Spermonde 5 ; Berenanglah Turtie, Hiduplah, Nikmatilah Lautmu

Cantik ya…

Tulisan penutup setelah bagian satu, dua, tiga dan empat.

Matahari makin tinggi. Kapoposang mulai bermandi matahari pagi yang garang. Jarum jam baru menujukkan pukul 7 pagi, tapi panasnya sudah menyerupai pukul 11 siang. Begitulah yang namanya pantai. Panasnya pasti lebih daripada dataran. Tapi, sepanas-panasnya pantai, tetap ada rasa nyaman yang mengalir dari hembusan angin dan debur ombak. Kenyamanan yang selau membuat saya dan teman-teman Anging Mammiri selalu merindukan pantai, laut dan air asinnya.

Kami berkumpul di tempat makan, selepas berjalan-jalan menikmati pulau Kapoposang. Di tempat makan sudah tersedia sarapan nasi goreng dan lauknya. Sungguh menyenangkan bisa bercengkerama dan berbagi cerita sambil menikmati sarapan yang sederhana.

Selepas sarapan kami mendengarkan briefing singkat dari Om JJ sebagai ketua rombongan. Beliau merangkum banyak hal tentang perjalanan selama hampir 2×24 jam itu. Tentang aset wisata yang belum digarap serius, tentang infrastruktur yang belum memadai dan tentu saja tentang kerusakan alam yang semakin lama semakin mengkhawatirkan. Di ujung briefing diterangkan kalau pagi itu kami akan ikut melepas tukik (bayi penyu sisik) ke lautan lepas.

Pulau Kapoposang memang mempunyai area penangkaran penyu sisik dan tepat hari itu akan dilepas sebagian dari mereka, berharap mereka akan terus berkembang biak dan hidup lama di alam bebas. Penyu punya penyakit home sick berat. Meski dilepas ke alam bebas, mereka akan tetap kembali ke tempatnya pertama kali lahir, tentu untuk kembali bertelur dan melanjutkan keturunannya.

Mari melepas penyu

Kami lalu menuju ke bagian selatan pulau di depan resort indah yang hari itu didiami beberapa orang warga negara Jepang yang sedang diving. Di atas pasir putih, seluruh peserta siap untuk melepas penyu sisik. Ukurannya beragam, dari yang masih kecil selebar kurang lebih 5 cm hingga yang selebar kira-kira 20 cm.

Iqko, Mus, Lelaki Bugis dan Mamie sangat antusias untuk ikut melepas penyu. Satu persatu mereka memilih penyu yang akan mereka lepas ke laut. Mamie bahkan memberi nama Turtie untuk penyu kecilnya. Dia mengucapkan kata-kata, meminta si Turtie untuk berjanji agar tetap berjuang hidup dan melanjutkan keturunan di alam bebas.

Gaya mereka dengan penyunya masing-masing

Para peserta kemudian berbaris di tepi pantai menghadap ke laut lepas. Perlahan-lahan penyu-penyu itu dilepas satu persatu dan dibiarkan berlari sendiri menuju lautan. Penyu-penyu kecil itu tampak sangat bersemangat menuju lautan, mereka berlari dan kemudian berenang riang seakan penuh suka cita ketika tahu sebentar lagi akan kembali ke alam bebas tempat mereka seharusnya berada. Tertitip harapan semoga mereka tetap akan bertahan hidup di luar sana, di alam bebas.

Ada yang aneh dengan penyu yang dilepas Lelaki Bugis. Penyu selebar kurang lebih 20cm itu selalu kembali ke daratan, berbeda dengan penyu lainnya yang begitu bersemangat untuk menyongsong laut lepas. Lelaki Bugis menyebutnya sebagai penyu yang susah move on. Benar-benar susah karena meski Mus membawanya jauh ke luar dia tetap kembali ke pantai.

Si penyu yang susah move on

Mari kita pulang

Selesai melepas penyu, rombongan berpencar. Para kru TV sibuk mengambil take terakhir mereka, menyelesaikan liputan selama di pulau Kapoposang. Iqko dan Mus asyik menikmati laut di sekitar resort dengan snorkling. saya,Mamie dan Lelaki Bugis snorkling di bagian timur Kapoposang. sekadar menghabiskan waktu sebelum kembali ke kapal.

Setelah puas menikmati pantai sekitar Kapoposang kami akhirnya membersihkan diri dan berganti pakaian. Rencananya kami akan kembali ke Makassar sekitar pukul 12:00. Kami berusaha tiba di kota Makassar sebelum maghrib.

Kami terlambat hampir sejam dari jadwal. Lewat dari pukul 13:00 Novita Sari akhirnya bergerak perlahan meninggalkan Kapoposang. Ombak tenang, tidak seperti saat kami datang. Seluruh peserta terlihat lelah sekaligus puas dengan ragam pengalaman selama 2 hari itu. Satu per satu dari mereka beristirahat di atas kapal. Sisanya bertukar cerita dan bertukar dokumentasi selama perjalanan.

Kapoposang makin mengecil di belakang sana, pulau indah itu tetap ada di sana dan tidak ke mana-mana. Saya menatap lautan luas yang biru. Sepanjang mata memandang hanya ada biru dan biru sambil diselingi gundukan kecil berupa pulau.

Si Turtie yang dilepas Mamie entah ada di mana sekarang. Mungkin dia bercengkerama dengan sesama sahabatnya di penangkaran yang sama-sama menghirup udara alam bebas. Mungkin dia sudah belajar untuk menikmati alam bebas, bertahan hidup dengan insting binatangnya. Turtie hanya satu dari puluhan penyu yang dilepas pagi itu, di setiap siripnya tersimpan harapan semoga dia dan keluarganya tidak akan mati sia-sia. Semoga dia dan keluarganya akan terus bertahan hidup dan bahkan berkembang biak.

Ah, semoga Turtie, keluarga dan semua kerabatnya mau memaafkan kami manusia yang kadang begitu rakus dan tidak peduli akan kerusakan alam. Berenanglah Turtie, hiduplah, nikmati lautmu. Mungkin kita tidak akanbetemu lagi, tapi semoga keturunanmu akan lahir dan terus berkembang. Kami manusia ini kadang memang terlalu rakus. Semoga keturunan kami tidak seperti itu.

Novita Sari terus bergerak menuju Makassar. Perlahan kotak beton terlihat jelas, itu kota kami. Itu kota tempat kami hidup sehari-hari. Perlahan pula kami makin mendekat. Ada rasa syukur ketika kami menginjak daratan, tapi sekaligus ada rasa sedih karena harus berpisah setelah dua hari yang luar biasa itu.

Terima kasih untuk semua sahabat dan semua orang yang sudah memungkinkan kami untuk ikut trip Spermonde. Sebuah pengalaman yang tak akan terlupakan.

[Selesai]

[dG]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Baca Juga Yang Iniclose
%d bloggers like this: