Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Salah satu pilihan mie kering Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya...

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat,...

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Archive for December, 2011

PJ20 ; Kisah Panjang Sebuah Band 2

PJ20 ; Kisah Panjang Sebuah Band

Pearl Jam

Berapa banyak band besar yang mampu bertahan selama 20 tahun, hanya dengan sedikit pergantian personil dan tetap aktif mengeluarkan album dan menggelar konser ? Pearl Jam adalah salah satunya.

Seattle, akhir dekade 80an. Kota di barat Amerika Serikat yang akrab dengan hujan itu tiba-tiba menjadi pusat perhatian dunia musik. Ketika jaman hair metal, glam rock atau apapun yang dinamakan orang perlahan memudar, era baru muncul dari Seattle. Orang menyebutnya sebagai grunge, sebagian menyebutnya alternatif rock meski mereka yang memainkannya tak pernah peduli apa jenis musik mereka.

Nirvana, Soundgarden, Alice in Chains,Pearl Jam. Itu nama-nama yang kemudian jadi makanan empuk industri musik. Dilempar ke pasaran, dikunyah pasar dan berhasil mendatangkan dollar. Sorotan lampu mengarah ke Seattle, sebagian besarnya mengarah ke sosok seperti Kurt Cobain, Chris Cornell dan Eddie Vedder para frontman dari band-band grunge paling terkenal masa itu.

Kurt tidak tahan sorotan dan menembak kepalanya di suatu hari di bulan April 1994. Chris Cornell dan Soundgarden bubar jalan, Alice in Chains meredup dan 20 tahun kemudian tersisa satu nama yang masih terus bertahan ; Pearl Jam.

Kenapa Pearl Jam bisa bertahan selama itu ?

Kesamaan visi adalah jawabannya. Band yang awalnya dibentuk oleh Stone Gossard dan Jeff Ament sebagai sebuah pilihan selepas bubarnya Mother Love Bone yang ditinggal mati Andy Wood sang vocalis ini berkembang menjadi salah satu band yang paling idealis. Mike McCready yang bergabung kemudian dan dilengkapi oleh sang penyanyi bersuara bariton Eddie Vedder menjadi band yang tidak mabuk oleh popularitas.

Ketika album pertama mereka Ten laku jutaan kopi di seluruh dunia, serta merta mereka menjadi rock star, diincar wartawan, masuk ke halaman depan majalah-majalah musik dunia, muncul di televisi dan seharusnya mencicipi kemewahan a la bintang. Tapi mereka menolak. Mereka sedapat mungkin tetap memijakkan kaki di tanah. Mereka menolak membuat video musik untuk single Black yang populer waktu itu.

Ketika sebuah band menjadi terkenal dan mulai mabuk ketenaran, Pearl Jam tidak. Mereka duduk dan merenungi tujuan mereka yang sebenarnya. Benarkah popularitas itu yang mereka cari ? Benarkah ketenaran itu yang jadi tujuan utama mereka ? Sebuah kebetulan yang sangat manis karena keempat anggota inti Pearl Jam ( di luar drummer yang sering berganti ) adalah orang-orang yang senang merenung, senang mencari jawaban dari semua kejadian. Bukan hanya menikmatinya.

Perjalanan 20 tahun mereka yang terekam dengan apik di PJ20 ibarat sebuah mozaik indah yang dikumpulkan keping demi keping untuk mendapatkan sebuah gambaran besar tentang sebuah band yang tetap memijak bumi meski ketenaran sudah ada di tangan mereka.

Hubungan antar anggota adalah hubungan yang sangat dalam. Ini juga yang menjadi satu kekuatan terbesar dari Pearl Jam. Eddie Vedder yang menjadi frontman dan memikul beban moral paling berat dari ketenaran itu tak lantas menjadikan dirinya tiran. Begitu juga dengan Stone dan Jeff yang sesungguhnya adalah pemilik Pearl Jam. Mereka semua membuat level yang sama, suara yang sama dan kesempatan yang sama.

The Fans

PJ20 juga memuat kisah unik anggota Pearl Jam yang menjalin kekerabatan luar biasa dengan fans mereka. Selama 20 tahun mereka terus berusaha membela kepentingan fans dan memberikan yang terbaik meski itu berarti mereka harus siap dengan hukuman akibat kalah melawan tirani ticketmaster. Fans menghormati mereka sebagai sebuah band yang punya respek sangat besar kepada fansnya.

Cameron Crowe sang sutradara yang berlatar belakang jurnalis itu memang punya sense yang tepat untuk membuat film dokumenter Pearl Jam. Gaya investigasinya sangat dalam dan berhasil mengangkat beberapa fakta yang selama ini mungkin hanya jadi pergunjingan penikmat musik rock. Salah satunya adalah soal pertikaian antara Kurt dan Eddie yang terlalu dibesar-besarkan media. Cameron sudah lama dekat dengan anggota Pearl Jam dan pemusik Seattle lainnya, jadi bukan masalah besar untuk menuliskan dan kemudian mengangkatnya ke layar lebar.

PJ20 adalah sebuah film dokumenter yang wajib disaksikan para penikmat musik, di dalamnya tersurat dengan jelas sebuah kisah sukses dari sebuah band yang melewati masa 20 tahun tidak dengan mudah. Ada banyak hal yang bisa dipetik dari perjalanan mereka. Tentang konsistensi, tanggung jawab, kedekatan, kerendah hatian dan perhatian pada fans.

” They never realize how much they do for us. The fans. And how we really really appreciate that “

Long live Pearl Jam !!

December 30, 2011 in Film, Pearl Jam, Review
Menebar Paku Di Jalanan Makassar 30

Menebar Paku Di Jalanan Makassar

Pakui yang fenomenal itu

Makassar termasuk sial, kotanya dianggap sebagai galeri memajang wajah para calon pemimpin bahkan jauh sebelum masa pilkada. Sayangnya, tidak semua pajangan wajah itu punya elemen visual menarik. Ada yang bahkan sangat norak.

Suatu hari kami kedatangan tamu sahabat blogger dari Kalimantan. Ketika mendaratkan kakinya di kota Makassar dia bercerita soal keheranannya melihat kota ini disesaki oleh baliho penuh wajah menebarkan senyum. Menjelang pilkadakah ? tanyanya. Ketika kami jawab tidak, dia tentu makin heran. Belum menjelang pilkada saja kota ini sudah penuh dengan baliho, bagaimana kalau menjelang pilkada ya ? Mungkin itu yang ada dalam pikirannya.

Dengan berat hati saya memang mau bilang kalau kota Makassar sekarang ini terasa sangat sesak oleh ragam baliho penuh wajah-wajah sok kenal dan sok ramah. Mereka adalah orang-orang yang mengintip peluang untuk maju menjadi pemimpin. Tahun 2013 Sulawesi Selatan akan menggelar pilkada gubernur, setelah itu akan digelar pilkada walikota untuk kota Makassar. Masih setahun lebih, tapi keramaiannya sudah mulai dari sekarang.

Sayangnya, tidak semua pameran wajah itu enak dipandang. Beberapa waktu belakangan ini ada sebuah baliho yang mengundang perhatian dari banyak warga Makassar. Salah satu alasan kenapa menarik perhatian adalah karena jargon dan desainnya. Jargonnya terdengar aneh dan desainnya terkesan norak. Baliho itu disebut orang baliho PAKUI merujuk kepada jargon utama yang diusungnya.

Desainnya yang aneh

Pakui, dalam bahasa Indonesia logat Makassar berarti memaku. Dalam baliho itu, PAKUI adalah akronim dari 5 kata yang anehnya merupakan kata gabungan dari bahasa Inggris dan Indonesia. Prayer, Attitude, Komitmen, Ulet dan Inspirasi. Bagaimana ? Anda sudah menemukan kelucuan ?

Baliho ini dibuat oleh pendukung Bahar Ngitung, seorang anggota DPD RI utusan dari Sulawesi Selatan. Tujuannya selain memperkenalkan diri adalah untuk memberikan dukungan kepada Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent yang sebentar lagi akan maju ke pertarungan SulSel1 tahun 2013 nanti.

Salah satu ciri khas dari Bahar Ngitung ini adalah akronim yang digunakannya yaitu ; OBAMA singkatan dari Om Bahar Mantap. Saya tahu anda mulai geli, tapi tahan dulu karena kegelian anda mungkin masih akan berlanjut. Obama yang satu ini memang memanfaatkan momen pemilihan presiden AS waktu itu. Dengan akronim Obama yang dipaksakan dia juga mengusung jargon HOPE, persis seperti Obama yang asli. Bahkan waktu itu beberapa materi kampanyenya juga menjiplak materi kampanye Obama.

Tapi lupakan soal itu, kita kembali ke PAKUI yang fenomenal ini. ?Coba anda lihat desain keseluruhannya. Sebagai orang yang berkecimpung di dunia desain saya langsung bisa merasa kalau baliho ini membingungkan. Tidak ada satu gambar atau elemen yang menjadi point of interest (POI), semua terkesan berlomba menjadi pusat perhatian.

Bagian Atas PAKUI

Baliho ini dibuka dengan foto Syahrul Yasin Limpo, gubernur incumbent yang sedang meretas jalan untuk kembali menjadi gubernur di pilkada nanti. Foto SYL di sebelah kiri dan di sebelah kanan tulisan pujian berbunyi : Pemimpin yang berhasil membawa Sul-Sel terbaik di Indonesia. Tolong jangan tanya saya terbaik dari segi apa karena saya sendiri tidak tahu dan belum pernah menemukan fakta soal itu.

Berikutnya ada gambar sang Obama Makassar yang sedang memaku menggunakan pakaian adat. Gambar ini muncul dalam berbagai varian. Selain berpakaian adat, sang Obama juga muncul dengan kaos dan kemeja. Gambar ini sebenarnya bisa menjadi POI, sayangnya karena di belakang sang Obama ada sebatang paku super besar yang terlihat mengintimidasi sehingga kesannya jadi numpuk.

Kemudian di bagian bawah ada tulisan PAKUI yang jadi jargon utama baliho tersebut. Bagian paling bawah ada tulisan : DON?T STOP KOMANDAN !! ini adalah jargon lain dari sang gubernur incumbent Syahrul Yasin Limpo. Jelas sudah kalau om Bahar yang mantap ini mendukung Syahrul Yasin Limpo untuk maju kembali menjadi gubernur. Tapi rupanya om Bahar kita ini masih kurang percaya diri hanya dengan sekadar menuliskan jargon khas tuannya karena dia merasa perlu untuk menuliskan inisial sang pujaan di bagian bawah.

Setelah itu baliho ini ditutup dengan gambar berbatang-batang paku yang berserakan di bagian bawah. Lengkap sudah !!

Bagian Bawah PAKUI

Saya jadi bertanya-tanya, pesan apa yang ingin disampaikan sang Obama ini ? Pesan kalau dia jago memancangkan paku ? Pesan kalau dia senang menebar paku ? Atau mungkin ada pesan tersembunyi yang hanya bisa dipecahkan a la Da Vinci Code ? Kalau dia ingin memamerkan 5 hal yang jadi kepanjangan dari PAKUI yaitu ; Prayer, Attitude, Komitmen, Ulet dan Insipirasi maka saya harus bilang kalau dia tidak berhasil. Lagipula, apa sih maksud dari kelima kata itu ? Siapa yang dimaksud ? Sang Obama atau sang tuan yang mau maju jadi gubernur lagi ?

Yah, dengan berat hati untuk anda yang tidak berada di Makassar saya peringatkan kalau ke Makassar sekarang ini maka berhati-hatilah dengan paku yang bertebaran di sepanjang jalan kota Makassar. Paku yang bukan membuat ban kendaraan anda bocor tapi mungkin membuat kening anda berkerut. Syukur-syukur kalau anda bisa tersenyum geli.

December 29, 2011 in Keliling Makassar
Resolusi 2012 ; Blogger, Komunitas dan Kota 26

Resolusi 2012 ; Blogger, Komunitas dan Kota

Anging Mammiri

Sebagian orang-orang yang luar biasa itu

Kalau tak ada aral melintang, 2012 nanti genap sudah dua tahun saya menerima tanggung jawab menjadi ketua komunitas Anging Mammiri. Tanggung jawab yang belum tuntas saya tunaikan dan belum tuntas saya balas.

2007. Itulah kali pertama saya bergabung dengan komunitas Blogger Makassar, Anging Mammiri.org tepat beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang pertama. Dari awal bergabung saya sudah tahu kalau saya bertemu dengan orang-orang yang keren, orang-orang muda yang penuh energi dan penuh pikiran-pikiran positif.

Perjalanan waktu kemudian membuat saya makin dekat dengan mereka. Saya punya visi dan pandangan yang sama dengan sebagian besar teman-teman di Anging Mammiri. Kami punya visi yang sama untuk mengembangkan potensi para blogger lokal kota Makassar untuk menyumbangkan sesuatu bagi kota di Selatan pulau Sulawesi ini selain tentu saja menjadi wadah silaturahmi para blogger yang merasa punya kedekatan dengan kota Makassar.

Hampir empat tahun setelah bergabung, teman-teman mendorong saya untuk naik sebagai ketua menggantikan Rara yang hijrah ke Jakarta. Bukan hal gampang, saya sendiri sempat menolak. Menjadi orang terdepan sebuah komunitas blogger terbesar di luar Jawa tentu bukan hal mudah. Tanggung jawabnya besar dan berat. Tapi kemudian dukungan dari para penggiat Anging Mammiri membuat saya luluh dan memberanikan diri memegang kepercayaan itu.

Setahun berselang, saya dan teman-teman yang luar biasa itu mulai menata kembali Anging Mammiri. Melanjutkan hal-hal positif yang sudah ada selama ini dan merumuskan hal-hal baru yang tak kalah positifnya. Waktu menjadi perekat utama kami, dalam perjalanannya waktu mengajarkan kami cara untuk bersahabat dengan emosi, berekspresi dengan bebas, menerima perbedaan dan menyatukan kesamaan. Kami belajar untuk menjadi orang yang lebih baik dalam satu wadah.

2012 tinggal menghitung hari. Tahun akan berganti tahun, dan perjalanan masih akan terus berlanjut. Beberapa hari sebelum 2012 saya sudah punya beberapa catatan di kepala tentang suatu hal yang kadang disebut orang dengan resolusi. Porsi terbesar adalah soal keterlibatan saya di komunitas Anging Mammiri dan tentang apa yang bisa kami sumbangkan pada kota ini.

Blogger, Komunitas dan Kota

Menjadi blogger kata orang berarti menjadi seorang penyampai kabar, bahasa kerennya citizen journalist. Blogger menjadi seorang warga biasa yang kadang bisa menulis hal-hal remeh seputar lingkungan mereka, menyebarkan banyak berita positif dan berjuang memperbaiki rona negatif yang sudah terlanjur ditorehkan media besar.

Ini adalah salah satu hal mendasar yang membuat passion ngeblog saya selalu ada. Menjadi pembawa kabar, memberikan pandangan berbeda tentang kota saya yang kadang tergambarkan begitu kasar dan menakutkan oleh media-media besar Indonesia. Tahun 2012, saya akan tetap melakukan hal yang sama. Saya akan tetap menuliskan banyak hal tentang kota saya, apa adanya, bukan sekadar hal-hal yang positif tentu saja. Saya ingin orang memandang kota saya sebagai kota yang tidak melulu berisi demo dan tawuran mahasiswa tapi juga sebagai kota yang nyaman untuk dikunjungi dan nyaman untuk memanjakan mata. Meski begitu saya juga tidak ingin menyembunyikan luka kecil dari kota ini. Biarkan semua berjalan apa adanya.

Dalam skala yang lebih besar saya ingin berbuat sesuatu bersama komunitas saya, Anging Mammiri. Hampir dua tahun menjadi ketua saya merasa belum memberikan sumbangsih berarti bagi komunitas ini. Masih banyak hal-hal yang ingin saya lakukan bersama orang-orang luar biasa di komunitas ini. Bersama mereka saya ingin menyebarkan virus bernama blog, membuat lebih banyak lagi orang yang bisa merasakan sisi positif dari internet, mengambil keuntungan sebesar-besarnya dari internet dan menggunakan internet untuk kepentingan mereka.

Bersama teman-teman kami sudah merancang banyak hal, merancang banyak kegiatan yang sekiranya bisa berguna untuk kota kami. Anggaplah itu sebagai hal kecil yang bisa kami sumbangkan. Selain ragam kegiatan offline, kami? juga ingin memanfaatkan kemampuan kami sebagai blogger untuk menyebarkan hal-hal positif dari kota kami. Membuat direktori wisata, mengumpulkan cerita-cerita tentang tempat-tempat menarik di kota ini, tentang makanan yang membuat liur menetes, tentang keragaman budaya, tentang cerita sejarah yang membuai, tentang apa saja yang bisa membuat orang memalingkan wajahnya ke kota ini dan mungkin menikmati liburan yang menyenangkan.

Saya dan teman-teman di Anging Mammiri mungkin hanya segerombolan manusia biasa di kota yang ramai ini, tapi setidaknya kami ingin berbuat sesuatu untuk kota ini. Kami hanya sekumpulan blogger yang senang berkumpul dan berbagi, dan kami ingin membagikan aura positif dari kota ini.

2012 sudah di depan mata, semoga saya makin bisa berbuat banyak untuk komunitas yang saya cintai ini dan tentu saja menyumbang sesuatu untuk kota yang selalu membuat saya enggan meninggalkannya. Mudah-mudahan resolusi 2012 ini bisa tercapai. Doakan saya.

December 26, 2011 in Opini
Sister Of War ; Cinta di Tengah Perang 4

Sister Of War ; Cinta di Tengah Perang

Sister Of War

Salah satu adegan dalam Sister Of War

Perang, kondisi tertekan, stress dan perasaan senasib bisa memuncul beragam rasa di antara mereka yang menjalaninya.

Tahun 1942, Jepang menginvasi kawasan Pasifik dan Asia Tenggara. Termasuk sebuah daerah bernama Vunapope di Papua Nugini. Di sana ada sebuah misi katolik di bawah Uskup Leo Scarmach, seorang keturunan Polandia bersama beberapa orang sister. Vunapope juga menjadi kamp untuk beberapa perawat asal Australia yang merawat para prajurit perang pasifik yang terluka.

Sebelum Jepang merapat, kekuatiran sudah membayang di setiap sudut kamp itu. Apakah mereka akan bernasib buruk seperti para korban Jepang lainnya yang mereka dengar ? Apakah para sister dan perawat itu tidak akan diperkosa seperti yang mereka dengar tentang nasib para perawat di Hong Kong ? Bingung, kalut dan kuatir makin membayang ketika kapal perang Jepang sandar di pelabuhan.

Akhirnya Jepang memang menginvasi kamp di Vunapope. Mereka hampir saja membunuh dan menyakiti semua yang ada di dalam kamp, tapi Uskup Leo Scarmach maju sebagai penyelamat. Dengan bekal perlindungan yang diberikan oleh Hitler dia berhasil melunakkan hati kapten dan membatalkan misi pembantaian. Tapi, justru karena itu pula sang Uskup dianggap sebagai penghianat, mata-mata Jepang.

Sikap mendua tumbuh di dalam kamp, antara para perawat Australia dan para sister yang mengidolakan uskup Leo. Para perawat menganggap Leo menghianati mereka sementara para sister menganggap Leo-lah yang menyelamatkan mereka. Perpecahan tidak dapat dihindari.

Di dalam kondisi tertekan di dalam kamp, mereka juga juga tetap saling menguatkan, saling memberi semangat meski hari demi hari harapan mulai pupus. Perlahan-lahan rasa kebersamaan itu menumbuhkan perasaan senasib dan sepenanggungan, membuat mereka makin dekat satu sama lain.

Lorna dan Benerice yang asli

Kisah Persahabatan Dari Sebuah Perang

Kisah Sister Of War adalah sebuah kisah nyata yang diangkat dari kisah seorang perawat bernama Lorna Whyte dan seorang sister dari sebuah misi katolik bernama Berenice Twohill. Mereka bertemu dalam kamp di Vonapupe dan sama-sama merasakan beratnya berada di bawah kekuasaan Jepang yang kadang beringas, kejam dan tidak berperikemanusiaan.

Konflik utama dari kisah ini adalah bagaimana mereka berdua membangun sebuah ikatan yang kadang naik turun meski pada dasarnya tetap saling mencintai layaknya saudara perempuan. Hikmah terbesarnya adalah bagaimana sebuah kondisi perang yang carut marut malah bisa menumbuhkan rasa persaudaraan yang tulus dari dua orang manusia.

Dalam Sister Of War juga ditunjukkan bagaimana sebuah konflik emosional muncul ketika seorang tentara Jepang yang terkenal beringas itu ternyata bisa juga menunjukkan sisi manusiawinya. Sebuah pertanyaan, apakah mereka harus membantu sang tentara sebagai sesama manusia untuk menjadi lebih kuat agar bisa terus membantai mereka ?

Film berduasi 1:30 menit ini digarap cukup apik dengan penggambaran suasana perang dunia kedua yang nyaris rapih. Kekurangannya hanya pada penggalian konflik yang terasa kendor. Terlalu banyak konflik yang coba dimunculkan sehingga kemudian konflik utama jadi kurang tergali. Ini membuat muatan emosional Sister of War jadi agak kurang tergali.

Sebagai sebuah tontonan Sister Of War bisa jadi pilihan, penonton juga bisa menggali sebuah hikmah dari kejadian-kejadian yang digambarkan dalam film ini. Tapi anda tidak bisa berharap lebih, dua jam setelah menonton, film ini bisa saja terlupakan dan tidak terlalu membekas.

December 23, 2011 in Film, Random Post, Review
Wisata Bahari SulSel ; Raksasa Yang Tertidur 6

Wisata Bahari SulSel ; Raksasa Yang Tertidur

Tinabo

Tinabo oh Tinabo

Tulisan ini adalah catatan dari acara diskusi akhir tahun yang digelar ISLA-Unhas tanggal 21 Desember semalam.

Indonesia adalah negara kepulauan, sejak dari jaman SD kita sudah dijejali dengan kata-kata itu. Luas laut Indonesia jauh lebih besar dari luas daratan. Sayangnya, dari SD sampai sekarang kita belum lihat bagaimana Indonesia menjadi besar karena kekuatan kelautannya. Dari hasil tangkapan kita masih kalah dari Jepang dan bahkan Thailand. Dari hasil wisata ? Jangan ditanya lagi, ada sederet nama-nama negara tetangga yang justru lebih gendut dari hasil pariwisata bahari.

Masalahnya di mana ? Kenapa kita belum maksimal memanfaatkan kekayaan laut kita ? Kenapa fakta yang ada justru fakta kalau kekayaan alam bawah laut kita mulai tergerus ?

Dalam diskusi kelautan yang digelar Ikatan Sarjana Kelautan UNHAS di gedung BAKTI hari Rabu kemarin tergambar jelas beberapa fakta tentang masalah yang dihadapi oleh negeri kita di sektor kelautan dan perikanan. Fakta paling utama adalah kurangnya perhatian pemerintah terhadap pengembangan sektor kelautan, entah itu yang menyangkut pemberdayaan masyarakat, pemanfaatan potensi kelautan hingga pengembangan sektor pariwisata.

Nelayan setempat yang perahunya kami sewa

Sejarah Indah Kelautan SulSel dan Masalahnya Kini

Sulawesi Selatan sebenarnya pernah jaya di sekor kelautan. Pada abad ke 15, kerajaan Gowa di bawah kepemimpinan Tumapakrisika Kallonna memindahkan ibukota kerajaan dari Kalegowa ke Somba Opu yang terletak di pesisir pantai barat Sulawesi. Itu menjadi tonggak awal kejayaan maritim kerajaan Gowa.

Selama seratus tahun lebih kerajaan Gowa menjadi pusat perdagangan yang sangat maju. Puluhan negara asing membuat pos dagang di Somba Opu, ratusan kapal asing berlabuh dan berdagang di ibukota kerajaan itu. Para pelaut Bugis-Makassar juga dikenal sebagai pelaut yang tangguh, mengitari separuh bumi dan berlayar jauh hingga ke Australia, Afrika dan Eropa.

Kepemimpinan yang tidak cakap, rongrongan dari dalam dan kemudian disempurnakan dengan serangan oleh VOC membuat kerajaan Gowa runtuh dan sejak itu, kejayaan maritim kerajaan Gowa dan Sulawesi Selatan seperti hilang nyaris tak berbekas.

Dua indikasi utama makin suramnya kondisi laut Sulawesi Selatan yaitu hutan mangrove dan terumbu karang yang kondisinya makin mengenaskan. Bahkan satu indikasi kecil lainnya adalah makin maraknya ikan hias yang diperjualbelikan sebagai makanan. Ini pertanda kalau ikan komersil juga mulai surut dan susah untuk didapatkan.

Sebuah NGO bernama MAP ( Mangrove Action Project ) memaparkan fakta bahwa sebuah pulau di sekitar Makassar bernama Tanakeke telah kehilangan sekitar 1500 Ha hutan mangrove di rentang waktu antara 1974 hingga 2010. Sebuah angka yang cukup mengerikan. Saat ini MAP sedang menggalang usaha berbasis kerakyatan untuk mengembalikan hutan mangrove yang hilang tersebut.

Fakta mengerikan lainnya dibeberkan oleh bapak Syafyudin Yusuf seorang ahli terumbu karang dari UNHAS. Terumbu karang sebagai hutannya laut semakin hari kondisinya semakin memprihatinkan. Dari data yang ada, saat ini jumlah terumbu karang di Indonesia yang berada dalam kondisi sangat baik hanya sekitar 5%-6% sedangkan yang berada dalam kondisi sangat buruk sekitar 32% – 40%. Masalah terbesar adalah pada kerusakan akibat meningkatnya suhu bumi selain tentu saja faktor lain seperti pengeboman ikan, penggunaan racun ikan dan pembuangan limbah ke laut. Sayangnya kondisi buruk terumbu karang ini justru banyak terjadi di kawasan Indonesia Bagian Timur.

Wisata Bahari SulSel yang Belum Tersentuh

Dua sesi terakhir lebih banyak membahas tentang pariwisata bahari Sulawesi Selatan yang seperti masih jalan di tempat dan belum disentuh dengan serius, utamanya tentang pariwisata Taka Bonerate. Sebagai orang yang pernah diajak mengunjungi Taka Bonerate saya memberikan testimoni betapa indahnya kawasan taman nasional di Selatan pulau Sulawesi itu, tapi sekaligus juga betapa susahnya untuk bisa sampai ke sana.

Entahlah, saya sendiri sebagai warga biasa yang hanya berstatus sebagai penikmat laut masih selalu gregetan melihat kurang gesitnya pemerintah Provinsi dan daerah di Sulawesi Selatan untuk menggali lebih dalam potensi wisata baharinya. Tidak usah bicara jauh-jauh soal Taka Bonerate, di sekitaran Makassar masih banyak pulau-pulau indah yang belum dikelola maksimal, semua masih berjalan separuh hati dan itupun sebagian besarnya hanya digerakkan oleh pihak swasta.

Pak Januar Jaury, seorang pengusaha yang sekarang menjadi anggota DPRD membeberkan fakta kalau sektor pariwisata sesungguhnya bisa memberikan dukungan finansial yang sangat besar untuk pendapatan daerah. Beberapa negara di dunia ini menggantungkan nasib mereka pada sektor pariwisata, dan berhasil. Kenapa Indonesia tidak bisa ?

Di akhir acara, sebagai seorang blogger saya menyodorkan ide untuk sebuah kolaborasi antara berbagai pihak yang punya perhatian serius dengan masalah kelautan. Saya menyodorkan ide untuk melibatkan para blogger secara lebih aktif khususnya sebagai corong promosi wisata kelautan Sulawesi Selatan. Contoh terakhir adalah ketika kami diajak ke Taka Bonerate, deretan tulisan tentang Taka Bonerate serta twit-twit dan foto-foto di Facebook sedikit banyaknya telah membuka mata banyak orang kalau ada tempat yang sangat indah di selatan Sulawesi. Sebuah tempat yang memang belum banyak diketahui orang Indonesia.

Saya yakin dengan kerjasama dan kolaborasi antar banyak pihak, wisata bahari yang selama ini seperti raksasa yang sedang tidur bisa bangun dan menjadi penyumbang devisa yang besar bagi negeri kita, atau dalam skala kecil bagi provinsi Sulawesi Selatan.

December 22, 2011 in Opini, Sekitarku
Tips Memotret Dalam Hujan 16

Tips Memotret Dalam Hujan

Potret Hujan

Potret Hujan ( koleksi pribadi )

Artikel berikut adalah terjemahan bebas dari artikel di National Georgaphic, laman aslinya bisa diakses di sini.

Menjelang akhir tahun dan awal tahun, hujan menjadi kawan akrab untuk sebagian besar daerah di Indonesia.? Kondisi seperti ini juga kadang kala menjadi musuh besar bagi para pemotret. Masalah utama adalah karena para pemotret tentu sangat memikirkan nasib kamera mereka dan air adalah musuh terbesar.

Air tentu saja membuat kamera lebih cepat rusak dan selain itu membuat lensa jadi kabur dan akhirnya akan berjamur. Itu belum termasuk sulitnya menangkap gambar dalam situasi? di mana cuaca sedang mendung, agak gelap dan hanya ada jutaan tetes hujan.

Kebetulan saya menemukan sebuah artikel menarik di National Geographic yang ditulis oleh Jim Richardson, salah seorang fotografer senior NatGeo yang memberikan tips tentang memotret di dalam kondisi hujan.

Berikut adalah tips dari Jim Richardson yang coba saya terjemahkan :

Membawa pelindung hujan untuk kamera. Saat ini sudah ada jutaan pilihan pelindung hujan untuk kamera yang tersedia di pasaran. Masalah utamanya hanyalah bagaimana membawa semuanya ketika hujan mulai turun. Semua pelindung yang kira-kira bisa melindungi kamera dari hujan, petir bahkan badai sebaiknya memang dibawa setiap saat. Saran terbaik adalah memberikan tempat di tas kamera untuk keperluan tersebut.

Membawa kantongan plastik besar untuk kamera. Kadang kala ada tugas yang mengharuskan kamera tetap kering dan kantongan plastik besar bisa sangat berguna. Masukkan kamera di dalam kantongan dan lubangi sedikit untuk lensa di bagian depan.

Cari beranda atau tempat berteduh. Cobalah mencari tempat berteduh dan tunggulah sampai gambar yang mendatangi anda. Tenggak minuman kesukaan, bacalah buku atau lakukan apa saja. Bersabarlah.

Memotret dari dalam mobil. Kadang-kadang cara ini adalah cara paling praktis saat terjebak dalam kondisi hujan. Tetaplah berada di dalam kendaraan, turunkan kaca sedikit dan rekamlah beberapa gambar. Jim sendiri pernah mendapatkan sebuah foto menarik dalam kondisi seperti ini, hanya saja cara yang dilakukannya agak esktrim dan tidak disarankan untuk dicoba.

Belilah sebuah payung. ketika berada dalam cuaca hujan tapi tetap harus melakukan pemotretan, maka payung bisa menjadi sebuah pilihan. Memang akan sangat membantu bila ada seorang asisten yang bisa memayungi kita saat memotret, tapi bila memang tidak ada maka cara terbaik adalah memegang payung di tangan kiri yang juga memegang grip kamera.

Masukkan payung sebagai elemen dalam foto anda. Sebenarnya payung yang anda bawa bisa menjadi elemen komposisi yang sangat menarik. Ketika memotret dengan lensa lebar, payung bisa mengisi bagian atas bingkai dan akan menyajikan kesan bahwa hujan benar-benar sedang turun. Ketika memotret jalanan yang penuh dengan orang yang membawa payung, memasukkan payung ke dalam bingkai tentu memberikan kesan yang sangat pas. Di sisi lain, payung juga bisa menetralisir apabila ternyata cahaya matahari terlalu terang meskipun sedang hujan. Gunakan payung untuk meminimalkan cahaya yang berlebih dan anda bisa mendapatkan eksposur yang pas.

Perhatikan bayangan. Sebenarnya agak susah untuk mendapatkan potret hujan, kecuali anda berada di bawah hujan deras, jadi anda harus memotret sebuah petunjuk yang menandakan bahwa hujan benar-benar sedang turun. Cara terbaik adalah dengan memotret bayangan hujan atau bekas yang ditinggalkan hujan di atas bumi. ?Lihat sekeliling anda dan coba temukan bayangan hujan yang paling menarik untuk direkam.

Tempatkan hujan pada backlight. Hujan akan terlihat lebih jelas saat berada pada posisi backlight ( membelakangi sumber cahaya ). Cahaya yang datang dari belakang hujan akan sangat terkonstrasi dan tentu saja membuat tetesan hujan lebih terlihat terang. Hanya saja perlu diperhatikan jangan sampai anda terlalu over exposure karena menghadap ke arah cahaya. ?Carilah terus angle terbaik antara low exposure dan over exposure. Payung yang anda bawa juga bisa sangat berfungsi untuk mengatur exposure.

Tembakkan sedikit flash. Cahaya flash tentu saja bisa menambah cahaya pada tetesan hujan, hanya saja ?hal buruk bisa terjadi saat cahaya yang keluar terlalu banyak sehingga malah mengaburkan tetesan hujan. Coba set chaya flash ( sekitar -3.0 stops) . Cara ini biasanya membutuhkan banyak percobaan, kadang tidak berhasil 100% tapi hasilnya tetap menakjubkan.

Tangkap kesedihan dan keceriaan di bawah hujan. Hujan mempengaruhi banyak orang. Kadang ada yang merasa sedih atau malah marah karena hujan tapi ada juga anak-anak yang begitu gembira bermain hujan. Tangkap dengan baik reaksi mereka dan anda akan mendapatkan foto hujan yang menarik.

Itulah beberapa tips dan trik dari Jim Richardson yang saya terjemahkan. Saya sendiri belum mencoba semua tips dan trik di atas, tapi sepertinya memang menarik. Mumpung sekarang sedang hujan, bagaimana kalau kita coba ?

Mari memotret.

December 21, 2011 in Fotografi, Tips
Sebuah Ide ; Blog Bertema 10

Sebuah Ide ; Blog Bertema

Calendar

kalender ( image by: Google )

Pagi ini tiba-tiba sebuah ide melintas di kepala dan rasanya sayang untuk tidak segera dibingkai. Maka, jadilah postingan ini.

Setahun belakangan ini saya makin serius ngeblog. Kegiatan yang sebelumnya hanya terasa sebagai kegiatan pengisi waktu luang saja sekarang sudah naik pangkat menjadi kebutuhan. Entahlah, dengan ngeblog saya merasa bisa membagi apa saja, mencatat apa saja, menuangkan apa saja dan bahkan mengekspresikan apa saja. Pelan-pelan saya seperti menemukan sebuah saluran yang tepat untuk tetap membuat otak bekerja dan tidak berkarat.

Blog yang baik adalah blog yang spesifik. Itu kalimat yang pernah saya dengar, dan ada benarnya juga karena banyak blog yang dianggap bagus adalah blog yang memang spesifik dan memfokuskan diri pada satu tema tertentu.

Sampai sekarang blog saya memang belum spesifik, masih terlalu luas dengan tema-tema yang beragam. Dari awal saya memang membuatnya untuk menjadi sebuah personal diary online, tempat menuliskan apa saja secara online. Sebenarnya saya pernah membuat sebuah blog yang spesifik, tapi karena masalah waktu akhirnya terbengkalai dan tidak terurus sebelum akhirnya ditutup. Saya masih butuh tempat yang luas untuk menulis apa saja.

Pagi ini tiba-tiba saya kerasukan ide. Ide untuk membuat blog ini menjadi lebih spesifik. Tapi tentu saja tidak lantas membuat semua postingan hanya beredar pada satu tema seperti umumnya blog spesifik. Saya masih terlalu sayang untuk melakukan itu.

Yang saya maksudkan dengan spesifik adalah membuat tema khusus setiap hari dalam seminggu. Jadi setiap hari akan ada tema yang berbeda dan berulang di minggu berikutnya. Ini sebagai langkah awal untuk membuat blog yang spesifik tentu saja.

Tadi saya sudah berpikir tema apa saja yang akan saya tuliskan berdasarkan harinya, dan berikut hasil pemikiran saya :

Senin? >>? Kenangan

Selasa >>? Makanan dan budaya

Rabu >> Fotografi dan blogging

Kamis >> Tokoh dan Sekitarku

Jumat >> Review

Sabtu & Minggu >> Bebas

Setidaknya itu dulu yang terpikir. Tema-tema di atas adalah tema yang selalu berseliweran di blog ini, hanya saja kali ini saya akan coba untuk lebih disiplin menuliskannya berdasarkan hari-hari tertentu.

Saya belum tahu kapan akan memulainya, mungkin besok atau mungkin sekalian tahun baru 2012 ? Entahlah, dan semoga saya bisa konsisten berpegang pada tema yang sudah saya buat. Berikutnya tentu akan ada evaluasi tentang positif-negatifnya dari ngeblog dengan tema tertentu ini.

Jadi, selamat menikmati teman-teman. Semoga teman-teman bisa sering-sering datang ke sini.

December 20, 2011 in Blogging
Dipermalukan Oleh Kamera 11

Dipermalukan Oleh Kamera

Kamera SLR Analog

Kamera SLR Analog

Sebelum menjadi mahir, biasanya orang akan melalui masa kegagalan. Beberapa di antaranya bahkan sangat memalukan.

Cerita ini terjadi sekitar 12 tahun lalu ketika masih bersama teman-teman kuliah. Waktu itu saya baru saja belajar memegang kamera SLR, tepatnya kamera analog keluaran tahun 70an. Sebuah RICOH yang saya lupa tipenya. Kamera ini sebenarnya punya teman tapi dipinjamkan ke saya. Dengan kamera itu pula saya mulai belajar memasang roll film, mengatur bukaan dan kecepatan rana serta mengatur komposisi dan menggulung kembali roll film untuk dicetak.

Suatu hari teman-teman ?sekelas membuat rencana liburan bersama ke pulau Barrang Lompo. Saat itu Barrang Lompo masih punya satu cottage yang menjorok ke lautan dan benar-benar nyaman untuk dipakai menginap dan menikmati lautan.

Maka berangkatlah kami ke sana. Total rombongan sekitar 10 orang, dan sebagai salah seorang yang mengaku bisa motret saya kebagian tugas membawa kamera. Tahun 1999 kamera belum seperti sekarang. Jangankan kamera SLR, kamera poket saja masih jarang beredar. Jadi tidak heran jika teman-teman begitu bersemangat ketika tahu saya membawa kamera SLR meski masih analog.

Malam sebelum keberangkatan, dengan kamera di tangan saya menggelar sedikit ceramah singkat tentang cara menggunakan kamera SLR. Maklumlah, di antara teman-teman seangkatan rasanya belum ada yang punya kamera sejenis atau minimal tahu cara menggunakannya. Dengan berapi-api saya menjelaskan bagaimana menyelaraskan antara bukaan diafragma dan kecepatan rana kepada beberapa teman yang melongo entah karena kagum atau justruk karena bosan.

Singkat cerita berangkatlah kami ke pulau Barrang Lompo. Sebelum berangkat saya membeli satu roll film dan ketika sang penjaga toko menawarkan diri untuk memasang roll film dengan percaya dirinya saya menolak. Toh sebelum ini saya sudah beberapa kali memasang sendiri roll film di kamera. Hari itu saya juga melakukannya sendiri tentu saja dengan penuh percaya diri.

Dua malam di pulau kami lewati dengan penuh riang canda. Berkumpul dengan teman-teman sealiran tentu saja merupakan hal yang paling menyenangkan. Sepanjang acara saya dengan kamera SLR pinjaman itu juga beraksi merekam keceriaan kami semua. Semua ceria dan semua yakin kalau hasil fotonya akan sangat bagus.

Liburan kemudian harus berakhir, di perjalanan pulang saya melirik ke kamera. Jumlah 36 sudah terlampaui tapi shutter masih bisa tertekan, mungkin bonus kutipan pikir saya. Biasanya bila memasang roll 36 dan cara pasangnya bagus maka ada bonus sekitar 4 kutipan. Saya kembali memotret. Herannya meski perasaan sudah lebih dari 4 kali menekan shutter tapi roll-nya masih bisa diputar. Saya mulai merasa ada yang aneh, hingga akhirnya memutuskan untuk memutar kembali roll film seperti prosedur semestinya setiap habis memotret.

Keesokan harinya saya dengan penuh rasa penasaran saya membawa roll film itu tukang cuci cetak. Rasanya tidak sabar ingin melihat sendiri hasil kutipan saya yang merekam keceriaan selama dua hari di pulau itu. Roll film saya tinggal dan saya janji untuk kembali beberapa jam kemudian.

Ketika saya kembali untuk menjemput hasil cetak foto, kenyataan pahit terpampang di depan mata. Sial !! Rupanya saya salah memasang roll film. Roll film yang seharusnya tertarik rupanya meleset dan sama sekali tidak tertarik ke dalam ruang rekam. Jadi, selama dua hari di pulau sama sekali tidak ada foto yang terekam. Itu jawaban kenapa saya masih tetap bisa mengokang kamera meski penunjuk angkanya sudah lebih dari 36 bahkan 40 kutipan. Roll film yang saya bawa ke tukang cuci masih bersih seperti roll film yang baru karena memang sama sekali tidak terpakai. Lembaran-lembaran negatif film yang dicetak benar-benar kosong, sama sekali tidak bergambar.

Saya langsung lemas ketika itu juga. Terbayang wajah teman-teman yang begitu mengharapkan hadirnya foto-foto indah hasil liburan kami. Terbayang rasa malu yang harus saya tanggung, apalagi karena malam sebelum keberangkatan saya dengan semangatnya memberikan ceramah singkat tentang fotografi. Doh !!

Saya butuh waktu beberapa hari sebelum benar-benar berani ke kampus dan menemui teman-teman yang sudah tidak sabar menunggu hasil jepretan saya. Benar saja, ketika tahu kejadian sebenarnya spontan saya jadi bahan ledekan teman-teman semua, termasuk gaya saya ketika memberikan ceramah soal bukaan diafragma dan kecepatan rana. Benar-benar momen yang memalukan. Saya butuh waktu lama sebelum bisa kembali percaya diri di depan mereka.

Hari ini saya bisa mengenang kejadian itu sebagai kejadian yang lucu dan memalukan. Sekaligus sebagai sebuah pelajaran bahwa sebuah keberhasilan biasanya memang dimulai dengan kegagalan. Semua butuh proses belajar. Ah, saya merindukan teman-teman saya itu. Jika bisa berkumpul lagi dengan mereka saya akan memotret mereka sepuas-puasnya, sebagai ganti momen yang hilang dulu.

December 19, 2011 in Fotografi, Kenangan
Sekali Lagi Tentang Joke Yang Tidak Sensitif 21

Sekali Lagi Tentang Joke Yang Tidak Sensitif

Stop Making A Shallow Joke

Acara Dekade jaringan televisi Trans Corp. ternyata berbuntut panjang. Salah satu bagian acaranya ternyata mengundang reaksi negatif dari para penonton

Adalah Olga Syahputra yang menjadi aktornya. Dalam sebuah segmen dia tampil sebagai hantu dalam parodi Dunia Lain, salah satu acara unggulan Trans TV beberapa tahun lalu. Ketika ditanya apa penyebab kematiannya, dengan enteng Olga menjawab : matinya sepele, karena diperkosa sopir angkot.

Sule yang jadi lawan mainnya tertawa riang, begitu pula ratusan penonton di studio dan mungkin ribuan lainnya yang sedang memelototi layar televisi.

Tapi di twitter, beberapa reaksi negatif berseliweran. Di antaranya yang dituliskan di Yahoo OMG adalah :

@cho_ro
Kita butuh becandaan yang cerdas. Bukan merendahkan sesuatu atau seseorang. Kalo masih mau merendahkan mbok merendahkan diri sendiri aja.

@leonisecret
Laporkan becandaan #OLGA di @TRANSTV_CORP ke Komisi Penyiaran Indonesia/KPI dg sms ke 08121370000 #RapeIsNotForJoke !!! via @shasya_toviano

@RyuDeka
Mengerikan kalau kematian dan pemerkosaan dianggap sesuatu yang sepele dan dijadikan bahan becandaan. Di TV nasional pula

@wdanoe
@dahsyatnyaolga semoga segera menyadari kesalahannya dan meminta maaf. Rape is never funny. Rape is NOT a joke!

Dan yang paling keras adalah dari @RisaHart, seorang pemerhati masalah HAKI dan blogger perempuan. Isi twitnya :

@RisaHart
Menggunakan topik “mati krn diperkosa supir angkot itu SEPELE” sbg bahan canda merupakan refleks berpikir manusia tak bermoral dan kejam.

@RisaHart
Pikirkan jika anda atau keluarga anda yg jadi korban, apakah anda msh menganggapnya ‘hanya bercanda’? Tanyakan nurani dan jawab dgn jujur.

@RisaHart
Be sensitive to others’ misery and pain. If you want to be loved, try loving others sincerely. Have a good rest! @HelgaWorotitjan thanks!

Bahkan beberapa twit berikutnya dari @RisaHart lebih keras lagi dan benar-benar menunjukkan kemarahan. ?Bagi saya, ini dapat dipahami. Sebuah lelucon yang mengambil subjek pada penderitaan orang menurut saya tidak lucu, sama sekali tidak lucu.

Belakangan ini kasus pemerkosaan di dalam angkutan kota memang sedang marak dan jadi berita di berbagai media. Sayangnya bagi Olga itu bukan hal yang bisa mengundang simpati, bahkan sebaliknya bisa mengundang tawa bila diselipkan ke dalam sebuah penampilan. Sayangnya lagi karena sang partner saat itu ( Sule dan Denny Cagur ) tidak tampak keberatan, pun dengan ratusan penonton di dalam studio yang serentak menyumbang tawa. Lengkaplah sudah, lelucon tentang korban perkosaan dianggap wajar. Toh itu hanya sebuah lelucon, tak perlu dianggap serius.

Kasus ini bukan yang pertama tentu saja. Para pelawak di negeri ini sudah sering kebablasan, kelepasan ngomong, kurang sensitif dan akhirnya tergoda mengeluarkan candaan yang sebenarnya melukai orang banyak.

Olga sendiri sudah beberapa kali mendapatkan kritikan tajam berkaitan dengan candaannya. Di sebuah acara musik yang dibawakannya setiap pagi, dia terkadang tampil dengan cara bercanda yang juga ofensif dan cenderung terkesan menyerang dan melecehkan lawan bicaranya. Acara sahurnya di Trans TV pun pernah mendapat teguran dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) karena dianggap sudah melewati batas kesantunan.

Olga tidak sendiri, masih banyak lagi pelawak tanah air yang lawakannya kadang tidak sensitif. Tukul Arwana sendiri yang terkenal dengan acara Empat Mata-nya sudah pernah merasakan teguran keras dan sanksi dari KPI meski kemudian dengan pintarnya sang produser membawa kembali acara tersebut dengan nama yang sedikit berbeda.

Dunia lawak ini memang unik. Para pelawak dituntut untuk terus berkreasi menemukan objek yang kira-kira bisa menjadi bahan lawakan dan tentunya mengundang tawa riang para penonton. Batas-batas norma kadang memang jadi agak kabur. Sebuah lelucon sarkas kepada penguasa korup bisa diartikan sebagai penghinaan dan pencemaran nama baik, apalagi bila menyampaikannya tidak dengan cara yang cerdas.

Kalau melihat aksi para pelawak di negara maju dengan tingkat kebebasan yang lebih tinggi dari Indonesia memang terlihat bagaimana mereka dengan tenangnya bisa menyampaikan lawakan yang sangat menyinggung, bahkan kadang sampai berbau rasis. Hanya saja kadang kita lupa kalau budaya mereka dan budaya kita memang sedikit berbeda. Lagipula saya yakin para pelawak tenar juga masih punya batasan dalam menentukan bahan lawakan, utamanya bila menyangkut kesusahan atau penderitaan orang lain.

Televisi kita juga menjadi ladang subur untuk berbagai lawakan kasar dan tidak sensitif itu. Acara yang dipandu Olga setiap pagi itu meski telah mengundang kecaman tapi toh tetap saja disukai orang banyak, dan stasiun televisi terlalu takut kehilangan pundi-pundi rupiahnya untuk memperingatkan atau bahkan menghentikan acara yang dimaksud. Akibatnya, acara itu masih tetap tayang dan masih tetap dengan bumbu lawakan kasar, tidak sensitif dan tentu saja ofensif.

Yah begitulah, harus kita akui kalau dunia lawak di negeri kita memang masih jauh dari lawakan cerdas. Kekerasan, kekasaran, ofensif, pelecehan dan semacamnya masih menjadi bumbu utama. Masih sedikit yang sadar bahwa lawakan mereka bisa saja menyakiti hati beberapa orang yang sebenarnya adalah korban sebuah keadaan.

Entah sampai kapan kondisi ini akan terus berlanjut.

December 16, 2011 in Opini
Sepakbola Kita, Mundur Menuju Jurang 4

Sepakbola Kita, Mundur Menuju Jurang

Rahmad Darmawan

Rahmad Darmawan ( sumber : Persibholic.com )

Entah mau dibawa ke mana sepakbola Indonesia. Pengurus sudah berganti, tapi masalah tetap sama bahkan makin kusut

Lelaki itu terlihat tegap di usianya yang ke 45. Lelaki kelahiran Metro, Lampung tahun 1966 itu memang seorang perwira menengah, seorang marinir yang kemudian lebih terkenal sebagai pelatih sepakbola di Indonesia. Lelaki yang senang menutupi kepalanya dengan topi adalah salah satu pelatih terbaik negeri ini. Persipura, Sriwijaya FC sudah pernah dibawanya ke level paling atas sepakbola kita. Terakhir timna U23 dibawanya membawa medali perak lewat serangkaian perjalanan yang menyita perhatian penggemar sepakbola Indonesia.

Tegas tapi mengayomi dan dekat dengan anak asuhnya. Itu komentar banyak orang yang sudah pernah merasakan sentuhan lelaki itu. Saat sedang bertanding memang terlihat jelas raut ketegasan dari wajahnya, bersanding dengan ketenangan kala memberikan instruksi. Di luar lapangan dia terlihat sebagai pria santai namun disegani.

Lelaki itu bernama Rahmad Darmawan. Tiga bulan terakhir namanya menjadi pujaan banyak orang di Indonesia. Dia berhasil menyuburkan rasa bangga dan kebersamaan dengan caranya sendiri. Mendorong 23 anak muda Indonesia untuk maju, bahkan hingga satu langkah dari puncak juara. Kekalahan menyesakkan diterima di ujung perjalanan perebutan emas sepakbola SEA Games. Tapi bagi banyak orang itu adalah harapan, harapan untuk melihat negeri ini kembali disegani di ASEAN, bahkan mungkin di Asia.

Beberapa hari yang lalu Rahmad Darmawan yang akrab disapa RD kembali menjadi pusat perhatian. Sebuah surat pengunduran diri dialamatkan ke PSSI. Secara resmi RD mengundurkan diri sebagai pelatih timnas U23. Alasannya karena dia merasa gagal membawa Indonesia meraih medali emas di SEA Games kemarin. Alasan yang masuk akal, tapi tetap membuat banyak orang ragu.

RD tidak gagal seratus persen. Merski gagal meraih medali emas SEA Games, RD telah berhasil meletakkan pondasi kokoh di timnas U23. Belasan anak-anak muda disatukannya menjadi tim yang menjanjikan. Beberapa bakat-bakat luar biasa dimunculkannya ke permukaan. Tak bisa dibilang gagal 100% meski tetap saja kita harus takluk pada negeri seberang di partai puncak.

Tapi RD tetap memilih mundur. Banyak yang berspekulasi kalau lelaki berkulit gelap itu terlalu frustasi untuk mengurai benang kusut sepakbola negeri kita. Era NH sudah lewat, NH yang jadi public enemy sepakbola Indonesia sudah lengser, berganti Djohar Arifin Husain. Semua publik menaruh harapan besar pada lelaki? yang dulu juga pernah menjadi pemain sepakbola itu.

Bulan berganti bulan, tapi tanda-tanda perbaikan belum ada. Timnas senior gagal di penyisihan grup Pra Piala Dunia sekaligus kembali memupus harapan berlaga di kasta tertinggi sepakbola bumi ini. Timnas muda kita lumayan, di tangan RD harapan itu masih ada. Medali perak di tangan, rasa bangga membuncah.

Tapi, rasa bangga itu hanya sesaat. Kusut masai sepakbola kita terus berlanjut. Liga yang jadi pondasi dasar sebuah pembinaan sepakbola suatu negeri justru jadi cermin betapa kacaunya sepakbola kita. Dua liga sama-sama mengaku sebagai liga yang syah, LPI dan LSI.

LPI mengaku sebagai satu-satunya liga yang disetujui PSSI, sementara LSI mengaku masih berpegang pada kontrak dengan PSSI. Semua sama-sama menegangkan urat leher, sama-sama mengencangkan promosi dan sama-sama tak mau kalah dianggap mentereng.

Hebatnya lagi karena kedua liga yang berseberangan itu didukung oleh raksasa media tanah air. Raksasa media yang kalau dirunut ke belakang sama-sama ditunggangi partai politik. Ujung-ujungnya kita tahu arahnya ke mana, bukan ? Dari dulu sepakbola kita memang tidak pernah bisa bersih dari politik, tidak pernah bisa bersih dari kepentingan politikus.

Ketika RD mengundurkan diri, mungkin dia sedang berpikir jernih. Mungkin juga dia sedang frustasi. Keputusan PSSI untuk tidak memanggil pemain-pemain yang bermain di liga saingan LPI tentu memusingkan RD. Sebuah tim yang sudah dibangunnya sedemikian rupa akan kehilangan para pemain terbaiknya hanya karena perselisihan politis tingkat atas. RD sudah lama meminta agar para pemain jangan sampai diseret-seret dalam perseteruan politik para petinggi. Biarkan mereka bermain, biarkan mereka menjadi pemain seperti bagaimana seharusnya, tak usah dilibatkan dalam urusan politik.

RD mungkin frustasi dan kecewa, seperti juga kita para pecinta sepakbola Indonesia. Terlalu lama kita menunggu prestasi sepakbola kita membaik, tapi yang muncul selau berita tentang kisruh sepakbola kita. Liga yang kacau, pengurus yang kebingungan. Masalah klasik yang terus berulang. Sementara di luar sana berbagai negara tetangga sudah siap dengan programnya masing-masing. Siap menuai prestasi lebih tinggi. Sedangkan kita ?

Ketika laga el clasico Real Madrid vs Barcelona berlangsung, saya melempar sebuah kicauan : Kalau di Spanyol ada El Clasico, di Indonesia ada masalah klasik.

Mudah-mudahan kita tidak sedang melihat sepakbola negeri ini yang berjalan mundur menuju jurang.

December 15, 2011 in Opini, Sepakbola
Tips Mengikuti Lomba Blog 25

Tips Mengikuti Lomba Blog

Lomba Blog

Journal, foto by Google

Sebagai pembuka tulisan saya mau minta maaf dulu. Bukan maksud hati mau sok mengajar apalagi menyombongkan diri. Tips ini hanya sekadar membagi pengalaman dari yang sudah saya lalui dan pernah saya baca.

Salah satu hal yang paling menantang untuk para blogger adalah ketika sebuah lomba ngeblog digelar. Biasanya lomba menjadi alasan untuk para blogger agar bisa menghasilkan tulisan dengan kualitas yang di atas rata-rata. Apalagi jika lomba tersebut memberikan hadiah yang cukup menggiurkan.

Saya sendiri sudah berkali-kali ikut lomba ngeblog. Saking seringnya sampai tidak ingat lagi sudah berapa lomba yang saya ikuti. Alhamdulillah karena dari beberapa lomba tersebut saya juga sudah beberapa kali mendapatkan hadiah, dari buku, kaos hingga gadget. Meski sudah berkali-kali memenangkan hadiah, tapi jumlah lomba yang tidak berhasil saya menangkan jelas masih banyak.

Dari beberapa pengalaman ikut lomba dan beberapa di antaranya keluar sebagai salah satu pemenang itu saya akhirnya bisa membaca beberapa tips yang bila diterapkan akan menambah kemungkinan sebagai pemenang. Selain itu, saya juga beberapa kali ditunjuk sebagai juri untuk beberapa lomba blog sehingga setidaknya saya bisa membagikan beberapa tips dari perspektif sebagai juri.

Berikut beberapa tips mengikuti lomba blog yang mungkin bisa saya bagi untuk teman-teman yang berniat mengikuti lomba blog.

Pelajari siapa jurinya.

Biasanya sebuah lomba blog akan menuliskan siapa saja yang akan menjadi juri. Kalau memang ada maka artinya anda punya kesempatan untuk mempelajari kira-kira model tulisan apa yang disenangi sang juri. Coba cari tahu sebanyak mungkin soal jenis dan gaya tulisan yang disenangi para juri.

Bila mereka punya blog tentu mudah untuk mengetahuinya, begitupun bila mereka adalah penulis yang sudah terkenal, anda mungkin dengan gampang bisa mencari tulisannya ( usahakan lebih dari satu ) dan kemudian merumuskan gaya dan jenis tulisan seperti apa yang disenangi sang juri.

Ada juri yang menyenangi tulisan bertipe cerita dan ada juga yang menyenangi tulisan bertipe laporan atau opini yang mungkin agak lebih kaku. Bila juri lebih dari satu dan punya selera yang berbeda-beda maka usahakan membuat satu tulisan yang mungkin memikat mereka semua.

Masalah baru akan muncul bila lomba tersebut tidak menuliskan nama juri, itu berarti anda harus meraba-raba kira-kira model tulisan seperti apa yang disukai para juri.

Soal ini tentu menjadi perdebatan karena ada juga blogger yang tidak sudi mengubah gaya tulisannya hanya untuk mengejar kemenangan meski itu bisa saja berarti berseberangan dengan selera para juri. Saya pikir tidak ada masalah, apalagi bila anda memang sudah punya karakter yang kuat, maka silakan berjalan dengan karakter tulisan anda. Mungkin saja juri yang berbeda selera akan berubah pikiran.

Pelajari aspek penilaian

Yah, sebelum memulai menulis ada baiknya anda mencari tahu dulu kira-kira aspek apa saja yang akan dinilai oleh para juri. Biasanya sebuah lomba blog akan menilai 3 aspek paling mendasar seperti kesesuaian tema, orisinalitas dan gaya tulisan. Percuma bila misalnya anda punya gaya tulisan yang bagus tapi ternyata tidak orisinal dan tidak sesuai dengan tema. Percuma juga anda punya tulisan yang sesuai dengan tema, orisinil tapi gaya tulisannya kacau.

Jadi memang penting untuk mencari tahu aspek penilaian seperti apa yang akan dinilai oleh para juri.

Perhatikan waktu penjurian.

Perhatikan baik-baik waktu akhir pengumpulan tulisan dengan waktu pengumuman. Sebuah lomba yang bagus adalah lomba yang memberi kesempatan banyak kepada para juri untuk menilai sehingga hasil penilaian bisa lebih objektif. Waktu yang sempit apalagi dengan kondisi juri yang sibuk maka bisa saja mereka akan menilai dengan asal-asalan atau setidaknya menyampingkan banyak aspek objektifitas. Bagaimanapun juri juga manusia biasa bukan ?

Sebenarnya panitia yang baik adalah panitia yang menyicil form penilaian sehingga juri tidak perlu sibuk memeriksa tulisan para peserta yang menumpuk dengan waktu yang sempit. Tapi kadang-kadang panitia lupa memikirkan kemungkinan seperti itu atau juri sendiri yang menunda waktu penilaian.

Jadi ketika anda berniat mengikuti lomba blog yang jeda antara batas waktu pengumpulan dan pengumumannya singkat ( di bawah 3 hari ) maka mengumpulkan tulisan menjelang tenggat waktu adalah putusan yang mungkin kurang tepat karena artinya bisa saja tulisan anda dinilai juri ketika energinya sudah habis terkuras.

Perhatikan tampilan blog anda.

Bayangkan bila blog anda termasuk di antara puluhan atau bahkan mungkin ratusan blog yang harus diperiksa oleh juri sementara tampilan blog anda kurang rapih, kebanyakan iklan, warna mencolok dan membuat mata lelah atau susunan header, sidebar dan main content yang tidak beraturan. Saya yakin para juri akan malas duluan ketika membuka blog anda, tidak peduli konten anda bagus atau tidak.

Usahakan menggunakan tampilan blog yang rapih dan nyaman di mata. Ini mugkin faktor X dari sebuah penilaian, tapi bisa saja masuk akal dan malah menjadi faktor yang menjegal anda menjadi juara.

Stand out the crowd

Berpikirlah sekreatif mungkin. Pikirkan berbagai jenis angle atau sudut pandang cerita yang mungkin berbeda dengan puluhan atau bahkan ratusan peserta lainnya.

Kuncinya ada di maksimal 3 paragraf utama. Bila 3 paragraf utama anda sudah nendang maka yakinlah juri akan bertahan lama membaca hingga akhir, artinya anda sudah berhasil menarik perhatian juri sehingga kemungkinan untuk menang makin besar.

Ketika anda menulis dengan angle atau bahkan gaya tulisan yang sama dengan puluhan peserta lainnya maka anda potensial membuat juri dengan cepat melupakan anda. Kemenangan akan kabur dengan sendirinya.

Berdoalah, semoga keberuntungan mendekati anda.

Anda telah mengetahui jenis tulisan yang disukai para juri, telah membuat tulisan yang berbeda dan kira-kira sesuai dengan selera juri, sudah memperbaiki tampilan blog menjadi nyaman dipandang dan sudah mengirimkan tulisan jauh-jauh hari sebelum batas waktu, maka sekaranglah saatnya berdoa. Berdoa semoga keberuntungan mendekati anda.

Intinya, semua butuh keberuntungan. Kadangkala kita sudah merasa berbuat semaksimal mungkin tapi karena keberuntungan belum menghampiri, maka hasil dari perjuangan kita belum terasa maksimal. Usaha dan berdoa, kata orang bijak.

Teman-teman, sekali lagi apa yang saya tuliskan di atas sama sekali tidak bermaksud menggurui apalagi menyombongkan diri. Semua hanya karena ingin berbagi pengalaman sebagai peserta dan juri beberapa lomba blog. Mungkin tips saya tidak berguna, tapi mungkin? juga berguna bagi teman-teman yang ingin ikut lomba blog. Silakan teman-teman sendiri yang menentukan.

Tips ikut lomba blog di atas mungkin juga belum lengkap. Mungkin ada teman-teman yang ingin menambahkan ? silakan.

Untuk teman-teman yang ingin ikut lomba, selamat berjuang. Semoga anda menjadi pemenang. Jangan pernah takut gagal, lebih sering anda ikut mencoba maka kemampuan anda akan makin terasah. Ujung-ujungnya anda sendiri yang akan merasakan keuntungannya.

Selamat menulis !!

December 14, 2011 in Blogging, Tips
Jalan Kaki 13

Jalan Kaki

gambar diambil dari Google

Jalan kaki adalah olahraga paling praktis dan bisa dilakukan kapan saja. Sayangnya jaman sekarang orang sudah makin malas berjalan kaki

Kejadiannya di kota Sidoarjo, akhir bulan Oktober kemarin. Setelah menyelesaikan urusan di Surabaya saya berniat kembali ke GOR Deltras tempat peserta Blogger Nusantara menginap. Sayangnya saya salah turun dari bis karena tertipu melihat plang penunjuk GOR. Sudah salah turun, sok tau pula. Jadilah malam itu saya jalan kaki sekitar 2 KM ( merujuk pada plang penunjuk arah ) hingga sampai ke GOR Deltra Sidoarjo.

Itu bukan kali pertama saya berjalan kaki sejauh itu. Aslinya saya memang suka jalan kaki. Setiap mengunjungi kota lain biasanya saya menyempatkan diri untuk berjalan kaki menyusuri jalan-jalan di kota itu. Selain sederhana, dengan berjalan kaki saya juga merasa bisa melihat lebih banyak sisi lain dari kota yang saya datangi.

Tahun 2006 ketika mengunjungi Jakarta saya sempat merasakan sebuah pengalaman jalan kaki yang menurut saya cukup melelahkan. Dari pasar Baru saya dan teman-teman jalan kaki ke masjid Istiqlal, kemudian menyeberang ke lapangan Monas dan kemudian diteruskan hingga ke Jalan Jaksa. Di peta saya memperkirakan jaraknya sekitar 4 KM. Lumayan jauh dan lumayan membuat kaki pegal.

Kata Trinity yang backpacker itu, orang Indonesia termasuk pejalan kaki yang lambat. Jauh lebih lambat daripada mereka yang berasal dari Eropa, Amerika bahkan Asia Timur. Saya sendiri pernah membuktikannya ketika berada di Kuta, Bali. Waktu itu dengan isengnya saya coba jalan kaki mengikuti ritme sepasang bule di depan saya. Hasilnya ? sungguh saya ngos-ngosan mengejar mereka yang jalannya begitu cepat. Padahal di antara teman-teman saya termasuk orang yang kalau jalan lumayan cepat

Sayangnya kebiasaan berjalan kaki itu tidak sering saya lakukan di kota sendiri. Alasannya karena di kota ini saya punya kendaraan sendiri sehingga ke mana-mana saya memang lebih banyak menggunakan kendaraan. Lagipula infrastruktur untuk pejalan kaki di Makassar masih mengenaskan. Pejalan kaki selalu terpinggirkan, kalah oleh para pengendara kendaraan.

Tapi, bukankah itu hal yang umum di Indonesia ? Kota-kota besar di Indonesia rata-rata memang tidak memberikan tempat yang layak untuk para pejalan kaki. Trotoar banyak digunakan oleh mereka yang sebenarnya tidak berhak. Para pedagang kaki lima dan bahkan para pengendara motor seringkali merebut hak para pejalan kaki itu. Akibatnya orang jadi makin malas berjalan kaki selain tentu saja karena faktor lain seperti cuaca, alasan praktis atau ingin lebih cepat.

Jalan kaki sebenarnya sangat mengasyikkan. Kita bisa menikmati suasana sekitar, mengamati detail-detail dari sisi sebuah kota dan tentu saja karena alasan kesehatan. Menurut situs wikipedia, jalan kaki bisa menurunkan resiko penyakit jantung, nyeri punggung dan diabetes. Selain itu, dengan berjalan kaki sebenarnya kita punya banyak kesempatan untuk berinteraksi dengan orang lain, saling menyapa atau sekadar melemparkan senyum. Bukankah berinteraksi dengan sesama manusia itu adalah hal yang menyenangkan ?

Ah seandainya saja kota ini dan kota-kota lain di Indonesia memanjakan para pejalan kaki seperti kota-kota di negara maju maka tentu akan banyak warga yang lebih memilih berjalan kaki untuk jarak yang pendek yang masih bisa dijangkau, bukan malah mengutamakan menggunakan kendaraan bermotor.

Ah, saya rindu berjalan kaki.

December 12, 2011 in Opini
The Way Back ; Jalan Panjang Mencari Kebebasan 18

The Way Back ; Jalan Panjang Mencari Kebebasan

The Way Back (2010)

Manusia akan melakukan apa saja untuk memperoleh kebebasannya, bahkan sesuatu hal yang nampaknya mustahil

Gulag adalah sebuah kamp konsentrasi yang paling menakutkan di dunia. Terletak di Siberia yang dingin, kamp ini adalah sebuah neraka yang hampir selalu diselimuti salju. Di tempat itu pula seorang tahanan Uni Sovyet bernama Janusz ditempatkan. Kondisi kamp yang sungguh tidak manusiawi membuatnya berontak dan merencanakan pelarian. Bersama beberapa orang tawanan lainnya termasuk seorang warga Amerika Serikat bernama Mr. Smith, Janusz merencanakan pelarian.

Keluar dari penjara Gulag bukan hal yang terlalu sulit. Pelarian setelahnya yang menjadi masalah. Para buronan pencari kebebasan itu harus berhadapan dengan ganasnya alam Siberia serta para tentara merah yang mengejar mereka.

Berbekal kenekatan yang luar biasa Janusz dan 7 temannya yang lain akhirnya menembus segala rintangan termasuk badai salju dan suhu di bawah nol derajat celcius. Tujuan mereka adalah Selatan, menuju Mongolia.? Bukan persoalan gampang tentu saja, apalagi bersama mereka ikut seorang kriminal ( Valka ; diperankan oleh Collin Farrel ) yang sama-sama melarikan diri. Konflik internal mewarnai pelarian itu, bersanding dengan usaha mereka menaklukkan alam yang ganas dan kejaran tentara merah Uni Sovyet.

Janusz ; tokoh utama The Way Back

Di tengah jalan mereka bertemu dengan seorang wanita pelarian dari Polandia bernama Irene yang kemudian bergabung dengan mereka. Perjalanan ke Selatan kemudian dilanjutkan, termasuk beragam rintangan yang tak pernah berhenti. Mereka harus berdamai dengan suhu menggigit, persediaan makanan yang menipis dan air yang sulit. Belum termasuk kaki yang membengkak karena kelamaan berjalan kaki.

Puncak dari perjuangan itu adalah ketika harus melewati gurun Gobi yang gersang di Mongolia. Satu persatu dari mereka menyerah pada alam, tak kuat lagi melanjutkan pelarian mencari kebebasan. Semangat yang membara untuk mencari negeri yang bebas dari pengaruh komunisme Uni Sovyet perlahan pudar berganti keputusasaan. Alam yang berat, persediaan makanan yang hampir habis, air yang susah dicari dan kondisi fisik yang kelelahan adalah tantangan terberat untuk menyelesaikan misi mencari kebebasan. Sungguh bukan hal yang mudah.

Terinsipirasi oleh kisah nyata.

Film produksi tahun 2010 ini terinspirasi oleh sebuah buku berjudul “ A Long Walk “ karangan Slamowir Rawicz yang berisi cerita perjalanannya melarikan diri dari Siberia menuju India di tahun 1942. Buku itu sendiri mengundang kontroversi karena beberapa fakta terungkap bahwa Slamowir bukan melarikan diri karena sudah terlebih dahulu dilepaskan oleh tentara Uni Sovyet. Buku itu juga diprotes oleh Witold Glinski, salah seorang veteran perang dunia II asal Polandia yang mengatakan kalau cerita dalam buku itu adalah cerita tentang dirinya.

Apapun kontroversi dalam buku itu, sutradara Peter Weir berkeras mengangkat kisah ini ke layar kaca dan menambahkan kalimat : terinspirasi dari kisah nyata. Way Back memang menggambarkan kisah panjang para pelarian itu menempuh jarak 4000 mil dari Siberia menuju tanah kebebasan di India, melintasi gurun Gobi dan pegunungan Himalaya. Secara visual, film ini berhasil menampilkan gambar-gambar yang memukau.

Hanya saja film ini punya kekurangan dalam penggarapan naskahnya. Ada banyak celah cerita yang rasanya agak tidak masuk akal. Salah satunya adalah dengan bergabungnya Irene di tengah perjalanan. Tidak ada cerita mendalam tentang gadis itu sehingga kemudian kesannya menjadi mubazir dan dipaksakan. Toh tanpa kehadirannyapun cerita pelarian itu tetap akan bisa berjalan. Kehadiran Irene juga tidak menimbulkan konflik berarti bagi para buronan itu.

Tapi secara keseluruhan The Way Back adalah sebuah film yang cukup berkuailtas. Rotten Tomatoes memberinya skor 73% yang artinya cukup menghibur. Menyaksikan film ini ( dengan mengesampingkan beberapa celah logis ) akan membuat kita percaya bahwa dengan semangat maka sebesar apapun rintangan yang ada, niscaya semua bisa terlewati.

The Way Back bisa jadi pilihan melewatkan akhir pekan, utamanya bila anda sedang butuh suntikan semangat untuk melewati rintangan dalam hidup. Kebebasan memang kadang harus diraih dengan perjalanan panjang yang membutuhkan semangat dan tekad sekuat baja.

December 09, 2011 in Film
Komposisi Dalam Fotografi 9

Komposisi Dalam Fotografi

Fotografer

Komposisi itu sangat fleksibel, apa yang kita anggap bagus belum tentu dianggap bagus oleh orang lain ; Arbain Rambey

Salah satu acara televisi yang paling saya sukai adalah Klik Arbain Rambey, acara yang ditayangkan di staasiun televisi Kompas TV setiap Selasa jam 23:30 ini berisi banyak pelajaran penting soal fotografi yang dibawakan seorang fotografer senior Indonesia, Arbain Rambey.

Saya suka cara Arbain Rambey membagikan ilmunya. Dia bukan tipe orang yang menjelaskan dengan penuh penjelasan teknis yang njlimet. Semua diterangkannya dengan kalimat-kalimat sederhana dan bahkan sering menggunakan kalimat “terserah anda”. Bagi fotografer pemula atau yang baru mau mencemplungkan diri dalam dunia fotografi, segala macam keterangan berbau teknis dengan bahasa yang membingungkan bisa saja membuat mereka mundur teratur dan lantas menganggap fotografi itu ternyata susah. Tapi tidak dengan cara yang diberikan oleh Arbain Rambey.

Itulah salah satu alasan kenapa saya selalu berusaha bisa mengikuti acara Klik Arbain Rambey.

Episode Selasa (6/12) semalam membahas tentang komposisi dalam fotografi. Menurut Arbain Rambey, komposisi adalah hal utama yang dinilai dalam sebuah karya foto karena komposisilah yang pertamakali dilihat oleh mata.

Dalam fotografi ada 4 unsur yang menjadi bagian utama yaitu ;

  1. Teknis : menyangkut masalah jenis kamera yang digunakan, bukaan diafragma, kecepatan bukaan, pemilihan white balance dan sebagainya.
  2. Komposisi ; penempatan objek dalam foto yang menghasilkan sebuah foto yang tidak biasa.
  3. Posisi ; yaitu menyangkut posisi pengambilan foto apakah diambil dengan berdiri, jongkok, di atas pohon atau apa saja.
  4. Momen ; foto yang baik adalah foto yang diambil dalam momen yang tepat. Bila memotret pemandangan misalnya, tentu diperlukan momen yang tepat untuk merekam keindahan pemandangan yang kita inginkan.

Nah, dari keempat unsur itu, komposisi adalah unsur yang paling fleksibel dan nyaris tidak ada aturan yang mengikat karena semua kemudian kembali kepada rasa si pemotret.

Meski dianggap fleksibel, tapi ada aturan umum yang dipegang para fotografer yaitu rule of third atau aturan pembagian bidang menjadi 3 bagian. Biasanya yang dijadikan acuan adalah garis cakrawala, di mana kita menentukan sendiri di bagian mana garis cakrawala itu akan ditempatkan. Apakah di sepertiga bagian bawah atau di sepertiga bagian atas.

Ilustrasi rule of third

Aturan itu kemudian dibawa ke pemotretan lainnya meski bukan pemotretan landscape atau pemandangan. Misalnya bila memotret manusia, maka terlebih dahulu secara maya kita tentukan bagian mana yang akan mejadi cakrawala atau garis pembatas imajiner dari objek yang akan kita foto. Setelah itu baru kita tempatkan objek tersebut pada salah satu bagian dari rule of third entah yang berposisi portrait ataupun landscape.

Komposisi sendiri terbagi atas 3 bagian :

  1. Komposisi 1/3 ; adalah komposisi paling umum digunakan di mana rumus rule of third dipakai untuk menempatkan objek utama di sepertiga frame.
  2. Komposisi simetris ; adalah komposisi yang menempatkan objek utama di tengah frame. Biasanya digunakan untuk merekam gambar formal semisal foto KTP.
  3. Komposisi abstrak ; adalah komposisi yang tidak termasuk komposisi 1/3 atau komposisi simetris. Komposisi ini memang sangat relatif dan sama sekali tidak mengikuti teori komposisi.

Masih menurut Arbain Rambey, komposisi itu memang tidak bisa dipelajari dalam waktu singkat. Kemampuan menemukan dan menentukan komposisi yang baik didapat dari pengalaman. Semakin banyak kita memotret maka rasa untuk mendapatkan komposisi yang baik tentu akan makin terasah. Dalam belajar komposisi fotografer memang harus sering-sering mencoba komposisi baru yang mungkin tidak sesuai dengan teori-teori dasar fotografi. Sebagai tambahan, komposisi sangat relatif. Apa yang menurut kita sudah bagus belum tentu menurut orang lain bagus.

Di akhir pemaparannya, Arbain Rambey menegaskan kalau fotografi itu adalah sebuah proses belajar panjang. Bukan sebuah proses instant dengan kamera mahal.

Jadi buat anda yang hobi memotret, mari terus belajar, mari terus memotret sampai bisa menemukan hal-hal baru yang menarik dari fotografi. Selamat memotret.

Catatan : tulisan ini saya buat bukan dengan maksud mengajar atau menggurui. Semata-mata hanya karena ingin berbagi karena sesungguhnya sayapun masih dalam tahap belajar.

December 07, 2011 in Fotografi, Tips

Kampanye

Kalender Post

December 2011
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
262728293031  

Switch to our mobile site