Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Salah satu pilihan mie kering Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya...

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat,...

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Author Archive

Games Dari Masa Ke Masa 3

Games Dari Masa Ke Masa

Age Of Empire, salah satu games favorit saya

Saya bukan gamers, meski sempat beberapa kali jatuh cinta pada beberapa permainan elektronik. Tapi harus saya akui kalau games sudah jadi sebuah budaya sendiri untuk masyarakat modern.

Pada hakikatnya permainan memang sudah jadi bagian hidup manusia. Dari jaman dahulu kala, ragam permainan sudah jadi bagian perkembangan budaya sebuah suku bangsa. Anak-anak mengenal beragam permainan tradisional yang jadi sebuah alat untuk bersosialisasi dan bergaul dengan sesamanya anak-anak.

Ketika jaman makin berubah dan ada sesuatu yang bernama teknologi, maka permainan juga mulai berubah. Dulu anak-anak mengenal permainan-permainan tradisional yang mengandalkan alat-alat bantu tradisional dan seadanya, sekarang dengan perkembangan teknologi jenis-jenis permainan itu mulai diganti dengan permainan yang memerlukan alat-alat modern.

Gimbot dan Ding Dong

Ketika kanak-kanak saya mengenal ragam permainan yang mulai menggunakan alat-alat yang (waktu itu ) dianggap modern. Orang menyebutnya gimbot yang saya kira adalah pengucapan dari game watch. Alat kecil dengan tenaga batere ini sudah jadi alat permainan yang cukup modern waktu itu. Satu game watch hanya berisi satu jenis permainan dan yang paling laku adalah tetris. Jenis lainnya ada cowboy yang saling menembak di bar, ada kapal selam yang menembak kapal laut dan pesawat tempur, dan beberapa jenis lainnya. Ada yang bahkan bisa dengan dengan lantangnya memaki kita pemainnya dengan makian : BEGO LOE !!

Game Watch atau Gimbot

Gimbot

Pemilik gimbot tidak telalu banyak, mungkin karena memang harganya yang agak mahal dan tidak gampang dijangkau. Peluang ini dimanfaatkan banyak mas-mas pedagang mainan anak-anak. Mereka membeli beberapa permainan gimbot yang kemudian dibawa keliling kampung dengan sepeda bersama barang-barang kebutuhan anak-anak lainnya.

Gimbot yang disewakan diberi tali untuk mencegah pencurian. Sistemnya berdasarkan permainan, satu permainan sampai game over dihargai beberapa rupiah. Pemain yang menyewa gimbot biasanya bermain sambil berjongkok, bila waktunya selesai atau game over maka mas-masnya akan menarik tali sebagai tanda untuk berhenti. Kalau masih mau main, silakan bayar lagi.

Selain gimbot, masa itu yang paling laku juga adalah permainan ding dong. Ini satu-satunya peninggalan games jaman dulu yang sampai sekarang masih bertahan. Mesin besar yang baru mau beroperasi setelah kita memasukkan beberapa koin untuk menyuapnya. Ada beberapa pusat permainan seperti itu di Makassar dan biasanya akan heboh dan berisik dengan suara mesin yang dipukul para pemainnya.

Nintendo, Sega dan PS

Awal 90an, game konsol masih jarang dimiliki. Merek yang terkenal tentu saja adalah Nintendo dan kemudian menyusul Sega dengan terobosan dan gambar yang lebih apik. Anak-anak akan sangat bangga kalau punya salah satu dari game tersebut, rumahnya bisa jadi tempat favorit dan perbincangan dari anak-anak lain di lingkungan ataupun di sekolahnya.

Logo SEGA

Generasi Playstasion kemudian datang dan membuat Sega apalagi Nintendo menjadi sangat ketinggalan. PS 1 dan kemudian PS2 dan terakhir PS3 adalah produk jaman modern yang membuai para gamers. Bisnis rental PS jadi bisnis yang berkembang pesat. Begitu mudanya menemukan rental PS di mana saja, apalagi di lingkungan perumahan yang padat. Anak-anak jadi begitu terbuai dan kadang menghabiskan berjam-jam dari waktunya untuk memelototi layar yang berisi permainan kesukaan mereka.

Game Komputer

Bicara game tentu tidak bisa lepas dari perkembangan komputer. Ketika pertama kali mulai akrab di telinga dan mata orang Indonesia sekitar awal 90an, komputer juga menjadi sebuah media subur untuk tumbuh kembangnya bisnis games. Ragam permainan yang ditawarkan membuat para gamers jadi betah duduk berjam-jam hanya untuk menyelesaikan sebuah permainan.
Para pengguna windows pasti akrab dengan solitaire, permainan kartu bawaan software punya Microsoft ini. Sifatnya yang sederhana tapi adiktif membuat solitaire banyak dimainkan orang, utamanya mereka yang sudah bisa dikategorikan sebagai bapak-bapak.

Perlahan-lahan game di komputer juga berevolusi menjadi makin modern dan hampir sama halusnya dengan game konsol. Beragam game bermunculan, dari yang adu kebut-kebutan di jalan raya, adu jotos di arena, adu kelihaian di lapangan bola sampai adu strategi di medan perang. Saya pernah begitu jatuh cinta pada game Age Of Empire dan menghabiskan jam-jam produktif di kantor bersama teman-teman untuk bermain game strategi ini selama berbulan-bulan.

Saya memang lebih suka games strategi macam Ages Of Empire dan War Craft, apalagi jika memainkannya dengan teman-teman sesama manusia. Games ini bisa memancing kreatifitas otak untuk memecahkan suatu masalah dan mencari strategi pemecahannya. Saya bisa menghabiskan waktu berjam-jam untuk memenangkan suatu pertempuran.

Tapi ketergantungan saya pada games tidak bertahan lama. Perlahan-lahan saya mulai meninggalkan game-game yang dulu bisa membuat saya bertahan lama di depan layar monitor, sekarangpun saya sudah tidak terlalu adiktif pada game. Hanya beberapa kali mencoba layanan game, tertarik sejenak sebalum akhirnya bosan dan tidak pernah menyentuhnya lagi.

Bisnis games memang menggiurkan. Ratusan juta dollar mengalir setiap tahunnya ke pundi-pundi para game developer kelas kakap. Beberapa games juga sudah jadi etalase untuk promosi sebuah brand atau bahkan politisi. Obama pernah menggunakan beberapa game untuk memasang foto wajah beserta jargonnya ketika akan maju menjadi presiden Amerika. Brand terkenal seperti Coca Cola juga menggandeng game terkenal Final Fantasy sebagai target untuk branding.

Game, permainan atau apapun kata orang sudah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat modern. Memang tidak semua orang menyukainya, tapi jumlah penyuka games atau gamers juga tidak sedikit. Beberapa di antara mereka malah sudah jadi adiktif dan sama sekali susah dipisahkan dengan games.

Saya memang tidak termasuk dalam jajaran para gamers apalagi sampai ketergantungan pada games, bagaimana dengan anda ?

[dG]

March 19, 2012 in Kenangan, Opini, Senin
Air Mata Bola ; Sebuah Catatan Sepakbola Sindhunata 1

Air Mata Bola ; Sebuah Catatan Sepakbola Sindhunata

Cover Air Mata Bola ( sumber : TokoBagus.com )

Seperti yang selalu dikatakan orang, sepakbola bukan sekadar permainan. Selalu ada drama di sana, selalu ada tautan menuju aspek yang lain dalam kehidupan manusia. Sepakbola bukan hanya sekadar sebuah olahraga yang mempertemukan 22 anak manusia di atas lapangan hijau.

Tidak ada perhelatan yang begitu mampu menyedot perhatian warga dunia melebihi perhelatan piala dunia sepakbola. Ketika sebuah piala dunia akhirnya digelar, maka seluruh pelosok bumi seakan dilanda demam sepakbola. Tua, muda, lelaki, wanita, hampir semuanya memusatkan pikiran pada sebuah olahraga yang konon disebut sebagai olahraga paling populer.

Sepakbola juga adalah lambang nasionalisme, olahraga di mana karakter dan nama baik sebuah bangsa dibawa ke atas lapangan hijau. Di lapangan hijaulah berkumpul 22 orang yang bagai gladiator saling berebut dan mempertahankan harga diri dan martabat pribadi dan bangsanya.

Sepakbola juga industri, sebuah lapangan luas yang menyedot begitu banyak manusia ke dalamnya yang kemudian diolah menjadi gelimangan dollar atau euro. Para lelaki kekar itu diperas tenaganya, diperjualbelikan secara halus dengan menjaga pundi-pundi uang tetap gendut. Begitulah, sepakbola tidak selamanya berbicara tentang olahraga dan idealisme, tapi juga menjadi sebuah bentuk baru penjajahan, bentuk baru sebuah industri dan bentuk baru sebuah penindasan.

Ragam cerita tentang sepakbola itulah yang ditulis Sindhunata dalam bukunyg Air Mata Bola. Buku ini adalah bagian kedua dari trilogi catatan sepakbola Sindhunata yang merupakan kumpulan tulisannya di harian Kompas pada periode 1992 hingga 2000.

Sindhunata,? seorang jurnalis yang juga mendalami filsafat sangat pandai merangkai kalimat dalam menuturkan ragam cerita di balik kejadian-kejadian besar di dunia sepakbola. Dari catatannya kita bisa mengurai satu persatu hubungan antara sepakbola dengan sosial, ekonomi, psikologi, filsafat atau apapun itu.

Dasar-dasar pemikiran Sindhunata selalu berpijak pada kejadian sepakbola yang kemudian dibawanya melebar kepada banyak perenungan tentang makna hidup dan kehidupan. Buku ini bukan buku yang seluruhnya bercerita tentang sepakbola, tapi buku yang membuat kita berpikir tentang bagaimana sepakbola itu begitu merasuk dalam kehidupan manusia sehinggal menimbulkan sebuah perenungan tentang kehidupan itu sendiri.

Membaca catatan sepakbola Sindhunata ini seperti membaca sebuah buku filsafat yang semuanya diangkat dari cerita sepakbola. Anda tidak akan menemukan reportase tentang sebuah pertandingan misalnya, atau bahasa teknis yang akan memusingkan kepala mereka yang tidak mengenal sepakbola. Buku ini terbuka bagi siapa saja, bahkan bagi mereka yang tak mengenal sepakbola.

Buku setebal 275 halaman ini bisa menjadi referensi bagi siapa saja yang mau membaca cerita tentang sepakbola dan renungan tentang kehidupan. Semua dikemas apik dengan gaya khas seorang Sindhunata. Membaca buku ini kita akan semakin yakin pada sebuah frasa bahwa : sepakbola bukan hanya sekadar permainan.

[dG]

March 16, 2012 in Buku-ku, Jumat
Di Bandara Kami Ada Yang Narsis 16

Di Bandara Kami Ada Yang Narsis

Bandara Sultan Hasanuddin

Ada yang narsis di bandara kami

Bandara adalah gerbang sebuah kota. Selayaknya bila kota itu menjual pesonanya di bandara, karena di sanalah kesan pertama untuk para pendatang tertanam. Tapi, bandara Hasanuddin berbeda. Kesan pertama yang ditanamkan bukan pesona SulSel, tapi narsisnya seseorang.

Almas, seorang kawan blogger dari Ambon pernah bertanya kepada saya, ” Kenapa di bandara Hasanuddin yang terpasang di layar besarnya itu gambaran bapak gubernur ? Kita kan maunya lihat keindahan alamnya Sulawesi Selatan, bukan mukanya beliau ” Saya hanya tertawa.

Di bandara Sultan Hasanuddin Makassar memang ada sebuah layar besar yang berada tepat di atas konter transit. Sejak beberapa bulan belakangan ini, layar tersebut diisi slide dengan beberapa foto aktifitas sang gubernur. Ada foto beliau sedang menanam pohon, beliau sedang berpidato, beliau sedang menggunting pita dan banyak lagi. Ada juga puja-puji tentang keberhasilan beliau sebagai salah satu gubernur terbaik di Indonesia.

Semua pasti sepakat kalau bandara adalah gerbang sebuah kota, propinsi? atau bahkan sebuah negara. Orang yang baru datang ke sebuah kota tentu ingin mendapatkan kesan pertama yang tertanam indah, salah satunya lewat bandara tempatnya masuk.

Bandara Sultan Hasanuddin adalah salah satu bandara terbaik di Indonesia dari segi tampilan. Beberapa orang bilang kalau bandara yang terletak sekitar 15KM sebelah utara pusat kota Makassar ini adalah bandara yang modern, hampir serupa bandara lainnya di kota-kota di luar negeri.

Kalau kesan pertama itu hadir lewat tampilan, maka bandara Sultan Hasanuddin bisa dibilang berhasil memberi kesan pertama yang menyenangkan. Mungkin memang sejalan dengan tujuan kota ini untuk menjadi kota yang lebih modern walaupun pada kenyataannya masih banyak kekurangan di sana-sini yang justru membuat kota ini jadi terasa kehilangan rasa manusiawinya.

Sayangnya, seperti Almas bilang bandara Sultan Hasanuddin memberi sebuah kesan pertama yang agak mengganggu. Foto sang bapak gubernur terpasang besar di layar dekat tempat transit, begitu pula di beberapa tempat lainnya, bersanding dengan tulisan ; Visit Sulawesi Selatan 2012.

Agak aneh memang. Propinsi Sulawesi Selatan sedang gencar mempromosikan agenda wisata Visit Sulawesi Selatan 2012, tapi apa yang mereka tunjukkan melalui baliho dan tayangan visual lainnya tidak menggambarkan semangat promosi itu. Seharusnya yang banyak digambarkan adalah potensi wisata Sulawesi Selatan. Pantai yang indah, pulau yang menawan, Tana Toraja yang eksotis dan ragam potensi budaya dan sejarah lainnya.

Tapi itu adalah teori, karena toh yang terpampang di bandara adalah foto besar sang bapak gubernur. Baliho visit Sulawesi Selatan 2012 juga memuat foto beliau yang hampir memenuhi sepertiga baliho dengan baju adat warna putih dan senyum sumringah.

Salahkah ? tidak juga karena toh kita memang harus menyambut tamu dengan senyum sumringah nan ramah. Tapi ibaratnya makanan enak yang terus menerus dihidangkan berkali-kali setiap hari maka tentu rasa eneg akan muncul juga. Beda kalau misalnya foto yang dipasang besar-besar adalah ragam potensi daerah SulSel. Rasa penasaran tentu akan terbit dan lambat laun mereka yang tadinya hanya sekadar mampir dan transit jadi berpikir untuk tinggal lama dan mencoba mencicipi semua keindahan alam itu.

Begitulah, bandara kami memang indah dari segi tampilan. Sayangnya ada sesuatu yang membuat kesan pertama jadi kurang berkesan. Ada yang narsis di bandara kami.

[dG]

 

March 15, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar
Sotoji ; Genre Baru Di Dunia Soto 9

Sotoji ; Genre Baru Di Dunia Soto

Kemasan Sotoji

Soto sudah jadi salah satu makanan khas Indonesia. Ragamnya cukup banyak, dari soto Betawi, soto Sulung, soto Kudus, soto Lamongan hingga soto Banjar. Nah, sekarang malah ada dalam bentuk instan dengan varian rasa yang berbeda, Sotoji atau Soto Jamur Instan.

Bingkisan itu akhirnya datang juga. Tiga kardus berisi masing-masing 20 bungkus Sotoji yang memang kami pesan untuk komunitas blogger Makassar. Sebenarnya tidak sebanyak itu, tapi sungguh mereka berbaik hati mengirimkan sampai 3 kardus.

Saya memang tidak langsung menikmatinya, butuh waktu beberapa hari sebelum dua bungkus Sotoji saya nikmati. Yah, dua bungkus langsung dalam satu kesempatan. Satu bungkus mungkin tidak cukup untuk momen makan malam, jadi dua bungkus saya kira cukuplah untuk mengganjal perut.

Saya akan coba membuat review untuk produk Sotoji ini, sebuah produk yang memang masih tergolong IRT ( Industri Rumah Tangga ) tapi rasanya sudah cukup untuk disejajarkan dengan hasil industri yang lebih mapan.

Kemasan Sotoji

Tampilan adalah hal pertama yang saya nilai, tentu saja karena tampilanlah yang pertama kali melekat di kepala lewat indera penglihatan.

Dari segi kemasan, Sotoji sepertinya mengikuti pakem yang sudah ada dan digunakan banyak produsen makanan kemasan sejenis. Hampir tidak ada perbedaan mendasar mulai dari nama produk, foto produk, tagline dan nama perusahaan serta informasi lainnya. Sepintas memang tidak ada yang terlalu berbeda kecuali tentu saja tuilsan Sotoji yang agak besar di sebelah kiri atas kemasan.

Tulisan Sotoji yang berlatar putih memang bisa langsung menarik perhatian dan memberi tahu orang kalau itu adalah produk yang berbeda dengan produk yang sudah ada. Hanya saja saya punya sedikit kritikan, tulisan Sotoji terlalu datar dan hanya menggunakan huruf serupa huruf-huruf pada komik dengan warna hijau tua.

Saya membayangkan kalau saja mereka mau sedikit lebih provokatif dengan membuat semacam logo atau tulisan Sotoji yang lebih meriah dengan menggunakan warna yang lebih mencolok maka tentu hasilnya akan lebih menarik.

Saya mencoba membuat logo dan tulisan Sotoji dengan menggunakan model yang tidak umum. Alasannya tentu saja agar lebih eye catching dan gampang diingat. Selain itu saya coba menggunakan warna merah di logo tersebut dengan asumsi warna merah lebih terang dan menarik perhatian. Warna dasar tentu saja warna hijau yang entah kenapa sudah terlanjur lekat dengan makanan instan dengan rasa soto.

Bayangan saya tentang kemasan Sotoji

Bagian belakang kemasan yang sekarang sudah informatif. Ada cara penyajian, informasi nilai gizi dan komposisi. Tentu saja ada informasi produsen serta tanggal kadaluarsa. Mungkin karena masih termasuk industri rumah tangga maka informasi suara konsumen masih berupa alamat email dan belum ada line telepon.

Pada bagian penyajian ada yang agak aneh menurut saya. Di sana tertera tulisan : Soto jamur tiram lezat siap dihidangkan dan dinikmati bersama keluarga anda sebagai lauk pelengkap nasi. Hidangan Sotoji dengan sohun dan jamur tiram buat saya agak aneh bila disandingkan dengan nasi, tentu akan lebih pas bila dimakan sendiri tanpa melibatkan nasi. Tapi memang sih, sebagian besar orang Indonesia masih menggandengkan makanan instan seperti ini dengan nasi sebagai makanan pokok.

Tapi kita tinggalkan soal kemasan luar Sotoji ini karena saya yakin mereka tentu sudah melakukan riset mendalam sebelum menelurkan desain seperti sekarang. Mari kita lanjut ke tampilan fisik lainnya.

Ketika bungkus besar dibuka dengan segera aroma jamur tiram menyeruak. Sotoji terdiri dari tiga bagian, sohun, jamur tiram dalam kemasan dan tentu saja bumbu penyedap yang terbungkus dalam dua bungkusan terpisah.

Ada satu yang menurut saya agak kurang dari bungkus bumbu penyedap Sotoji ini, tidak ada bagian khusus untuk menyobek sehingga kita harus menggunakan bantuan entah gunting, pisau atau bahkan gigi. Agak sedikit merepotkan tentu saja. Semoga ini bisa menjadi masukan untuk kemasan berikutnya.

Rasa dan Penyajian

Tadinya saya tidak tahu apa itu jamur tiram, bahkan mendengar namanya saja masih baru. Dengan bantuan Google saya tahu bahwa ini adalah jenis jamur yang memang banyak dibudidayakan. Disebut jamur tiram karena bentuknya yang mirip tiram ( kerang ). Saya bukan penggemar jamur, bahkan saya lupa kapan terakhir mencicipi makanan dengan bahan dasar jamur, oleh karena itu Sotoji lumayan membuat saya penasaran.

Seperti yang saya bilang, begitu bungkus Sotoji dibuka aroma jamur tiram akan langsung menyeruak. Aromanya khas dan lumayan mengundang selera. Jamur tiram ini dikemas dalam bentuk serupa cacahan daging ayam. Yah, sepintas memang bentuknya seperti daging ayam yang dicacah dan biasanya disajikan untuk bubur ayam. Teksturnya agak kasar dan agak keras dengan warna cokelat tua.

Bagian penting lainnya adalah sohun atau mie halus yang terbuat dari pati. Sohun ini berbeda dengan bihun meski kadang orang menyamakannya. Saya tidak tahu alasan Sotoji menggunakan sohun daripada Mie, tapi saya pikir ini pilihan tepat untuk membuat perbedaan besar dengan produk makanan instan yang sudah lebih dulu ada. Lagipula buat saya pribadi, sohun lebih enak karena teksturnya yang lebih lembut.

Nah karena sifat jamur yang kenyal dan keras berbeda jauh dengan sohun yang lembut maka saya tidak memasukkannya dalam panci dengan waktu yang bersamaan. Saya membiarkan jamur dimasak terlebih dahulu sebelum memasukkan sohun di akhir periode memasak. Ini tentu saja supaya jamur jadi lebih empuk untuk dinikmati.

Saya pernah melakukan dua cara berbeda untuk menikmati Sotoji. Satu dengan mencampur bumbunya ke dalam panci dan dimasak bersamaan dengan sohun dan jamur, satu lagi menaburkan bumbunya di mangkuk dan tidak mengikutkannya dalam proses memasak. Kesimpulannya, bila bumbu ikut dimasak bersama sohun dan jamur rasanya akan lebih mengena karena meresap ke dalam sohun dan jamur. Tapi tentu saja jumlah airnya tidak boleh kebanyakan bila tidak ingin rasanya jadi hambar.

Saya menyajikan Sotoji bersama telur rebus, bukan telur yang diceplok dan dimasukkan ke dalam air mendidih. Ini saya lakukan untuk menghindari rasa eneg karena telur yang bercampur dengan sohun dan jamur. Tentang rasa eneg ini, saya harus akui kalau Sotoji memang mantap. Berbeda dengan makanan instan rasa soto yang sudah lebih dulu ada, Sotoji sama sekali tidak eneg. Beberapa produk soto instan biasanya menyertakan koya sebagai penambah rasa soto yang pada beberapa produk justru membuat eneg.

Nah, setelah beres saya tambahkan beberapa elemen seperti tomat, sedikit daun sup dan tentu saja yang tidak boleh dilupakan adalah irisan cabai merah dan jeruk nipis dan voila !! Sotoji lezat siap disantap. Saya tidak mencampur kecap atau sambel botol lagi, takut rasa aslinya akan hilang.

Mari kita santap

Sotoji saya sebut sebagai genre baru untuk sebuah soto karena sebenarnya menurut saya rasa sotonya tidak terlalu terasa kalau memang kita asosiasikan dengan soto yang sudah banyak beredar. Meski begitu, sebagai pilihan makanan baru maka saya harus akui kalau Sotoji berhasil. Pemilihan jamur tiram sebagai pelengkap adalah sebuah terobosan yang saya pikir berhasil. Berhasil karena kemudian memberi rasa yang berbeda untuk sebuah produk instan.

Saat ini Sotoji memang belum dipasarkan secara luas, tapi bagi anda yang berminat bisa langsung memesan ke website mereka : http://sotoji.com . Saya bisa yakinkan anda bahwa menikmati Sotoji akan membawa sebuah sensasi baru makanan instan dengan rasa yang berbeda. Sesuai dengan tagline mereka : Soto jamur lezat, tinggi kandungan serat dan protein nabati.

 

[dG]

March 13, 2012 in Lomba
Negeri Para Penari Samba 3

Negeri Para Penari Samba

Fans Brazil yang selalu tampil mencolok

Menyebut Brasil, yang terbayang adalah sebuah negara yang jadi pabrik pesepakbola terbaik di muka bumi. Brasil dan sepakbola seperti kulit dan daging, bagian yang tak terpisahkan dalam roda sejarah sepakbola dunia.

Ada beberapa negara yang begitu lekat dalam sejarah sepakbola. Salah satunya adalah Brazil, bagaimana negara di Selatan benua Amerika ini begitu mencintai sepakbola. Dan betapa sepakbola juga begitu mencintai Brasil. Brasil adalah satu-satunya negara yang belum pernah absen dalam setiap gelaran piala dunia sejak 1930, Brasil juga yang paling sering menjadi juara dengan 5 gelar. Brasil dan sepakbola, dua nama yang selalu bisa dihubungkan dari sisi manapun.

Stadion Maracana, 16 July 1950. Saat itu Brazil sang tuan rumah menjamu Uruguay di partai puncak piala dunia. Seluruh Brazil yakin kalau mereka akan jadi juara, pesta sudah dipersiapkan di Rio De Jenairo. Hampir dua ratus ribu orang memadati stadion Maracana yang kala itu memang menjadi stadion terbesar di dunia. Rekor yang sampai sekarang belum terpecahkan.

Menit ke 47, Friaca mencetak gol untuk Brazil. Pesta mulai digelar, kembang api dinyalakan, lagu dan tarian samba berdengung di beberapa sudut kota. Mereka siap menggelar carnaval sepanjang malam. Suasana berubah suram ketika menit ke 66, Schiaffino dari Uruguay menyamakan kedudukan. Seisi kota mulai dicekam kekuatiran. Bagaimana kalau mereka gagal ? Bagaimana kalau bukan Brazil yang jadi juara ?

11 menit menjelang akhir pertandingan Ghiggia membuat gol penentu kemenangan. Buyar sudah impian rakyat Brazil. Pesta gagal digelar, kembang api gagal dinyalakan, tifa gagal ditabuh dan para penari kehilangan semangat bahkan untuk sekadar menggerakkan kaki mereka. Puluhan orang bunuh diri karena dicekam rasa putus asa yang luar biasa. Hari itu akan dikenang sepanjang masa sebagai hari berkabung nasional.

Begitu besarnya kecintaan orang Brazil terhada sepakbola. Para orang tua sedari kecil sudah menanamkan dalam diri anak-anaknya, tak usah rajin belajar. Cukuplah dengan menguasai sepakbola. Sepakbola adalah jalan lapang menuju kesejahteraan. Para orang tua akan bermuram durja bila tak ada satupun anak mereka yang bisa menendang si kulit bundar.

Brazil adalah pabriknya pemain berbakat. Nama Nedson Arantes di Nascimento mungkin asing di telinga orang awam, tapi begitu menyebut Pele orang akan menganggukkan kepala. Lelaki keling ini adalah legenda. Dia merebut 3 gelar juara dunia bersama Brazil, memukau dunia dengan gocekannya dan menerbitkan decak kagum dengan tendangannya.

Pele hanya satu dari begitu banyak hasil pabrik bernama Brazil itu. Garrincha, Vava, Zagalo, Zico, Socrates, Bebeto, Dunga, Romario, Ronaldo, Rivaldo, Ronaldinho sampai Kaka dan Pato. Sebutlah dan tak akan ada ruang kosong untuk menyebut para seniman sepakbola dari tanah Brazil. Tuhan memang sepertinya menunjuk tanah Brazil menjadi tanah yang subur untuk lahirnya para pesepakbola itu.

Brazil terkenal dengan goyangan sambanya, dan di lapangan hijau para pemain Brazil terkenal dengan gocekannya yang oleh orang kemudian disamakan dengan tarian samba. Meliuk, menggeliat dan bergerak lincah dengan kaki yang tak bisa diam. Mereka lebih suka bermain dengan umpan pendek mendatar yang dibarengi dengan aksi individu yang kadang memang mengundang decak kagum.

Sebelum Pele menendang bola, Brazil sudah akrab dengan gaya samba dan permainan yang indah. Itu sudah mengalir dalam darah mereka, sehingga ketika Lazaroni pelatih mereka di Piala Dunia 1990 mengubah pola permaian menjadi “asal menang” maka Brazil seketika kebingungan. Lazaroni membuat porak-poranda sebuah sistem yang selama ini mereka pegang, sistem permainan sepakbola yang indah.

Cafu dan gelar kelima Brazil

Lazaroni keras kepala. Baginya tak perlu main indah kalau toh hasilnya tak maksimal, lebih baik main biasa tapi menang. Lupakan permainan indah, lupakan samba, yang penting bisa menang dan juara. Sayang, Lazaroni tak sepenuhnya benar karena di Italia 1990 Brazil malah hancur lebur dan kandas di babak perdelapan final. Empat tahun kemudian Carlos Alberto Perreira mengembalikan Brazil ke khittah-nya, main cantik a la penari samba. Perreira berhasil, Brazil akhirnya juara dunia untuk keempat kalinya.

Tapi main indah juga tak berarti selalu menang. Brazil juga sering terjebak dalam pesta samba yang mereka mainkan. Main indah, menari dengan semangat, mempertontonkan keindahan mengolah si kulit bundar, tapi kemenangan malah menjauh. Dua gelaran piala dunia terakhir menjadi buktinya.

Brazil memang sedang tidak berhasil menorehkan gelar terbaik di dua edisi terakhir piala dunia setelah tahun 2002 menuntaskan gelar kelima mereka. Tapi Brazil tetaplah Brazil. Tak lengkap rasanya membincangkan piala dunia tanpa menyebut negara ini, tak elok rasanya meminggirkan mereka sebagai unggulan setiap pesta piala dunia digelar.

Mereka boleh gagal, mereka boleh jatuh tapi mereka tak pernah capek untuk kembali bangkit dan bahkan mungkin mengejar kesempatan merebut semua tahta tertinggi sepakbola dunia. Brazil tetaplah Brazil, negeri yang orang-orangnya bahkan merasa sepakbola adalah agama mereka? bukan sekadar hobi.

Brazil adalah negeri para penari samba yang selalu berhasil membuat dunia sepakbola cerah oleh warna kuning dan hijaunya.

[dG]

March 12, 2012 in Opini, Senin, Sepakbola
Balla ; Rumah Adat Khas Makassar 2

Balla ; Rumah Adat Khas Makassar

Balla Lompoa

Balla Lompoa, rumah adat Makassar ( sumber : wisatamelayu.com )

Tiap daerah punya rumah adat khas, begitu pula dengan suku Makassar. Rumah dalam bahasa Makassar disebut Balla, berbentuk rumah panggung dengan kayu sebagai penyangganya.

Kenangan saya terbang ke masa puluhan tahun yang lalu ketika masih kecil. Sebelum masuk SD saya masih tinggal di kampung, sekitar 10 KM dari kota Makassar. Waktu itu, meski rumah orang tua sudah berbentuk rumah batu yang semi modern tapi di sekitar saya masih banyak rumah panggung khas suku Makassar.

Saat ini sudah susah menemukan rumah panggung khas suku Makassar itu di daerah yang mulai berubah menjadi kota. Kalaupun ada, itu adalah rumah yang sengaja dibangun untuk keperluan tertentu seperti wisata misalnya. Rumah panggung hanya bisa ditemukan di daerah yang agak jauh dari keramaian kota.
Dalam bahasa Makassar, rumah disebut Balla atau Bola dalam bahasa Bugis. Rumah khas Makassar ( dan juga Bugis ) berbentuk rumah panggung yang tingginya sekitar 3 meter dari tanah. Disanggah oleh tiang-tiang dari kayu yang berjejer rapih.

Rumah atau balla berbentuk segi empat dengan lima tiang penyangga ke arah belakang dan 5 tiang penyangga ke arah samping. Untuk rumah milik bangsawan yang biasanya lebih besar, jumlah tiang penyangganya berjumlah lima ke samping dan enam atau lebih ke arah belakang.

Atap rumah adat Makassar berbentuk pelana, bersudut lancip dan menghadap ke bawah. Biasanya bahannya terdiri dari nipah, rumbia, bambu, alang-alang. ijuk atau sirap. Jaman sekarang bahan penutup atapnya sudah lebih modern tentu saja.

Bagian depan dan belakang puncak atap rumah yang berbatasan dengan dinding dan berbentuk segitiga disebut timbaksela. Dari timbaksela ini bisa dikenali derajat kebangsawanan pemiliknya.

Timbaksela yang tidak bersusun menandakan pemiliknya adalah orang biasa, bila bersusun tiga ke atas menunjukkan pemiliknya adalah bangsawan. Bilsa susunan timbaksela-nya lebih dari lima atau bahkan sampai tujuh maka menunjukkan sang pemilik adalah bangsawan yang menduduki jabatan di pemerintahan.

Untuk bisa naik ke atas rumah tentu saja ada tangga atau yang dalam bahasa Makassar disebut tukak. Tangga juga ada dua macam, yaitu :

Sapana, dibuat dari bambu. Induk tangganya tiga atau empat dan anak tangganya dianyam. Sapana ini memiliki coccorang ( pegangan ). Tangga jenis ini hanya digunakan oleh para bangsawan.

Tukak, dibuat dari kayu atau bambu. Induk tangganya ada dua dan ada juga yang tiga untuk bangsawan. Untuk warga biasa tangga jenis ini tidak memiliki coccorang atau pegangan. Anak tangganya selalu ganjil.

Tapi jaman sekarang semua aturan tentang tangga itu tampaknya mulai kabur, seiring dengan modifikasi tangga yang menggunakan bahan-bahan yang lebih modern seperti batu dan semen.

Sedangkan pembagian ruang untuk rumah khas Makassar adalah sebagai berikut :

Dego-dego : ruangan kecil dekat tangga sebelum masuk ke dalam rumah atau pada rumah modern disebut sebagai teras. Biasanya digunakan untuk bersantai atau menunggu pemilik rumah keluar.

Tambing : ruangan yang berbentuk lorong yang letaknya di samping kale balla ( rumah induk ) yang letaknya lebih rendah.

Kale Balla ; rumah induk atau badan rumah. Terdiri dari paddaserang atau ruangan. Ruangan paling depan yang digunakan untuk menerima tamu disebut paddaserang dallekang ( ruangan depan ), sedangkan bagian tengah disebut paddaserang tangnga ( ruangan tengah ) yang digunakan untuk kegiatan yang lebih privat. Bagian belakang disebut paddaserang riboko ( ruangan belakang ) yang fungsinya untuk kamar, utamanya kamar anak gadis.

Balla pallu ; dapur, digunakan untuk kegiatan masak memasak dan menyimpan alat masak. Biasanya ketinggiannya lebih rendah dari paddaserang.

Sedangkan untuk kegiatan mandi, cuci dan kakus biasanya terpisah dari bangunan rumah dan terletak agak di belakang. Tiap rumah biasanya punya sumur sendiri-sendiri atau biasanya sebuah sumur digunakan oleh beberapa rumah.

Rumah khas Makassar biasanya tidak menggunakan plafond dan di bagian atas antara dinding dan atap biasanya dibuat sebuah ruang yang disebut pammakkang. Fungsinya adalah menempatkan benda-benda khusus atau biasanya padi yang sudah siap dijadikan beras.

Bagian bawah rumah disebut siring dan biasanya digunakan untuk bersantai dengan menempatkan balai-balai. Beberapa rumah juga menggunakannya sebagai gudang.

Balla Lompoa

Blogger Makassar berfoto di Balla Lompoa

Salah satu rumah adat yang masih tersisa dan masih bisa dilihat serta dikunjungi adalah Balla Lompoa ( rumah besar ) yang merupakan rumah peninggalan kerajaan Gowa. Rumah ini terletak di kawasan istana kerajaan Gowa. Pemerintah kabupaten Gowa membuat sebuah rumah besar yang digunakan sebagai museum dan tempat pusat penyelenggaraan acara-acara khusus.

Bila berkunjung ke Makassar, teman-teman boleh mengunjungi rumah tersebut sebagai satu dari sedikit rumah adat yang masih bisa dilihat dan dikunjungi. Makin hari keberadaan rumah adat memang makin terkikis, tergantikan oleh rumah-rumah modern.

Semoga saja masih akan terus ada orang-orang yang bersedia memelihara peninggalan nenek moyang ini sehingga anak cucu kita tak perlu mengenang rumah adatnya hanya dari buku bacaan atau cerita orangtuanya saja.

 

[dG]

March 08, 2012 in Kamis, Makassar
Waktu Tepat Mengupdate Blog 9

Waktu Tepat Mengupdate Blog

Effective Blog Post ( sumber : Google )

Sebenarnya tidak sengaja. Dua hari ini postingan blog saya agak di luar kebiasaan dan ternyata meninggalkan efek pada traffic blog yang menurun cukup drastis.

Sekitar dua bulan belakangan ini saya mengubah jadwal posting. Kalau sebelumnya saya posting sekitar jam 14-16 siang maka selama dua bulan belakangan ini saya coba untuk posting pagi-pagi antara pukul 07 – 09. Awalnya saya tidak terlalu memperhatikan, tapi belakangan baru sadar kalau ternyata statistik blog meningkat lumayan signifikan, bahkan belakangan hampir 100% dari statistik sebelum saya rajin posting pagi-pagi.

Nah, dua hari ini karena kesibukan di pagi hari saya tidak sempat meluangkan waktu untuk membuat postingan. Saya tetap membuat postingan, tapi waktunya jadi bergeser menjadi malam. Sekali lagi saya memperhatikan, ternyata statistik blog juga menurun lumayan drastis. Bahkan hampir 100%.

Mau tidak mau saya kemudian menghubungkan antara waktu posting dengan perubahan statistik itu. Betulkah ada kaitannya ?

Saya ingat, sahabat saya Bradley pernah membuat postingan yang sama. Di postingannya dia membuat analisa sederhana tentang waktu posting yang paling potensial mendongkrak traffic di blog. Salah satu waktu yang katanya paling efektif adalah di pagi hari di hari kerja karena entah kenapa orang Indonesia justru lebih aktif di dunia maya di dalam jam kerja. Keaktifan itu juga potensial membuat banyak orang yang berkunjung ke blog kita ketika tautan dari postingan tersebar melalui sosial media.

Peran sosial media memang sangat besar untuk menopang popularitas blog selain tentu saja melalui cara lain yang lebih teknis. Ini juga yang saya lakukan setiap kali selesai mengupdate blog. Linknya dengan cepat saya sebar melalui twitter dan facebook. Bila berhasil memilih judul yang menarik maka biasanya kunjungan melalui dua jejaring sosial itu juga akan sangat signifikan.

Waktu yang paling tepat memang adalah pagi hari, ketika sebagian besar penggiat sosial media belum terlalu sibuk atau malah masih dalam perjalanan. Mereka bisa menyambi dengan mengklik tautan yang disebar dan terlihat menarik itu.

Kalau dipikir-pikir, cara menyebar tautan via social media bisa saja dilakukan di waktu tertentu tanpa harus membuat postingan bukan ? Tapi tentu saja kesannya beda dengan menyebar tautan sebuah postingan baru dengan tautan ke postingan lama.

Nah, analisa sederhana saya tentang waktu posting blog? yang paling tepat menerbitkan kesimpulan semena-mena bahwa pagi hari sebelum pukul 12 adalah waktu yang paling pas. Entah, mungkin ada yang bisa menjelaskan dengan lebih teknis, tapi selama dua bulan ini khasiatnya begitu terasa ke traffic blog.

Bagaimana dengan teman-teman blogger yang lain ? Ada kesimpulan atau masukan yang lain ? Yuk berbagi.

[dG]

March 07, 2012 in Blogging, Rabu
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung 12

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan

Pasar Apung Lok Baintan

Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo. Tulisan sebelumnya bisa dibaca di sini dan di sini.

Minggu subuh, jarum jam baru saja menunjukkan pukul 4 dini hari. Udara di luar masih dingin. Sebuah ketukan keras bergema di pintu asrama haji tempat saya, Almas dan Kang Asep dari Internet Sehat menginap. Saya belum sepenuhnya sadar, maklum malam sebelumnya kami menutup mata sekitar pukul 2 dini hari, berarti baru dua jam kami tertidur.

Kalau tidak ingat rencana kami pagi itu, saya mungkin akan kesal dan memilih melanjutkan tidur. Tapi demi mengingat kalau kami akan mengunjungi pasar terapung di Lok Baintan, saya bergegas bangun, ke kamar mandi dan mempersiapkan diri untuk berangkat.

Kami meninggalkan Banjar Baru ketika waktu hampir menunjukkan pukul 5 subuh. Katanya perjalanan akan ditempuh sekitar 45 sampai 60 menit dan pasar apung hanya akan ada sampai sekitar pukul 7 pagi. Dengan sebuah mobil milik seorang teman dari Kayuh Baimbai, berangkatlah kami. Jalan masih sepi, hanya ada satu-dua kendaraan yang melintas.

Kami melewati lahan gambut yang betul-betul sepi, nyaris tidak ada penerangan sama sekali. Lok Baintan masih jauh, di luar matahari mulai bangun. Cahayanya membuat kami bisa melihat dengan jelas keadaan sekeliling. Tak berapa lama kami mulai masuk ke daerah yang berpenghuni, sepertinya sebuah desa.

Jalanan mulai tidak nyaman, berlubang di sana-sini dan berkubang lumpur sisa hujan semalam. Tak ada aspal, yang ada hanya tanah. Di pinggir jalan rumah-rumah kayu berjejer, ada yang rapat ada juga yang dipisahkan tanah kosong. Suasananya benar-benar sederhana meski listrik sudah mampu menyalakan lampu dan beberapa televisi. Di sebelah kanan jalan, sungai lebar terpampang jelas.

Kami juga sempat melewati sekolah sederhana yang halamannya mirip rawa. Sebuah tulisan unik terpampang di sana : DILARANG BUANG AIR BESAR SEMBARANGAN.

Beberapa ibu nampak asyik mencuci di sungai berwarna kecoklatan itu, beberapa lainnya tanpa rasa risih membasuh tubuh mereka. Sungai bagi orang Kalimantan adalah sumber kehidupan. Tak perlu heran melihat mereka melakukan banyak aktifitas di pinggiran sungai yang melintas dan saling berpotongan di sekujur tubuh pulau Kalimantan.

Setelah melewati perjalanan yang panjang, akhirnya kami tiba di dermaga Lok Baintan. Dermaga masih sepi, nyaris tidak ada kegiatan. Pasar apung ternyata belum mulai. Kami duduk berkumpul di dermaga, menikmati pagi yang mulai mengintip. Di samping dermaga, seorang lelaki menuntaskan rutinitas paginya dari teras rumahnya yang berada langsung di bibir sungai. Menggosok gigi dan kemudian turun membasuh badan.

Beberapa perahu kecil dengan seorang ibu dan setumpuk hasil bumi melintas ke arah hulu ditarik sebuah kapal bermotor. Kenapa mereka melewati dermaga ? , Saya bertanya.

” Mereka memang mulai dari sebelah sana ” jawab seorang teman sambil menunjuk ke arah hulu. ” Nanti mereka akan terbawa arus dengan sendirinya menuju muara “

Pasar Apung

Aktifitas Para Pedagang

Ooo, jadi itu sebabnya kenapa perahu-perahu tak bermesin ini hanya melewati dermaga tanpa singgah. Benar saja, agak jauh dari dermaga perahu-perahu kecil berisi hasil bumi itu mulai ramai. Pasar dimulai tanpa aba-aba dan tanpa seorang penjaga pintu yang membuka pintu pasar.

Matahari mulai tinggi, tapi tertutup awan yang mendung. Perahu-perahu yang berkumpul makin ramai, bukan hanya para pedagang tapi juga beberapa perahu yang agak besar dan bermesin yang berisi para turis, asing maupun lokal. Lok Baintan memang mashyur sebagai pasar apung di Banjarmasin selain satu lagi yang berada lebih dekat ke kota Banjarmasin, Muara Kuin.

Seluruh pedagang adalah ibu-ibu setengah baya. Mereka mendayung dengan tenang, seakan aktifitas itu sudah mereka lakukan sejak lahir. Sesekali perahu itu saling bersenggolan, tapi tak ada tampang kesal apalagi marah. Mereka bertukar sapa dalam bahasa Banjar, sesekali menawarkan dagangan.

Isi perahu mereka beragam. Dari sayuran, buah-buahan hingga beras dan alat rumah tangga dari plastik. Sungguh pemandangan yang eksotis. Begitu menenangkan di pagi hari yang berawan. Menyenangkan sekali melihat sebuah tradisi yang syarat kearifan lokal masih terus terpelihara hingga saat ini. Tegur sapa dan gesekan antar perahu yang dibalas senyum ikhlas sungguh terasa hangat dan manusiawi.

Sekilas saya membandingkan tegur sapa para penjaga toko di swalayan yang berpendingin dengan lantai yang mengkilap. Kadang ada keterpaksaan di sana, ada rasa malas dan selebihnya adalah kewajiban. Lantai yang mengkilap, bangunan yang dingin dan megah memang terlihat begitu nyaman bila dibandingkan dengan sungai kecoklatan dan perahu kayu berwarna suram.

Senyum ramah para pedagang

Tapi, ada yang tidak bisa dibandingkan. Ada kesederhanaan dan kehangatan yang selalu menentramkan dari ibu-ibu yang rumahnya mungkin dari kayu dan jauh dari jalan raya. Ada sapa hangat dan senyum tulus yang mereka lakukan bukan karena kewajiban. Mereka tak mengerti SOP, mereka hanya mengikuti naluri untuk selalu hidup sederhana dan bersahabat pada siapa saja.

Ah, semoga saja kesederhanaan itu akan terus mengapung karena di atas kesederhanaan yang penuh kehangatan itulah Indonesia dibangun.
[dG}

March 06, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Ikut Saya Yuk Mas 28

Ikut Saya Yuk Mas

Tango Dance ( sumber : Google )

Entah kenapa, dalam hidup saya seringkali bertemu dengan kaum gay. Beberapa kali juga saya ditawar mereka. Postingan ini sama sekali tidak bermaksud mendiskreditkan mereka, hanya berbagi cerita tentang pengalaman bersama kaum gay yang sering terpinggirkan.

Suatu hari sekitar tahun 1999. Waktu itu malam, hujan gerimis sedang membasahi kota Makassar. Di teras sebuah ruko saya diam menunggu pete-pete ( angkot di kota Makassar ), teman yang menemani saya sudah masuk ke lorong dan mungkin sudah menikmati teh hangat di rumahnya. Di samping saya seorang lelaki yang umurnya sekitar 30an, saya awalnya tidak terlalu memperhatikan sebelum akhirnya dia bertanya.

” Mau ke mana mas ? “, nadanya lembut dan sopan. Saya menjawab pertanyaannya, menyebut sebuah tempat.

Berikutnya dia makin rajin bertanya dan saya juga berusaha menjawab sesopan mungkin. Saya pikir wajar, sesama orang yang sedang membunuh waktu sambil menunggu hujan reda. Malam makin larut dan hujan masih enggan berhenti.

” Ikut saya yuk, mas ” Akhirnya kalimat itu keluar juga dari mulutnya. Saya menanggapinya sebagai basa-basi dan masih menjawab dengan sopan. Tapi ternyata itu bukan basa-basi, lelaki itu mulai agak memaksa dengan beragam bujuk rayu. Saya mulai tidak nyaman dan mulai menghubung-hubungkan ajakannya dengan gayanya yang memang kemayu. Tapi saya juga bukan tipe orang yang tega untuk melabrak atau bahkan menjawab dengan nada tinggi.

Malam itu saya terselamatkan oleh si teman yang tiba-tiba datang. Melihat saya masih menunggu di teras ruko dia mengajak saya masuk ke rumahnya sambil menunggu hujan reda. Syukurlah, saya benar-benar merasa terselamatkan.

Anehnya, kejadian yang sama berulang beberapa waktu kemudian. Hampir di tempat yang sama saya kembali bertemu seorang lelaki kemayu yang dengan vulgarnya mengajak saya ke rumahnya.

Dua kejadian di atas sebenarnya adalah perulangan dari kejadian-kejadian lain dengan skala yang lebih sopan. Dulu saya sempat mendatangi sebuah salon yang diasuh oleh seorang lelaki kemayu. Sepanjang durasi pemotongan rambut dia secara terang-terangan memuji kalau saya ganteng sambil sesekali mencubit gemas pipi saya. Rasanya risih, tapi saya tidak berbuat apa-apa. Takut dan segan tentu saja.

Hal yang paling ekstrem adalah ketika saya masih sekolah di STM. Waktu itu saya dan beberapa teman sedang Praktek Kerja Lapangan di sebuah BUMN. Seorang pegawai di sana adalah seorang lelaki kemayu yang bahkan semasa mudanya aktif di organisasi yang membawahi para waria di Makassar dan sekitarnya. Sejak hari pertama dia sudah berusaha mengakrabkan diri pada kami dan mungkin hanya perasaan saya saja, tapi saya merasa dia berusaha menarik perhatian saya.

Belakangan dia memang makin gencar mendekati saya, dengan beragam alasan dia sering minta tolong diantar ke sana ke mari dengan motornya. Beberapa kali juga dia mentraktir saya makan siang sambil tak lupa menyelipkan selembar uang yang nilainya cukup besar untuk anak sekolahan waktu itu.

Puncaknya adalah ketika akhirnya dia meminta saya menjadi simpanannya. Dia berjanji akan membelikan saya motor dan membiayai kalau saya mau kuliah. Saya kaget luar biasa, dan dengan halus saya menolak. Beruntung karena dia bisa menerima penolakan saya dan tidak memaksakan kehendaknya. Selepas itu saya memang mulai menjaga jarak hingga masa PKL berakhir dan sampai sekarang tidak pernah lagi bertemu.

Saya memang sering bertemu dengan orang-orang seperti mereka, tapi saya sama sekali tidak menganggap itu sebagai sebuah kesialan. Bagi saya mereka tetap saudara kita, mereka tetap manusia seperti kita juga yang berhak memiliki perasaan dan berhak mengungkapkannya kapan saja. Mereka seperti itu tentu bukan karena kemauan mereka, bila diberi pilihan mereka tentu akan memilih untuk menjadi lelaki atau menjadi perempuan.

Saya kenal beberapa orang yang memiliki disorientasi seksual seperti itu, dan saya menghormati mereka seperti layaknya saya menghormati orang lain yang (katanya) normal. Buat saya para gay, bencong, waria atau apapun cap yang diberikan orang,? tidak layak untuk didiskreditkan dalam pergaulan. Mereka manusia, sama seperti kita. Lingkunganlah yang kemudian membentuk mereka seperti itu.

Mereka, orang-orang yang kadang terpinggirkan itu buat saya jauh lebih baik daripada mereka yang mengaku terhormat tapi sesungguhnya lebih merugikan kita sebagai masyarakat. Mereka yang berpakaian rapi dan wangi tapi tega menyedot uang rakyat untuk kepentingan mereka sendiri. Buat saya kaum gay, bencong, waria atau apapun cap orang untuk mereka jauh lebih terhormat.

Jadi saya tetap tidak akan marah bila suatu saat nanti saya akan ketemu dengan orang yang kemudian berkata, “ikut saya yuk mas “. Saya akan tetap menolaknya dengan halus, tanpa sedikitpun melecehkan mereka.
[dG]

March 05, 2012 in Kenangan, Opini, Senin
Review Blog ; Yang Sederhana Dan Rajin Posting 17

Review Blog ; Yang Sederhana Dan Rajin Posting

Tampilan Blog Nicamperenique

Sudah lama saya tidak menulis review tentang blog teman-teman. Beberapa hari lalu saya dicolek seorang kawan blogger yang juga pengunjung setia blog ini untuk mereview blognya. Saya akhirnya tergerak untuk kembali membuat review blog, bahkan sekaligus dua.

Kalau anda tergerak untuk datang dan datang lagi ke sebuah blog maka pasti ada sesuatu yang membuat anda melakukannya bukan ? Pernahkah anda berpikir apa alasannya ? Sebagian besar pasti setuju kalau alasan utamanya adalah isi blog. Kita akan selalu datang berkunjung atau malah berlangganan karena suka dengan isi blog tersebut.

Setidaknya itu alasan utama saya untuk selalu datang berkunjung ke blog milik Nique ( http://nicamperenique.me ) Saya lupa kapan pertama kali berkunjung ke sana, kalau tidak salah saya melakukan kunjungan balasan setelah dia yang datang duluan ke blog saya.

Kunjungan pertama berkesan, apalagi karena dia juga sering berkunjung balik ke blog saya. Saya suka caranya menulis, sederhana dan mengalir lancar. Apalagi dia punya kelebihan yang sekarang jarang dimiliki blogger murni, posting hampir tiap hari !!

Wanita berdarah Karo yang katanya lancar berbahasa Jawa ini memang punya semangat luar biasa untuk menulis. Dulu kami sempat kejar-kejaran, posting tiap hari. Belakangan saya memang sudah agak bolong, tidak seperti dulu lagi. Kalau tanya alasan kenapa saya tidak serajin dulu, alasannya tentu klasik jadi sebaiknya kita fokus saja pada blog Nique yang masih rajin diisi hampir setiap hari.

Saya tidak tahu banyak tentang Nique, bertemupun belum pernah. Bahkan melihat raut wajahnya saja belum pernah. Pemilik warnet di kawasan Kelapa Gading ini memang agak misterius rupanya. Kalau blogger biasanya akrab dengan kata narsis, maka dia berbeda. Dia hanya narsis lewat tulisan, tidak dengan foto wajahnya. Anehnya, beberapa kali dia memasang foto sendiri tapi dengan posisi membelakang. Benar-benar misterius.

Kalau tadi saya bilang saya suka dengan tulisan Nique yang simpel dan mengalir, maka tidak dengan desain blognya. Sebenarnya bukan karena tidak suka, tapi menurut saya terlalu sederhana. Template yang dipakai sekarang adalah template kedua setelah sebelumnya menggunakan template yang halaman depannya penuh berisi gambar tanpa tulisan.

Menurut saya desain blog Nique terlalu datar dan pucat. Beberapa artikel juga tidak dilengkapi dengan gambar yang bisa berfungsi sebagai pemanis, atau kalaupun dilengkapi dengan gambar biasanya tidak terlalu rapih penempatannya.

Tapi, ini tentu soal selera. Tiap orang punya selera yang beragam. Mungkin saja si pemilik blog memang lebih suka tampilan yang sederhana dan cenderung datar daripada tampilan yang ramai. Meski kadar sederhana tiap orang memang berbeda. Kebetulan saya memang orang yang rewel bila menyangkut tampilan blog, mungkin karena latar belakang saya yang banyak bergaul dengan grafis.

Seperti yang saya bilang di awal, kekuatan blog Nique memang ada di tulisan. Kalau boleh saya tambahkan, kekuatan lainnya adalah di keramahan. Saya tidak tahu apa ini hanya terjadi pada saya atau pada semua pengunjungnya, tapi dia sangat rajin melakukan kunjungan balik setiap kali saya meninggalkan komentar di sana. Bahkan kadang keadaannya berbalik, saya yang melakukan kunjungan balik ketika dia meninggalkan komentar di blog saya.

Jaman sekarang sudah susah mencari blogger yang masih rajin blogwalking, Nique mungkin salah satu yang tersisa. Keramahan itu juga yang membuat dia terkenal, setiap postingan pasti dibanjiri komentar yang tak pernah ada di bawah angka dua digit.

Tampilan Blog Lelaki Bugis

Oke, cukup tentang Nique. Sekarang saya mau cerita tentang blog seorang kawan yang lain. Namanya Anchu, setidaknya itu nama panggilan yang akrab bagi kami. Di dunia maya dia lebih terkenal dengan nickname Lelaki Bugis. Blognya di http://lelakibugis.net adalah salah satu blog favorit saya akhir-akhir ini.

Kalau berbicara tentang kualitas tulisan tak perlu meragukan lelaki berambut ikal gondrong ini. Dia lama berinteraksi dalam dunia literasi dan kami pernah sama-sama aktif di situs jurnalisme warga. Dari dulu saya selalu suka caranya menulis, utamanya tulisan berbau feature. Dia mampu menggabungkan tulisan jurnalistik dengan gaya sastra sehingga tulisan yang berisi reportase tidak terkesan membosankan meski ditulis dengan panjang lebar.

Bagaimana dengan tampilan blog ? Saya agak susah memberikan penilaian karena sepertinya dia agak labil. Dalam kurun waktu sebulan belakangan ini setidaknya dia sudah tiga kali mengganti tampilan. Terakhir dia menggunakan themes Bombax dengan dominasi warna hitam. Dulu dia juga tidak selalu menambahkan foto ke dalam artikel blog, alasannya karena bandwith yang terbatas. Baru belakangan ini dia kembali rajin memasukkan gambar ke dalam artikel.

Oke, cukuplah postingan kali ini saya bercerita tentang blog dua orang kawan yang cukup saya kagumi dari segi kemampuan menulis dan eksistensi. Nique dan Anchu punya kesamaan, sama-sama rajin menulis dan sama-sama rajin ngeblog di jaman di mana blog murni sudah bukan mainstream lagi. Saya senang bisa bersahabat dengan mereka berdua, meski salah satunya hanya persahabatan di dunia maya saja.

Nantikan review blog saya berikutnya, siapa tahu blog anda yang kena giliran.
[dG]

March 02, 2012 in Jumat, review blog
Don't Stop Untuk Semangat Baru SulSel 4

Don’t Stop Untuk Semangat Baru SulSel

IAS dan SYL

IAS dan SYL ( foto : dokumen FAJAR )

Pilkada gubernur SulSel masih setahun lagi, tapi bara panas persaingan kandidat sudah terasa. Pertarungan ini mengerucut kepada dua nama, Syahrul Yasin Limpo dan Ilham Arief Siradjuddin.

Namanya Ilham Arief Siradjuddin, sudah hampir 10 tahun lamanya dia menjadi nakhoda yang membawa kota Makassar menjadi kota yang paling sibuk di Indonesia bagian Timur. Di tangannya, kota ini makin bersolek, makin mentereng dan tentu saja makin macet. Ilham, belakangan sering menggunakan inisial IAS.

Namanya Syahrul Yasin Limpo, dia hampir genap 5 tahun menjadi nakhoda propinsi Sulawesi Selatan. Propinsi tersibuk di Timur Indonesia. Lelaki berkumis tebal ini mengklaim kalau Sulawesi Selatan di bawah pimpinannya menjadi sangat berhasil, bahkan katanya jadi yang terbaik di Indonesia. Syahrul belakangan sering menggunakan inisial SYL, mirip merk sebuah produk fashion terkenal dari Paris.

Sepertinya keberhasilan presiden Susilo Bambang Yudhoyono menggunakan inisial SBY membuat banyak politisi dan calon pemerintah buru-buru menggunakan cara yang sama, membuat inisial nama mereka supaya terdengar lebih akrab di kuping.

Tapi lupakan soal inisial, tak penting mereka menggunakan inisial apa.

2013 adalah masa yang menentukan, periode pertama pemerintahan SYL akan berakhir. SYL hanya manusia biasa, tak puas tentunya hanya 5 tahun menjadi nomor satu di propinsi ini, selama hukum dan aturan masih membolehkan dia akan terus maju tentunya.

Don’t stop komandan !! Begitu kata mereka yang menghamba pada lelaki dari Kabupaten Gowa itu. Tak berhenti di situ, mereka menambahkan dengan kalimat : Tidak Ada Kata Berhenti Untuk Kesejahteraan Rakyat. Mulia sekali. Tak peduli apakah memang kesejahteraan rakyat yang jadi tujuan utama, atau sekadar meminjamnya sebagai jualan.

IAS tidak tinggal diam. Tahun depan masa kepemimpinannya sebagai walikota sudah berakhir, aturan tak memperbolehkannya lagi untuk duduk di kursi itu, 10 tahun sudah dijalaninya. Dia siap berkemas, karir politiknya masih sangat panjang dan tentu saja anak tangga siap dijajakinya. Setelah walikota apalagi kalau bukan gubernur ?

Arena Perang Baliho di Makassar

Maka ditantangnya sang gubernur incumbent. Dikumpulkannya massa dan dirangkulnya politisi senior, Azis Qahar Mudzakkar ? anak seorang pejuang yang legendaris dari tanah SulSel, Qahar Mudzakkar ? sebagai kawan seperjalanannya menuju SulSel01. Diusungnya sebuah jargon, Semangat Baru SulSel. Dengan amunisi dan keyakinan tinggi, dia maju ke medan pertempuran.

Genderang perang ditabuh. IAS menantang dan SYL tertantang. Kota Makassar dan seluruh jengkal tanah Sulawesi Selatan jadi arenanya. Bertebaranlah baliho, spanduk dan belakangan mobil-mobil yang membawa slogan mereka berdua. Aroma perseteruan terasa di udara.

Jusuf Kalla, putra daerah paling sukses dalam karir politik adalah orang yang sangat bijaksana dan punya pandangan jauh ke depan. Sebelum perang dimulai dia memberi wejangan, memberi nasehat. Alangkah elok bila dua sosok itu bersanding sebagai calon gubernur dan calon wakil gubernur SulSel periode mendatang.

Tak perlu ada perang, tak perlu ada ongkos politik yang terbuang percuma. SYL dan IAS punya basis massa, punya orang-orang yang siap mati demi mereka dan nyaris tidak ada nama lain yang bisa diikutkan dalam pertarungan besar ini. Kalau mereka menyatukan kekuatan, calon lain benar-benar hanya formalitas. Ibarat menjentikkan jemari tangan, kita sudah tahu siapa pemenangnya. Rakyat tak perlu dibenturkan dalam pilihan antara SYL atau IAS.

Ah Jusuf Kalla memang bijaksana, tapi kadang dia naif dan polos. Dia mungkin lupa kalau politik itu kadang sangat serakah dan tak mau berbagi. SYL dan IAS datang dari partai yang berbeda, kuning dan biru. Mereka mungkin mau mendengarkan nasehat dari Jusuf Kalla yang mereka hormati, tapi orang-orang dari partai mereka ? Orang-orang dari pusat ? Relakah mereka ? Tentu tidak.

Tak ada pilihan lain, perang itu harus tetap terjadi. Tinggallah rakyat yang akan dibenturkan satu sama lain. Tinggallah rakyat yang dipaksa memilih satu dari mereka sambil berharap pilihan mereka tidak salah, sambil berharap mereka tak kalut dan jatuh pada fanatisme semu yang membutakan, yang membuat mereka memaki saudara sendiri hanya karena punya pilihan berbeda.

Pilkada masih kurang setahun lagi, tapi panasnya sudah terasa. Setidaknya di kota Makassar. SYL memang percaya diri, posisi incumbent-nya membuat dia bisa leluasa berkampanye ke mana-mana, sedang IAS ? IAS masih harus bekerja keras membangun citra dalam kurun waktu yang mungkin sudah dianggap sempit.

Saya dan mungkin jutaan rakyat SulSel lainnya hanya bisa menunggu ke mana arah peperangan ini menuju. Semoga saya yang berlebihan menyebutnya sebagai peperangan, semoga yang ada hanyalah persaingan tak sampai menjadi alasan untuk pecah apalagi berbenturan.

Kalau mau jujur, saya mengharapkan sebuah jargon : Don’t Stop Untuk Semangat Baru SulSel. Saya percaya nasehat Jusuf Kalla bila dituruti sungguh sangat berarti bagi rakyat SulSel, bukan sekadar jargon tapi memang kerja nyata.
[dG]

March 01, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Foto Dalam Postinganmu 8

Foto Dalam Postinganmu

Add Media Di WordPress

Bukan meniru lagu lama dari grup musik Slank, tapi postingan ini memang mau bicara tentang peran foto dalam postingan.

Setiap kali membuat artikel di blog, foto selalu menjadi sebuah keharusan bagi saya. Biasanya selain membuat artikel, mencari foto yang tepat juga butuh waktu. Foto bagi saya adalah pelengkap dan pemanis untuk sebuah artikel blog, apalagi artikel yang saya tulis rata-rata memang panjang dan potensial membuat mata lelah dan pembaca bosan. Foto menjadi sebuah solusi sederhana untuk sedikit menyegarkan mata pembaca.

Memilih foto bukan pekerjaan mudah. Untuk artikel perjalanan tidak terlalu sulit, saya tinggal mencari koleksi foto hasil jepretan sendiri, kebetulan saya memang suka menjepret momen atau pemandangan. Masalah akan datang bila artikel yang saya muat berbau tips, opini atau blogging. Langkah awal memang melirik stok satu persatu, mencari foto yang kira-kira tepat mewakili postingan yang saya buat. Kalau tidak ada yang rasanya cocok barulah saya akan mencari dengan bantuan Google.

Dulu saya suka serampangan, mengambil gambar di internet dan memasangnya untuk pemanis blog tanpa mencantumkan sumbernya. Belakangan saya sadar kalau itu tidak benar, maka sejak itu saya selalu memasang sumber foto. Sebuah foto yang sudah sangat umum terpasang di internet akan saya tulis sumbernya sebagai Google, karena kadang saya sudah tidak tahu foto itu awalnya dari mana dan siapa yang pertama mempublikasikannya.

Mencari foto yang sesuai dengan isi artikel yang terlalu umum juga bukan persoalan gampang. Mencari dengan kata kunci sesuai artikel yang dibuat tidak selamanya akan diarahkan ke hasil pencarian yang persis seperti kita butuhkan. Sebenarnya saya suka foto yang ilustratif atau tidak secara gamblang merujuk ke isi artikel, tapi sekali lagi itu bukan pekerjaan mudah tentu saja.

Biasanya kalau sudah mentok dan tidak menemukan foto yang tepat maka saya akan menyerah dan memasukkan foto yang sebenarnya tidak tepat dengan isi artikel tapi kemudian saya paksakan saja. Contoh terakhir adalah postingan 7 Tips Untuk Cowok di mana saya betul-betul mentok dan tidak menemukan foto yang tepat untuk isi artikel tersebut sehingga kemudian memasukkan foto boneka yang saya ambil sendiri dan menambahkannya dengan keterangan yang mendekati isi artikel.

Kadang-kadang kalau mentok di foto dan masih ada waktu luang maka saya akan membuat sendiri ilustrasi untuk pemanis. Itu sudah beberapa kali saya lakukan.

Kemarin, daeng Taqdir yang mengelola beberapa blog dalam hostingnya mengeluh. Beberapa blog yang numpang hosting di tempatnya ternyata berisi megabyte yang cukup besar. Salah satu penyebabnya adalah besaran foto yang melebihi standar. Beberapa bahkan sampai resolusi maksimal tanpa ada proses resize.

Sebenarnya berapa sih standar ukuran foto untuk postingan ? Saya belum pernah baca, tapi saya selalu membatasi ukuran maksimal foto dalam postingan dengan ukuran terpanjang 600 pixel. Biasanya besaran file-nya berkisar antara 80an hingga 120an kb tergantung kerapatan gambar dan warna dalam foto tersebut. Ukuran 600 pixel itu menurut lebar main post yang tentu saja beragam pada tiap themes.

Sebelum mengunggah foto ke dalam artikel satu proses yang saya lewati adalah proses mengubah besaran file. Ada banyak perangkat lunak yang bisa melakukannya seperti windows file manager, photoshop atau resize picture. Biasanya saya menggunakan photoshop karena selain mengubah ukuran saya juga melakukan beberapa perbaikan seperti perbaikan gelap-terang atau perbaikan warna. Semua demi tampilan foto yang dinamis dan menarik perhatian.

Dulu saya juga asal taruh foto, dengan besaran yang beragam. Belakangan saya suka melihat cara teman saya, Hilman dalam memasang foto di postingan blognya. Ukurannya selalu seragam dan rata kanan kiri. Dari sana saya kemudian mencontek caranya, memuat foto dengan ukuran yang seragam ( biasanya 600×400 sesuai lebar main content ) dan menaruhnya dengan posisi rata kiri-kanan.

Iya, saya memang termasuk orang yang rewel kalau menyangkut foto dalam blog mulai dari pemilihan, ukuran hingga penempatan. Semua itu demi kenyamanan membaca selain tentu saja agar blog terlihat lebih menarik.

Nah, bagiamana dengan rekan blogger ? Apa punya pendapat sendiri tentang foto dalam postingan ?

[dG]

February 29, 2012 in Blogging, Rabu
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah 9

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Martapura

Sunset di Martapura

Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di kepala saya : hutan dan batu yang indah. Saya tahu kalau bumi Kalimantan adalah penghasil bebatuan yang bila diolah bisa menjadi sangat indah. Itulah yang saya temukan kebenarannya di hari kedua di Banjar Baru.

Pagi di Banjar Baru, hari kedua menginjakkan kaki di Bumi Borneo. Di luar cuaca berawan, matahari tidak terlalu garang. Saya menyeruput teh panas dan gorengan sambil mengintip ke lini masa dan mengecek email. Almas – sobat dari Ambon- masih terlelap, maklumlah dia makhluk nocturnal yang tidur menjelang matahari datang.

Hari itu agenda kami ada dua, jalan-jalan ke pasar Martapura dan sore harinya melihat pendulangan intan di Cempaka.

Martapura tidak jauh dari Banjar Baru, perjalanan kami tempuh tidak lebih dari 20 menit menyusuri jalan lintas kabupaten yang besar dan lebar. Saya baru tahu kalau selain karena kekayaan alamnya, Martapura juga terkenal sebagai kota santri yang Islami. Menjelang pusat kota kami sempat mampir ke makam seorang ulama, tepatnya di daerah Sekumpul.

Makam yang menyatu dengan masjid itu cukup ramai oleh para peziarah. Di pelataran ada pipa air yang dilengkapi beberapa kran. Beberapa peziarah mengisi gelas aluminium dari sana dan meneguknya, ada juga yang mengusapnya ke wajah. Beberapa orang di antaranya membawa pulang airnya, memindahkan ke wadah yang lain.

Di sekitar parkiran makam dan masjid itu bertebaran pedagang kecil yang menjajakan bermacam-macam souvenir dan cemilan khas Kalimantan. Souvenirnya juga beragam, beberapa di antaranya adalah benda-benda yang berhubungan dengan sang ulama dan aktifitasnya. Ada aura khas yang bisa saya tangkap, aura yang sama ketika mengunjungi tempat-tempat perziarahan lainnya. Tenang, tentram dan damai.

Berfoto di Makam Sekumpul

Dari makam Sekumpul kami bergerak ke pasar Martapura yang tidak terlalu jauh, tidak sampai 10 menit perjalanan. Sepanjang jalan saya banyak mendapati lelaki muda berjubah putih dengan kitab suci di tangan, pun dengan gadis-gadis berjilbab besar. Sungguh gambaran kota santri.

Salah satu suvenir yang dijajakan di Pasar Martapura

Pasar Martapura cukup besar dan ramai. Dari depan sudah ketahuan jenis dagangan apa yang paling banyak di pasar itu. Beragam asesoris yang sebagian besarnya untuk kaum Hawa terpampang jelas di sana, benar-benar menarik perhatian. Dari kalung, gelang, cincin, anting, bros, hiasan jilbab dan entah apalagi. Saya membayangkan kaum Hawa yang berkunjung ke sana bisa-bisa langsung gelap mata dan jadi kalap untuk berbelanja.

Itu kaum Hawa, bagaimana dengan saya yang Adam tulen ? Bingung tentunya. Terlalu banyak pilihan yang justru membuat saya seperti berada di alam lain. Saya yang penggemar gelang etnik akhirnya hanya menjatuhkan pilihan pada beberapa gelang yang menurut saya menarik dan tentu saja berwarna hitam.

Soal harga, katanya barang-barang di sana jauh lebih murah. Istri mas Nophy yang bilang. Gelang batu pualam yang dilepas seharga Rp. 70.000,- di Surabaya katanya bisa dijual seharga minimal Rp. 180.000,- begitu juga dengan tasbih yang selisihnya bisa 100%. Tidak heran kalau pasar Martapura selalu ramai dikunjungi para turis lokal.

Lewat pukul 12 siang kami beranjak dari pasar Martapura, kembali ke rumah Harie sebelum pindah ke Asrama Haji tempat acara Aruh Blogger dipusatkan. Rencananya sore itu para peserta Aruh Blogger akan diajak mengunjungi tempat pendulangan intan di kawasan Cempaka, sekitar 30 menit perjalanan dengan motor dari Banjar Baru.

Menjelang pukul 5 sore saya dan rombongan berkonvoi ke Cempaka. Rencanya kami akan melihat langsung proses pendulangan intan. Dalam perjalanan kami mampir ke warung 41, sebuah warung di pinggir jalan yang menyediakan 41 jenis jajanan khas Banjar. Sayangnya karena hari sudah sore, jenis jajanannya sudah sangat berkurang, hanya ada sekitar belasan jajanan saja.

Jajanan Banjar

Ragam jajanan khas Banjar

Saya mencoba beberapa di antaranya, sebagian mirip dengan jajanan di Makassar yang sudah hampir punah atau yang hanya muncul di acara khusus saja. Ada yang namanya Magedi, terbuat dari kedelai dicampur tepung dan digoreng, ada juga Bingka Telu yang mirip dengan kue Sikaporo kalau di Makassar. Terbuat dari putih telur, tepung dan gula pasir hingga rasanya sangat manis. Satu yang paling berkesan bagi saya adalah cempedak goreng. Berkesan karena buah cempedak tidak mudah ditemukan di Makassar dan ini pertama kalinya saya menemukan cempedak yang digoreng.

Satu kekurangan dari bumi Kalimantan adalah karena mereka tidak punya kopi yang khas, beberapa kali menikmati kopi di warung saya hanya mendapatkan kopi bermerk.

Dari Warung 41 kami melanjutkan perjalanan ke Cempaka. Cempaka adalah sebuah pusat penambangan intan di Martapura. Katanya tempat ini dikelola cukong dan sudah hampir ditinggalkan karena sudah mulai kehabisan sumber daya alam. Tanahnya sendiri sudah dikembalikan ke pemerintah propinsi, meninggalkan lubang-lubang besar serupa danau.

Pendulang intan

Para pendulang intan

Karena hari sudah terlalu sore kami hanya mendapati tempat penambangan yang sudah sepi. Hanya ada beberapa penambang yang sedang melenggang ( istilah untuk mendulang intan secara tradisional dengan menggunakan alat sederhana ) Saya juga tidak sempat mewawancarai para pekerja karena tampaknya mereka sangat serius.

Seorang bapak yang menawarkan batu kecubung bercerita kalau bukan hanya intan saja yang bisa didulang, emaspun ada. Dia menunjukkan beberapa contoh butiran emas yang berhasil didulang. Bentuknya hanya sebesar butiran pasir dengan warna kuning emas yang terang. Nantinya butiran-butiran itu akan dilebur menjadi emas dalam ukuran yang lebih besar.

Ketika mentari mulai pulang, kamipun meninggalkan Cempaka. Ada satu hal yang saya renungkan. Lubang besar berbentuk danau yang tertinggal membuat saya berpikir kalau kadang kita manusia lupa untuk berterima kasih pada alam. Alam sudah berbaik hati menyediakan banyak isi perutnya untuk kita nikmati dan kita gunakan sebagai penopang kehidupan tapi kita selalu lupa untuk menjaganya.

Kadang kita terlalu rakus untuk meraupnya dan lupa untuk menyisakan buat anak cucu kita, sang pemilik yang sebenarnya.

Ah, Martapura memberi saya pelajaran. Semoga saya tidak serakus itu.
[dG]

February 28, 2012 in Budaya, Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Bukan Sekadar Permainan 2

Bukan Sekadar Permainan

Duka Portugal di WC2010

Ada olahraga yang lebih populer daripada sepakbola ? Sebutlah basket, olahraga mementalkan bola ke lantai yang begitu superior di Amerika Serikat. Tapi di negara lain ? Basket hanya sekadar pelengkap. Olahraga utama adalah sepakbola.

Orang Inggris menyebut dirinya sebagai penemu sepakbola dan negaranya sebagai home of football, faktanya memang pelaut Inggrislah yang menyebarkan sepakbola ke banyak negara di dunia seperti Italia, Argentina dan bahkan Brazil meski catatan sejarah menyebutkan kalau orang China sudah memainkan olahraga serupa sepakbola berabad-abad sebelum orang kulit putih memainkannya.

Olahraga yang dimainkan 22 lelaki ini ? belakangan juga dimainkan para wanita ? berkembang pesat menjadi sebuah olahraga yang tidak hanya melulu berurusan dengan lapangan hijau, tapi merambat jauh ke urusan lainnya. Politik, sosial, budaya dan ekonomi adalah ruang yang dijamah oleh sepakbola, di beberapa negara bahkan menyangkut soal agama.

Di Italia, sepakbola adalah budaya. Mereka bisa duduk dalam satu gereja di minggu pagi dan bunuh-bunuhan di malam harinya di stadion tempat tim andalan mereka bertanding. Di Brazil, sebuah keluarga akan meratapi nasib buruknya ketika mereka tidak dianugerahi anak lelaki yang cakap menendang bola.

Di Irlandia, dua klub sepakbola selama puluhan tahun selalu terlibat dalam pertarungan sengit yang kadang melibatkan nyawa dan darah hanya karena perbedaan Katolik dan Protestan. Di Argentina, sepakbola menjadi alat bagi kaum proletar untuk balik mencaci kaum borjuis yang menghina mereka.

Di Afrika, benua keling yang selalu jadi objek eksploitasi orang-orang dari benua biru sepakbola menjadi sebuah cara? untuk keluar dari kemiskinan. Anak-anak kecil belajar menendang bola di tanah yang tandus sambil berharap pencari bakat dari benua seberang melirik mereka.

Sungguh sepakbola sudah merasuk jauh ke dalam kehidupan manusia modern saat ini.

Tak usah heran ketika sebuah pertarungan yang berlangsung jauh di benua seberang bisa menyebabkan sebuah pertikaian di benua yang lain. Tak usah heran ketika yang bertikai itu sama sekali tidak punya hubungan darah dengan para lelaki di benua seberang yang sedang bertanding di lapangan hijau itu. Alasan pertikaian mereka hanya satu, sepakbola.

Sepakbola sudah menjadi sebuah bahasa global dalam pergaulan lintas negara saat ini. Sepakbola dipakai sebagai alat diplomasi, dipakai sebagai sebuah kekuatan ekonomi dan bahkan digunakan sebagai alat dominasi sebuah negara terhadap negara lainnya.

Lalu, kenapa sepakbola bisa begitu populer ? Centre National De La Rechecche Scientifique di Perancis mengatakan bahwa salah satu alasannya adalah karena sepakbola menggambarkan apa yang seharusnya dilakukan sebuah tim, organisasi bahkan negara jika ingin sukses di jaman sekarang. Sebuah kombinasi dari kerja individu dan tim, kebreuntungan, sedikit cara-cara licik dan keberpihakan wasit yang biasanya berhubungan dengan hukum dan penguasa.

Sepakbola memang tidak sesedarhana sebuah permainan di lapangan hijau yang melibatkan 22 orang berseragam. Sepakbola jauh lebih dalam dari itu. 2 kali 45 menit di lapangan hijau bisa berefek jauh lebih panjang. Kekalahan Jerman di piala dunia 1966 dari Inggris lewat satu gol kontroversial masih terus dibicarakan hingga saat ini dan tentu saja masih terus meninggalkan amarah dan duka di hati orang Jerman.

Sepakbola sampai kapanpun itu akan menjadi sebuah olahraga yang paling mampu menyedot perhatian warga bumi. Di dalamnya bukan hanya unsur sportifitas, tapi ada drama, ada kelicikan dan ada banyak hal lain yang kadang tidak bisa dinilai dengan rasio.

Itulah sepakbola, olahraga yang telah menembus banyak batas di dunia ini. Nikmatilah, karena sepakbola memang hadir untuk dinikmati.

[dG]

February 27, 2012 in Opini, Senin
7 Tips Buat Cowok 17

7 Tips Buat Cowok

Jomblo

Kumpulan Cowok Jomblo

Jomblo, kata ini seperti jadi momok untuk para lelaki dan perempuan saat ini meski saya tidak setuju kalau jomblo dikatakan sebagai kutukan atau bahkan musibah. Jomblo hanyalah sebuah proses, semua orang bisa melewatinya.

Meski begitu, keadaan jomblo kadang memang membuat pelakunya jadi sedikit stress dan merasa selalu berada dalam tekanan. Keadaan sekitarlah yang membuatnya seperti itu. Melihat teman-teman baik sepermainan sudah sibuk dengan pasangannya masing-masing jelas membuat sang jomblo mau tidak mau akan terpengaruh. Bagi yang kuat bertahan, gangguan itu akan lewat dengan cepat. Tapi yang tidak sekuat mereka, gangguan itu akan tinggal dalam waktu lama.

Kali ini saya tidak ingin sok-sokan dengan memberi saran buat teman-teman yang masih merasa jomblo. Tips yang saya tulis ini murni karena ingin membagi pengalaman, sekaligus juga kumpulan dari berbagai artikel atau pengamatan selama ini.

Berikut tips buat cowok dari saya, tujuannya adalah untuk membuka kesempatan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Siapa tahu bisa digunakan untuk menghapus status jomblo.

Jujur dan jadi diri sendiri

Saya kira tidak ada orang menyukai kepura-puraan. Berhentilah berusaha kelihatan sempurna karena ingin dipuji dan disukai orang. Semua manusia suka pada kejujuran, termasuk wanita tentu saja.

Saran saya, kenali diri sendiri. Temukan potensi dan kelebihan diri sendiri, entah dari segi fisik ataupun non fisik. Kenali juga kekurangan dan berusaha untuk memperbaiki tanpa harus menjadi orang lain.

Cowok yang selalu ingin kelihatan sempurna dan mengutamakan pencitraan lebih potensial membuat cewek jadi malas. Kata Kurt Cobain, lebih baik dibenci karena menjadi diri sendiri daripada dicintai karena menjadi orang lain.

Percaya Diri

Setelah berbekal kejujuran, mulailah untuk membangun kepercayaan diri. Perhatikan sekitar, banyak cowok yang berhasil menaklukkan cewek karena dia punya modal kepercayaan diri yang menggunung. Kepercayaan diri dibangun tidak hanya lewat tampilan fisik semata, semua orang pasti dibekali kelebihan.

Masalahnya kemudian apakah kita bisa menonjolkan kelebihan itu atau tidak ? Ketika kita mencintai diri sendiri, percaya pada diri sendiri maka potensi untuk membuat orang lain cinta dan percaya pada kita akan semakin besar. Tapi ingat, kepercayaan diri jangan melewati ambang batas atau anda akan dianggap sombong dan menyebalkan.

Perluas Wawasan dan Tampil Cerdas

Cowok cerdas akan selalu terlihat lebih seksi. Sebagian besar wanita akan senang bila berada di dekat cowok cerdas, cowok yang bisa diajak ngomong apapun. Cowok yang tahu di mana letak kepulauan Derawan, cowok yang tahu cara memperpanjang BIS dan cowok yang tidak menggeleng ketika ditanya siapa itu Adolf Hitler.

Tidak perlu menjadi seorang rocket scientist atau punya otak sekelas Einstein. Cukup memperbanyak bahan bacaan dan sering-sering berkumpul dan bergaul dengan orang lain. Tapi kelihatan terlalu cerdas juga bukan pilihan yang bagus. Cewek bisa jadi kehilangan kepercayaan diri kalau anda selalu tampil seolah-olah seorang ilmuwan yang baru saja memenangkan nobel.

Tampil cerdaslah ketika diperlukan, dan selalu ingat menjaga takaran. Anda tidak mau terlihat terlalu show off kan ?

Perluas Pergaulan

Ingin punya banyak kesempatan mendapat pasangan ? Perluas pergaulan salah satu jawabannya. Ikut beragam komunitas, aktif dalam beragam kegiatan atau aktif di social media yang lagi gencar saat ini. Salah satu cara terbaik adalah dengan masuk ke komunitas atau kegiatan yang sesuai dengan minat dan hobi. Kesempatan untuk bertemu dengan cewek yang punya passion serupa tentu lebih besar.

Kalau punya keyakinan diri dan kemampuan menjaga diri yang besar, bolehlah sesekali bergaul dengan mereka yang dianggap nakal oleh lingkungan sosial. Sekedar tahu hal-hal yang kata orang negatif dan biasanya tidak disukai para wanita. Tapi, cara ini tentu saja butuh ketahanan diri yang kuat, jangan sampai ikut terseret jauh ke dalamnya.

Cintai Seni.

Sepertinya semua orang sepakat kalau seni yang penuh dengan keindahan itu memang selalu berhasil memikat lawan jenis. Coba perhatikan para seniman, meski dandanan mereka kadang a la kadarnya atau bahkan terlihat kumal tapi mereka selalu berhasil membuat wanita bertekuk lutut.

Seniman selain selalu tampil percaya diri dan menjadi dirinya sendiri juga punya modal yang besar, kecintaan pada seni. Tak perlu menguasai alat musik, pandai membuat puisi atau pandai membuat lukisan. Cukup dengan mencintainya dan mampu berbicara tentang seni, itu sudah cukup.

Miliki Rasa Humor

Ada yang bilang kalau cowok humoris itu otomatis akan kelihatan menarik. Percayalah, itu benar. Humor-selain seni- selalu berhasil menjadi ice breaker, memecah kebuntuan kala suasana sedang tidak nyaman. Cowok yang selalu berhasil membuat wanita terpingkal-pingkal akan selalu dirindukan.

Tapi harus diperhatikan juga selera humor macam apa yang harus kita miliki. Setidaknya bukan selera humor rendahan dengan joke yang kadang ofensif dan menjadikan lawan jenis sebagai objek. Belajarlah untuk memiliki selera humor yang cerdas. Ini tentu butuh latihan, tapi bukan hal yang mustahil.

Pahami Wanita

Semua modal sudah anda miliki, ditambah tampilan fisik yang melengkapi.? Tapi, anda tidak punya kepekaan untuk memahami wanita, hasilnya akan sia-sia saudaraku.

Memahami wanita memang bukan perkara mudah, bahkan Einsteinpun mengakuinya. Memang tak harus memahaminya seratus persen, cukup membaca beragam tanda tentang wanita dan selalu berusaha meredam ego.

Catatlah, sebagian besar wanita menganggap lelaki yang mengerti mereka ketika masa PMS datang itu adalah lelaki yang keren. Jadi berusahalah mengalah ketika mereka tiba-tiba menjadi lebih sensitif dan uring-uringan ketika PMS datang. Jadilah lelaki yang lebih sensitif dan peka, tak mengapa mengorbankan ke-macho-an untuk sejenak, toh hasilnya akan lebih terasa.

Nah, itulah 7 tips yang bisa saya bagi buat anda yang merasa cowok. Mungkin tak semuanya benar, tapi setidaknya hampir semuanya berhasil.? Dan ingatlah, jomblo itu hanya sebuah proses bukan musibah apalagi kutukan.

Keluarlah dan temukan cinta sejatimu.

[dG}

February 26, 2012 in Sabtu-Minggu, Tips
Gonta Ganti Themes 6

Gonta Ganti Themes

Themes Bombax

Salah satu themes yang saya pakai dalam waktu lama

Selama membesarkan daenggassing.com entah sudah berapa kali saya berganti-ganti template. Alasannya beragam, tapi yang paling sering adalah karena mulai bosan dan ingin mencari suasana baru.

Selama sebulan belakangan ini, daenggassing.com selalu mendapat serangan malware. Entah dari mana asalnya dan apa motif utamanya yang jelas malware itu benar-benar membuat pusing. Blog tidak bisa diakses karena sudah terlebih dahulu diblok oleh browser. Selain itu, Google juga mencantumkan kalau blog ini masuk kategori attacked pages. Sungguh membuat stress karena sebelum malware menyerang, daenggassing.com sudah termasuk trusted site dengan index yang lumayan di Google.

Setelah diusut, salah satu pintu tempat masuknya malware adalah lewat themes. Akhirnya setelah malware selesai dibasmi dengan berat hati saya terpaksa harus mengganti themes. Themes terakhir yang saya pakai namanya Brover, saya unduh dari sebuah situs yang menyediakan berbagai themes untuk wordpress.

Sebenarnya saya sangat menyukai themes Brover ini karena tampilannya yang sederhana dengan sebuah feature slider yang memungkinkan postingan dengan kategori tertentu tampail berganti-ganti di halaman depan. Hal lain adalah karena kemudahan untuk melakukan pengaturan sendiri, termasuk memasukkan kode iklan di tiap postingan.

Saya lupa kapan pertama kali menggunakan themes itu, tapi seingat saya cukup lama bahkan mungkin termasuk yang paling lama dari berbagai themes yang pernah saya pakai.

Themes lain yang pernah saya pakai dalam waktu lama namanya Typhography. Themes ini sangat sederhana, warnanya putih polos tanpa header. Karena kesederhanaannya maka saya bertahan cukup lama menggunakan themes ini sebelum kemudian menggantinya.

Themes lain yang berkesan dan sempat saya pakai dalam waktu lama bernama Bombax. Themes ini meski kelihatan agak ramai tapi punya kelebihan di bagian pengaturan. Kita gampang untuk mengatur posisi postingan di halaman depan, mengatur besar bingkai gambar dan pengaturan lainnya. Saya hanya kurang sreg pada warnanya yang hijau terang meski bertahan cukup lama di blog ini.

Saya sudah lupa total berapa kali saya mengganti themes, mungkin lebih dari sepuluh kali. Belakangan ini saya lebih fokus pada themes yang bertema magazine atau mirip majalah. Entahlah, saya lebih suka bila halaman depan blog berisi banyak postingan dan terlihat ramai meski tetap saja saya lebih suka yang berwarna netral dan lembut.

Nah, sebelum menggunakan themes yang sekarang saya sempat menggunakan themes WP Cover, salah satu themes magazine yang sudah terdaftar di wordpress. Saya sebenarnya suka karena themes itu mudah diatur termasuk mengganti warna latar dan header. Sayangnya saya kurang sreg dengan warna yang dominan cokelat.

Setelah mencari-cari di sebuah website yang punya banyak pilihan themes, akhirnya saya menjatuhkan pilihan pada themes yang sekarang. Saya suka karena warna dominannya yang putih dengan paduan warna biru laut. Selain itu tentu saja adalah karena ada feature slider yang menampilkan foto-foto untuk postingan dengan kategori tertentu.

Sebenarnya ada beberapa bagian yang masih belum bisa memuaskan saya, sampai sekarang saya masih mencari-cari bagaimana caranya untuk melakukan modifikasi sendiri agar bagian tersebut bisa pas sesuai dengan kemauan. Tapi secara umum saya sudah puas pada themes yang sekarang dan entah akan berhana berapa lama.

Bagaimana dengan teman-teman ? Punya cerita tentang themes pada blog kalian ? Berbagi yuk..!!

[dG]

February 25, 2012 in Sabtu-Minggu, Tips

Kampanye

Kalender Post

May 2012
M T W T F S S
« Apr    
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  

Switch to our mobile site