Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Martapura

Sunset di Martapura

Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di kepala saya : hutan dan batu yang indah. Saya tahu kalau bumi Kalimantan adalah penghasil bebatuan yang bila diolah bisa menjadi sangat indah. Itulah yang saya temukan kebenarannya di hari kedua di Banjar Baru.

Pagi di Banjar Baru, hari kedua menginjakkan kaki di Bumi Borneo. Di luar cuaca berawan, matahari tidak terlalu garang. Saya menyeruput teh panas dan gorengan sambil mengintip ke lini masa dan mengecek email. Almas – sobat dari Ambon- masih terlelap, maklumlah dia makhluk nocturnal yang tidur menjelang matahari datang.

Hari itu agenda kami ada dua, jalan-jalan ke pasar Martapura dan sore harinya melihat pendulangan intan di Cempaka.

Martapura tidak jauh dari Banjar Baru, perjalanan kami tempuh tidak lebih dari 20 menit menyusuri jalan lintas kabupaten yang besar dan lebar. Saya baru tahu kalau selain karena kekayaan alamnya, Martapura juga terkenal sebagai kota santri yang Islami. Menjelang pusat kota kami sempat mampir ke makam seorang ulama, tepatnya di daerah Sekumpul.

Makam yang menyatu dengan masjid itu cukup ramai oleh para peziarah. Di pelataran ada pipa air yang dilengkapi beberapa kran. Beberapa peziarah mengisi gelas aluminium dari sana dan meneguknya, ada juga yang mengusapnya ke wajah. Beberapa orang di antaranya membawa pulang airnya, memindahkan ke wadah yang lain.

Di sekitar parkiran makam dan masjid itu bertebaran pedagang kecil yang menjajakan bermacam-macam souvenir dan cemilan khas Kalimantan. Souvenirnya juga beragam, beberapa di antaranya adalah benda-benda yang berhubungan dengan sang ulama dan aktifitasnya. Ada aura khas yang bisa saya tangkap, aura yang sama ketika mengunjungi tempat-tempat perziarahan lainnya. Tenang, tentram dan damai.

Berfoto di Makam Sekumpul

Dari makam Sekumpul kami bergerak ke pasar Martapura yang tidak terlalu jauh, tidak sampai 10 menit perjalanan. Sepanjang jalan saya banyak mendapati lelaki muda berjubah putih dengan kitab suci di tangan, pun dengan gadis-gadis berjilbab besar. Sungguh gambaran kota santri.

Salah satu suvenir yang dijajakan di Pasar Martapura

Pasar Martapura cukup besar dan ramai. Dari depan sudah ketahuan jenis dagangan apa yang paling banyak di pasar itu. Beragam asesoris yang sebagian besarnya untuk kaum Hawa terpampang jelas di sana, benar-benar menarik perhatian. Dari kalung, gelang, cincin, anting, bros, hiasan jilbab dan entah apalagi. Saya membayangkan kaum Hawa yang berkunjung ke sana bisa-bisa langsung gelap mata dan jadi kalap untuk berbelanja.

Itu kaum Hawa, bagaimana dengan saya yang Adam tulen ? Bingung tentunya. Terlalu banyak pilihan yang justru membuat saya seperti berada di alam lain. Saya yang penggemar gelang etnik akhirnya hanya menjatuhkan pilihan pada beberapa gelang yang menurut saya menarik dan tentu saja berwarna hitam.

Soal harga, katanya barang-barang di sana jauh lebih murah. Istri mas Nophy yang bilang. Gelang batu pualam yang dilepas seharga Rp. 70.000,- di Surabaya katanya bisa dijual seharga minimal Rp. 180.000,- begitu juga dengan tasbih yang selisihnya bisa 100%. Tidak heran kalau pasar Martapura selalu ramai dikunjungi para turis lokal.

Lewat pukul 12 siang kami beranjak dari pasar Martapura, kembali ke rumah Harie sebelum pindah ke Asrama Haji tempat acara Aruh Blogger dipusatkan. Rencananya sore itu para peserta Aruh Blogger akan diajak mengunjungi tempat pendulangan intan di kawasan Cempaka, sekitar 30 menit perjalanan dengan motor dari Banjar Baru.

Menjelang pukul 5 sore saya dan rombongan berkonvoi ke Cempaka. Rencanya kami akan melihat langsung proses pendulangan intan. Dalam perjalanan kami mampir ke warung 41, sebuah warung di pinggir jalan yang menyediakan 41 jenis jajanan khas Banjar. Sayangnya karena hari sudah sore, jenis jajanannya sudah sangat berkurang, hanya ada sekitar belasan jajanan saja.

Jajanan Banjar

Ragam jajanan khas Banjar

Saya mencoba beberapa di antaranya, sebagian mirip dengan jajanan di Makassar yang sudah hampir punah atau yang hanya muncul di acara khusus saja. Ada yang namanya Magedi, terbuat dari kedelai dicampur tepung dan digoreng, ada juga Bingka Telu yang mirip dengan kue Sikaporo kalau di Makassar. Terbuat dari putih telur, tepung dan gula pasir hingga rasanya sangat manis. Satu yang paling berkesan bagi saya adalah cempedak goreng. Berkesan karena buah cempedak tidak mudah ditemukan di Makassar dan ini pertama kalinya saya menemukan cempedak yang digoreng.

Satu kekurangan dari bumi Kalimantan adalah karena mereka tidak punya kopi yang khas, beberapa kali menikmati kopi di warung saya hanya mendapatkan kopi bermerk.

Dari Warung 41 kami melanjutkan perjalanan ke Cempaka. Cempaka adalah sebuah pusat penambangan intan di Martapura. Katanya tempat ini dikelola cukong dan sudah hampir ditinggalkan karena sudah mulai kehabisan sumber daya alam. Tanahnya sendiri sudah dikembalikan ke pemerintah propinsi, meninggalkan lubang-lubang besar serupa danau.

Pendulang intan

Para pendulang intan

Karena hari sudah terlalu sore kami hanya mendapati tempat penambangan yang sudah sepi. Hanya ada beberapa penambang yang sedang melenggang ( istilah untuk mendulang intan secara tradisional dengan menggunakan alat sederhana ) Saya juga tidak sempat mewawancarai para pekerja karena tampaknya mereka sangat serius.

Seorang bapak yang menawarkan batu kecubung bercerita kalau bukan hanya intan saja yang bisa didulang, emaspun ada. Dia menunjukkan beberapa contoh butiran emas yang berhasil didulang. Bentuknya hanya sebesar butiran pasir dengan warna kuning emas yang terang. Nantinya butiran-butiran itu akan dilebur menjadi emas dalam ukuran yang lebih besar.

Ketika mentari mulai pulang, kamipun meninggalkan Cempaka. Ada satu hal yang saya renungkan. Lubang besar berbentuk danau yang tertinggal membuat saya berpikir kalau kadang kita manusia lupa untuk berterima kasih pada alam. Alam sudah berbaik hati menyediakan banyak isi perutnya untuk kita nikmati dan kita gunakan sebagai penopang kehidupan tapi kita selalu lupa untuk menjaganya.

Kadang kita terlalu rakus untuk meraupnya dan lupa untuk menyisakan buat anak cucu kita, sang pemilik yang sebenarnya.

Ah, Martapura memberi saya pelajaran. Semoga saya tidak serakus itu.
[dG]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge