apa-apa. Lagipula saya sudah lupa kapan terakhir kali ikut berpartisipasi dalam acara-acara kayak begini.

Minggu pagi, jam 7 saya sudah siap di lapangan. Beberapa orang bapak-bapak juga nampaknya sudah siap dengan daster yang mungkin punya istrinya. Hampir setengah jam menunggu sebelum akhirnya pertandingan pertama digelar, dengan sedikit ragu dan malu sayapun meleburkan diri lengkap dengan daster tua punya ibu. Kenapa punya Ibu ?, soalnya istri saya emang gak punya daster yang agak tuaan, sayang kalo pake daster baru, takutnya nanti sobek.

Jangan harap anda akan menyaksikan pertandingan sepakbola yang seru, menegangkan dan penuh speed and power seperti yang layaknya kita lihat di layar kaca. Yang ada hanyalah pertandingan penuh gelak tawa. Awalnya coba anda bayangkan bagaimana tampang bapak-bapak berbadan besar, berkulit gelap dengan betis penuh bulu memakai daster yang sebagian besar didominasi motif kembang-kembang. Bayangkan juga bagaimana sebagian besar bapak-bapak itu mengangkat ujung dasternya sambil berlari agak tak terganggu, atau bagaimana bapak-bapak itu terguling-guling karena tak sanggup lagi menahan bobot badannya plus kehabisan nafas saat mengejar bola.

Lupakan soal peraturan dasar sepakbola. Semuanya bisa diatur di lapangan. Walhasil, ada pertandingan yang menggunakan sistim corner kick, tapi di pertandingan lain sistim itu tidak dipakai. Apapun itu, maksud utama dari pertandingan ini untuk memeriahkan hari kemerdekaan negeri kita sepertinya telah terpenuhi. Gelak tawa para penonton dan pemain seperti membuat mereka-mereka lupa betapa banyak bencana yang menimpa bangsa kita.

Sore harinya saya pulang dengan kemenangan setelah 3 kali bertanding tidak pernah kalah dan menang terus, bahkan hanya kemasukan 1 gol dengan memasukkan 6. bonus lainnya, betis, paha, pinggul sampai bahu semuanya pegal…buat jongkok saja susah. Maklumlah, sudah setahun lebih sejak terakhir kali saya turun ke lapangan hijau…..

Ahhh….pegel bow….nyari tukang pijit dulu ahhh…..

oh ya, ini sedikit foto-foto hasil pertandingan kemarin….



foto 1: berpose dulu sebelum bertanding

foto 2: pemain import dari Jepang..


foto 3: walaupun benturan tetap terjadi, namun canda tawa adalah yang utama..


foto 4: the smallest goalkeeper ever..


foto 5: paolo ipuldini, tembok kokoh di pertahanan blok B4


foto 6; pak Haji tak segan berjibaku menyelamatkan gawangnya, tak peduli daster sang istri sobek..

cerita lengkap di balik pertandingan ini bisa dibaca di sini
August 13, 2007 in Random Post, Sekitarku, Sepakbola

KEAJAIBAN DI TELEVISI KITA


salah satu adegan sinetron si Entong di TPI


Biasanya rutinitas saya setiap malam jika telah lewat jam 8 dan sedang tidak ada pekerjaan adalah menonton siaran Metro TV, satu-satunya televisi yang menurut saya punya mata acara yang “masuk akal”. Sayang sekali minggu lalu entah kenapa siaran Metro TV menghilang dari TV saya, mungkin karena masalah antena, soalnya selama inipun siaran Metro TV tidak pernah jernih saya terima. Karena kebetulan juga saya sedang tidak kerjaan, maka iseng-iseng saya mencoba menyetel stasiun TV yang lain.

Pilihan pertama saya jatuh ke TPI, stasiun televisi yang dulu mengklaim dirinya sebagai satu-satunya televisi pendidikan di Indonesia. Sebelumnya saya sudah pernah dengar tentang popularitas sinetron Entong yang sedang naik daun saat ini, terbukti dengan makin seringnya orang di sekitar saya menggunakan idiom “ sungguh terlalu” dan “prett”. Maka, malam itu saya coba menonton si Entong untuk mencari tahu, apa sih yang menarik dari sinetron ini.

Saya agak lupa cerita si Entong malam itu, saya hanya ingat kalau tokoh si Entong menyelamatkan kampungnya dari serangan ular besar yang dengan semburan api di mulutnya mampu menebar rasa gatal ke orang-orang kampung. Baru beberapa menit menonton saya sudah bosan, tak ada yang menarik sama sekali. Cerita yang dangkal, dengan beberapa orang pemeran yang berakting konyol dengan dialog-dialog konyol yang sepertinya dibikin untuk membuat orang tertawa. Remote saya sodorkan agak ke depan sambil menekan tombol yang lain. SCTV adalah stasiun berikutnya, sepertinya sinetron tentang anak-anak lagi. Saya tidak tahu judulnya, yang saya lihat ada seorang anak perempuan bermana Neng yang punya sarung ajaib. Sarung ajaib berwarna pink terang ini bisa membuatnya tidak kelihatan bila dipakai menutupi tubuhnya. Hmm….sekali lagi saya langsung bosan. Cerita dangkal yang lain. Mengumbar keajaiban dan mimpi-mimpi ke anak kecil.

Tak sampai lima menit, remote kembali saya tekan. Trans TV tujuan berikutnya. Adegan seorang anak muda berparas tampan dengan pakaian sederhana sedang bercakap-cakap dengan sorang bapak tua berpakaian compang-camping. Dialog berikutnya segera membuat saya sadar kalau ini sinetron dengan tema sama, menjual keajaiban dan mimpi. Bagaimana tidak, si bapak tua menyerahkan sebuah bungkusan kecil yang diakuinya sebagai buncis ajaib yang kelak akan sangat berguna bagi si pemuda. Sepertinya si pemuda baru saja menolong si bapak. Sebuah kisah yang klise.

Ah, nampaknya ada trend baru di TV kita. Dahulu ada trend hantu-hantu gentayangan di TV, mulai dari acara reality show yang mempersembahkan usaha manusia memunculkan bahkan menangkap hantu, sampai sinetron dengan tema hantu. Bahkan seingat saya sinetron yang awalnya bergenre drama pun tiba-tiba memunculkan hantu demi mengikuti trend ini. Setelah tren ini lewat, berikutnya ada tren sinetron bernafas islami. Pelopornya TPI dengan Rahasia Illahi, kemudian yang lain tidak mau ketinggalan. Maka muncullah Hidayah, Kuasa Illahi, Maha Kasih, dan lain-lain yang katanya bernafas Islami tapi lebih sering salah kaprah dan justru melenceng dari nafas Islaminya. Tuhan digambarkan sebagai Dzat yang kejam, bermacam-macam azab Dia turunkan kepada ummat-Nya yang melanggar. Parahnya lagi, ada beberapa sinetron yang menceritakan bagaimana seorang anak manusia yang jahat luar biasa sepanjang hidupnya, mendapat azab dan kemudian bertobat dan mengucap kalimat tauhid beberapa detik sebelum menghembuskan nafas. Enak bangeettt…dan seperti saat tren hantu merebak, tren sintetron azab inipun kemudian membuat beberapa sinetron bergenre drama tiba-tiba banting setir. Si Yoyo misalnya, cerita lengkapnya mungkin anda sudah tahu.

Setelah tren-tren itu berlalu, saya tidak tahu kisah macam apalagi yang jadi tren. Saya sudah betul-betul kehilangan rasa terhibur menonton tayangan sebagian besar TV-TV kita. Tapi saya sempat merasakan booming-nya sinetron Intan yang bahkan bisa membuat bapak-bapak di kantor saya membicarakannya dengan semangat. Berikutnya saya hanya mengintip sekilas perkembangan sinetron dan mendapati beberapa sinetron mulai menggunakan tokoh anak-anak untuk cerita percintaan mereka yang memuakkan itu. Ekploitasi terhadap anak pikir saya, dan ujung-ujungnya pasti dekadensi moral. Mau jadi apa anak-anak kita bila setiap hari TV mengkampanyekan tentang legalitas pacaran di usia muda, bahkan saat mereka masih berpakain putih merah.

Kalau tidak salah menganalisa, maka saya kira saat ini tema yang lagi tren adalah tema “ajaib-ajaib”. Saya sempat mendapati beberapa iklan sinetron dengan tema tersebut, termasuk si Entong itu. Di RCTI saya lihat ada iklan sinetron “si Eneng dan kaos kaki ajaib”, di TPI selain si Entong itu ada beberapa sinetron lain yang temanya sama. Trans TV sama saja, cuma dibikin agak beda karena dikasih label “dongeng”. Entah dengan stasiun TV lain.

Mereka dengan teganya menjual mimpi ke anak-anak kita. Menanamkan pikiran untuk tidak usah belajar atau bekerja keras. Toh dengan berbuat baik saja kita bakal dapat benda-benda ajaib yang bisa mengabulkan semua keinginan kita. Dangkal sekali bukan, dan sayangnya lagi kampanye seperti ini dimeriahkan oleh salah TV yang menyebut diri TELEVISI PENDIDIKAN INDONESIA…mungkin mereka memang berniat mendidik anak-anak kita menjadi anak-anak yang hanya suka bermimpi, bertumpu pada benda-benda ajaib dan tidak mau bekerja keras.

Akhirnya bila sedang sendirian, bengong dan tak punya piihan lain, saya jadi suka memindah-mindahkan channel TV. Mencari sinetron-sinetron yang ternyata mampu membuat saya tertawa. Saya menertawai diri sendiri, menertawai kita semua yang masih juga mau meluangkan waktu dan larut dalam sinetron kacangan tak mendidik itu. Dari segi cerita dangkalnya sudah kelihatan, dari segi skenario apalagi. Akting amburadul, tata artistik hancur-hancuran. Anda bisa bayangkan, mana ada orang kampung yang sempat merias wajahnya hingga kinclong menyerupai Krisdayanti, lengkap dengan bulu mata palsu pula. Belum lagi bajunya, tiap hari baju baru. Setahu saya yang lama jadi orang kampung, boro-boro berhias atau memakai baju baru setiap hari, makan saja syusyah..!!, eh tapi bisa jadi karena sekarang negeri kita makin makmur makanya orang kampungnya sudah berubah ya..?, nggak seperti dulu lagi saat saya masih jadi orang kampung.

Ah…saya koq tiba-tiba rindu sinetron “RUMAH MASA DEPAN” ya..?


August 06, 2007 in Random Post, Sekitarku

SINDIRLAH DAKU KAU KUSINDIR (JUGA)

perang spanduk di kawasan Antang,

Dua mingu belakangan ini, berita apa yang paling menarik di seputar ibukota negara kita, Jakarta ?. kalau buat saya berita paling menarik itu tentunya adalah berita seputar Pilkada yang untuk pertama kalinya digelar secara langsung. Hmm…gejolak politik menjelang pemilihan-pemilihan seperti ini tentu sangat mengasyikkan untuk diamati. Masyarakat seakan-akan disuguhkan sebuah pertunjukan adu kekuatan, adu strategi dan adu-aduan lainnya demi mencapai maksud dan tujuan. Seperti biasa, yang paling laku untuk diobral adalah janji. Simak janji-janji para calon gubernur itu. Yang satu berjanji menjadikan Jakarta bebas banjir, lawannya berjanji tidak akan menggusur PKL. Yang satu berjanji menggratiskan biaya pendidikan sampai SMA, lawannya berjanji memberantas kemiskinan dan musuh utama Jakarta bernama kemacetan. Wow…sangat menyejukkan. terbayang di pelupuk mata para warga Jakarta, nantinya kota terbesar di Indonesia itu akan berubah menjadi kota yang teratur, rapi, bebas macet, bebas banjir, dan hebatnya..pendidikannya gratis. Hmmmm…serasa di negeri dongeng.

Kenapa Pilkada Jakarta ini menurut saya sangat menarik ?. pertama, Jakarta adalah ibukota negara, sehingga segala sesuatunya seakan-akan terpusat di kota berpenduduk sekitar 7 juta jiwa tersebut. Kedua, calon pemimpin kota itu ironisnya hanya ada dua pasang, tanpa ada pilihan lainnya. Seakan-akan warga Jakarta dipaksa untuk memilih “the best of the worst”. Kalau bukan A ya B, gak ada pilihan lain. Nah, kondisi minim pilihan ini membuat situasi persaingan makin sengit dan makin menarik untuk disimak.

Pasangan Adang-Dani yang mengusung tema “Ayo Benahi Jakarta” berusaha mencari simpati dengan menjual kondisi mereka yang “dikeroyok” lawannya. Sementara Fauzi-Pri yang mengusung tema “Jakarta untuk semua” mencari bantuan dengan memanfaatkan unsur kesukuan sebagai putra Betawi asli. Nah, tema-tema dan cara-cara mencari simpati itu kemudian berubah menjadi saling sindir, baik yang secara langsung maupun tidak langsung.

Saya sempat kaget mendengar narasi sebuah iklan di TV yang mendukung pasangan Adang-Dani. Salah seorang anak tokoh Betawi yang paling terkenal-Alm.Benyamin Sueb-berkata, “ Orang Betawi dari dulu sudah terkenal sebagai jagoan, jawara. Seorang Jawara sejati tidak akan main keroyokan”….busyeettt…!!!!, keliatan banget kan siapa yang disindir mereka ?. sementara itu di stasiun TV yang lain, keluarga si Doel yang diwakili si Nyak berkata, “ saya pilih Fauzi Bowo, karena udah orangnya pinter, agamanya kuat lagi..”, nah berhubung lawannya pak Fauzi cuman satu, berarti yang satunya dianggap nggak pinter dan agamanya nggak kuat. Parahnya lagi, beberapa saat kemudian, Mpok Minah mewakili keluarga besar Bajaj Bajuri melontarkan ucapan, “ saya pilih Adang karena beliau nggak sombong, jujur, dan sayang istri..”, wuihhhh…makin ramai dah..!!. kerena lawannya Adang cuman satu, berarti si lawan itu orangnya sombong, nggak jujur dan nggak sayang istri. Saya yang menyaksikan iklan-iklan ini jadi ketawa sendiri. Lucu melihat sekumpulan orang-orang yang katanya cerdas, katanya mau berjuang untuk rakyat,katanya mau membenahi Jakarta, kok malah main sindir-sindiran kayak cewek anak SMA yang mau berantem tapi takut mulai duluan, gak percaya ?, coba liat sinetron-sinetron ABG produksi India-India itu di layar TV, sama koq…..

Harusnya para pemilih udah bisa melakukan analisa kasar terhadap calon-calon pemimpin ini. Belum apa-apa koq ya sudah main sindir-sindiran begitu, bagaimana mau jadi pengayom dan contoh bagi rakyat nantinya (saya menulis kalimat ini sambil memancungkan bibir bawah saya). Kalau bertarung secara elegan saja mereka nggak bisa, bagaimana mengatur pemerintahan dan rakyat secara elegan (sekali lagi bibir bawah saya lebih mancung dari bibir atas). Tapi yah sudahlah, masyarakat kita sepertiya sudah kebal dan super kebal sama hal-hal seperti ini. Tekanan ekonomi dan berbagai krisis yang datang silih berganti rupanya menyebabkan sebagian besar dari kita kehilangan logika, sehingga janji-janji manis kemudian serasa desiran angin semilir di sore hari (atau mungkin seperti Anging Mammiri,kata orang Makassar). Mungkin mereka juga tahu kalau nantinya janji-janji itu hanya akan sekedar menjadi janji tanpa kita tahu kapan terealisasi, yang penting hari ini dapat baju kaos, bisa nonton artis-artis dangdut menggoyangkan bokongnya secara gratis…yah, lumayan bisa membuat mereka lupa akan harga-harga yang melambung tinggi, lupa akan minyak tanah yang makin langka dan sederet masalah lainnya yang jika dituliskan bisa lebih panjang dari daftar belanjaan si konglomerat di pasar swalayan.

Nah, sekarang bagaimana dengan SulSel ?. tanah kelahiran dan kampung halaman saya ini juga sebentar lagi akan menggelar pemilihan kepala daerah secara langsung. Penetapan calon memang belum resmi, tapi setidaknya saat ini sudah ada 3 pasang calon yang siap bertarung, secara jujur maupun tidak jujur. Perang janji yang diwarnai perang spanduk sudah jauh-jauh hari berlangsung. Jadinya sekarang ini Makassar bertambah satu julukan lagi, selain kota sejuta ruko, sekarang jadi kota sejuta spanduk. Yang paling gamblang adalah pertarungan antara ASMARA dan SAYANG, sementara calon yang satunya terlihat lebih kalem, kata orang sih karena kekurangan modal. Sepintas memang ini hanya menjadi pertarungan antara ASMARA dan SAYANG, eiitttsss tapi tunggu dulu. Siapa yang meyangka Yunani bisa jadi juara piala Eropa tahun 2004 ?, atau siapa yang berani menjamin Iraq menjuarai piala Asia 2007 ?, mereka berdua adalah kuda hitam yang meruntuhkan kejayaan tim-tim mapan. Jadi, seperti sepakbola apapun bisa terjadi di Pilkada ini. Calon yang kalem dan cenderung “pendiam” bisa saja justru naik menjadi juara.

Bagaimana soal sindir menyindir ?, hmmm…sejauh ini sih kalau menurut saya belum parah. Kenapa belum parah ?, karena sejauh spanduk yang saya baca, baru sedikit sindiran yang terpajang. Ada spanduk salah satu calon yang isinya begini, “ kita butuh pemimpin yang sehat, energik dan berpengalaman”, atau yang begini, “ hormati yang tua, pilih yang muda”. Warga SulSel pasti sudah tahu untuk siapa sindiran itu ditujukan. Nah, sementara si lawan berat pernah membuat spanduk bertuliskan, “pilih pemimpin yang bebas narkoba”-walaupun sekarang saya sudah tidak pernah melihat spanduk itu lagi-jelas ucapan ini merujuk ke salah satu calon yang –kabarnya-pernah tersandung kasus narkoba (dan ini sudah jadi rahasia umum, walaupun salah satu tim sukses beliau pernah bilang kalau ini bisa-bisanya si lawan saja). Well, perang sindiran mungkin belum terlalu kencang berhubung karena jarak waktu Pilkada yang masih agak lama, juga mungkin karena calon peserta Pilkada yang lebih dari dua pasang sehingga mereka menggunakan strategi perang yang berbeda dengan peserta Pilkada DKI.

Apapun itu, saya hanya berpesan (halah..!!!, sok tua banget) kepada para calon pemilih. Sebelum menusukkan paku ke foto salah seorang calon pimpinan daerah, mungkin kita bisa merenung dulu, tanya ke hati nurani, sudah benarkah pilihan kita ?, atau kalau masih bingung, Golput aja yuk..!!!!

Ah, ini mungkin ajakan yang tidak benar, jadi jangan ditiru kecuali bila dari sononya anda memang berprinsip begitu. Tapi setidaknya itulah pilihan saya sampai saat ini, namun tidak tertutup kemungkinan akan berubah menjelang hari H (tergantung janji siapa yang bisa menggoyangkan saya,hehehe..). Tapi ngomong-ngomong koq saya belum didata sebagai pemilih tetap ya..?, tauk ahh…daripada pusing mending ikutan Pilkandy atau Pilkading aja…(anak Blogger Makassar pasti setuju..!!!).

Salam….



August 01, 2007 in Keliling Makassar, Random Post

BLOG FOR LIFE: sebuah catatan pandangan mata


Kemajuan dunia Internet dalam satu dekade belakangan ini berkembang begitu pesat. Saat ini jumlah pengguna Internet di seluruh dunia diperkirakan mencapai sekitar 17% dari total penduduk dunia, atau sekitar 1 miliaran pengguna. Indonesia sendiri sebagai salah satu negara berkembang “hanya” menyumbang sekiar 20juta pengguna. Jumlah yang sangat kecil jika dibandingkan dengan jumlah keseluruhan pengguna Internet di muka bumi. Sebagai sebuah tren baru di masyarakat, Internet juga terkadang menghadirkan fenomena-fenomena baru yang merajalela bagai wabah di kalangan pengguna. catat bagaimana hebohnya milist (mailing list) yang membuat orang berlomba-lomba menciptakan komunitas dan grup lewat dunia maya. Atau ingat-ingat juga bagaimana hebohnya fenomena friendster yang memaksa terciptanya pertanyaan baru saat kita berkenalan di dunia maya, pertanyaan baru berupa , “ alamat FS-nya apa..?”, sedikit menggantikan pertanyaan, “ alamat emailnya apa ?”.

Beberapa tahun belakangan ini, fenomena baru bernama “Blog” mencuat ke permukaan. Berduyun-duyun orang mulai menjamahnya hingga kemudian menurut sebuah survey, saat ini dalam 1 detik tercipta 1,4 blog di seluruh dunia. Jumlah yang mencengangkan, bukan..?. beragam manfaat dan kegunaan dari Blog mungkin telah dinikmati banyak pihak, mulai dari manfaat yang bersifat materil dalam bentuk uang maupun yang bersifat immaterial atau dalam bentuk kepuasan batin. Keleluasaan Blog sebagai ajang meng-ekspresikan diri memang membuat pemiliknya seakan-akan melepas segala batasan dalam dirinya demi menuangkan isi kepalanya sehingga tanpa sadar hal itu membuat mereka menemukan kepuasan. Namun, sama seperti halnya sebilah pisau, Blog juga terkadang dimanfaatkan untuk hal-hal yang negatif dan melawan hukum, contohnya pertukaran file-file yang bersifat pornografi dan pornoaksi.

Dalam kaitan ini, komunitas Blogger Makassar/AngingMammiri.org kemudian menggelar ajang bincang IT dan Blog bertema “Blog For Life”, yang diadakan pada hari Sabtu 28 Juli 2007 di PTC Panakkukang. Ajang yang bertujuan untuk mengenalkan IT secara umum dan Blog secara khusus kepada masyarakat umum ini dipadati peserta yang mulai berkumpul sejak pukul 8.30 atau 1 setengah jam sebelum acara dimulai.

Acara ini dibagi dalam 2 segment. Segment pertama yang berlangsung dari pukul 10.00 sampai 12.00 berisi pengenalan dunia Internet dan Blog yang dipandu Iwan Gunawan (http://talluroda.blogspot.com/). Pembicara pertama adalah wakil dari Telkom, Ir. Firman
Hidayat, Manager Sales Data & iVAS PT. Telkom. Dari penjelasannya beliau menjabarkan peranan Telkom lewat Telkom Speedy-nya dalam usaha membentuk Makassar sebagai Cyber City. Penjelasan ini juga disertai pengenalan dan fakta seputar internet. Di bagian berikutnya, Muhammad Nadzirin Ashari Nur atau yang di komunitas Blogger Makassar akrab disapa Dg. Baco (http://makassarces.blogspot.com/), mengungkapkan “rahasia” tentang blog. Mulai dari perkenalan “apa itu Blog ?” yang berisi beragam definisi dari para blogger ataupun non blogger (dalam hal ini diwakili Roy Suryo-yang entah kenapa punya hubungan buruk dengan para blogger), bagaimana membuat Blog, sampai manfaat apa yang bisa didapatkan dari Blog. Sesi pertama ini berjalan cukup seru karena “dimeriahkan” oleh beberapa pertanyaan dari peserta yang menunjukkan antusiasme yang tinggi. Salah satu peserta yang berprofesi sebagai pengajar, lumayan mengundang tawa karena pertanyaan beliau yang “lugu” namun kritis. Antusiasme ini sekaligus membuktikan bahwa sebenarnya masyarakat kita ingin tahu banyak tentang IT & Blog, hanya saja mungkin selama ini sosialisasi dan penjelasannya saja yang masih kurang menyentuh berbagai lapisan masyarakat.

suasana saat berlangsungnya bincang IT & Blog

Setelah rehat beberapa jenak untuk acara makan siang dan sholat dhuhur, session kedua bertajuk “talkshow tentang blog” yang disiarkan secara live di radio Fajar FM pun digelar. Kali ini tampil sebagai pembawa acara adalah Lily atau yang dalam komunitas Blogger Makassar lebih akrab disebut Mamie (http://alwaysmamie.blogspot.com), menampilkan enam bintang tamu yang berprofesi berbeda-beda namun tetap satu dalam blog. Mereka adalah : Aan Mansyur (http://pecandubuku.blogspot.com/), seorang penulis muda dari kota Makassar sekaligus pemilik kafe baca Biblioholic. Anwar Jimpe Rahman (http://kotakjimpe.blogdrive.com/) , mewakili penerbit buku ININNAWA, Asri Tadda (http://astaqauliyah.blogspot.com/) seorang Blogger yang telah mulai meraup keuntungan materi dari Blog, Muh. Mustamar Natsir atau akrab disapa Prof.Mus (http://blogaholicacute.blogspot.com) , Irayani Queencyputri (http://i-rara.com) yang dalam komunitas Blogger Makassar lebih sering dispanggil bu ErTe. Terakhir adalah Ilham Halimsyah (http://ihscenter.blogspot.com) seorang fotografer yang baru saja menerbitkan buku kumpulan foto “ wajah kota: 400 tahun Makassar”.

Masing-masing pembicara mengungkapkan definisi dan manfaat blog dari persepsi masing-masing. Aan Mansyur misalnya, pemuda berperawakan kecil ini lebih banyak menceritakan tentang manfaat blog terhadap kemampuan menulis, sementara Ilham Halimsyah lebih banyak bercerita tentang hubungan antara fotografi dan blog. Sekilas beliau menceritakan bagaimana sebuah karya fotonya tentang Sulsel yang dipajang di blognya mendapat tanggapan dari sebuah agent perjalanan di Jakarta yang kemudian menawarkan kontrak untuk mengabadikan berbagai obyek wisata di SulSel. Asri Tadda yang juga seorang calon dokter kemudian melengkapi cerita tentang manfaat blog dengan penjelasan mengenai AdSense dan AdBrite atau bahasa gampanganya, mengumpulkan duit lewat blog. Pemaparan yang gamblang tentang cara mendatangkan dollar lewat blog tersebut tentu saja membuat peserta makin penasaran.

Sementara itu, Irayani Queencyputri dan Muh.Mustamar Natsir lebih banyak membahas tentang komunitas Blogger Makassar dan situs portal Angingmammiri (http://www.angingmammiri.org) yang merupakan perpanjangan tangan dari komunitas Blogger Makassar. Dijelaskan di sini, ihwal pembentukan kedua ajang kumpul-kumpul blogger makassar ini dikarenakan rasa iri (tentu saja dalam artian positif) terhadap wadah serupa yang dibuat blogger-blogger lain di kota-kota di luar Makassar. Pada perkembangan selanjutnya komunitas yang masih seumuran jagung ini telah mampu menampung sekitar 180-an anggota yang punya hubungan batin dengan Makassar walaupun tidak bermukim di Makassar. Anggota komunitas ini benar-benar berada di wilayah yang tersebar ,sebagian besar berada di Makassar sendiri sebagai pusat gravitasi kegiatan komunitas ini hingga di kota-kota seperti Balikpapan, Cikarang, Jakarta, Bogor, bahkan sampai ke Birmingham-Inggris.

Berbagai pertanyaan, baik secara live dari lokasi talkshow maupun lewat telepon sekali lagi menunjukkan antusiasme yang besar dari masyarakat Makassar pada khususnya. Puncaknya, sebuah testimonial yang datang dari salah satu “tetua” blogger Makassar, Amril Taufik Gobel (http://www.amriltgobel.net/) makin mengesahkan dampak positif dari Blog tersebut. Dalam testimonialnya, beliau yang menyempatkan diri menelpon dari Cikarang untuk berbagi cerita tentang “keajaiban” blog. Sebagai informasi, beliau ini adalah salah satu blogger Makassar yang tersukses. Sebuah buku berjudul “Warna-warni hidupku” berisi tulisan-tulisannya tentang pengalaman sehari-hari yang diambil dari sudut pandang anak pertamanya telah diterbitkan. Selanjutnya berbagai cerita pendek yang awalnya hanya mengisi blog-nya kemudian diolah menjadi skenario sinetron dan telah pula ditayangkan di sebuah televisi swasta. Suatu contoh blogger yang sangat patut ditiru.

Akhirnya sekitar pukul 3.30 sore acara ditutup setelah sebelumnya digelar acara kuis dengan hadiah berbagai buku dan merchandise yang berhubungan dengan Blog. Secara umum, acara berlangsung sukses. Kerja keras panitia yang konon sangat instant namun tak kenal lelah ternyata berbuah positif. Imbasnya, tak satupun dari deretan para blogger Makassar yang menjadi panitia yang terlihat lelah. Senyum lebar-bahkan tawa lebar-mewarnai session foto bersama (baca: narsis bersama..) di penghujung acara. Sebuah langkah positif untuk memperkenalkan Internet dan Blog ke khalayak ramai. Istilah Orde Baru-nya, Memasyarakatkan Blog dan Memblog-kan Masyarakat..!!!. (lupa kemarin istilah ini punya siapa ya…?, sorry ya istilahnya saya pake’..).

inilah tampang sebagian panitia sebelum bernarsis-narsis ria..

Akhir kata, terima kasih kepada seluruh panitia yang telah bekerja tak kenal lelah. Juga kepada seluruh sponsor acara ( PTC Panakkukang, Telkom Speedy, Maruki International, Coca Cola, Prambors, Fajar FM dan sponsor-sponsor lainnya) juga kepada media yang telah meluangkan waktu meliput acara ini (Tribun Timur dan Fajar TV).

Terima kasih, dan Salam Blogger…!!!!


July 30, 2007 in Keliling Makassar, Random Post

JOKE – JOKE SEPUTAR ANAK


Mumpung masih dalam suasana hari anak nasional, saya jadi ingat beberapa joke tentang anak-anak, tentang kepolosan mereka yang kadang-kadang memang bikin kita tersenyum atau bahkan terbahak-bahak.Silakan dinikmati .

————————

Rudi tergopoh-gopoh mendatangi mamanya, mulutnya pernuh dengan makanan. Sambil tetap mengunyah dia berusaha ngomong, “Ma..mpfhhh..ade..pfhhh..”. Mamanya cepat memotong, “ Rudi, kan mama udah bilang, kalo lagi makan jangan ngomong dulu. Gak sopan tauk..habisin dulu makanan di mulut, baru kamu ngomong. Ayo, abisin dulu..”. dengan patuh Rudi menghabiskan makanan di mulutnya. Setelah selesai, mamanya ngomong, “ nah..kalo sudah habis baru boleh ngomong. Jangan sambil ngunyah kayak tadi. Ingat ya, lain kali jangan begitu lagi. Emangnya tadi Rudi mo ngomong apa..?”. dengan tanpa rasa bersalah Rudi berkata, “ itu ma, adik jatuh ke sumur..”, deg..!!!!!, sang mama langsung pingsan.

———————–

Seorang bapak berpesan kepada anaknya, “ nak..kalo ntar ada orang yang datang nyari bapak, bilangin kalo bapak lagi keluar kota ya..”. Sang anak mengangguk tanda mengerti. Beberapa saat kemudian , seorang lelaki dengan jaket bergambar logo sebuah perusahaan pembiayaan datang, dengan sopan dia bertanya kepada si anak yang sedang bermain di halaman, “ nak, bapaknya ada..?”. karena ingat pesan bapaknya, si anak ngomong, “ ooo, nggak ada Oom. Bapak sedang keluar kota”. Sang tamu mengangguk, kemudian bertanya lagi, “ pulangnya kapan ya..?”. si anak menoleh ke dalam rumah dan dengan setengah berteriak dia bilang, “ Pak, pulangnya kapan pak..?, tadi bapak nggak bilang….”.

————————

Di atas sebuah kereta jurusan Semarang-Jakarta, seorang ibu sedang asyik membaca novel. Di sampingnya sang anak terlihat gelisah sambil melihat-lihat keluar jendela. Setelah agak lama akhirnya sang anak memberanikan diri mencolek ibunya, rupanya sang ibu merasa terganggu, “ ntar dong ahh..jangan ganggu dulu, Ibu lagi asyik nih…pembunuhnya udah hampir tertangkap “. Sang anak menurut, dia kembali duduk walaupun masih terlihat gelisah. Hampir setengah jam kemudian si Ibu melipat novelnya, menoleh ke anaknya yang masih terlihat gelisah, “ kenapa Dian..?, tadi Dian mo ngomong apa..?”. dengan pelan si anak berkata, “ anu, Bu..stasiun yang terakhir tadi namanya stasiun apa ya..?”. si ibu menjawab, “ itu stasiun Tegal, memangnya kenapa Dian..?”. “ anu Bu, tadi kak Dias turun di situ, sampe sekarang kok nggak naik-naik ya…?”. “apppaaaaaa…????????!!!!!!!”.

———————–

Di sebuah kelas, sedang berlangsung pelajaran sejarah. Pak Guru menunjuk ke arah seorang murid sambil bertanya, “ Erwin, coba kamu sebutkan siapa yang menanda tangani naskah proklamasi..”. dengan ekspresi ketakutan Erwin mejawab, “ bukan saya pak…sumpah bukan saya pak….”. pak Guru menggeleng, dalam hati dia bergumam, “ah..memang bego nih anak.” Karena beritkad baik untuk kemajuan muridnya, pak Guru mengirim surat meminta orang tua Erwin datang ke sekolah. Keesokan harinya Erwin datang ke ruang guru ditemani ayahnya. Setelah berbasa-basi sejenak, sang ayah bertanya, “ ada apa nih Pak Guru, sampai-sampai saya diundang ke sini”. Dengan tenang dan berwibawa pak Guru berkata, “ begini pak, saya kok kasian sama Erwin ini. Kemarin saya tanya ke dia, siapa yang menandatangani naskah proklamasi, dia nggak tahu.” Si Ayah menggeleng-geleng, kemudian dengan lembut dia menoleh ke arah Erwin dan bertanya, “ nak, bilang aja nak…siapa yang menadatangani naskah proklamasi”. Erwin masih tetap dengan ekspresi ketakutan menjawab, “ bukan saya Ayah, sumpah…bukan saya…”. akhirnya sang Ayah ngomong ke pak Guru, “ pak, saya kenal baik anak saya. Biarpun bego dia tidak pernah bohong. Saya yakin, memang bukan dia yang menandatangani naskah proklamasi itu, coba deh bapak tanya ke teman-temannya, siapa tau salah satu dari mereka pelakunya…”……………………..GUBRAKK..!!!!!!………………

————————–

Didi sangat bangga dan senang punya anak. Setiap hari sebagian besar waktunya dihabiskan dengan bermain-main bersama sang anak yang baru mulai belajar bicara. Hari itu Didi mencoba mengajarkan nama-nama binatang kepada anaknya. Didi menunjukkan gambar kucing, “ ini gambar apa nak..?”, berpikir sejenak, si anak segera menjawab, “ cucing…” Didi tentu saja senang, berikutnya gambar kuda, “ ini gambar apa nak..?”, sang anak berpikir lagi sebelum menjawab, “ tuda..”, senyum Didi makin lebar. Gambar ketiga gambar monyet, diperlihatkannya kepada sang anak, “ nah, kalo ini gambar apa hayyo..”. sang anak terdiam agak lama, sebelum akhirnya menjawab dengan tegas, “ Ayah.!!!!..”

————-

Hehehehe…itulah sebagian joke-joke tentang anak-anak yang bisa saya ingat. Mungkin sebagian atau malah semuanya telah anda dengar sebelumnya, tapi saya harap joke-joke ini bisa membuat anda tertawa atau minimal menyunggingkan senyum. Setelah itu marilah kita bersama-sama merenungi langkah apa yang telah kita ambil demi kehidupan anak-anak, tunas bangsa, calon pemimpin kita di kemudian hari. Semoga saja kita bisa membuat ruang kehidupan mereka lebih bebas, bebas dari kungkungan, paksaan, kekerasan atau apapun yang bisa menghitamkan masa-masa indah milik mereka.

Selamat hari anak Nasional.

Kutitip cium dan peluk hangat untuk anakku, NADAA FATHIYA FARAH…..

oya, cerita-cerita di atas bukan pengalaman pribadi lho…hehehehe…


July 25, 2007 in Random Post

BIOSKOP MAKASSAR DALAM KENANGAN

Berangkat dari diskusi di milis Blogger Makassar tentang bioskop-bioskop di Makassar yang dulu jumlah dan jenisnya beragam, saya tertarik untuk mengurai kembali kenangan akan almarhum bioskop-bioskop tersebut.

Perkenalan pertama saya dengan bioskop dimulai sejak masih berumur setahun lebih, katanya waktu itu saya diikutkan orang tua menonton salah satu filmnya James Bond, sayangnya bapak dan ibu sudah tidak hapal judul filmnya. Tapi kalau melihat sejarah filmnya, sepertinya yang mereka maksud adalah “Moonraker”-nya Roger Moore. Perkenalan pertama itu jelas tidak membekas, maklum masih orok. Perkenalan kedua terjadi sekitar tahun 1986 atau 1987, saya sudah lupa tahun pastinya. Yang saya ingat, waktu itu saya dan seorang adik dibawa ibu nonton film “Ari Hanggara”, tempatnya di bisokop MADYA, Jl. Kajaolalido (sekarang jadi gedung bank BII). Saya ingat waktu itu kami nonton di sana dengan gratis karena salah satu kerabat (paman dari ibu) bertugas sebagai tukang sobek karcis.

Setelah perkenalan kedua itu, saya sudah makin sering mengunjungi bioskop. Dibilang sering sebenarnya tidak cocok, karena kesempatan nonton bioskop hanya terjadi sekali setahun. Biasanya saya dan teman-teman (beberapa orang di antaranya lebih tua) nonton di bioskop pada hari kedua setelah lebaran Idul Fitri atau sehari setelah Idul Adha. Ini jadi semacam tradisi bagi kami (dan sepertinya juga bagi sebagian warga Makassar, terbukti dari membludaknya penonton pada waktu-waktu tersebut), dan film yang paling sering dipilih adalah film-filmya Warkop DKI, atau terkadang juga film kolosal produk negeri sendiri semisal “Saur Sepuh “ atau “Mahkota Mayangkara”. Film komedi khas warkop ini jadi favorit saya dan teman-teman, adegan-adegan slapstiknya mampu membuat kami terpingkal-pingkal dan pulang dengan rasa puas luar biasa. Sementara itu, film kolosal yang diangkat dari cerita radio seingat saya juga sangat mampu memuaskan kehausan kami akan hiburan. Bioskop yang selalu jadi pilihan adalah bioskop PARAMOUNT dan DEWI (Jl. Gn Bulusaraung-sekarang sudah jadi kompleks pertokoan). Waktu itu kedua bioskop milik keturunan India ini adalah salah satu bisokop favorit di Makassar. Oya, semasa SD beberapa kali juga saya dan teman-teman “dipaksa” nonton ke bioskop. Kalau tidak salah kejadiannya terjadi dua kali , yang pertama film G30S/PKI (orde baru banget yak..?), yang kedua adalah STAR WARS (lupa episode yang mana). Alasan pastinya apa, entahlah, yang saya ingat hanyalah bahwa momen tersebut sangat menyenangkan bagi serombongan anak-anak SD seperti kami.

Setelah duduk di bangku SMP, tepatnya saat kelas 3 (sekitar tahun 91-92), saya dan 2 orang teman sudah mulai menjadi movie mania, uang jajan kami pun mulai disisihkan agar bisa lebih sering meluangkan waktu nonton di bioskop.

Sebelum cerita lebih jauh, saya mau mengingatkan dulu tentang beragam bioskop di Makassar yang ada waktu itu. Bila dikelompokkan menurut kelas pelayanan dan fasilitas, maka saya bisa membuat 4 kelompok bioskop. Bioskop kelas A dengan pelayanan kelas 1 (dolby stereo, kursi yang nyaman dan AC yang super dingin) anggotanya adalah : MAKASSAR THEATRE dan STUDIO 21. Bioskop MAKASSAR THEATRE sudah ada jauh sebelum STUDIO 21 masuk Makassar, dan masih bertahan sampai sekarang . Seingat saya, sekitar tahun 1992 harga tiketnya Rp. 4000 s/d Rp. 5000,-. Harga yang sangat mahal dan sulit kami jangkau waktu itu. Bisokop kelas B, dengan fasilitas sedikit di bawah bioskop kelas A beranggotakan ARINI THEATRE (Jl. Rusa-sekarang gedungnya masih ada tapi sudah jadi showroom meubel), ARTIST (Jl. Gn. Lompobattang- sekarang lokasinya sudah jadi pusat pertokoan), MALL THEATRE (Jl. Cendrawasih-terakhir setahu saya bekas gedungnya masih ada, tapi sudah jadi puing-puing),bioskop ISTANA (Jl. Slt. Hasanuddin-bekasnya sekarang jadi deretan ruko). Terakhir ada bioskop PARAMOUNT dan DEWI yang sudah saya ceritakan sepintas di atas. Biasanya bioskop kelas B ini harga tiketnya antara Rp. 2500,- s/d Rp. 3000.

bekas bioskop ARINI , Jl. Rusa yang sekarang jadi showroom meubel

Kelas berikutnya, atau kelas C (tanpa AC yang memadai dan tanpa Dolby Stereo dengan kursi dari rotan tapi masih cukup nyaman), beranggotakan bioskop BENTENG (Jl. Penghibur-sekarang jadi Colors Pub), dan bioskop MUTIARA (sekitaran Jl. Veteran-belakangan kualitasnya menurun dan jadi bisokop kelas D, terakhir satahu saya puingnya masih ada). HTM bioskop kelas C ini biasanya antara Rp. 1000 s/d Rp. 1500.

Kelas terakhir, kelas D dengan fasilitas seadanya (hanya memakai kipas angin, dengan kursi rotan yang sebagian kondisinya sudah rusak dan tanpa peralatan stereo) beranggotakan bioskop JAYA (Jl. Gn. Bulusaraung-sekarang sudah menjadi ruko) dan bioskop APOLLO (Jl. Gn. Latimojong-bioskop ini bahkan sudah tidak saya kenali bekas-bekasnya).

Sementara itu, bioskop MADYA yang sebenarnya adalah kelas B dan cinta pertama saya pada bioskop justru telah lebih dulu tutup dan berubah jadi gedung bank.

Saat masih duduk di SMP itu bioskop sasaran kami adalah bioskop-bioskop kelas C dan D yang harga tiketnya masih bisa kami jangkau dengan cara menyunat uang jajan selama seminggu. Untuk keperluan itu kami harus sering-sering mengikuti perjalanan film-film incaran kami lewat koran. Dari sini kami jadi hapal jalur distribusi film-film menurut jenisnya. Untuk film-film Hollywood kelas 1 pasti masuknya lewat MAKASSAR THEATRE dan belakangan STUDIO 21. Setelah tayang selama seminggu atau tergantung dari laku tidaknya film tersebut maka jalur selanjutnya adalah ARINI, MALL THEATRE dan ARTIST. Lepas dari situ film akan turun ke BENTENG dan terakhir ke APOLLO sebelum hilang dari Makassar. Nah, waktu yang tepat untuk nonton film tersebut tergantung dari kondisi keuangan, bila agak longgar maka nonton di bioskop kelas C adalah kemewahan tersendiri bagi kami. Tapi lebih sering kami terpaksa nonton di bioskop kelas D, yang penting filmnya jangan sampai lewat. Karena masih ABG, biasanya yang jadi incaran adalah film-film yang full action dengan bintang-bintang seperti Sylvester Stallone, Jean Claude Van Damme, Steven Seagal, Brandon Lee,dll. Pokoknya asal ada gebuk-gebukan atau tembak-tembakannya, soal kualitas cerita nomor sekian lah…

Sementara itu untuk distribusi film-film Hongkong, biasanya setelah dari MAKASSAR THEATRE dan STUDIO 21, jatuhnya sama ke ARINI dan ARTIST, setelah itu jatuh ke ISTANA dan terakhir ke MUTIARA. Jadi bioskop ISTANA dan MUTIARA ini terkenal sebagai bioskop spesialis film-film Hongkong. Nah, khusus bioskop DEWI, PARAMOUNT, dan JAYA yang tergabung dalam satu grup, mereka memiliki spesialisasi dan jalur distribusi sendiri. PARAMOUNT biasanya memutar film-film Hollywood kelas 2 (biasanya film-film yang asal action dan semi bokep). Bila telah turun, film tersebut akan jatuh ke bioskop JAYA, yang letaknya hampir berada di depannya. Pada waktu-waktu tertentu PARAMOUNT juga akan memutar film-film Indonesia yang biasanya didominasi oleh film milik Warkop DKI, film kolosal atau film bertema hantu plus sedikit adegan hot yang tetap bertahan saat perfilman Indonesia sedang sekarat. Sementara bioskop DEWI terkenal sebagai spesialis film-film Bollywood sambil sesekali diselingi film-film Indonesia, mirip bioskop RIVOLI di Jakarta. Ini tidak mengherankan mengingat sang pemilik yang berdarah India dan jika ingin mendengarkan lagu-lagu india, silakan anda nongkrong di lobby DEWI mulai jam 12 siang sampai jam 10 malam, ditanggung kenyang lagu India….

Menonton di bioskop-bioskop kelas C dan D ini membuat kami mendapatkan berbagai pengalaman unik dan menarik, pengalaman yang tentunya tidak bisa didapatkan dari pengalaman nonton di bioskop kelas B dan A. Ambil contoh bioskop APOLLO, nonton di sini artinya anda harus berbagi tempat dengan nyamuk atau kutu busuk.

Kursi-kursi rotan dipasang berjejer dengan satu lorong di bagian tengah. Bila biasanya di bioskop-bioskop kelas A anda mendapatkan kondisi kemiringan yang nyaman,maka di APOLLO jangan harap anda akan menemukan kondisi yang seperti itu. Kemiringan memang ada, tapi sangat landai hingga nyaris tidak terasa, lantainya dibuat dari papan dengan kondisi yang rusak di beberapa tempat. Pendingin ruangan menggunakan kipas angin yang tergantung di langit-langit dan para penonton bebas untuk merokok, terbayang kan pengapnya ?. Bagaimana dengan kursinya ?, sebenarnya lebih tepat disebut bangku, karena memang terbuat dari kayu dan rotan, silakan anda membayangkan bagaimana rasanya duduk di bangku rotan yang kadang jalinan rotannya sudah rusak dan berisi kutu busuk. Bioskop ini biasanya terkenal sebagai langganan para tukang becak karena harganya yang murah meriah ini. Well, apapun itu sebagai anak-anak penggemar film dengan kantong yang tipis, itu semua tentu tak ada artinya. Oya, ada satu hal lagi yang unik. Biasanya di pertengahan film, atau pada saat penggantian rol, ada waktu jeda selama kurang lebih 10-15 menit. Waktu ini dimanfaatkan penonton untuk buang air kecil atau sekedar mencari udara segar di luar.

Nah, di bioskop JAYA ada hal yang unik lagi. Bioskop yang terkenal dengan poster filmnya yang hot ini menjadi pilihan kami saat usia memasuki masa remaja. Bioskop ini juga sering kami juluki “bioskop tunduk”, alasannya karena bioskop ini terkenal sering memutar film ecek-ecek yang tergambar dari posternya, jadi pada saat bubaran kami musti nunduk agar tidak keliatan orang yang berlalu lalang karena posisi bioskop ini yang pas berada di pinggiran jalan, malu kalau sampai ketahuan… Kondisi bioskop ini tidak jauh beda dengan kondisi bioskop APOLLO, kecuali keadaan bangkunya yang sedikit lebih nyaman. Istirahat “turun minum” juga berlaku di sini. Film-film yang diputar adalah film-film Hollywood kelas 2 yang saya yakin tidak akan anda temui di pagelaran Academy Award. Biasanya lagi nih, dalam satu pemutaran film seringkali ada potongan film-film semi porno (XX) yang diselipkan sepanjang kira-kira 3-5 menit, yang terjadi beberapa kali. Ini adalah momen favorit kami. Di hari Minggu, ada pemutaran extra jam 10 pagi. Film yang diputar biasanya film-film yang “tidak masuk akal”, semisal : “Sunan Kalijaga” yang waktu itu pun sudah sering diputar di TV. Sepintas memang tidak masuk akal bukan ?, tapi tunggu dulu…rupanya ada yang ekstra dari film ini. Penyisipan adegan-adegan semii porno biasanya jadi lebih sering..!!!. Tapi tidak jarang juga penonton tertipu, sudah bela-belain beli karcis untuk film-film yang “tidak masuk akal” itu tapi selipan tidak ada sama sekali, kacian deh Looo..(kami juga pernah jadi korban, hehehe..).

Saat mulai berseragam putih abu-abu perlahan-lahan kami mulai “naik kelas” dengan lebih sering mengunjungi bioskop kelas B, sambil tetap sesekali menengok bioskop JAYA (karena ekstra-nya tadi..). Sementara bioskop APOLLO sudah mulai hilang dari daftar, paling sial nontonnya di bioskop BENTENG. Kesempatan nonton di bioskop kelas A akhirnya datang juga, kalau tidak salah ingat waktu itu saya habis dapat order bikin kartu lebaran, dibayar Rp. 5000 plus 2 bungkus Dji Sam Soe. Karena sudah lama bermimpi, akhirnya duit itu terpakai buat nonton di STUDIO 21 Jl. DR. Sam Ratulangi, yang waktu itu masih baru. Filmnya ‘DEMOLITION MAN” punya Sylvester Stallone dan Wesley Snipes. Wuihhh..senangnya luar biasa, seumur-umur baru kali itu kami nonton film dengan kualitas Dolby Stereo yang oke banget.

Booming VCD-yang lebih praktis- yang mulai sekitar tahun 1995-1996 kemudian menggeser keberadaan bioskop-bioskop tersebut, termasuk Laser Disc yang hanya sempat bertahan sebentar menggantikan Video VHS dan Betamax. Bak hukum rimba, hanya yang kuat yang kemudian mampu bertahan. Satu persatu bioskop-bioskop tersebut tutup, sebagian besar berubah fungsi menjadi pusat pertokoan namun beberapa diantaranya masih bisa kita lihat sisanya. Yang bertahan kemudian hanya STUDIO 21 (yang pernah dianggap memonopoli dunia perbioskopan di tanah air) dan MAKASSAR THEATRE.

Bioskop DEWI sendiri sebagai spesialis pemutar film-film Bollywood kemudian ber-reinkarnasi menjadi bioskop REWA (letaknya satu gedung dengan REWA busana Jl. S.Saddang kompleks Maricaya Plaza). Tapi ini pun tidak bertahan lama. Sang pemilik yang juga terkenal sebagai pedagang kain besar di Makassar kemudian membuka bioskop baru di dalam lokasi Mall Ratu Indah, sekitar tahun 2002 dengan nama ZWE ZE. Ini juga tidak bisa bertahan lama karena jenis film yang diputar tidak jauh dari kualitas film yang dulu diputar PARAMOUNT, film Hollywood kelas 2. Sekarang bekas bioskop ZWE ZE diambil alih STUDIO 21, sementara gedung bekas STUDIO 21 di Jl. DR.Sam Ratulangi masih ada namun suda dalam keadaan kosong.

Hari ini masyarakat Makassar hanya mengenal 2 bioskop. MAKASSAR THEATRE dan STUDIO 21 (di Mall Ratu Indah dan Mall Panakkukang). Rasanya sangat mustahil untuk menghidupkan kembali almarhum bioskop-bioskop tersebut di tengah “monopoli” sebagian pengusaha bioskop dan serbuan produk VCD dan DVD (utamanya yang bajakan). Apapun itu, saya sangat ingin berterima kasih kepada para pengusaha dan kru almarhum bioskop-bioskop tersebut yang telah pernah menggoreskan memori indah dalam perjalanan hidup saya dan teman-teman.


TARIMA KASIH PURINA….


Jujur, saya termasuk orang yang cukup skeptis bila berurusan dengan pelayanan publik di negeri ini, khususnya apabila itu milik pemerintah. sudah sering sih saya merasa sangat kesulitan dengan hal-hal seperti ini. Mengurus surat-surat ijin, mengurus SIM, dan mengurus urusan yang lain. Pfuihh…ditanggung empet dah kalo dijalani di sini. Birokrasi yang berbelit-belit, meja-meja yang harus dilewati sambil tidak lupa menitipkan selembar kertas bergambar pahlawan Nasional, pokoknya UUD deh, makanya ndak heran kalo kebanyakan dari kita lebih memilih “jalur khusus”, biar lancar dan ndak perlu susah payah, walopun harganya jelas lebih mahal.

Tapi, kemarin (18/07/07) ada kejadian yang sedikit merubah perspektif saya tentang pelayanan publik. Pelakunya adalah orang-orang dari PLN Cab. Gowa, SulSel. Ceritanya begini, sejak bertahun-tahun yang lalu listrik di rumah saya (baca: rumah yang saya kontrak) voltasenya sangat tidak menentu. Terkadang bisa turun sampai 130-an Volt yang membuat kipas angin saja jadi males mutar, dan computer jadi susah nyala. Terkadang malah naik sampe 240 Volt yang membuat bohlam langsung putus. Soal ini pernah saya tanyakan ke teman saya yang kebetulan juga sudah cukup lama bergaul dengan listrik dan setrum menyetrum, katanya “ wah, susah Pul. Itu biasanya karena gardu listriknya kelebihan beban, atau karena instalasi dalam rumah ndak beres”. Oke, jawaban ini saya terima. Persoalan gardu yang overloaded saya kira akan sangat sulit diperbaiki, artinya paling tidak PLN harus bikin gardu baru dan kemudian memindahkan sebagian jaringan listriknya ke situ. Terus soal jaringan internal yang nggak beres, males juga untuk memperbaikinya, yah namanya juga ngontrak, sayang dong keluar duit banyak untuk urusan begituan, beda kalo misalnya rumahnya sudah rumah pribadi.

Nah, akhirnya urusan listrik naik turun ini saya diamkan saja, dengan harapan bentar lagi punya rumah sendiri yang listriknya lebih bagus. Tentu saja ada kompensasi untuk keadaan seperti ini. Saya yang harus menambah pendapatan dengan menerima order gambar harus rela bangun tengah malam untuk memulai aktifitas, soalnya di atas jam 11 malam, listrik biasanya sudah lumayan stabil hingga computer pun sudah bisa nyala tanpa harus takut me-restart setiap saat.

Waktu bergulir, sampai akhirnya ketabahan computer saya bobol juga. 2 hari yang lalu dia tiba-tiba ngadat. Cek per cek, ternyata mainboardnya jebol. Ahhh…sial bener saya, padahal minggu-minggu ini sedang banyak orderan dengan tenggat waktu yang mepet. Penyebabnya apalagi kalau bukan karena voltase yang liar tersebut. Akhirnya musti rela duit 750rb melayang….

Kemarin pagi, sebelum ke kantor iseng-iseng saya coba nelpon ke bagian pengaduan PLN Gowa, walaupun terus terang tanpa harapan. Yah, nothing to loose aja, ditanggapi syukur nggak ditanggapi juga sudah kebiasaan. Di seberang suara cewek memberi harapan,” ditunggu saja pak, nanti ada orang kami yang ke situ. Tapi harus ada orang di rumah biar bisa di-check langsung “. Kepalang tanggung ya sudahlah, saya ijin aja ke kantor untuk sekalian menunggu orang PLN datang. Menunggu selama 2 jam lebih, orang PLN nggak datang-datang juga padahal saya sudah terlanjur nggak ngantor. Pikiran jelek mulai timbul lagi, saya coba nelpon ke PLN, kali ini yang terima cowok, agak ketus dia bilang, “ ditunggu saja pak, soalnya hari ini ada banyak pengaduan, nanti pasti ke situ juga”, oke..saya bersabar lagi.

Sekitar jam 11-an yang ditunggu-tunggu datang juga. Serombongan pegawai PLN dengan seragam dan peralatan mereka segera beraksi. Segalanya di check, dari meteran sampe instalasi jaringan listrik dari tiang utama. Kesimpulannya, di tiang utama tempat kabel listrik rumah saya nyantol, ada yang nggak beres. Seorang petugas berbekal alat-alat dan tangga segera membereskannya. Katanya sih, ada kabelnya yang longgar atau gimana, entahlah soalnya saya juga agak-agak buta soal ini. Yang saya tahu hanyalah bahwa setelah bapak itu bergulat di atas tiang listrik di tengah terik matahari, akhirnya listriknya jadi stabil..!!!. saya check di Stavol yang biasanya rajin menjerit akibat voltase yang naik turun, ehh…ternyata emang stabil. Bohlam yang biasanya redup juga jadi terang benderang…

Hebatnya lagi, bapak-bapak berseragam PLN itu langsung “kabur” ketika saya sedang sibuk mengecheck keadaan listrik saya, padahal saya sudah niat mau ngasih sekedar pembeli rokok buat mereka. Untungnya saya masih sempat mengucapkan terima kasih. Seingat saya ini adalah kali kedua saya mendapatkan pelayanan yang memuaskan dari PLN Gowa. Sekitar 2 tahun lalu, saya sempat punya masalah dengan meteran listrik saya yang tiba-tiba meledak. Pagi hari saya nelpon ke PLN, sekitar 2 jam kemudian mereka datang dan memperbaikinya. Hanya kurang dari setengah jam, listriknya langsung beres…..waktu itu saya sempat menyuguhkan minuman buat mereka sekaligus memberi sedikit tanda terima kasih.

Ah, seandainya saja saya nelponnya dari dulu, mungkin duit yang 750ribu yang kepake buat beli mainboard baru itu masih ada di rekening saya…sekarang saya mau nyari teman yang dulu skeptis itu, minta pertanggung jawaban dari dia….hehehe..

Tapi yah, itulah yang namanya hidup. Penyesalan emang datangnya belakangan…kalo datang duluan, nggak seru ahhh….

Pelayanan dari PLN Gowa yang lumayan cepat, bebas birokrasi dan pungutan liar itu rasanya cukup menyejukkan, kata teman saya, “ ah, mungkin karena mereka masih orang kampung ya, jadi belum terkontaminasi sifat materialistis orang kota “, oya, teman yang ngomong ini pernah punya pengalaman buruk dengan pelayanan PLN Makassar. Mungkin memang benar apa yang dia bilang, tapi apapun alasannya saya ingin berterima kasih secara terbuka untuk PLN Gowa, nggak adil dong rasanya jika saya hanya mengkiritik dan mencemooh yang jelek dari orang tapi nggak mau memuji yang baik dari mereka….jadi, sekali lagi TERIMA KASIH, dan semoga yang baik-baik ini bisa dipertahankan, kalau perlu ditingkatkan….OBRIGADO..

keterangan : judul di atas adalah bahasa Makassar, bahasa asli orang Gowa, artinya kira-kira ” terima kasih, Oom”..sementara foto yang terpasang adalah foto lingkungan rumah saya.

UPDATE TANGGAL 23/JUNI/2007:
hari jum’at (20/07/07) tetangga saya ternyata mengalami kejadian yang kurang lebih sama. listrik di rumahnya juga tidak stabil. saya kemudian berinisiatif menelpon ke PLN Gowa, walaupun hari sudah malam. kali ini disertai harapan bahwa keesokan harinya mereka bisa langsung datang ke lokasi. ternyata harapan saya tidak terpenuhi, karena surprise-nya mereka malah datang malam itu juga..!!!!. sekitar 2 jam setelah menelpon, bapak-bapak dari PLN Gowa datang lengkap dengan peralatan. hasilnya, hanya berselang setengah jam kemudian listrik tetangga saya pun oke kembali. sekali lagi ini pebuktian dari PLN Gowa bahwasanya mereka mampu bekerja secara profesional demi kepuasan pelanggan.

July 19, 2007 in Random Post, Sekitarku

THERE’S NO NEED TO CRY…



Piala Asia mungkin sudah berakhir untuk Indonesia, skor 1-0 untuk Korea Selatan menghapus mimpi kita untuk membuat sejarah lolos untuk yang pertama kalinya ke babak kedua, sejarah yang telah ditorehkan Vietnam 2 hari sebelumnya. Rasanya memang menyesakkan, apalagi melihat fakta kalau kita sebenarnya punya peluang mengingat Piala Asia kali ini digelar di kandang sendiri. Tapi haruskah kita kecewa ?, nggak tau dengan anda, tapi saya pribadi tidak merasa kecewa sama sekali. Anak-anak merah putih sudah memberikan sesuatu yang maksimal, sesuatu yang katanya 2 level di atas kemampuan mereka. Sebagai contoh, saat menghadapi Bahrain yang tahun lalu dinobatkan FIFA sebagai tim Asia yang paling progressif ternyata kita bisa menang, menghadapi Saudi Arabia yang notabene adalah salah satu macan Asia yang juga langganan piala dunia, kita bisa megimbangi walaupun akhirnya kalah secara menyesakkan. Terakhir, menghadapi Koera Selatan, semifinalis World Cup 2002, peringkat 53 FIFA, dan penakluk raksasa, kita ternyata “hanya” kalah 1 gol. Perbandingan kualitas yang sangat njomplang dengan Korsel – kita berada di urutan 140-an dalam daftar FIFA dan kita belum pernah masuk putaran final piala dunia- ternyata tidak membuat kita lantas jadi silau dan menyerah sebelum bertanding.

Semangat pantang menyerah Bambang Pamungkas Dkk. ternyata berefek sangat besar untuk mengatasi ketimpangan kualitas itu. Terima kasih kepada puluhan ribu supporter yang telah rela datang ke GBK ataupun supporter yang hanya bisa menonton dari rumah dengan debaran yang sama sambil tidak lupa berdoa untuk timnas kita. Jadi saya kira kita tidak perlu kecewa, toh mereka juga sudah berhasil “menyatukan” Indonesia, dan memberikan kebanggan pada kita semua. Lagipula kita juga tampilnya nggak buruk-buruk amat koq, gak jadi lumbung gol kayak Malaysia, gak pernah kemasukan 4 gol dalam satu partai kayak Vietnam dan Thailand (walaupun Vietnam secara beruntung lolos dari putaran grup). Jadi sayang banget kalo kita mencaci maki mereka, masak kita cuma bangga waktu mereka menang, saat kalah pun harusnya kita juga tetap ngasih semangat kan..(eh, ini khusus buat para pemain dan pelatih lho..pengurus nggak termasuk…).

Kalau melihat ketiga pertandingan yang dilalui Indonesia, musti kita akui faktor kekalahan kita yang terbesar adalah dari segi postur dan stamina. Postur kita kalah jauh, men…bayangkan bagaimana susahnya pemain bertinggi 160-an melakukan duel udara dengan pemain bertinggi 180-an. Stamina juga sama, seandainya bukan karena suntikan tenaga tambahan dari para supporter, mungkin dari awal babak kedua pemain-pemain kita sudah nyerah duluan.

Kalau soal postur, ada yang bilang “mau bagaimana lagi, lha wong ras kita emang mentoknya segitu koq “. Hmmmm…mungkin juga, tapi kakek saya dulu cerita kalau orang-orang jepang yang dulu datang ke Indonesia badannya pendek-pendek, tapi lihat sekarang, bodi mereka udah pada tinggi-tinggi, hamper selevel dengan pemain-pemain Eropa. Harusnya kita bisa juga dong kayak mereka. Nah, kalau menurut saya nih ya, disinilah pentingnya pembibitan pemain muda sejak dini. Anda bisa bayangkan, bila pemain-pemain muda potensial berusia sekitar 10 tahun itu sudah terpantau, bisa saja kan kita mengarahkan mereka dalam sebuah wadah pelatihan yang selain berisi pelatihan sepakbola juga berisi pelatihan pembentukan postur plus makanan bergizi. Jika anak-anak itu sudah mulai terbentuk secara sistematis sejak masih umur 10 tahunan, maka ketika dia berusia 18-20 tahun, bodinya pastilah sudah tegap dan tinggi, nggak kalah deh sama pemain-pemain bermata sipit itu.

Nah, sementara itu soal stamina, saya punya usulan nih…harusnya PSSI membuat suatu regulasi seragam kepada klub-klub peserta LIGINA perihal pembentukan stamina. Kalau perlu ada semacam pengetesan secara berkala terhadap pemain-pemain yang potensial masuk ke timnas. Agak repot sih, tapi kan ini demi kemajuan pesepakbolaan kita. Lagipula jika program pembentukan stamina ini sudah jalan, klub-klub juga pastinya bakal sukarela menjalankannya, soalnya kalau nggak dijalankan mereka pasti bakal kalah terus dari klub-klub yang lebih siap dalam membentuk stamina dan fisik pemainnya.

Pertanyaannya, mau nggak PSSI mikir kayak gitu..?. lagian usulan di atas datangnya juga dari orang di negeri antah berantah yang sama sekali tidak memiliki kapabilitas sebagai pengamat sepakbola. Lha wong yang ngomong orang pinter-pinter aja nggak didengerin koq…

Padahal kalau mau jujur, ajang piala Asia ini adalah momentum paling tepat untuk memulai program peningkatan mutu persepakbolaan kita (halah..!!, bahasanya pemerintah banget yak..?). Harusnya ada semacam evaluasi terhadap kinerja timnas kita, evaluasi yang nantinya bisa menerbitkan kesimpulan berisi program jangka pendek dan jangka panjang. Biasanya penyakit bangsa kita adalah inkonsistensi…kita sebenarnya pinter, jago dalam melemparkan ide, tapi sayangnya sering gak kuat untuk tetap konsisten menjalankan ide dan rencana hingga jadi kenyataan. Nah, saya kok curiga ya, setelah ajang Piala Asia ini para pengurus PSSI yang dalam minggu-minggu ini berlomba-lomba menjadi pahlawan, bakal bubar jalan. Saya kok tidak yakin jika kemudian ada langkah konkret untuk menjaga momentum yang sebenarnya sangat tepat ini. Jangan-jangan besok-besok kita akan tetap berharap prestasi bisa muncul secara instant, mengirim puluhan remaja untuk belajar ke Belanda sambil berharap sekembalinya dari sana mereka bisa langsung jadi juara Asian Games….wow,hebat banget..emang sih, sekarang apa-apa serba instant, mie instant, nasi instant, kopi instant, penyanyi instant, tapi ini sepakbola Pak..beda dong…

Yah, sudahlah…melihat wajah dan kelakuan pengurus PSSI malah bikin masa depan sepakbola kita makin buram, seburam kaca jendela sebuah rumah tak berpenghuni di tengah padang pasir yang baru saja ketimpa badai gurun (hehehe…gak nemu analogi lain yang tepat..).yang penting kita publik sepakbola nasional tetap semangat aja, tetap bersatu dan berjuang membantu mereka-mereka yang sesat itu, nggak peduli bantuan kita dianggap atau nggak. Terima kasih buat semua pemain timnas yang sudah sempat membuat kita bangga selama dua mingguaan ini , terima kasih buat supporter yang sudah berjuang sekuat tenaga memberi suntikan semangat buat para ksatria lapangan hijau kita. Mudah-mudahan ini bukan hal terakhir yang akan saya ceritakan penuh kebanggan kepada anak saya tentang sepakbola kita. Mimpi itu harus terus kita jaga…

Sekarang, kembali ke lap…top..maksudnya, kembali ke kerjaan….sambil menunggu liga Eropa bergulir, sebentar lagi….

Ah, rasanya kok ironis, saya lebih menunggu Liga Eropa bergulir daripada LIGINA yang sebentar lagi juga bakal bergulir…hehehe, yah..mo gimana lagi..

keterangan : foto diambil dari situs resmi AFC Asian Cup.

July 19, 2007 in Random Post, Sepakbola

H -1

Terkait dengan postingan Hilman berjudul “Pemain ke 13” di sini, saya jadi ikut tertarik membahas perilaku para pengurus sepakbola kita pasca pertandingan kedua di Grup D Piala Asia antara Indonesia Vs. Arab Saudi.

Well, saya sangat setuju dengan pendapat Hilman dan teman-teman pendukung sepakbola kita yang rasional. Persoalan “salah pilih” wasit saya kira tidak seharusnya disikapi dengan membabibuta oleh para pengurus PSSI itu. Plis deh…wasit gak usahlah lantas jadi kambing hitam, apalagi sampe mendemo ke hotel tempat si Badrawi nginap, trus sampe ngancam mau menarik perwakilan PSSI di AFC. Menggelikan sekali. Anggaplah memang si wasit berat sebelah dan mengeluarkan beberapa keputusan controversial. Kan tidak seharusnya juga kita lantas membabibuta seperti itu hanya karena ada “dorongan” dari presiden SBY. saya kira Nurdin Halid dan sekutunya salah tangkap terhadap coretan tangan pak SBY. ibaratnya, pak SBY Cuma nyuruh nyalain korek api, NH dkk. malah sekalian menyalakan api unggun yang sialnya lagi kemudian membuat kebakaran yang hebat.

Sudahlah teman, anak-anak timnas sudah berjuang sekuat tenaga. Mereka sudah memberikan sesuatu yang sebenarnya berada di luar batas kemampuan mereka. Mereka sudah lebih kalem, tidak terpancing emosi bahkan saat sebagian orang menganggap si Badrawi itu sudah kelewatan. Saya membayangkan jika kejadian seperti ini terjadi di Ligina, di mana wasit dianggap memihak kubu tamu, pasti hancur deh tuh wasit digebukin pemain tuan rumah. Plus bonus lemparan dari supporter.

Syukurlah, pemain kita dan para supporter di GBK sudah dewasa pada waktunya. Protes berlebihan tidak diumbar, apalagi lemparan ke lapangan. Syukurlah bahwa semua sama-sama berpikir rasional bahwa yang penting adalah berjuang sekuat tenaga untuk negeri ini, persoalan ada yang curang di pihak lawan biarlah diurus sama yang berhak mengurus. Tapi sayangnya yang ngurus jadi kebablasan…masing-masing berlomba supaya dianggap pahlawan, supaya dianggap peduli sama sepakbola kita….woiii, kemarin kemana aja pak..?.

Saya sangat setuju sama komentar bung Kusnaeni di acara today’s dialogue di Metro TV. Beliau bilang, persoalan wasit kemarin biarlah berlalu, sekarang tinggal bagaimana kita bersiap menghadapi Korea besok. Sementara tamu yang lain di acara tersebut dengan berapi-api terus mengangkat persoalan wasit ini, sekalian dengan bunga-bunga nan indah tentang kebangkitan sepakbola nasional. Siapakah tamu yang lain itu..?, yup..betul..dialah Nurdin Halid. The one and the only….

Soal momentum kebangkitan sepakbola nasional, ya pasti setujulah…ini memang momentum yang tepat untuk menumbuhkan rasa cinta kita pada tim merah putih. Kata Bung Kus, jarang-jarang lho penonton sampe mau antri buat nonton timnas main. Sekarang pertanyaan saya, mampu nggak NH dkk. menjaga momentum ini, mampu nggak mereka bikin program jangka pendek dan jangka panjang untuk perkembangan sepakbola kita, mampu nggak mereka betul-betul memberikan kebanggaan pada sepakbola kita dan bukan sebaliknya, mencari kebanggan pribadi dari sepakbola..?..ah, paling-paling juga….you know the rest..

Apatis..?, mungkin…tapi maaf ya, saya Cuma apatis dan pesimis pada pengurus, bukan pada Bambang Pamungkas dkk. Buat mereka sih, saya tetap yakin kita bisa bicara banyak di ajang ini, ya syukur-syukur di ajang-ajang berikutnya. Asal anak-anak bisa tampil segila waktu mereka main lawan Bahrain dan Saudi Arabia, saya yakin kita bisa menahan Korea, bahkan kemenangan bukan hil yang mustahal..

Terlepas dari hasilnya nanti, asalkan anak-anak sudah tampil dengan semangat seperti yang dimiliki kakek-kakek pejuang kita dulu saya kira kita akan tetap bangga pada mereka. Nggak tiap hari lho kita bisa melihat puluhan ribu penonton bersama-sama menyanyikan Indonesia Raya (damn..!!!, momen ini berhasil membuat saya merinding..), dan kenapa mereka mau hadir di GBK dan kemudian sama-sama menyanyikan lagu Indonesia Raya bersama-sama..?, pasti karena rasa nasionalisme dan keinginan untuk diakui bangsa lain…kenapa rasa itu bisa muncul..?, karena belasan anak muda berkostum merah putih itu berjuang tak takut mati di lapangan hijau…jadi..ya kita musti bangga dong sama mereka…’tul ngak..?

July 17, 2007 in Random Post, Sepakbola

IMPOSSIBLE IS NOTHING..!!



Euphoria kemenangan Indonesia atas Bahrain di ajang piala Asia hari selasa kemarin masih terasa hingga sekarang. Bukan apa-apa. Terakhir kali kita bisa membanggakan prestasi timnas adalah sekitar 3 tahun lalu, saat di ajang yang sama Indonesia secara mengejutkan bisa memukul Qatar 2-1. Dibilang mengejutkan karena waktu itu Indonesia sama sekali tidak diunggulkan saat menghadapi salah satu tim terbaik di Asia itu. Setelah kemenangan itu, timnas Indonesia kembali puasa prestasi. Timnas senior maupun junior sama-sama mengecewakan, nilai raport yang jelek ini kemudian diperparah oleh ulah para pengurus PSSI yang nggak tahu malu itu. Tak heran, publik pecinta sepakbola tanah air kemudian menjadi apatis terhadap setiap langkah tim merah putih.

Untungnya anak-anak tim merah putih punya senjata rahasia bernama semangat. Didukung pemain ke-12 bernama supporter, Firman Utina, dkk. Mempersulit langkah Bahrain dalam memperoleh point, bahkan sebaliknya anak-anak muda berkostum merah putih itu berhasil mendulang poin penuh lewat keunggulan 2 gol melawan 1. Okelah, Milan Macala-pelatih Bahrain bilang kalau Indonesia hanya menang karena lebih beruntung. Mungkin dia lupa jika sepakbola itu adalah gabungan antara skill, strategi, semangat dan tentu saja keberuntungan. Oya, untuk anda yang belum tahu kekuatan Bahrain saya informasikan sebagai berikut, tahun lalu Bahrain nyaris lolos ke putaran final Piala Dunia 2006 di Jerman. Mereka hanya kalah dari Trinidad-Tobago di laga Play Off. Posisi yang tentu saja lebih baik dari timnas kita yang bahkan lolos dari putaran grup pertama pun tidak bisa.

Jalannya pertandingan mungkin semua sudah tahu, termasuk 2 gol dari Budi Sudarsono dan Bambang Pamungkas, saya lebih tertarik menyoroti makna yang terkandung di balik hasil akhir pertandingan itu. Dalam laga uji coba menjelang Piala Asia, boleh dibilang jumlah supporter yang datang ke stadion sangat minim,penonton yang datang pun kebanyakan membawa atribut klub masing-masing. Untungnya dalam pagelaran asli, mereka bersatu, menanggalkan atribut klub yang beraneka warna, ada oranye, kuning, merah, hijau, biru, dll. Atribut itu kemudian disatukan dalam dua warna, Merah dan Putih. Ini boleh diibaratkan sebagai Bhinneka Tunggal Ika, berbeda-beda tapi tetap satu. Untuk saya, ini saat yang tepat ditengah isu separatisme yang sedang hangat belakangan ini.

Di lapangan hijau, semboyan Bhinneka Tunggal Ika ini juga dipraktekkan 14 lelaki berbaju merah dengan lambang Garuda di dada kiri. Tengoklah bagaimana orang Manado memberi umpan ke orang Jawa, bagaimana orang Jawa bahu membahu bersama orang Papua menggalang pertahanan di lini belakang, bagaimana orang Makassar bertarung bersisian dengan orang Sunda. Yah, sebuah persatuan dan kerjasama yang sangat menyejukkan. Mereka menunjukkan, beginilah seharusnya orang Indonesia berdiri dan bekerja sama, dengan satu tujuan : mengharumkan nama bangsa.

Momen terbaik mungkin adalah saat para pemain dan supporter bersama-sama mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Semuanya lebur jadi satu. Saat itu di Gelora Bung Karno, mungkin hampir semua suku-suku bangsa yang ada di Indonesia terwakili. Saya yakin, jika bisa melihat momen ini maka orang yang namanya diabadikan menjadi nama stadion ini pun akan merasa bangga. Bangga bisa menjadi bagian suatu proses penyatuan berbagai perbedaan di negeri ini.

Akhirnya setelah berbagai pemberitaan yang memerahkan wajah negeri ini kita punya sesuatu yang bisa kita banggakan, dan lebih penting punya sesuatu yang membuat kita merasa satu, sebagai orang Indonesia.

Berikutnya, Arab Saudi sudah menunggu. Hasil imbang 1-1 melawan Korea Selatan tentu membuat mereka sangat bernafsu meraih 3 poin penuh. Semoga saja semangat a la ksatria Pandawa yang anak-anak punya saat menghadapi Bahrain kemarin belum sirna karena iming-iming 50 juta Rupiah. Terlepas dari hasilnya kita tentu masih ingin melihat rombongan anak muda penuh semangat yang saling bahu membahu mengembalikan senyum di wajah negeri yang sudah terlanjur carut marut ini. Arab Saudi dan Korea Selatan bukan unbeatable team, okelah mereka punya prestasi mentereng sebagai langganan piala dunia mewakili Asia, tapi tak ada yang tidak mungkin. Korea Selatan pernah berhasil menekuk Italy dan Spanyol saat main dikandang sendiri, jadi kenapa kita tidak bisa menekuk mereka ?, INI KANDANG KITA..!!!.

IMPOSSIBLE IS NOTHING..!!!

Nb:

Buat NIKE yang sudah sudi menyediakan seragam mentereng buat tim kita saya ucapkan terima kasih dan maaf jika saya terpaksa memakai tagline milik musuh bebuyutan anda, tak ada maksud untuk berpromosi….

July 12, 2007 in Random Post, Sepakbola

BEST OF THE REST



Mumpung liga Eropa lagi libur, saya iseng membuat skema permainan berisi pemain-pemain tua yang telah pensiun. Skema ini mengingatkan saya pada masa-masa awal saya jatuh cinta pada olahraga menyepak bola ini.

Pertama, saya memilih skema 4-2-3-1, skema ini adalah skema favorit baru saya. Menggunakan 2 gelandang bertahan untuk memutus serangan lawan lebih awal sambil mempersiapkan serangan balik yang cepat. Berikut pilihan pemain versi saya :

Untuk posisi kiper, saya tidak bisa lepas dari sosok PETER SCHEMEICHEL, andalan Denmark dan Manchester United ini bagi saya memenuhi semua kriteria seorang kiper. Tinggi, besar dan cekatan. Posturnya yang segede gajah itu ditopang pula oleh tampanganya yang memang sangar, cukup mumpuni untuk menjatuhkan mental penyerang saat berhadapan one on one. Satu-satunya kelemahan si Big Danes adalah pada bola-bola bawah, tipikal kelemahan kiper berpostur tinggi besar.

Di posisi pertahanan, pilihan saya jatuh pada kuartet Milan dan Italia akhir 80-an dan awal 90-an. Di kiri, walaupun belum pensiun namun saya tidak bisa melihat ada bek kiri lain yang bisa bermain seperti PAOLO MALDINI di masa keemasannya. Ketenangannya dalam bertahan, kecepatannya dalam menyerang dan visinya dalam membaca permainan adalah yang terbaik. Di sebelah kanan, mantan kompatriotnya di Milan yang sekarang menjadi asisten pelatih di klub yang sama, MAURO TASSOTI adalah pilihan nomor satu. TASSOTI dikenal lugas dan cenderung kasar dalam menghentikan pergerakan lawan, makanya lawan-lawan pada keder duluan melihat sosok yang satu ini. Untuk posisi yang krusial yaitu bek sentral, saya tak bisa tidak, jelas memilih duet FRANCO BARESI dan ALESSANDRO COSTACURTA. Di masa jaya kedua pemain ini, tak ada duet bek lain yang mampu bermain seapik mereka. Duet ini saling melengkapi, dan chemistry antara mereka terjalin sangat kuat. Ibaratnya tak perlu berkata-kata mereka sudah akan saling mengerti posisi masing-masing dan langkah yang harus diambil. Bagaikan tembok Berlin yang kokoh itu, butuh kemampuan lebih dari para penyerang lawan untuk bisa menembus duet ini.

Duet gelandang bertahan, saya memilih FRANK RIJKAARD dan MARCEL DESAILLY. RIJKAARD, pria berambut gimbal asal Belanda yang sekarang menjadi pelatih Barcelona adalah pemain dambaan para pelatih di jamannya. Kuat dalam bertahan dan cepat dalam menyerang, sangat cocok ditempatkan sebagai breaker. Sementara MARCEL DESAILLY, siapa yang tak kenal gelandang Perancis yang pernah sukses di Milan dan Chelsea ini. Bertenaga badak, dengan postur yang memadai untuk seorang gelandang. Kekurangannya mungkin hanya pada naluri menyerangnya yang sedikit di bawah RIJKAARD, makanya saya menempatkan dia sedikit lebih ke belakang.

3 gelandang menyerang saya percayakan pada sosok ZVONOMIR BOBAN, ROBERTO DONADONI dan ZINEDINE ZIDANE. BOBAN, pemain Kroasia yang sempat menjadi tulang punggung AC Milan adalah sosok gelandang cerdas, punya skill yang oke dan kemampuan mengubah alur permainan. Posisi aslinya adalah playmaker, namun saya kira tidak akan sia-sia menempatkannya di sisi kiri barisan gelandang. Di sisi kanan, kontribusi ROBERTO DONADONI yang sekarang menjabat sebagai pelatih timnas Italia saya kira tidak perlu diragukan lagi. Dan untuk jabatan elit sebagai playmaker, saya memilih ZINEDINE ZIDANE. Siapa yang tak kenal kemampuan pemain Prancis berdarah Aljazair yang baru saja mengunjungi Indonesia ini. Skill dan kemampuan membaca permainannya di atas rata-rata pemain lain di era jayanya. Satu-satunya kelemahan pria berkepala plontos ini mungkin hanya pada faktor emosi yang kadang meledak-ledak.

Berdiri sebagai striker tunggal, saya menempatkan MARCO VAN BASTEN. Pria yang saat ini menjadi pelatih timnas Belanda ini adalah sosok predator di kotak penalty. Sepintas VAN BASTEN terlihat sebagai pemain yang malas mencari bola, tapi saat dia memegang bola di kotak penalty maka berhati-hatilah. Peluang sekecil apapun di sudut sesempit apaun bisa diolahnya menjadi sebuah gol yang indah. Masih lekat di ingatan saya saat dia menjebol gawang Jerman di babak semifinal Euro’88. sebuah gol yang disebut sebagai sebuah mahakarya.

Untuk pelatih, saya cukup kebingungan. Setidaknya ada 2 sosok pelatih tua yang saya kagumi. ARRIGO SACCHI dan RINUS MICHEL. Kedua-duanya punya kemampuan sebagai pelatih kelas kakap. Akhirnya pilihan saya jatuh kepada RINUS MICHEL dengan pertimbangan bahwa beliau bersama Johann Cruijff adalah pencipta dasar-dasar permainan TOTAL FOOTBALL yang menjadi trade mark Belanda hingga saat ini.

Untuk cadangan, saya memasukkan nama-nama sebagai berikut :

Kiper : Michel Preud’homme (Belgia)

Bek : Mathias Sammer (Jerman), Ronald Koeman (Belanda), Gianluca Pessotto (Italia) dan Eric Gerets (Belgia).

Gelandang : Didier Deschamps (Perancis), Thomas Brolin (Swedia), John Barnes (Inggris), Paul Gascoigne (Inggris) dan Thomas Haessler (Jerman).

Penyerang : George Weah (Liberia) dan Gary Lineker (Inggris).

Well, formasi ini betul-betul bersifat subyektif dan sepenuhnya sesuai selera saya, dan mungkin anda punya pilihan yang lain.

July 09, 2007 in Sepakbola

DEGRADASI


Kira-kira sepuluh tahun yang lalu, seorang teman bertanya kepada saya : “kata-kata apa yang diucapkan pacarmu yang akan membuat kamu merasa sangat lega dan happy..?”, tadinya saya menjawab “ aku cinta padamu..?”, ternyata kata teman saya kata-kata itu masih ada yang mengalahkan. “ apa ?”, Tanya saya. Teman saya tersenyum simpul dan menjawab, “ kata-kata yang paling melegakan adalah, kak..aku haid koq.., nggak ada yang lebih melegakan dari kata-kata itu, artinya kamu nggak perlu tanggung jawab hari ini..”, dan lelucon itu bikin saya ketawa.

Oke,10 tahun lalu bila lelucon seperti itu dilemparkan kepada anak muda kita, mungkin mereka (atau mungkin kita juga) hanya akan tertawa menanggapinya. Tapi hari ini, bila lelucon dilemparkan kepada anak muda sekarang, sebagian dari mereka pasti akan menambahkan anggukan setuju dari tawa mereka. Lelucon yang sepuluh tahun lalu murni lelucon, hari ini menjadi komedi satir yang mengandung kebenaran.

Globalisasi yang jadi tema utama perkembangan umat manusia abad ini membuat dunia ini seakan-akan tanpa batas. Perkembangan teknologi yang pesat juga makin mengesahkan pameo dunia tanpa batas itu. Sayangnya tidak semua pihak mampu menyerap perkembangan modernisasi dan globalisasi ini secara positif. Berbagai dampak negatif juga sayangnya ikut diserap, bahkan kadang-kadang kadarnya jauh melebihi penyerapan atas dampak positifnya.

Anak muda yang katanya masih dalam tahap pencarian jati diri nyatanya menjadi pihak yang paling sering menyerap dampak negatif tersebut. Ambil contoh dari segi berpakaian dan pergaulan. Kita bisa bandingkan kisah 10 tahun lalu dengan kenyataan saat ini. Kata seorang ustadz, dulu para wanita muda sering memakai pakaian punya kakaknya biar lebih tertutup, tapi sekarang anak-anak muda lebih senang memakai pakaian punya adeknya, biar lebih ketat atau malah lebih terbuka. Di Makassar sendiri saya bisa melihat pergeseran nilai-nilai dalam berpakain muda-mudi tersebut. Sekarang bukan hal yang sulit untuk mendapati gadis-gadis muda memakai tank top, atau t-shirt ketat yang memperlihatkan puser dan ujung atas pakaian dalam. Istilah lokalnya PALOPO (pake lobang pocci=pake lubang puser). Bahkan kita mungkin sudah gampang mendapati gadis muda yang pakaian atasnya mirip pakaian dalam saking minimnya.

Itu baru dari segi berpakaian, sekarang kita lihat dari segi pergaulan. Beberapa waktu yang lalu kebetulan saya sempat nonton acara BULETIN MALAM di RCTI, dalam laporannya sebuah LSM di Makassar (saya lupa namanya) menyebutkan kalau 50% pelajar SMP di Makassar telah pernah melakukan hubungan sex atau yang menjurus ke hubungan sex. Dan jumlah ini makin meningkat pada level SMU dan perguruan tinggi, bahkan katanya di perguruan tinggi sudah mencapai angka 90%. Terlepas dari akurat atau tidaknya data LSM tersebut, saya kira ini adalah jumlah yang sangat mengejutkan, mengingat dulunya kota Makassar adalah kota yang dijuluki Serambi Madinah, karena ketaatan penduduknya dalam memegang ajaran Islam.

Sebenarnya saya berharap laporan LSM tersebut salah, tapi kenyataan yang saya lihat di lapangan membuat saya ragu akan harapan saya sendiri. Perubahan Makassar dari kotamadya menjadi kota Metropolitan ternyata juga membuat gaya pergaulan anak-anak mudanya naik satu level (atau malah turun ya ?). Pacaran bebas dengan gaya bermesraan di depan umum sudah bukan barang langka lagi. Beberapa lokasi yang sepi dari pantauan menjadi pilihan favorit anak-anak muda untuk mangkal dan kemudian bermesraan. Danau (atausungai ya..?) di samping GTC Tanjung Bunga misalnya, silakan anda jalan-jalan ke sana sehabis maghrib, saya yakin anda pasti akan bisa dengan mudahnya menemukan pasangan muda-mudi yang sedang bermesraan dalam kegelapan (lengkap dengan pengamennya pula, hehehe). Soal apa yang mereka lakukan, silakan ditebak sendiri.

Jalan Hertasning baru yang belum genap setahun diaspal ternyata dengan cepat menjadi pilihan sebagian muda-mudi. Lokasinya yang paling ramai adalah di jembatan dua dekat MInasa Upa. Saya bisa tahu karena ini adalah jalur saya tiap harinya, paling ramai biasanya di malam minggu. Analisa saya, lokasi ini dipilih karena relatif masih sepi dari pengguna jalan dan tentu saja karena masih gelap (lampu jalan belum terpasang). Serunya lagi, sepulang dari acara nonton bareng final Liga Champion kemarin, saya masih mendapati sepasang muda-mudi yang pacaran dekat jembatan itu, gila..!!, padahal jam sudah menunjukkan pukul 5 pagi, nggak tahu apa mereka keluarnya terlalu cepat atau pulangnya yang telat.

Jangan tanya tentang rumah-rumah kost. Hari ini semakin banyak rumah kost yang memberi keleluasaan luar biasa bagi para penghuninya. Setahu saya, barisan rumah-rumah kost makin banyak yang melonggarkan aturannya dan membiarkan terjadinya pembauran antara sosok berlawanan jenis ini. Walaupun memang masih ada juga beberapa tempat kost yang menerapkan aturan ketat soal pergaulan. Ketersediaan tempat dan waktu untuk berbuat mesum ini sekaligus melengkapi faktor-faktor lain yang menjadi penyebab makin beraninya anak muda mempraktekkan apa yang belum seharusnya mereka perbuat. Kemudahan memperoleh material pornografi lewat internet, HP dan cakram padat adalah hal lain yang juga sangat berpengaruh.

Seingat saya, masa 10-15 tahun lalu saat masih ABG, mencari material pornografi semisal video BF adalah hal yang sangat sulit. Nyari kasetnya saja sulitnya setengah mati, setelah itu nyari pemutarnya menjadi masalah kemudian. Tapi sekarang, nggak perlu susah payah, jalan-jalanlah ke pusat penjualan elektronik di jalan Gn. Latimojong, di parkiran seorang anak kecil akan mendatangi anda dan menawarkan VCD porno. Atau kalau punya koneksi internet silakan di-search, dan dalam sekejap anda bisa men-download material-material porno tanpa sensor. Bisa dibayangkan bukan bila hal ini dilakukan oleh para remaja yang masih labil dan doyan coba-coba itu ?.

Kemajuan teknologi selular yang hari ini makin lengkap rupanya juga disalah gunakan beberapa pihak. Sekarang sudah tidak terhitung berapa banyak konten pornografi yang menyebar lewat media Handphone. Entah itu material buatan luar atau malah buatan sendiri. Sekitar tahun 2001 kita dikejutkan dengan kasus Bandung Lautan Asmara, video porno buatan dalam negeri ini seolah-olah menjadi pendobrak dinding pertahanan kita. Setelah kasus tersebut mereda, perlahan-lahan konten pornografi buatan dalam negeri, entah yang berupa rekaman gambar ataupun hanya gambar diam atau foto makin merebak. Ada yang tersebar dengan sengaja namun ada pula yang tersebar secara tidak sengaja. Pemeran-pemerannya pun makin hari makin muda, kalau kasus BLA pemerannya adalah anak mahasiswa, maka beberapa kasus belakangan ini pemerannya ada yang anak SMP.

Entah negeri ini akan jadi apa nantinya, setelah berbagai persoalan menerpa para petinggi negeri dan “orang dewasa”, remajanya pun didera persoalan yang tidak kalah dahsyatnya. Masalahnya adalah, bagaimana remaja kita bisa lurus dalam bergaul kalau orangtuanya justru memberi contoh yang nggak beres. Masih segar kan dalam ingatan kita saat salah seorang anggota dewan yang terhormat ketahuan berasyik masyuk dengan wanita yang bukan istrinya ?, nah anggota dewan yang terhormat saja kelakuannya seperti itu, bagaimana dengan kita yang masyarakat biasa dan tidak terhormat..?. pokoknya masalahnya memang kompleks banget deh, jauh lebih ruwet dari jalinan rambut di kepalanya Edi Brokoli….

Teman-teman yang sudah lama mengenal saya mungkin akan menganggap saya sok suci atau malah mencibir kala membaca tulisan saya ini, but trust me man, everything will be different when you have your own child…. Saya merasa takut akan perkembangan generasi kita di masa datang, akan seperti apa model pergaulan mereka 10 tahun lagi ?, akankah lebih parah dari yang sekarang atau adakah kemungkinan akan kembali sopan minimal seperti saat saya masih ABG dulu ?.

Bos saya berkata, “ orang Indonesia suka asal meniru. Kita meniru yang jelek-jelek dari orang bule, cara berpakaian dan cara bergaul. Sementara yang bagus-bagus dari mereka seperti kedisiplinan, kerapihan ,kebersihan dan etos kerja mereka nggak kita tiru…”. Hhh…orang Indonesia memang aneh…… sudahlah, sekarang tinggal bagaimana kita menata rumah tangga kita sendiri dan menciptakan generasi muda yang terbaik bagi kita dan bangsa kita, amien…

July 09, 2007 in Random Post

STAND UP AGAINST BUSH..!!!

Maaf

postingan ini terpaksa saya tutup. komentar yang muncul di bawah (kecuali 3 komentar yang masih tetap saya pertahankan) sudah sangat keterlaluan, tidak sopan dan mulai menyinggung SARA . sangat jauh dari arah diskusi yang saya harapkan.

kalau ada yang keberatan, silakan kontak saya di : ipul.ji@gmail.com

terima kasih.

July 06, 2007 in Random Post

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site