Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Salah satu pilihan mie kering Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya...

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat,...

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Archive for January, 2012

Cara Mudah dan Murah ke Makassar 14

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi

Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar sangat mahal dan kemudian merasa berat untuk datang ke ibukota Sulawesi Selatan ini. Mahal atau tidak mungkin relatif, tapi kalau mau membandingkan sesungguhnya biaya ke Makassar dari beberapa kota besar di Jawa tidak terlalu mahal.

Ketika pengumuman bahwa Makassar akan jadi tuan rumah pagelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012, hal pertama yang saya tekankan kepada teman-teman yang hadir di kantor IBN waktu itu adalah : mari mulai menabung. Yah, kali ini jalan menuju Kopdar Blogger Nusantara memang lebih panjang apalagi mengingat kalau sebagian besar konsentrasi peserta memang berasal dari pulau Jawa. Pertanyaan yang paling banyak saya terima dari teman-teman di Jawa adalah : mahalkah ongkos ke Makassar ?

Seperti yang saya bilang di atas, soal mahal atau tidak itu relatif. Tapi anggaplah angka di bawah Rp. 1 juta rupiah itu tidak mahal, maka bisa dibilang ongkos ke Makassar termasuk murah untuk pergi dan pulangnya.

Ada dua kota besar di Jawa yang bisa jadi pilihan pintu gerbang untuk ke Makassar. Pertama tentu saja Jakarta dan yang kedua adalah Surabaya. Sebenarnya ada satu kota lagi yang menyediakan penerbangan langsung dari dan ke Makassar yaitu kota Jogjakarta, tapi karena pilihan penerbangannya tidak banyak maka otomatis harganya jadi lebih mahal.

Kita mulai dari Jakarta dulu. Untuk teman-teman yang berada di Jabodetabek atau bahkan Jawa Barat dan Banten, ke Makassar melalui Jakarta tentu jadi pilihan utama. ?Harga tiket pesawat untuk masa-masa tertentu sangat terjangkau. Barusan saya mengecek ke website Lion Air, dan mereka masih menyediakan tiket seharga Rp. 424.100,- untuk penerbangan tanggal 9 Nopember 2012.

Daftar Harga Lion Air

Harga itu adalah harga promo, biasanya Lion Air melepas tiket pesawat CGK-UPG dengan kisaran harga antara Rp. 600 ribu hingga Rp. 700 ribu atau pada peak season mencapai harga Rp. 900 ribu. Bayangkan kalau bisa dapat tiket seharga 400an ribu itu, lumayan bolak balik hanya habis Rp. 900an ribu. Tidak terlalu mahal bukan ? Kalau teman-teman mulai menabung dari sekarang, Rp. 100rb per bulan maka pas bulan Nopember nanti uangnya sudah lebih. Tapi dengan catatan, harga promosinya masih ada.

Sebenarnya di saat-saat tertentu maskapai lain semisal Merpati kadang memberi promosi yang cukup gila. Tahun lalu saat berulang tahun, mereka melepas tiket ke semua jurusan dengan harga yang sama. Berkisar di harga Rp. 126.000,- bersih. Tapi untuk itu kita memang harus bergantung pada keberuntungan.

Nah, sekarang kita ke Surabaya. Dari dan ke ibukota Jawa Timur ini saya selalu mengandalkan Citilink. Alasannya karena harganya yang kadang sangat murah, tapi sering juga harga normal ketika musim promosi berlalu. Percaya tidak percaya, saya pernah dapat tiket UPG-SUB seharga Rp. 99.000,- plus pajak dan sebagainya total hanya Rp. 180.000,-

Kalau cek di website mereka, maka harga yang terpasang untuk tanggal 9 Nopember 2012 masih harga normal. Berkisar antara Rp. 200an ribu hingga Rp. 300an ribu. Masa promosi Citilink tidak bisa ditebak, kadang datang tanpa diduga. Untuk maskapai lainnya, kisaran harganya sama.

Teman-teman yang berada di sektiar Jawa Timur, Jogja dan Jawa Tengah bisa menuju Makassar melalui Surabaya. Tinggal mencocokkan jadwal keberangkatan dengan jadwal kereta atau bis. Ini yang biasa saya lakukan ketika mudik ke Semarang atau menuju Jogja. Relatif lebih murah tapi boros di waktu daripada langsung naik pesawat dari Semarang atau Jogja misalnya.

Daftar Harga Citilink

Dari Jogja ke Makassar hanya dilayani dua maskapai, Merpati dan Express Air. Kisaran harganya antara Rp. 700an ribu hingga Rp. 900an ribu. Tapi pada saat tertentu juga memang ada promo. Saya pernah ke Jogja langsung dari Makassar dengan tiket seharga Rp. 400an ribu dan sekali waktu naik Express Air dengan harga Rp. 500an ribu.

Intinya memang harus rajin mengecek ke website maskapai bersangkutan, atau cara lain menjalin relasi dengan travel agent. Travel agent biasanya dapat diskon khusus atau promo khusus. Beberapa kali saya juga berhasil mendapatkan tiket murah karena bantuan teman-teman yang bekerja di travel agent.

Sebenarnya ada alternatif lain untuk ke Makassar melalui Jakarta atau Surabaya yaitu dengan menggunakan kapal laut. Tapi sepertinya cara ini tidak terlalu efektif karena boros di waktu. Jakarta-Makassar ditempuh dalam 48 jam atau dua hari sementara Surabaya-Makassar ditempuh dalam waktu 24 jam. Selain itu harganya juga tidak terlalu jauh berbeda. Terakhir saya mengecek harga tiket ekonomi dari Surabaya ke Makassar, harganya sekitar Rp. 200an ribu. Dengan selisih harga tipis dan selisih waktu yang panjang sepertinya pilihan naik pesawat jadi lebih logis.

Jadi, begitulah teman-teman. Mari persiapkan dana anda untuk datang ke gelaran acara Kopdar Blogger Nusantara 2012. Kalau melihat tulisan di atas teman-teman pasti setuju kalau ongkos ke Makassar tidak terlalu mahal bukan ? Lagipula sebagai tuan rumah kami pasti akan menyediakan akomodasi dan konsumsi selama rangkaian acara. Lumayan menghemat bukan ? Lagipula kami sedang menyiapkan sebuah acara yang berbeda untuk menyambut teman-teman semua di gelaran Kopdar Blogger Nusantara 2012.

Kami menantikan teman-teman semua.

 

[dG]

January 31, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa
Setelah 15 Tahun 29

Setelah 15 Tahun

into the light

Senin ini saya tiba-tiba sadar. Inilah senin pertama dalam 15 tahun di mana saya secara resmi tidak lagi menjadi seorang karyawan. Pertama kalinya dalam 15 tahun saya terbebas secara resmi dari kewajiban absensi dan datang ke kantor.

Waktu itu saya baru saja lulus dari sebuah SMK. Bapak meminta saya untuk kuliah, beliau masih sanggup membiayai katanya. Tapi saya menolak, saya merasa bekal dari SMK sudah cukup bagi saya untuk mencari kerja dan kemudian membiayai kuliah saya sendiri.

Dan kemudian terdamparlah saya di sebuah perusahaan properti yang masa itu sedang merintis jalan menjadi perusahaan properti terbesar di Makassar. Perlahan tapi pasti saya belajar banyak hal di sini, bertemu dengan orang-orang hebat yang dengan rendah hati mengajarkan banyak hal dan membuat saya mengetahui banyak hal.

Selama 15 tahun saya sungguh belajar banyak hal. Bukan cuma ilmu tentang perumahan dan properti, tapi juga tentang ilmu kehidupan. Saya bisa melihat bagaimana orang menghargai orang lain, bagaimana orang bisa menusuk orang lain dari belakang, bagaimana orang bisa melakukan apa saja untuk menyelamatkan dirinya atau tentang bagaimana orang bisa begitu bersabar menghadapi kehidupan.

15 tahun saya bertemu banyak macam orang, perusahaan itu seperti sebuah universitas bagi saya. Sayangnya saya menjadi sangat nyaman dan mulai takut untuk melangkah keluar dari zona nyaman itu.

Sebuah kejadian di akhir bulan September 2009 kemudian membuat segalanya berubah. Saya mulai merasa kalau saya harus melakukan sesuatu, saya tidak bisa berlama-lama di zona nyaman yang rasanya makin tidak nyaman itu. Saya mulai kehilangan passion untuk datang tiap pagi, absen dan kemudian lebih banyak berpura-pura kerja karena sesungguhnya saya mulai tidak mencintai pekerjaan saya.

Saya butuh waktu 3 bulan untuk memikirkan semuanya. Berkali-kali saya ditawari tempat yang baru di perusahaan yang sama, tapi saya tetap butuh waktu untuk berpikir. Saya bisa saja mengatakan iya dan memilih salah satu dari beberapa posisi yang ditawarkan kemudian saya datang berkantor setiap hari. Tapi kalau saya tidak melakukannya dengan perasaan cinta, apakah hasilnya akan bagus ? Apa itu malah berarti saya tidak adil ? Hanya ingin gajinya dan tidak bekerja sepenuh hati ?

Akhirnya saya memutuskan untuk menolak tawaran tersebut, tentu saja dengan segala kerendahan hati. Bukan dengan kesombongan. Dengan hati-hati saya mengutarakan alasan saya, berharap saya tidak dianggap sombong karena menolak pekerjaan. Saya utarakan kalau saya tidak bermaksud merugikan siapapun, saya hanya tidak ingin bekerja karena terpaksa atau malah memanipulasi absen demi gaji. Saya sudah kehilangan passion, dan saya tidak bisa menikmati suasana yang sama lagi.

Saya tidak ingin seperti Kurt Cobain yang begitu depresi karena tidak bisa lagi menikmati setiap konsernya dan kemudian memilih untuk menembak kepalanya sendiri. Tapi setidaknya saya memilih kalimatnya, lebih baik padam daripada pudar.

Dan Jumat 27 Januari kemarin secara resmi saya mengajukan pengunduran diri dari sebuah tempat yang selama 15 tahun ini menjadi tempat belajar bagi saya. Rasa haru menjalar ke dalam hati. Masa 15 tahun bukan masa yang singkat untuk merajut banyak kenangan, bagaimanapun saya punya banyak hal menyenangkan di sana.

Satu persatu kawan yang ada saya salami, satu persatu permohonan maaf saya ajukan. Berharap mereka mau memaafkan kekhilafan saya selama menjadi teman mereka. Saya terharu ketika ada dari mereka yang begitu sedih dan menyesali kepergian saya. Saya anggap semua sebagai penghargaan.

Inilah saya hari ini. Berdiri sendiri, belum tahu besok akan kerja apa. Dalam hati saya senang, saya sudah berani melangkah keluar, berani mendengarkan kata nurani sendiri. Soal rejeki saya yakin akan ada jalannya, meski tentu tak akan mudah.

Setelah 15 tahun akhirnya saya berani mengambil keputusan itu.

January 30, 2012 in Kenangan, Senin
The Fans All Alright 5

The Fans All Alright

Pearl Jam and Their Fans

Tidak banyak band besar di dunia yang begitu menghargai fansnya seperti Pearl Jam menghargai fansnya. Sebagian kisah antara mereka dan para fans dikemas dalam sebuah film berdurasi 80 menit yang merupakan bagian dari PJ20 dan diberi judul : The Fans All Alright

Apa arti fans bagi sebuah band ? Hanya sekumpulan orang yang menyenangi hasil karya mereka ? Hanya sekumpulan orang yang membeli hasil karya mereka dan kemudian begitu antusias datang ke pertunjukan mereka ? Atau sekumpulan orang yang memberi mereka energi besar untuk terus berkarya ?

Bagi Pearl Jam, band rock asal Seattle,? fans adalah segalanya. Mereka bukan hanya sekumpulan orang yang berdiri di depan mereka ketika konser, atau sekumpulan orang yang menyisihkan uang mereka untuk membeli semua album yang sudah mereka keluarkan. Fans bagi Pearl Jam adalah sekumpulan saudara yang ikut bersama mereka dalam 20 tahun lebih perjalanan karir mereka.

Mereka memulai karir dari sebuah klab kecil, menggelinding dari klab ke klab hingga ke panggung besar di depan puluhan ribu penonton. Selama 20 tahun lebih Pearl Jam sudah menggelar ratusan konser di ratusan kota di nyaris di berbagai negara di dunia ( sayangnya Jakarta belum termasuk ) dan dalam rangkaian itu ikatan erat antar band dengan para fans semakin erat.

Dalam Fans All Alright terbaca dengan jelas bagaimana Pearl Jam begitu menghargai para fansnya. Selepas tragedi Roskilde tahun 2000, Pearl Jam semakin menghargai ikatan itu. Kematian 9 orang fans di konser tersebut memukul psikologis mereka, menyadarkan kalau mereka harus lebih menghargai para fans yang sudah meluangkan waktunya untuk datang menikmati konser.

Eddie Vedder sang vokalis selalu berusaha untuk menjalin komunikasi dengan para fans. Di negara yang tak berbahasa Inggris, dia selalu berusaha untuk merangkai kalimat dalam bahasa lokal sebagai sebuah jembatan untuk mendekatkan diri dengan para fans. Eddie juga selalu mengingatkan para fans untuk menjaga diri dan menjaga teman-teman mereka yang berada di sekeliling mereka.

” Take care yourself, take care one and another “, Pesan Eddie di setiap penampilannya.

Bagi Pearl Jam, energi yang mereka dapatkan dari setiap teriakan para fans harus dikembalikan lagi, dan mereka mengembalikannya dalam bentuk penampilan yang all out.

Pearl Jam selalu menggelar konser dengan durasi 3 jam per konser. Sebuah durasi yang jelas lebih lama dibanding band-band lain. Hal tak lazim lainnya adalah mereka bisa membuat set list yang berbeda untuk penampilan dua malam berturut-turut. Mereka bukan tipe band yang menganakemaskan satu-dua lagu dan kemudian memainkannya berkali-kali di hadapan penonton.

Pada sebuah konser di Boston tahun 2003, Pearl Jam yang tampil tiga malam berturut-turut membawakan 93 buah lagu dan hanya satu lagu yang diulang dua malam berturut-turut. Para fans tentu tidak akan melewatkan sebuah konser yang penuh dengan kejutan seperti itu.

Pearl Jam pernah “mengorbankan” karirnya untuk memulai perseteruan dengan Ticketmaster yang mereka anggap terlalu banyak mengambil untung dari penjualan tiket dengan mematok harga tiket yang mencekik fans. Keputusan pengadilan yang membuat mereka kalah membuat Pearl Jam selama beberapa tahun tidak bisa tampil di venue besar dan hanya boleh menggelar konser-konser kecil. Tapi mereka tidak peduli, mereka sudah bahagia telah melakukan sesuatu untuk fans mereka.

Sejak tahun 2000 Pearl Jam juga mengeluarkan bootleg khusus untuk fans-fans mereka yang berisi rekaman konser. Dalam lingkup fans Pearl Jam juga ada sesuatu yang bernama DVD Tree di mana Pearl Jam sendiri sebagai band memberikan kelelulasaan kepada para fans untuk melakukan penggandaan material selama itu bukan produksi label.

The Fans All Alright yang merupakan bagian dari film dokumenter Pearl Jam Twenty menggambarkan dengan jelas bagaimana Pearl Jam menghargai fansnya dan tentu saja membuat para fans juga begitu menghargai Pearl Jam.

” They don?t know how much the?ve done for us and how we really appreciate that, ” kata seorang fans.

 

[dg]

January 27, 2012 in Film, Jumat, Review
Makassar Siap Menyambut Anda di Kopdar Blogger Nusantara 2012 49

Makassar Siap Menyambut Anda di Kopdar Blogger Nusantara 2012

Tawa Riang di Kopdar Blogger Nusantara 2011

Kopdar Blogger Nusantara 2011 di Sidoarjo bisa dibilang berhasil. Beragam kenangan berceceran dalam waktu lama selepas acara di bulan Oktober 2011 itu. 3 bulan kemudian, sebuah pengumuman resmi diluncurkan, Makassar akan jadi tuan rumah Kopdar Blogger Nusantara 2012.

Senin siang di kantor baru Id Blognetwork di bilangan Jl. Gatot Subroto, Jakarta. Kantor mungil itu sudah didesain sedemikian rupa untuk menyambut para tetamu yang datang dalam rangka syukuran kantor baru yang didesain seperti acara perayaan imlek.

Tawa riang, senyum lebar dan celoteh bersahabat memenuhi ruangan yang tak seberapa besar itu. Para peserta yang berasal dari beragam komunitas blog saling bersahabat dan melebur satu sama lain.

Menjelang akhir acara, sebuah pengumuman penting dibuka ke publik. Sebuah pengumuman yang sebenarnya sudah berhembus kencang sejak KBN 2011 selesai digelar dan kemudian dirumuskan secara serius selama dua hari sebelum acara syukuran kantor IBN. ?Kopdar Blogger Nusantara akan mencoba sebuah format berbeda. Sesuatu hal yang belum pernah dilakukan sebelumnya, menggelar acara blogger berskala nasional di kota di luar Jawa. Dan Makassar kemudian jadi pilihan.

Tentu ada banyak pertimbangan kenapa kota terbesar di pulau Sulawesi ini menjadi pilihan untuk tuan rumah Kopdar Blogger Nusantara 2012. Makassar adalah kota terbesar di timur Indonesia, saat ini Makassar menggeliat menjadi sebuah kota modern dengan pembangunan yang begitu pesat. Makassar adalah gerbang Indonesia bagian Timur, menyimpan eksotisme yang belum banyak dikenal orang.

Dari awal, Kopdar Blogger Nusantara memang mengusung sebuah anomali. Acara tidak selalu dipusatkan di Jakarta, sudah waktunya daerah lain mendapat kesempatan. Termasuk tentunya daerah di luar Jawa. Bahkan rencananya KBN akan digilir ke kota-kota lain setiap tahunnya.

Begitulah teman-teman. Saya dan tentu saja segenap kawan-kawan blogger dan onliner di Makassar dan Maros akan bersiap menjadi tuan rumah bagi teman-teman semua. Kami akan mengerahkan tenaga kami semampunya untuk membuat sebuah acara yang menarik yang bisa meninggalkan kesan luar biasa bagi teman-teman semua yang akan berkunjung ke Makassar.

Kami akan membuat sebuah format acara yang tidak hanya melulu berisi seminar atau talkshow. Kami akan mencoba membawa teman-teman semua mengenal Makassar lebih dalam, melihat banyak keindahan dari kota yang mungkin selama ini teman-teman hanya dengar sebagai kota yang kasar dan penuh dengan keributan.

Teman-teman, bersiaplah. Luangkan dana anda, mulailah menabung agar teman-teman bisa datang dan menikmati indahnya kota Makassar yang dibalut persahabatan antar blogger dan onliner. November 2012 masih lama, masih ada kesempatan untuk mempersiapkan diri dan dana anda.

Sampai jumpa di Kopdar Blogger Nusantara 2012 di Makassar bulan November nanti. Teman-teman bisa mulai melingkari tanggal 9 sampai 11 November dan mengambil cuti untuk ikut Kopdar Blogger Nusantara.

Makassar siap menyambut anda dalam Kopdar Blogger Nusantara 2012.

 

January 25, 2012 in angingmammiri, Blogging, Rabu
Komputer, dari Pac Man ke Twitter 7

Komputer, dari Pac Man ke Twitter

Komputer Tua ( images by Google)

Sebuah diskusi di Kampung Buku mengangkat sebuah proyek penelitian sederhana berbasis warga. Temanya adalah tentang komputer. Pikiran saya mengaduk-aduk kembali kenangan tentang kapan pertama kenal komputer dan perjalanannya hingga kini.

Saya masih SMP kala itu, sekitar tahun 1991. Seorang kawan sekelas, anak dari seorang pejabat di PLN mengajak kami ke rumahnya selepas jam sekolah. Ada komputer katanya, kami tentu saja girang. Sekumpulan anak kampung yang tidak tahu apa itu komputer meski pernah mendengarnya dari banyak sumber.

Selepas jam pelajaran sekolah, beranjaklah kami ke rumah teman yang berada dalam kompleks PLN. Sebuah benda kotak berwarna krem terletak di atas meja. Di atas benda itu ada sebuah benda lain yang mirip dengan televisi 14 inch. Di depannya sebuah benda persegipanjang dengan banyak tombol-tombol kecil penuh huruf dan angka. Inilah yang namanya komputer, kata teman saya.

Dia memencet sebuah tombol di kotak krem yang pertama, memasukkan sebuah benda tipis ke dalamnya dan tak lama kemudian layar serupa televisi itu menyala dan menampilkan gambar hitam. Saya dan teman-teman lainnya hanya menatap, mungkin dengan tatapan kagum atau tatapan penuh tanya. Saya sudah lupa. ?Yang saya ingat, hari itu kami diberi kesempatan menyentuh benda bernama komputer itu, memainkan sebuah permainan. Namanya Pac Man. Permainan sederhana di mana kita harus mengontrol sebuah karakter berbentuk bola yang memakan banyak benda dalam sebuah labirin.

Itulah persentuhan pertama saya dengan komputer. Sebuah benda yang kala itu masih sangat jarang ada di kota Makassar, bahkan mungkin di Indonesia. Setelah persentuhan pertama itu, saya butuh waktu sekitar 4 tahun sebelum kembali menyentuh benda bernama komputer itu dengan intens. Dalam rentang waktu 4 tahun itu beberapa kali saya sempat menyentuhnya, seorang kerabat dekat yang hobi mengutak-atik barang elektronik rupanya sering mendapat orderan memperbaiki komputer. Beberapa kali ketika saya berkunjung ke rumahnya saya dapat kesempatan menyentuh komputer, dan Pac Man selalu jadi pilihan.

Belajar Ws7 dan Lotus123

Empat tahun kemudian, almarhum bapak membawa pulang seperangkat komputer. Komputer itu punya sekolah tempat bapak bekerja, dibawa pulang selepas diperbaiki dan kebetulan sekolah sedang masa libur. Saya sungguh senang kala itu, pun dengan adik-adik saya. Kami bisa memuaskan diri bermain Pac Man dan kemudian beberapa game lainnya. Sayang saya tidak tahu apa spesifikasinya, yang saya tahu hanyalah kita harus punya sebuah disket besar sebagai medium agar komputernya bisa dipakai.

Urutannya, memasukkan disket besar sebelum menyalakan komputer. Komputer akan menyala dan sistem operasinya akan mulai membaca data yang tersimpan di dalam disket besar. Setelah itu untuk mengoperasikan perangkat lunak yang kita inginkan kita harus memasukkan lagi disket yang lain sesuai perangkat lunak yang kita inginkan. Memang agak repot karena kita harus punya banyak disket yang waktu itu masih besar untuk bisa menikmati perangkat lunaknya.

Semua operasi dilakukan dengan mengetikkan beberapa perintah di papan kunci. Tetikus (mouse) belum ada kala itu. Tidak heran perintah seperti : CLS, CD\, CD\\, DIR dan lain-lain adalah perintah yang harus dihapal di operating sistem berbasis DOS.

Waktu itu almarhum bapak tidak hanya memberi kesempatan kepada kami untuk bermain game di komputer. Beliau juga mengajarkan saya mengenal WS7, sejenis perangkat lunak pendahulu Microsoft Word dan juga belajar Lotus 123, perangkat lunak pendahulu Microsoft Excel. Kata alm.Bapak, saya bisa menangkap dengan cepat semua ajarannya dan saya lumayan bisa membuat satu halaman ketikan yang rapih serta beberapa perhitungan sederhana dengan menggunakan Lotus 123.

Persentuhan saya dengan komputer makin intens selepas itu. Di ujung masa sekolah di sebuah STM di Makassar, saya sempat lama bersentuhan dengan komputer. Kala itu saya dan teman-teman satu kelompok harus membuat laporan tentang kegiatan Praktek Kerja Lapangan ( PKL ) dan alm.Bapak membawa kami ke laboratorium komputer di sekolah tempatnya bekerja. Di sanalah saya dan teman-teman sekelompok intens mengetik laporan dan belajar cara mencetaknya menggunakan printer Epson yang entah seri berapa. Saya hanya ingat suaranya yang berisik karena masih menggunakan pita atau dikenal dengan printer dot matriks.

Kala itu proses mencetak hasil kerja belum semudah sekarang. Ada beberapa perintah dan langkah yang harus dilakukan. Beda dengan proses cetak sekarang yang begitu mudah dengan banyak bantuan. Komputer waktu itu juga belum menggunakan hard disk untuk menyimpan data. Kita harus punya floppy disk yang lebih kecil untuk menyimpan data yang sudah kita buat.

Mulai mengenal WIndows

Selepas sekolah di STM saya tidak langsung mendaftar kuliah. Ada masa senggang ketika saya menjadi pengangguran, prioritas saya waktu itu memang ingin bekerja dulu dan nantinya membiayai sendiri kuliah saya. Selama masa senggang itu alm. Bapak memasukkan saya di sebuah kursus komputer di sekolah tempatnya bekerja. Jadilah saya tiga kali seminggu menyambangi sekolah elite di Makassar itu untuk belajar komputer. Dari mulai DOS, WS7 hingga Lotus 123.

Saya belum sempat menyelesaikan pelatihan ketika sebuah kabar menyebutkan kalau saya diterima bekerja di sebuah perusahaan properti, Oktober 1996. Saya sungguh senang luar biasa, dan ternyata di kantor inilah persentuhan saya dengan komputer makin intens, hampir setiap hari.

Hari pertama bekerja saya diminta menyalakan komputer.Saya diterima sebagai staff administrasi proyek dan tugas saya banyak berhubungan dengan komputer. Saya berdiri di depan sebuah komputer yang katanya komputer paling canggih di kantor itu. Saya kebingungan mencari disket besar yang biasanya saya pakai untuk menyalakan komputer. Ketika sedang kebingungan, seorang staff mendatangi saya.

” Kenapa ? “, Tanyanya

” Disket besarnya mana pak ? “? Saya balas bertanya.

Dia tertawa dan menekan tombol power. Rupanya komputer yang digunakan di kantor ini sudah tidak perlu disket boot lagi. Operating sistemnya sudah menggunakan windows 3.1.1 dan dilengkapi dengan hard disk untuk menyimpan data. Duh, saya sungguh malu, ilmu komputer saya ternyata sudah ketinggalan jaman.

Di divisi tempat saya bekerja ada dua buah komputer dengan spesifikasi berbeda. Komputer yang paling canggih menggunakan processor Pentium 486 dengan RAM (memory) 16MB, kalau tidak salah hard disknya berkapasitas 64MB. Dilengkapi dengan CDROM 2x, sungguh sebuah kemewahan kala itu. Komputer yang satu spesifikasinya lebih rendah. Pentium 386, dengan memory 8MB dan hard disk 32MB.

Di kantor itu juga kecintaan saya pada komputer mulai tumbuh. Setiap hari saya belajar tentang operating system yang baru saya temukan, windows 3.1.1. Pun saya belajar mengoperasikan Microsoft Office seperti Word dan Excel yang belum pernah saya temukan sebelumnya. Semua terasa jauh lebih mudah, apalagi waktu itu sudah ada tetikus yang mempermudah proses.

Saya makin intens belajar komputer. Belajar menginstall windows dan belakangan belajar merakit perangkat keras serta belajar memberikan pertolongan pertama pada komputer yang bermasalah. Bahkan saya kemudian memilih untuk kuliah pada jurusan komputer, meski bertahun-tahun kemudian ilmu yang saya dapatkan perlahan hilang karena tidak pernah diamalkan.

Dalam rentang waktu hampir 21 tahun ternyata perubahan komputer sangat pesat. Dari sebuah komputer yang bergantung pada cakram lunak agar bisa dioperasikan hingga komputer jinjing yang begitu tipis dengan spesifikasi yang dulu mungkin tidak pernah terbayangkan. Dulu komputer membuat saya begitu antusias karena ada Pac Man-nya, sekarang komputer membuat saya antusias karena bisa bebas berkicau di Twitter.

January 23, 2012 in Kenangan, Senin
Komik ; Kamu Ditilang !! 11

Komik ; Kamu Ditilang !!

Rasanya sudah lama saya tidak menyentuh lagi sketch book dan pensil 2B. Karena dorongan beberapa teman, akhirnya saya kembali berhasrat menyentuhnya dan mulai mencorat-coret kembali.

Sekitar seminggu yang lalu, tagar #kamuditilang ramai di lini masa saya. Pelakunya sebagian besar adalah anak-anak Makassar. Mulanya karena iseng di tengah malam dan kemudian jadi efek domino dan membuat banyak yang ikut serta meramaikan. Isinya lucu-lucu, lumayan membuat geli dan bahkan gelak tawa.

Bertepatan dengan masa ketika saya merasa kembali bersemangat mencorat-coret di sketch book, akhirnya saya tergoda untuk membuat komik dengan tema dari tagar #kamuditilang itu. Hanya butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya saya berhasil membuat dua komik.

Saya baru ingat seminggu kemudian. Komik yang sudah saya bikin akhirnya saya pindahkan ke komputer. Tadinya berniat untuk mewarnai, tapi keburu malas sehingga akhirnya saya cuma memberi dialog.

Dan, inilah kedua komik saya. Masih kasar karena memang belum sempat saya perhalus apalagi saya warnai. Dua komik ini membuat saya bersemangat untuk membuat komik-komik lainnya, meneruskan hobi yang sudah lama tertinggal.

Selamat menikmati dan mohon kritikannya.

Kamu ditilang 1

 

Kamu ditilang 2

 

January 21, 2012 in Coretan, Sabtu-Minggu
Makassar Nol Kilometer ; Dari Supporter PSM Hingga Cafe di Losari 10

Makassar Nol Kilometer ; Dari Supporter PSM Hingga Cafe di Losari

Makassar Nol Kilometer

Mengenal Makassar tidak hanya lewat brosur wisata atau catatan manis di situs-situs travel atau milik pemerintah saja. Makassar punya banyak cerita, dari pinggiran kota hingga ke pusat kota. Sebagian cerita itu dirangkum 14 orang warga dalam buku Makassar Nol Kilometer.

Cerita ini dibuka dengan kisah para supporter setia klub sepakbola PSM. Cerita tentang bagaimana mereka bersedia menyabung nyawa mengawal klub kesayangan mereka yang tandang ke kota-kota lain di luar Sulawesi, tentang bagaimana mereka harus berhadapan dengan amarah supporter tuan rumah yang jumlahnya berlipat ganda. Juga cerita tentang semangat mereka memerahkan stadion Mattoangin setiap kali PSM menjadi tuan rumah untuk klub tamu.

Cerita seperti ini mungkin sudah sering terbaca di berbagai media, utamanya media lokal. Tapi kedalaman cerita yang dipaparkan di bab : Pengawal Pasukan Ramang karya Muh. Nur Abdurrahman ini melebihi kedalaman cerita wartawan biasa.

Buku ini memang dibuat dengan dasar menggali kepedulian warga biasa tentang kotanya. Ragam cerita yang terangkum adalah ragam cerita tentang keseharian, tentang kehidupan warga biasa yang mungkin tidak akan bisa ditemukan di media mainstream, apalagi media mainstream lokal yang lebih banyak diisi acara seremonial pejabat dan gosip artis.

Simak cerita tentang penjual jajanan buroncong ( kue pancong khas Makassar ) di seputaran Tamalanrea atau tentang para payabo ( sebutan untuk para pengumpul barang bekas atau pemulung ) Kisah remeh temeh itu biasanya tidak mendapat tempat di koran lokal, atau kalaupun mendapat tempat, porsinya kecil dan nyaris tidak terlihat.

Buku ini dibagi dalam 4 bagian, Komunitas, Kuliner, Fenomena dan Ruang. Masing-masing memotret lebih dalam tentang kehidupan warga biasa di kota Makassar. Cara penulisannya beragam, sesuai dengan gaya dari keempatbelas penulis meski tetap punya benang merah yang sama yaitu feature yang dalam dan memikat.

Makassar Nol Kilometer terbitan penerbit Ininnawa ini sudah masuk cetakan kedua. Tiga orang editornya dikenal baik sebagai orang-orang yang aktif di dunia literasi kota Makassar. Mereka adalah Anwar J. Rahman, Nurhady Sirimorok dan M. Aan Mansyur.

Kedalaman cerita, sudut pandang yang berbeda dan cara mengemas yang apik menjadikan Makassar Nol Kilometer sebagai sebuah buku yang harus dibaca oleh mereka yang ingin tahu lebih dalam tentang Makassar, atau mereka yang ingin mendengar kisah nyata perjuangan masyarakat pinggiran sebuah kota yang terus berkembang dan memoles wajahnya hingga kelihatan menor.

Makassar Nol Kilometer dibuka oleh tulisan tentang supporter setia pasukan Ramang ( julukan PSM ) dan ditutup dengan cerita tentang cafe di sekitar pantai Losari yang makin hari makin terjepit hingga sekarang nyaris menghilang. Mari melihat sisi terdalam kota Makassar lewat buku Makassar Nol Kilometer.

 

[dG]

January 20, 2012 in Buku-ku, Jumat, Review
Mari Membantu Mereka Yang Telah Membantu 3

Mari Membantu Mereka Yang Telah Membantu

Sokola Pesisir Mariso

Sekola Pesisir atau Sokola Makassar, sebuah oase di tengah padang bagi warga pesisir Mariso. Selama 10 tahun mereka sudah membantu warga miskin kota di pesisir pantai Makassar untuk bisa mengenal huruf dan memiliki keterampilan. Sekarang mereka sedang kesulitan dan butuh bantuan kita.

Namanya Habibie, tubuh jangkungnya dibalut kulit legam. Tampilannya agak sangar dengan rambut gondrong sebahu. Tapi siapa yang sangka kalau hatinya sangat lembut. Habibie adalah salah satu relawan di Sekola Pesisir atau kadang disebut Sokola Makassar. Selama bertahun-tahun dia mengabdikan hidupnya bersama relawan lainnya membantu anak-anak dan warga pesisir Mariso untuk hidup lebih layak.

Sekolah Pesisir adalah sebuah oase, dia lahir di tengah-tengah pemukiman kumuh di pesisir pantai Makassar tidak jauh dari landmark kota ini, Pantai Losari. Awalnya mereka hanya ingin membantu anak-anak miskin yang tidak sempat bersekolah formal itu agar bisa mengenal huruf, membaca dan menulis. Perlahan-lahan mereka diterima dengan baik oleh warga di sana. Bukan hanya anak-anak kecil yang ikut larut bersama mereka tapi juga anak remaja dan bahkan orang tua yang dengan diam-diam meminta diajarkan tulis dan baca.

Mereka bukan cuma mengajarkan baca tulis, belakangan Sekola Pesisir mulai mengajarkan keterampilan. Komputer, photoshop, membuat kerajinan tangan, dan bahkan fotografi mereka ajarkan kepada anak-anak dan remaja itu. Berharap bisa menjadi bekal mereka untuk hidup lebih layak di masa depan.

Habibie, Salah satu relawan pengajar di Sokola Pesisir

Sekola Pesisir berdiri di atas tanah pinjaman milik seorang warga setempat. Bangunan dari kayu milik mereka adalah sumbangan dari Pertamina. Untuk operasional tiap bulan mereka mendapat bantuan dari Sokola pusat di Jakarta. Sekola Pesisir memang berafiliasi pada Sokola Rimba punya Butet Manurung. Selebihnya mereka memutar roda aktifitas dari sumbangan para sukarelawan.

” Selalu saja ada sumbangan yang bisa membuat kami bertahan hidup,” Kata Habibie.

Akhir tahun 2011 berita tidak mengenakkan menghampiri Sekola Pesisir. Pemilik tanah yang meminjamkan tanahnya berharap mereka bisa pindah secepatnya, sang pemilik ingin mengambil tanahnya kembali. Tak soal apa alasannya, toh itu memang haknya dia. Sekola Pesisir diberi waktu sampai bulan Mei 2012 untuk pindah dan mencari tempat baru.

Sekarang teman-teman dari Sekola Pesisir sedang meretas jalan mengumpulkan donasi untuk membiayai kepindahan mereka. Sempat terbetik niat untuk menutup sekolah itu, tapi warga setempat bersikeras agar mereka tidak pindah, mereka sudah terlanjur jatuh hati pada Sekola Pesisir yang sudah banyak membantu mereka selama ini.

Jaringan komunitas di Makassar sekarang ini sedang berusaha merapatkan barisan, melakukan segala macam cara untuk bisa membantu agar Sekola Pesisir tetap berdiri dan memberi manfaat untuk warga kurang mampu di pesisir Makassar itu.

Bagi anda yang berniat untuk mengulurkan tangan, ada banyak ragam cara. Di antaranya :

Memberikan donasi sukarela kepada mereka melalui akun :

BNI Cab. Mattoangin,

a.n. Andi Sulfiani qq Sokola Pesisir

no. 0243682214

Menyumbangkan pakaian layak pakai anda yang nantinya akan dijual murah kepada masyarakat setempat dan hasil penjualannya akan ditabung untuk penggalangan dana sekolah mereka. Sumbangan pakaian layak pakai anda bisa diberikan langsung ke alamat

  • Sokola Pesisir Mariso di Jl. Nuri lr. 300, no 131, Makassar (a.n Efi Sulfiani di 081355505895,?Habibi?di? 081242249056 dan Imran di 082190358797)
  • Kampung Buku, Komp. CV Dewi, Jl. Abd. Dg. Sirua 192E, Makassar (a.n Anwar Jimpe Rahman, 081342398338)

Membeli produk karya anak-anak Pesisir Mariso berupa kerajinan tangan, buku, foto, lukisan dan film. Info mengenai produk anak-anak Pesisir Mariso bisa menghubungi : Efi Sulfiani (081355505895)

Menyebarluaskan informasi ini ke sanak, kerabat, teman dan handai taulan lainnya.

Memberitahu bos, pimpinan, direksi kantor tempat anda bekerja agar diikutkan kedalam program CSR kantor anda.

Turut hadir dan berpartisipasi pada acara penggalangan dana yang pelaksanaannya akan diumumkan dalam waktu dekat.

Mari luangkan sedikit waktu, tenaga dan mungkin rejeki anda untuk ikut bersama-sama membantu Sekola Pesisir. Bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi mereka, bagi warga kurang beruntung di pesisir Mariso.

Sekarang saatnya membantu mereka yang sudah membantu. Help Sokola Makassar

?Tulisan lain tentang Sokola Pesisir bisa diklik di sini :

1. Sekolah Pesisir

2. Radioholicz.

 

[dG]

January 19, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Merindukan Persimpangan Bernama Panyingkul 9

Merindukan Persimpangan Bernama Panyingkul

Panyingkul.com

Dalam kehidupan kadang kita bertemu dengan banyak orang-orang yang luar biasa, beberapa di antaranya menjadi guru yang meninggalkan jejak ilmu yang mendalam. Saya pernah menemukan orang-orang seperti itu di sebuah persimpangan bernama Panyingkul.

Suatu hari di bulan Juni tahun 2007. Saya masih anggota baru di milis Anging Mammiri, saya malah belum pernah kopdar dengan salah satu dari mereka. Suatu perbincangan di milis mengangkat tema tentang bioskop Makassar jaman dulu. Saya tertarik untuk ikut menimpali. Sewaktu remaja saya terobsesi memasuki semua bioskop yang ada di kota Makassar yang waktu itu jumlahnya banyak dan beragam. Ternyata ingatan saya masih kuat, dan timpalan saya soal bioskop itu menarik perhatian seorang teman di milis yang kemudian akrab dengan saya.

Adalah Rusle yang kemudian memberi saya semangat untuk menuliskan cerita tentang bioskop-bioskop di Makassar yang sudah almarhum itu dan mengirimnya ke Panyingkul. Ragu, itulah reaksi pertama saya. Sebelumnya saya sudah wara-wiri ke situs itu, menyimak tulisannya satu persatu dan merasa kalau tulisan yang ada di sana sangat berkualitas. Reportase warga yang dikemas dengan sangat rapih mengikuti kaidah jurnalistik yang baku. Rapih tapi tidak kaku.

Rusle terus menyemangati saya, dan akhirnya saya coba menuliskan cerita tentang bioskop Makassar itu. Menunggu beberapa lama sebelum dapat email dari editor. Tulisan saya masih harus diperbaiki di beberapa tempat. Wajar pikir saya, toh ini pengalaman pertama saya membuat sebuah tulisan yang agak serius dan berkualitas. Proses asistensi berlangsung beberapa kali dan ditutup dengan beberapa kritikan dan masukan yang sangat berharga.

26 Juli 2007 akhirnya tulisan Bioskop-bioskop Makassar dalam kenangan tayang di Panyingkul. Bangga merasuk ke dalam dada. Saya tahu bukan hal yang mudah bagi penulis pemula untuk membuat tulisannya bisa dipajang di sana. Prosesnya ketat dan tidak asal muat. Hari itu saya resmi bergabung dengan situs jurnalisme warga yang dilahirkan sepasang penulis dan jurnalis, Lily Yulianti Farid dan Farid M Ibrahim itu.

Berikutnya saya semakin terpacu untuk menulis. Saya seperti seorang anak SD yang begitu bersemangat di hari-hari pertamanya masuk sekolah. Saya tidak hanya bersemangat, saya juga makin rajin mengumpulkan semua ilmu yang berserakan di setiap pembicaraan di maling list atau email revisi selepas saya mengirim tulisan. Situs Panyingkul jadi bacaan wajib setiap hari.

Panyingkul menjadi bayangan yang melekat di kepala saya, ke manapun saya pergi saya selalu berusaha mencari bahan tulisan apa saja yang bisa di-panyingkul-kan ( istilah kami untuk sebuah cerita yang layak ditulis dan ditayangkan di Panyingkul ) Saya makin peka pada susana sekitar, saya makin peduli pada apa yang terjadi. Buku “Seandainya Saya Wartawan Tempo” karangan Goenawan Mohammad menjadi “kitab suci” dalam membuat ragam tulisan feature.

Sebelum bergabung dengan Panyingkul ( dan sebelum menjadi blogger) saya adalah orang yang cuek. Apa yang terjadi sepanjang tidak menyangkut saya, saya biarkan berlalu. Tak perlu mencari tahu.

Panyingkul adalah bahasa Makassar yang diplesetkan. Artinya persimpangan. Sebuah pilihan nama yang sangat tepat, karena di sana kami semua berkumpul persis seperti rombongan remaja yang berkumpul di persimpangan, di sudut pertemuan beragam jalan dan kemudian berbagi apa saja.

Panyingkul memang persimpangan, tempat orang-orang dari beragam latar belakang pekerjaan, latar belakang gender dan latar belakang geografis berkumpul, berbagi cerita dan berbagi ilmu. Saya ikut di sana dan selalu merasa kagum pada diskusi-diskusi yang mengalir lancar tanpa ada yang merasa lebih tahu atau lebih pandai dari yang lainnya. Bertahun-tahun di sana saya tetap setia memunguti remah-remah ilmu yang bertebaran. Menghimpunnya sedikit demi sedikit dan kemudian berusaha membingkainya dalam praktek agar tak hilang.

Tulisan saya di Panyingkul.com

Saya sangat bersemangat. Sepanjang masa aktif saya, total saya menyumbang 32 tulisan. Termasuk yang paling produktif bersama Daeng Nuntung dan Dandy.

Hari ini saya masih bersemangat untuk menulis, bersemangat untuk mengisi blog sederhana ini dengan apa saja yang ada di kepala saya. Ada waktu ketika saya menengok ke belakang dan melihat kalau saya hari ini terbentuk oleh pengalaman bertahun-tahun selama berkumpul dengan teman-teman di Anging Mammiri dan tentu saja di Panyingkul.

Saya selalu merasa Panyingkul dan Anging Mammiri sesungguhnya dua universitas yang membentuk saya sekarang ini. Di Panyingkul saya belajar memperbaiki tulisan, belajar mencari gaya tulisan saya sendiri dan tentu saja belajar dari orang-orang hebat namun rendah hati. Di Anging Mammiri saya belajar berorganisasi, belajar menghargai persahabatan dan belajar menertawakan kehidupan. Saya yang sekarang setengahnya dibentuk oleh Anging Mammiri dan setengahnya dibentuk oleh Panyingkul.

Hari ini entah kenapa saya tiba-tiba merindukan persimpangan itu, tempat di mana kami dulu pernah bercanda, saling mencela dan saling belajar satu sama lain. Saya merindukan sebuah persimpangan bernama Panyingkul.

 

 

[dG]

January 18, 2012 in Blogging, Rabu
Mencicipi Alam di Bantimurung 9

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung

Air terjun Bantimurung

Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan karst atau gunung kapur dengan gua-gua alaminya serta tentu saja air terjun yang terletak di Taman Nasional Bantimurung. Daerah yang dulu juga dikenal sebagai Kingdom Of Butterfly

Minggu sore yang berawan, agak berbeda dengan hari-hari lain di bulan Januari yang biasanya dirundung hujan deras. Saya kembali menjejakkan kaki di Bantimurung, sekitar 50 Km sebelah utara kota Makassar. Sore itu saya berniat bertemu dengan teman-teman Blogger Maros, memenuhi undangan mereka untuk sekadar berkumpul dan berbagi.

Bantimurung tidak terlalu ramai meski hari itu hari minggu. Musim hujan yang sedang lucu-lucunya memang membuat orang agak enggan meluangkan waktunya menikmati liburan di alam bebas. Ketika saya datang, beberapa orang nampak mulai beranjak pulang. Beberapa baruga ( rumah serupa pendopo ) juga nampak kosong melompong, mungkin sudah ditinggal para pengunjung.

Aliran air di sungai

Aliran air di sungai

Air sungai nampak agak deras meski tidak terlalu tinggi. Saya ingat bertahun-tahun yang lalu pernah datang ke Bantimurung tepat ketika musim hujan mencapai puncaknya, ketika itu air mengalir sangat deras dan sangat tidak mungkin untuk dinikmati. Beberapa orang nampak menikmati aliran air yang tidak terlalu deras itu, pun dengan air terjun yang masih bersahabat. Jumlahnya tak sebanyak biasanya ketika sungai selebar kira-kira 20 meter itu terasa sesak oleh pengunjung.

Bantimurung, setiap mendengar namanya yang terbayang di kepala saya adalah air terjun dan kupu-kupu. Saya lupa kapan tepatnya pertama kali mengunjungi tempat wisata terkenal itu. Mungkin sekitar 19 tahun lalu. Jaman kecil dulu, ketika hiburan masih sangat kurang, Bantimurung adalah tujuan favorit untuk berwisata. Saingannya tak banyak, paling-paling hanya pantai Barombong, Pulau Khayangan dan Pulau Lae-Lae.

Tahun berganti tahun, beragam hiburan pilihan mulai menggantikan kehadiran Bantimurung. Mall dan hiburan modern masuk dan tumbuh di kota Makassar. Perlahan-lahan Bantimurung tidak menjadi favorit lagi. Ada rentang yang lama bagi saya sebelum kembali mengunjunginya.

Meski bukan tujuan utama lagi, Bantimurung ternyata tetap memukau. Deretan pohon tinggi yang rapat dan mungkin berusia ratusan tahun bersanding dengan semilir angin yang sejuk, gemericik air di sungai dan tentu saja air terjunnya yang kadang deras tapi masih bersahabat. Perubahan tetap terasa memang, setidaknya saat ini sudah lebih susah mendapati kupu-kupu liar beterbangan. Lebih gampang menemukan kupu-kupu yang diawetkan dan ditaruh di dalam bingkai kaca di dekat gerbang masuk.

Beberapa sudut Bantimurung

Beberapa sudut Bantimurung

Bantimurung adalah Kingdom Of Butterfly, sebuah kerajaan bagi spesies kupu-kupu. Sebagian di antaranya tidak ditemukan di tempat lain. Perlahan kerajaan itu seperti mulai memudar kejayaannya. Memang ada penangkaran khusus buat mereka yang ingin mengabadikannya dalam bentuk kering dan berbingkai, tapi di alam liar sendiri kupu-kupu itu semakin susah dilihat dengan mata telanjang.

Bantimurung bukan cuma air terjun, sungai dan kupu-kupu. Luangkan waktu anda sejenak untuk sekadar menikmati gua alami yang bertebaran di sekitar taman nasional itu. Masuklah ke dalamnya dan nikmati hasil karya sang pencipta yang tergores pada stalagmit dan stalagtit yang memukau. Setidaknya ada dua gua yang bisa dijadikan tempat rekreasi di sekitar permandian alam Bantimurung.

Akses ke Bantimurung memang agak jauh meski tidak bisa dibilang susah. Berkendaraan pribadi atau sewaan hanya memakan waktu sekitar 45 menit dari pusat kota Makassar. Jalanannya lumayan mulus meski memang tidak terlalu lebar. Dengan berkendaraan umum memang agak lama. Dari kota Makassar bisa mengambil kendaraan umum ke kota Maros, dan dari ibukota kabupaten itu menumpang kendaraan umum lagi yang akan membawa anda ke Bantimurung. Harga karcis masuknyapun tidak mahal, cukup dengan Rp. 10.000,- bagi orang dewasa.

Tahun berganti tahun, Bantimurung masih tetap menarik. Pemda Maros sepertinya berusaha menarik pengunjung dengan berbagai inovasi. Ada tempat untuk outbound, ada permainan bola air dan ada flying fox. Patut diacungin jempol. Bantimurung memang terlalu indah untuk dilewatkan. Merasakan segarnya aliran air sungai selepas jatuh di air terjunnya memang sungguh menggoda. Merasakan sejuknya udara yang bersih terasa seperti memberi ruang baru di paru-paru kita warga kota yang terbiasa dengan udara berpolusi.

Tahun berganti tahun, Bantimurung masih menjadi sebuah tempat untuk mencicipi alam dengan segala kesegarannya. Semoga untuk waktu yang lama, atau bahkan selamanya. Ayo, datang dan nikmati Bantimurung.

January 17, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata
Bisnis Online ; Sekarang dan Besok 17

Bisnis Online ; Sekarang dan Besok

Bisnis Online ( sumber : Google )

Jaman sekarang, bagi masyarakat di perkotaan Internet sudah jadi bahan pokok kesepuluh. Melengkapi 9 bahan pokok lainnya. Internet ada di mana-mana dan digunakan siapa saja. Perlahan, bisnis online jadi salah satu celah yang dimanfaatkan pelaku Internet.

Suatu hari seperti biasa saya menyambungkan diri dengan internet. Sebuah kebiasaan yang susah untuk dihilangkan, minimal dalam 5 tahun belakangan ini. Satu persatu laman saya kunjungi, sampai akhirnya berhenti di sebuah laman luar negeri yang khusus dibuat sebagai toko online. Satu persatu itemnya saya amati dan kemudian jatuh cinta pada sebuah item yang memang sudah lama saya inginkan.

Pilih barang, ikuti prosedurnya, masukkan nomor kartu kredit dan voila !! Selesai sudah. Beberapa minggu kemudian barang yang saya inginkan sudah ada di tangan. Tak perlu repot ke toko, apalagi item yang saya inginkan memang tidak tersedia di toko manapun di Makassar.

Sekali berhasil, selanjutnya ketagihan. Kali ini bukan cuma laman dari luar, tapi juga beberapa laman dari dalam negeri. Buku, kaos, hingga kamera dan perlengkapannya sukses tiba di tangan saya tanpa ada ritual belanja konvensional yang terlibat di dalamnya.

Itulah bisnis online. Ketika makin banyak orang terhubung ke internet, makin banyak pula yang merasa nyaman dengan interaksi dunia maya yang menghapus kontak mata dan sentuhan fisik. Belanjapun tak perlu capek ke toko dan kadang berdesakan. Semua prosesnya hanya sebatas layar monitor dan papan kunci.

“Dapat uang dari blog itu mudah, asal tahu caranya”

Tagline itu saya temukan di sebuah weblog. Melihat isinya, blog itu memang menawarkan cara mudah untuk menjaring uang menggunakan blog dan internet tentu saja. Itu bukan satu-satunya blog yang menawarkan cara seperti itu. Gunakan Google, tuliskan kata kunci “Bisnis Online” dan akan ada jutaan hasil temuan. Menakjubkan bukan ?

Satu dasawarsa terakhir bisnis online jadi pilihan hidup bagi para praktisi internet. Lupakan bisnis konvensional, internet sudah menawarkan banyak peluang untuk jadi ladang uang yang baru. Ragam bisnisnyapun bermacam-macam, dari yang jualan benda, jualan jasa hingga hanya jualan spot untuk iklan. Selalu saja ada sesuatu yang baru yang bisa dijadikan alat untuk menggarap ladang uang itu.

Lupakan cara lama ketika kita harus masuk ke toko, menyentuh sebuah benda, merasakan teksturnya, mematutnya di kaca dan membayarnya di kasir. Lupakan juga cara lama ketika kita membuka halaman demi halaman sebuah koran, mencari deretan iklan di iklan baris hanya demi sebuah layanan jasa.

Cara itu perlahan akan menjadi cara yang purba.

Toko jaman sekarang sudah banyak berubah. Tak perlu susah payah memacu kendaraan ke toko, tinggal menghubungkan diri dengan internet, bukan laman, pilih barangnya, lakukan transaksi online dan bersabarlah, barangnya akan datang.

Tapi memang tidak segampang itu. Orang Indonesia masih banyak yang tidak percaya pada toko online. Ritual melihat langsung barang yang dimaksud, menyentuhnya, merasakan tekturnya, mencium aromanya dan mematutnya di cermin masih jadi ritual yang susah untuk dilepaskan. Salah satu penghambat bisnis online memang adalah ritual itu. Tapi semua akan berjalan alami, toko online akan jadi pilihan pada waktunya.

Tapi bisnis online juga ibarat pisau yang tajam. Jatuh di tangan koki akan jadi alat membuat masakan yang lezat, tapi jatuh di tangan pembunuh akan jadi senjata mematikan.

Bisnis online dengan segala plus dan minusnya tidak hanya memudahkan orang mendapatkan barang atau jasa yang dibutuhkannya, tapi juga memudahkan orang untuk tertipu. Bukan hanya satu dua orang yang terjatuh pada kenyataan barang yang dipesannya tidak sebagus impian, atau bahkan sama sekali tertipu. Uang melayang, barang tak datang.

Celah selalu ada, dan orang jahat selalu hidup di mana saja untuk mengintip celah kecil itu dan memanfaatkannya. Tapi dunia memang begitu bukan ? Semua punya sisi buruk dan baik, malaikat berbaju putih selalu bersanding dengan setan berbaju hitam.

Bisnis online juga jadi celah untuk mereka yang berniat membantu orang-orang yang mau terjun ke dalamnya. Weblog yang saya sebut di atas salah satunya. Menawarkan cara yang jitu untuk terjun ke dunia bisnis online, termasuk tentu saja bagaimana mensiasatinya agar benar-benar bisa menjadi alat panen di ladang uang.

Selain cara seperti itu, sekolah blog juga sudah hadir. Cara yang mungkin lebih rumit karena ada proses pendaftaran dan tatap muka di kelas, tapi hasilnya lebih bisa dipertanggungjawabkan bukan ? Sekolah blog yang baik adalah yang tidak sekadar mengajarkan cara berbisnis online, tapi juga bagaimana menggunakan etika dalam berbisnis online. Percuma punya toko online kalau cuma menyesatkan konsumen. Ini tentu jadi tantangan untuk mereka yang berniat menularkan cara berbisnis online lewat sekolah blog.

Jaman terus berubah,suatu hari nanti internet akan jadi kebutuhan yang luar biasa besar melampaui apa yang kita bayangkan sekarang. Saat itulah bisnis online akan menghadapi tantangan yang semakin besar dan tentu saja keuntungan yang semakin besar. Hanya yang kuat dan jujurlah yang akan bertahan, karena dunia maya sesungguhnya sangat kejam. Bersiaplah untuk menantikan masa itu.

Tulisan ini diikutkan pada lomba blog yang diadakan oleh Astamedia Group.

January 16, 2012 in Opini, Senin
Bahasa Gaul Makassar ; Dari Pace Sampai Blender 25

Bahasa Gaul Makassar ; Dari Pace Sampai Blender

Pantai Losari

Pantai Losari

Tiap daerah biasanya punya bahasa gaul sendiri. Ada yang lahir karena pengaruh budaya lokal, ada juga yang lahir sebagai resapan budaya kontemporer dari kota besar. Berikut adalah sebagian kecil bahasa gaul anak Makassar yang entah masih sering terpakai saat ini atau sudah mulai punah.

Tiap daerah di Indonesia sepertinya punya bahasa gaul. Bahasa yang berkembang dari bahasa daerah ataupun serapan dari luar. Belakangan ini fenomena bahasa gaul sendiri semakin marak di Indonesia, penggunanya kebanyakan adalah anak-anak muda yang masih ABG atau komunitas-komunitas tertentu.

Menurut laman : BahasaKita.com :

bahasa gaul sudah muncul sejak awal 70-an. Awalnya digunakan para bromocorah agar orang diluar komunitas mereka tidak mengerti, jadi mereka tidak perlu sembunyi-sembunyi jika membicarakan hal yang negatif. Lama kelamaan kebiasaan itu mulai ditiru oleh anak-anak remaja usia belasan tahun, bahkan menjadi semakin bervariatif kosakatanya misalnya kata saya yang dalam dialek jakarta atau betawi menjadi gue berubah menjadi ogut atau gout.

Makassar juga punya bahasa gaul sendiri. Beberapa di antaranya berasal dari bahasa daerah yang berkembang menjadi bahasa sehari-hari lintas suku di kota Makassar dan beberapa di antaranya adalah serapan dari bahasa luar, termasuk bahasa Indonesia.

Berikut adalah beberapa contoh bahasa gaul anak Makassar.

Pace, Mace dan Kace. Ketiga kata ini adalah bahasa gaul yang menggantikan kata Bapak, Ibu dan Kakak. Pace adalah singkatan dari : Papa Cerewet, Mace singkatan dari Mama Cerewet dan Kace adalah singkatan dari Kakak Cerewet. Entah kapan mulainya, yang jelas saya sudah mengenal bahasa ini sejak masa SMP sekitar awal tahun 90an dan sampai sekarang masih dipakai.

Toloaaaa ( dibaca dengan A pajang di akhir kata ). Istilah ini kurang lebih berarti : memangnya saya tolol ? Biasanya digunakan dalam percakapan ketika seseorang menyarankan sebuah hal bodoh kepada kita. Saya pertama mendengarnya sekitar pertengahan tahun 90an dan sekarang sudah sangat jarang digunakan lagi.

Ces, Cika, Parner, Dekkeng . Tiga kata ini adalah kata sapaan. Cess diambil dari kata cs, umum dipakai dalam pergaulan anak muda di Indonesia. Cika’ asal katanya dari Cikali atau sepupu dalam bahasa Makassar. Parner aslinya adalah partner, sedang Dekkeng berarti beking dalam bahasa Makassar. Bahasa ini biasanya digunakan oleh warga urban di pinggiran kota Makassar. Sekarang saya sudah jarang mendengarnya.

Talekang. Kata ini mungkin hampir sama artinya dengan : ingin dipuji. Biasanya disematkan pada orang yang banyak gaya dan kelihatan memang ingin dipuji. Sepertinya kata ini adalah serapan dari bahasa Makassar, tale-telakang. Sampai sekarang masih banyak digunakan.

Tantara ko ? . Kalimat tanya yang artinya kurang lebih : memangnya kamu tentara ? Digunakan ketika seseorang berlagak agak berlebihan atau sok jagoan sehingga teman lainnya jadi sedikit kesal. Populer di tahun 90an, dan sekarang sepertinya sudah jarang digunakan.

Parecu. Arti harfiahnya kira-kira membuat ricuh. Disematkan kepada orang yang dianggap membuat kericuhan atau kegaduhan atau mungkin curang. Masih sering digunakan jaman sekarang dan asalnya memang dari bahasa Makassar.

Kabbulampe, Anassambala, Anassongkolo. Tiga kata itu adalah tiga kata umpatan halus dalam bahasa gaul anak Makassar. Kadarnya mungkin sama dengan kata jancuk dalam bahasa Jawa. Saya belum pernah menemukan arti persis dari kalimat-kalimat itu, tapi biasanya memang dipakai untuk mengumpat meski belakangan artinya sudah tidak sekasar dulu. Varian lainnya ada juga anassikopang atau bermakna : anak sekop. Entah apa artinya.

Piti-piti. Bermakna ngasal atau asal ngomong. Ini berasal dari bahasa Makassar, biasanya disandingkan dengan kata kerja semisal piti kana-kanai atau asal ngomong. Sampai sekarang masih sering digunakan.

Sibi’, Limbi’, Sisa’, Limrats. Kata-kata ini menggambarkan besaran mata uang dari bahasa Makassar. Sibi berarti sibilanggang atau seratus. Limbi berarti limam bilanggang atau lima ratus, sisa’ berarti sisabbu atau seribu dan limrats adalah varian singkatan dari lima ratus. Masih sering digunakan, khususnya di daerah urban pinggiran kota.

Kompor. Bukan kompor buat masak pastinya, tapi singkatan dari Kombinasi Pongoro atau kombinasi gila-gilaan. Biasanya digunakan untuk menggambarkan sebuah kombinasi pakaian yang warnanya tabrakan dan tidak matching. Sudah lama saya tidak mendengar istilah ini.

Pabote‘. Artinya tukang bohong, kalau berbohong jadinya cukup dengan bote’. Masih sering digunakan jaman sekarang.

Nagigi’ makie dan Nablender makie. Dua kalimat yang artinya kurang lebih : kena gigit deh atau diblender deh. Entah asal katanya dari mana, tapi saat ini dua kalimat di atas sudah jarang digunakan. Sudah masuk kategori bahasa gaul yang jadul.

Apa yang saya tulis di atas adalah sebagian kecil dari bahasa gaul yang beredar di kalangan remaja Makassar. Masih banyak lagi bahasa lainnya meski kalau saya amati jaman sekarang anak-anak muda Makassar sudah mulai lebih sering menggunakan bahasa gaul dari ibukota. Pengaruh ibukota sudah semakin deras sehingga kadang anak-anak itu sudah malu menggunakan bahasa gaul yang lebih berciri lokal.

Di laman panyingkul.com pernah dimuat sebuah artikel yang merangkum lebih banyak bahasa gaul Makassar. Silakan dibaca di sini.

January 12, 2012 in Kamis, Keliling Makassar, Makassar, Sekitarku
Oblong Merah Muda Menghiasi Kota Malang 18

Oblong Merah Muda Menghiasi Kota Malang

Oblong Merah Muda

Saya beruntung dapat kesempatan mengunjungi kota Malang sekaligus menghadiri rangkaian acara puncak peringatan ulang tahun komunitas Blogger Malang. Meski hadir atas undangan dari Blogger Nusantara, saya tetap membawa pesan dari Anging Mammiri.

Sabtu (7/1) udara Malang masih terasa sejuk, awan kelabu menggantung di atas sana. Di sebuah kampus di bilangan Jalan Candi Kalasan, Malang berkumpul ratusan orang. Sebagian besarnya adalah anak muda, mungkin mahasiswa. Mereka semua bersemangat di bawah udara yang sejuk dan awan mendung menggantung. Hari itu teman-teman dari komunitas Blogger Malang menggelar acara puncak ulang tahun mereka yang diberi nama : Oblong Merah Muda ; Obrolan Blogger Malang Mengenang Sejarah, Memajukan Budaya.

Sekitar pukul 9 acara dimulai dengan tarian tradisional. Hari itu ada beberapa segmen yang kesemuanya berbentuk talkshow. Setelah perkenalan dari para sponsor seperti XL, ID Blognetwork dan Blogger Nusantara acara kemudian memasuki talkshow inti yang disela dengan pemutaran video pendek tentang sejarah kota Malang.

Suasana acara Oblong Merah Muda

Di segmen pertama, hal yang dibahas adalah tentang budaya dan sejarah kota Malang. Ada dua orang pembicara yaitu Dwi Cahyono, Ketua Badan Promosi Pariwisata Daerah Jawa Timur, penggagas Festival Malang Kembali (Malang Tempo Dulu), Ovan Tobing, penyiar Radio Senaputra FM, MC, mantan pengurus tim sepakbola PERSEMA dan AREMA serta perwakilan dari XL Axiata.

Tema yang dibahas adalah tentang sejarah dan perkembangan kota Malang. Kota Malang adalah salah satu kota yang memiliki sejarang panjang di Indonesia karena sudah ada sejak jaman kerajaan Singosari. Nama kota Malang sendiri sebenarnya dilekatkan sebagai gambaran betapa daerah tersebut sangat sulit untuk ditaklukkan. Salah satunya karena letaknya yang secara alami dipagari oleh 4 gunung.

Sebagai kota dengan perjalanan sejarang yang panjang, Malang ternyata bernasib malang. Kota yang dulu pernah diikutkan dalam kontes desain tata kota di Perancis oleh pemerintah Hindia-Belanda itu makin lama makin kehilangan ciri khasnya. Banyak bangunan bersejarah yang kemudian dihilangkan satu persatu, digantikan oleh ruko modern dan mall. Malang susah payah melawan gerusan kemajuan jaman, tertatih menjaga tapak sejarah mereka yang sesungguhnya menyimpan sejuta kenangan indah dan berjuta-juta pelajaran penting lainnya. Malang bernasib sama dengan banyak kota lain di Indonesia, termasuk Makassar.

Talkshow sesi pertama membuat saya banyak berpikir dan kemudian miris melihat keadaan kota-kota besar di Indonesia. Semua kota ingin menjadi kota yang lebih modern, hanya saja sayangnya mereka kadang lupa untuk mempertahankan ciri khas dan jejak rekam sejarah di kota mereka. Akibatnya, kota-kota menjadi seragam, modern dan kadang tidak manusiawi.

Selepas istirahat yang dibarengi dengan penampilan grup nasyid yang memukau, acara dilanjutkan dengan dua segmen lagi. Satu segmen yang menghadirkan Farid Gaban ( jurnalis dan traveler ) bersama Paman Tyo ( blogger senior ) serta di segmen penutup yang menghadirkan Moch. Zamroni, penggiat konten lokal dan web developer Kota Malang dan Herdian Ferdianto, web/mobile developer, pembuat aplikasi Blackberry Translator.

Lewat pukul empat sore acara hari pertama selesai sudah. Seperti umumnya acara para blogger, acara hari itu juga ditutup dengan foto bersama.

Keesokan harinya, acara berlanjut. Kali ini adalah sesi jelajah kota Malang yang membawa para peserta mengunjungi tempat-tempat bersejarah di kota Malang. Saya tidak sempat ikut dari awal, saya hanya sempat bergabung ketika teman-teman berkumpul di Museum Brawijaya.

Oblong Merah Muda di Museum Brawijaya

Ada hal yang unik dari acara di hari kedua ini. Warna merah muda biasanya akrab dengan kaum Hawa, dan kadang kaum Adam merasa enggan menggunakan apapun yang berwarna merah muda, takut tingkat keadaman mereka turun beberapa strip. Tapi, karena tema acara adalah Oblong Merah Muda, maka suasana jadi berbeda. Puluhan cowok-cowok kemudian lalu-lalang dengan kaos oblong merah muda yang jadi kaos khas acara hari itu. Sungguh pemandangan yang tidak umum, dan menurut saya semua terlihat bagus-bagus saja. Tidak ada yang kemudian terlihat jadi lebih feminin hanya karena berkaos oblong merah muda.

Hari itu oblong merah muda menghiasi kota Malang.

Dari museum Brawijaya rombongan kemudian bergerak ke Restoran Inggil. Seperti yang saya tulis sebelumnya, restoran ini terasa sangat berbeda dengan menggabungkan konsep museum dan tempat makan. Sayang sekali di tempat itu saya tidak bisa berlama-lama karena harus secepatnya mengejar pesawat dari Jakarta.

Secara umum rangkaian acara Oblong Merah Muda itu bisa dibilang berhasil meski memang ada beberapa catatan kecil di sana-sini. Teman-teman blogger Malang mengaku ini acara besar mereka yang pertama dan karenanya bisa dimaklumi kalau memang masih ada beberapa kekurangan, utamanya di koordinasi antar panitia. Semoga saja acara ini bisa jadi pelajaran penting bagi mereka untuk membuat acara lain yang lebih keren di hari yang lain.

Sukses untuk teman-teman Blogger Malang, semoga makin jaya. Keep blogging in a free world !!

January 11, 2012 in Blogging, Rabu
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi 32

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang

Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di sebelah selatan Surabaya itu. Akhirnya keinginan saya terwujud juga, meski judulnya bukan jalan-jalan.

Jumat jam 15:00 WIB, pesawat Sriwijaya yang saya tumpangi mendarat dengan agak kurang mulus di bandara Abdul Rachman Saleh, Malang. Setelah ditunda selama sejam, akhirnya saya berhasil meninggalkan Cengkareng dan sejam kemudian mendarat di Malang. Langit Malang dirundung awan kelabu, hujan agak deras meski tidak dibarengi angin kencang. Keluar dari pesawat kami disambut beberapa petugas yang menyodorkan payung. Bandara Abdul Rachman Saleh ternyata lebih kecil dari yang saya duga. Tentu berbeda jauh dengan Bandara Sultan Hasanuddin Makassar.

Setelah menunggu cukup lama akhirnya saya meninggalkan bandara. Saya tidak bisa menyembunyikan kekaguman saya pada bandara kecil itu. Ini adalah bandara kecil pertama yang saya datangi setelah selama ini hanya mendatangi bandara semacam Sultan Hasanuddin, Soekarno Hatta, Adi Sucipto dan Juanda.

Perlahan taksi bandara yang saya tumpangi meninggalkan bandara menuju hotel D?Fresh di bilangan Blimbing, tepatnya di Jalan Candi Trowulan. Malang lumayan ramai, itu kesan pertama yang saya tangkap. Udaranya juga sejuk apalagi karena hujan mengguyur kota itu.? Setelah sempat kebingungan, akhirnya sampai juga saya di D?Fresh. Hotel baru yang menggabungkan konsep etnik dan minimalis. Begitu tiba saya langsung tertarik dengan arsitekturnya, apalagi di dinding tangga menuju lantai dua terpasang beberapa foto legenda musik seperti Jimmi Hendrixx, Kurt Cobain, Bob Marley dan lain-lain. Belakangan saya juga melihat poster besar musisi lainnya seperti John Lennon, Freddie Mercury, Marilyn Monroe dan Michael Jackson. Suasana hotelnya nyaman, sepi dan memang cocok untuk beristirahat.

Tak berapa lama saya kemudian bergabung dengan rombongan dari Id Blognetwork. Ada mbak Rika, mas Verry, mas Arief EW dan ki demang Suryaden. Siang itu kami cuma makan di restoran hotel, karena belum makan sedari pagi saya memilih nasi goreng dan segelas kopi french press. Hujan mulai reda, tapi udara sejuk masih memeluk.

Malam mulai tiba ketika kami ke kamar dan bersiap-siap untuk makan malam. Selepas maghrib, teman-teman dari Blogger Ngalam datang menjemput. Saya dan rombongan dari IBN memang datang untuk menghadiri acara Oblong Merah Muda yang digelar teman-teman Blogger Ngalam.

Dari D?Fresh kami bergerak ke Grand Foodcourt Jl. Jenderal Ahmad Yani. Sebuah tempat makan yang merupakan tempat berkumpulnya beberapa warung makan top di kota Malang. Awalnya saya sempat bingung mau memilih apa dan meminta rekomendasi dari Haqqi, ketua komunitas blogger ngalam yang menemani kami malam itu.

” Semuanya enak koq “, Begitu kata Haqqi.

Baiklah, saya mulai menimbang-nimbang. Saya mencoba memilih makanan yang belum pernah saya coba sebelumnya, dan pilihan jatuh pada tahu campur. Saya sudah pernah menikmati tahu campur sebelumnya, tapi mungkin sudah sekitar 10 tahun lalu, itupun di Makassar.

Tahu Campur

Tak perlu menunggu lama sebelum makanan datang. Saya mulai mencicipi. Ah, rasanya ada yang kurang pas. Tahu campur di Malang rasanya agak manis dan gurih, berbeda dengan makanan khas Bugis-Makassar yang asin-asin. Kekurangan lainnya adalah karena tidak ada jeruk nipis, sebagai orang Makassar asli, makan makanan berkuah tanpa jeruk nipis rasanya memang agak aneh. Untung karena mas Verry yang memesan ayam bakar madu dapat jatah jeruk nipis meski kecil. Jeruk nipis punya mas Verrylah yang kemudian saya tebarkan ke tahu campur sebelum saya santap. Lumayan, ada rasa kecut yang saya rindukan.

Malam itu kami tidak banyak ke mana-mana, setelah makan kami mengunjungi persiapan teman-teman panitia Oblong Merah Muda di STIEM Malang dan kemudian mengunjungi barak tempat penginapan para blogger tamu yang berada di sebuah kompleks TNI AD. Malang makin terasa menggigit malam itu, dinginnya mengingatkan saya pada kota Malino, apalagi di beberap tempat pohon pinusnya juga masih banyak.

Malam itu saya tertidur dengan lelap.

Keesokan harinya agenda kami padat. Dari pagi sampai sore saya dan rombongan IBN mengikuti acara Oblong Merah Muda yang diadakan dalam rangkaian ulang tahun komunitas blogger Malang atau Globbers. Saya suka tempat pelaksanaan acaranya, berada dalam lingkungan kampus STIEM yang asri dengan beberapa pohon pinus tinggi dan udara yang sejuk. Tentang acara ini akan saya tulis tersendiri.

Tempat acara Oblong Merah Muda

Acara berlangsung sampai sore hari sebelum akhirnya kami kembali ke hotel. Sebenarnya malam harinya kami berencana menjelajahi kuliner lainnya dari kota Malang, sayang karena hujan kemudian turun dan ternyata bukan perkara mudah mencari taksi di kota Malang. Akhirnya kamu hanya makan di restoran hotel. Di penghujung malam kami akhirnya sempat berkunjung ke barak tempat teman-teman blogger luar kota menginap.

Keesokan harinya, Malang lumayan cerah meski udaranya masih sejuk. Setelah mandi dan bersiap-siap kami yang sudah dijemput teman dari Blogger Malang kemudian bersiap mengikuti rangkaian acara Oblong Merah Muda hari kedua. Tapi sebelumnya kami mampir dulu menikmati salah satu kuliner terkenal dari Malang. Apalagi kalau bukan Bakso Kota Cak Man.

Bakso Kota Cak Man

Baksonya enak, dengan beragam pilihan selain bakso. Sebenarnya di Makassar Bakso Kota Cak Man juga sudah buka cabang meski memang rasanya tentu saja tidak selezat di tanah aslinya.

Dari bakso Cak Man kami bergabung dengan rombongan Oblong Merah Muda yang sedang berada di museum Brawijaya. Saya sudah ketinggalan penjelasan sejarah dari guide museum dan akhirnya berkeliling sendiri di museum itu. Berbagai peninggalan sejarah militer tersimpan rapih di sana meski kelihatan sedikit berdebu. Seperti umumnya museum di Indonesia, museum Brawijaya juga terlihat agak kumuh dan kurang menarik. Ini memang masalah klasik museum di negeri kita.

Selepas dari museum kami beranjak ke restoran Inggil. Sebuah restoran yang konsepnya sangat menarik. Gabungan antara museum dan restoran. Saya yang penggemar sejarah dan barang-barang lama merasa sangat betah melihat koleksi restoran berupa poster tua, mesin jahit tua, radio tua, perangko tua dan banyak lagi.

Salah satu sudut Restoran Inggil

Sayangnya saya tidak bisa lama-lama. Jadwal pesawat jam 21:00 dari Surabaya memaksa saya dan Rara untuk buru-buru meninggalkan acara. Macet di Porong tidak terduga katanya, dan kami tentu saja tidak mau ketinggalan pesawat. Setelah berpamitan dengan panitia dan teman-teman blogger lainnya, kami meluncur ke hotel untuk siap-siap pulang.

Tiga hari dua malam di Malang rasanya tentu belum cukup. Masih banyak hal lain yang harus saya jelajahi di Malang. Kunjungan perdana itu kemudian membuat saya bertekad untuk kembali lagi ke sana, tentunya dengan alasan yang lain, jalan-jalan.

Malang, saya akan kembali..!!

January 10, 2012 in Jalan-Jalan, Selasa, Wisata

Kampanye

Kalender Post

January 2012
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Switch to our mobile site