Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Salah satu pilihan mie kering Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya...

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat,...

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Archive for November, 2011

Seribu Juta Topan Badai Penghapus Dahaga 9

Seribu Juta Topan Badai Penghapus Dahaga

The Adventures Of TinTin

Saya penggemar TinTin, bahkan sebelum disunat saya sudah jatuh cinta.

Ketika muncul berita bahwa Steven Spielberg akan memfilmkan kisah petualangan wartawan muda asal Belgia karangan Herge ini saya langsung penasaran. Seperti apakah bentuk TinTin di tangan sang maestro itu ? Belakangan saya mendengar kalau filmnya akan dibuat dalam bentuk animasi 3D, makin penasaranlah saya. Sebelumnya saya sudah menonton berbagai seri kartun TinTin, tapi tentu saja nyaris tidak ada yang berbeda dengan film kartun lainnya, kecuali bahwa itu adalah kisah tentang TinTin.

Untuk versi layar lebar sendiri, TinTin sudah difilmkan sebanyak 5 kali sebelum karya Spielberg muncul. Semuanya menggunakan manusia sebagai pemeran utama dan semuanya tidak bisa meledak di pasaran. Sebuah pekerjaan berat mengangkat kisah dari komik ke layar lebar dengan pemeran manusia. Tapi Spielberg memilih jalan lain, menggunakan animasi untuk memfilmkan sebuah komik. Dan itu jelas mengundang rasa penasaran.

Sampai akhirnya kesempatan itu datang juga.

The Adventures of TinTin besutan Steven Spielberg ini dibuka dengan adegan di pasar loak. Para penggemar TinTin pasti sudah paham kalau ini adalah bagian dari cerita ?Rahasia Kapal Unicorn? produksi tahun 1942. Ini adalah komik TinTin pertama yang dibuat berseri alias ceritanya bersambung ke komik berikutnya.

Spielberg memang hebat. Keseluruhan cerita yang ditampilkan bukanlah cerita asli dari Rahasia Kapal Unicorn, tapi merupakan penggabungan 3 cerita, Kepiting Bercapit Emas ( 1940 ), Rahasia Kapal Unicorn dan Harta Karun Rackham Merah ( 1943 ) serta sedikit unsur dari Hiu-Hiu Laut Merah ( 1956 ).

Buat saya ini adalah kejutan besar sekaligus sebuah langkah briliant. Keseluruhan cerita dibuat lebih segar meski garis besarnya masih tetap sama dengan yang ada di komik, yaitu tentang pemecahan rahasia yang terkandung dalam 3 kapal unicorn peninggalan Sir Francis Haddock, leluhur Kapten Haddock.

Saya membayangkan bila cerita yang diangkat ke layar lebar adalah cerita asli dari komik maka mungkin saja para penggemar berat TinTin hanya akan fokus pada visual tanpa memperhatikan jalan cerita, toh mereka sudah mengerti dengan detail setiap cerita di komik TinTin. Langkah yang diambil Spielberg membuat para penggemar berat TinTin mau tidak mau harus ikut fokus pada jalan cerita karena ada banyak unsur baru dalam cerita versi layar lebar ini.

Untuk visual sendiri, saya rasa kita sudah tidak bisa meragukan kapasitas seorang Spielberg yang kali ini berduet dengan Jesse Jackson. Penggambaran TinTin lewat animasi 3D berlangsung nyaris sempurna, apa yang saya bayangkan lewat komik TinTin selama ini hadir dalam sebuah tayangan yang jauh lebih bagus dari komik 2D yang sudah saya akrabi sejak masih berseragam putih merah.

The Adventures of TinTin produksi Steven Spielberg ini bisa jadi puncak dari semua visualisasi layar lebar dari komik TinTin. Kerja keras Spielberg sejauh ini cukup mampu memuaskan para TinTin Mania. Jalan cerita yang mengandung unsur kejutan serta visual yang memanjakan mata adalah dua aspek yang begitu dinikmati oleh para penggemar TinTin.

The Adventures Of TinTin versi Steven Spielberg ibarat wishkey untuk Kapten Haddock, pemuas dahaga. Bahkan mungkin bila meminjam umpatan khas Kapten Haddock, maka film ini adalah : Seribu juta topan badai pemuas dahaga. Yah, pemuas dahaga untuk para penggemar berat TinTin.

November 28, 2011 in Film
Lima TahunG Maki Sama-Sama 17

Lima TahunG Maki Sama-Sama

Kue sederhana untuk ulang tahun Paccarita

Lima tahun bukan waktu yang singkat. Juga bukan waktu yang cukup panjang. Tergantung kita melihat ke depan atau ke belakang.

Suatu hari di sebuah rapat menjelang acara Bloglicious bulan Mei 2011 kemarin saya tidak mampu menahan emosi. Sebuah ucapan bernada keras meluncur keluar dari mulut saya dan selepas itu saya meninggalkan rapat tanpa basa-basi. Suatu hari saya sempat menegur keras seorang teman di Anging Mammiri, akibatnya sang teman kemudian merasa terluka dan berniat mengundurkan diri. Keputusan itu membuat teman yang lain merasa sedih dan bahkan menangis.

Dua kisah di atas adalah sedikit dari beberapa kisah kelam dalam perjalanan usia komunitas kami, Anging Mammiri.org. Dalam rentang lima tahun dan khusus hampir dua tahun semenjak saya didaulat menjadi ketua, beragam warna sudah pernah hadir menghiasi perjalanan komunitas dari selatan pulau Sulawesi ini. Untungnya karena warna kelam seperti yang tertulis di atas hanyalah satu noktah kecil yang tenggelam oleh beragam warna cerah ceria.

Dalam rentang lima tahun ini secara tidak sadar kekeluargaan, kedekatan dan keakraban terbangun pelan-pelan. Dari yang awalnya malu-malu hingga kemudian menjadi sebuah perekat yang sangat kuat yang membuat sebagian dari kami begitu mencandui kata kopdar. Pun ketika emosi tersulut, keputusan untuk mundur keluar dalam bilangan hari keputusan itu berubah. Ikatan yang erat itu pula yang membuat salah seorang dari kami memutuskan untuk tetap berada di Makassar dan enggan kembali ke kota yang telah menjadi kota keduanya dalam beberapa tahun terakhir.

Begitulah, sebuah komunitas yang awalnya dicetuskan 7 blogger jebolan Blogfam itu akhirnya bergulir dan makin ramai dari hari ke hari. Dari jumlah anggota yang hanya puluhan hingga kemudian menjadi ratusan seperti sekarang ini. Anggota bisa datang silih berganti, tapi rasa kebersamaan dan kekeluargaan selalu ada di sana, di dalam setiap interaksi antar anggota.

25 november 2011, Anging Mammiri genap berusia 5 tahun. Sudah cukup tua bila kita melihat ke belakang, tapi masih sangat muda bila melihat ke depan. Jalan masih panjang, masih banyak hal yang harus dilakukan supaya komunitas ini tidak sekadar sebuah komunitas tempat berkumpul dan bersenang-senang. Masih banyak impian untuk menjadi sebuah wadah mempromosikan kota Makassar, menjadi alat untuk berbuat lebih banyak kepada kota di pesisir pantai ini.

Suasana guyub dan akrab di peringatan ultah AM

25 November 2011, belasan anggota Anging Mammiri beserta dua orang founder berkumpul di sebuah caf? berlantai dua yang selama setahun ini seakan menjadi tempat berkumpul resmi kami. Sebuah kue sederhana dipotong dan dibagikan, persis seperti keceriaan selama ini yang juga dipotong dan dibagikan ke semua anggota. Derai tawa memenuhi ruangan ketika kami semua berbagi cerita tentang awal pertemuan dan perkenalan hingga terajut rasa kebersamaan itu.

25 November 2011, Anging Mammiri sudah genap berusia 5 tahun. Jalan panjang masih membentang di depan. Secara pribadi saya selalu berharap komunitas ini akan selalu ada, selalu punya alasan untuk tetap ada dan tetap berkarya. Saya selalu berharap komunitas ini akan selalu ada menjadi sebuah rumah yang nyaman untuk para anggotanya, mereka yang selalu memiliki hasrat untuk berbagi dan bekerja bersama dalam sebuah komunitas.

25 November 2011 dan tidak terasa lima tahunG maki sama-sama.

November 26, 2011 in angingmammiri, Blogging
Haruskah Blogger Menulis ? 30

Haruskah Blogger Menulis ?

Blogging

Ketika seorang blogger diundang dalam kapasitasnya sebagai seorang blogger pada sebuah konferensi sebagai blogger, haruskah dia menulis tentang acara itu ?

Saya terlambat menyadarinya. Ternyata kemarin sesiangan ada perdebatan yang hangat di twitter. Pemicunya adalah postingan dari Risa Amrikasari, seorang blogger dan juga praktisi HAKI. Mbak Risa ( selanjutnya saya sebut Risa saja ) berceloteh pasca penyelenggaraan konferensi Asean Blogger Community di Bali beberapa waktu yang lalu.

Risa menyoroti kurangnya tulisan dari para blogger peserta konferensi tentang acara yang bertajuk konferensi itu. Saya lupa kalimat pastinya, tapi dalam postingannya di blog Perempuan Indonesia dia bercerita bagaimana kewajiban seorang blogger yang menjadi undangan dalam sebuah event. Menurut Risa, blogger yang diundang adalah blogger yang dianggap memiliki kapasitas sebagai seorang blogger, seorang yang memiliki blog pribadi dan rajin mengisinya. Karena kapasitasnya itulah maka seharusnya para blogger itu juga punya ?kewajiban? untuk membuat reportase tentang acara yang diikutinya. Apalagi acara tersebut bertema konferensi, sebuah hal yang serius dan membawa nama Indonesia.

Setidaknya itu yang saya tangkap dari twit maupun penjelasan Risa di blognya.

Dalam satu sisi saya merasa setuju dengan penjelasan itu. ?Sebuah pertemuan, apalagi sebuah konferensi tentu dilakukan karena adanya satu kesamaan, entah profesi maupun visi. Konferensi di Bali kemarin juga digelar untuk para blogger, dan karenanya yang diundang adalah para blogger. Kondisinya mungkin sama bila para dokter se ASEAN mengadakan konferensi, yang diiundang pastilah hanya para dokter. Mereka yang berprofesi dokter pasti akan mengimplementasikan hasil konferensi dalam profesinya. Nah hal yang sama juga berlaku dalam dunia blogging. Blogger yang diundang dalam kapasitas sebagai blogger dalam sebuah acara resmi bertajuk konferensi tentu punya kewajiban moral untuk menulis tentang acara itu, toh mereka adalah blogger yang memang seharusnya ngeblog, nulis di blog pribadi.

Hanya saja masalahnya memang tidak segampang itu. Blogger jaman sekarang memang sedikit bergeser dibandingkan masa-masa awal ketika blog masih booming. Para blogger senior saat ini banyak yang lebih aktif di twitter daripada blog pribadi sehingga untuk langsung menulis reportase sebuah acara kadang jadi pilihan kesekian, toh reportasenya sudah beredar lewat twitter. Bandingkan dengan keadaan beberapa tahun lalu ketika sebuah kopdar saja bisa ditulis panjang lebar di blog pribadi.

Masalah menjadi tambah rumit ketika ada yang merasa dipaksa untuk menulis sebagai kompensasi atas undangan dalam acara tersebut. Bahkan ada yang bilang kalau blogger tidak bisa dibeli. Menurut saya itu reaksi yang berlebihan. Saya mencoba mencermati twit Risa berkali-kali dan merasa tidak menemukan sebuah paksaan, hanya sebuah pertanyaan. Tapi mungkin saya salah, toh saya bukan siapa-siapa.

Saya terpaksa bicara tentang diri saya. Sampai sekarang saya masih menganggap diri saya sebagai seorang passionate blogger, sehingga kejadian apapun sedapat mungkin saya tuliskan. Selepas hadir di acara Kopdar Blogger Nusantara saya sampai menuliskan 3 tulisan berseri tentang acara tersebut. Sebenarnya bukan karena merasa wajib atau merasa karena ada tanggung jawab, sepenuhnya hanya karena merasa perlu saya tuliskan meski sebagian besarnya hanya tulisan tentang kejadian di balik layar atau kesan personal.

Kasus berbeda terjadi ketika kami blogger Makassar diundang mengunjungi taman nasional Taka Bonerate. Dari awal kami memang sudah diberitahu bahwa undangan ini datang karena kapasitas kami sebagai blogger yang diharapkan bisa merasakan langsung kawasan taman nasional tersebut sekaligus bercerita tentang Taka Bonerate kepada dunia. Sebenarnya tidak ada poin yang menjelaskan keharusan kami menulis tentang perjalanan itu, tapi sekembalinya dari sana saya merasa punya kewajiban untuk menulis tentang tempat indah itu sebagai balasan ( kalau bisa dibilang begitu ) atas semua fasilitas yang kami dapatkan meski sederhana. Alasan kewajiban mungkin cuma sedikit, selebihnya adalah karena alasan pribadi tentu saja, bagaimana saya sangat menikmati perjalanan tersebut sehingga kemudian tergerak untuk menulisnya dalam 3 seri postingan.

Tapi sekali lagi kasus ini tentu berbeda dengan kasus yang saya tuliskan di atas karena dari awal memang ada ekspektasi dari pihak pengundang agar kami sebagai blogger bisa bercerita banyak soal Taman Nasional Taka Bonerate, meski tidak ada perjanjian kalau kami harus menulisnya. Tanggung jawab morallah yang kemudian membuat saya dan beberapa teman kemudian menulis tentang perjalanan tersebut.

Sebagai orang yang tidak ikut dalam acara Konferensi Asean Blogger Community di Bali kemarin, saya tentu tidak punya hak untuk ikut bicara banyak. Saya berhenti pada perenungan tentang wajib tidaknya blogger menulis tentang sebuah ajang ketika dia datang sebagai undangan yang mendapatkan fasilitas full. Soal diskusi ( atau mungkin lebih tepat disebut twitwar ) yang kemudian terjadi karena twit dari Risa tersebut saya tidak berani menanggapi lebih lanjut.

Hanya saja ada satu twit dari Herman Saksono yang menurut saya bisa jadi kunci dari pertanyaan saya soal wajib tidaknya blogger undangan menulis tentang event tersebut. Bunyinya :

Tanggung jawab blogger adalah menulis yang menurutnya penting dan benar. Kegiatan akan naik ke blog jika memang layak ditulis.

Sebuah kata kunci yang mungkin bisa menjelaskan pertanyaan Risa tentang kenapa sedikit sekali blogger yang menulis tentang acara ABC kemarin. Jadi ? Masalah sudah selesai bukan ? Pertanyaan sudah terjawab.

November 25, 2011 in Blogging, Opini
Derita Lelaki Gondrong 29

Derita Lelaki Gondrong

Musisi Rock Berambut Gondrong

Cerita ini masih ada hubungannya dengan perjalanan ke Taka Bonerate

Salah satu peserta Trip AM ke Taka Bonerate kemarin adalah seorang kawan baik yang lebih sering menggunakan nickname Lelaki Bugis. Lelaki gempal berkacamata ini sudah lama kami kenal meski memang tidak terlalu aktif di komunitas Anging Mammiri. Sehari-harinya dia lebih sering aktif di Kampung Buku atau penerbit Ininnawa. Keikutsertaannya ke Taka Boneratepun sebenarnya tidak disengaja. Hanya karena kebetulan dia menyimak timeline twitter yang berisi kicauan kami tentang trip itu sampai akhirnya dia ikut nimbrung dan ingin ikut serta. Jadilah kemudian dia ikut dalam rombongan.

Si Lelaki Bugis ini punya ciri khas selain tubuhnya yang gempal yaitu rambut gondrongnya yang ikal dan cenderung kerinting. Dan rambut gondrongnya itulah yang membuat beberapa cerita lucu mewarnai perjalanan kami ke Taka Bonerate.

Rambut gondrong bagi lelaki biasanya diidentikkan dengan macho dan sangar. Lihat saja para musisi rock jaman dulu, bagaimana mereka memamerkan ?kelelakiannya? dengan rambut gondrong sebahu plus beberapa tatto di sekujur tubuh. Bagi orang tua, anak muda dengan rambut gondrong pasti langsung dianggap sebagai preman atau anak yang tidak benar. Ada juga yang mengidentikkan rambut gondrong sebagai ciri khas seniman.

Karena dianggap macho dan sangar itu hingga kemudian muncul banyak pantangan bagi para lelaki gondrong. Pantangan yang kadang tidak masuk akal, tapi tercipta karena anggapan macho dan sangar yang menyertai geraian rambut sebahu itu.

Contoh pantangan itu adalah : gondrong tidak boleh naik becak karena akan dianggap cengeng. Adalah lebih terhormat bila gondrong jalan kaki. Gondrong tidak boleh minum susu, karena minum susu adalah kebiasaan anak kecil dan kaum perempuan saja. Gondrong minum susu hanya akan membuat kredibiltasnya jadi turun. Gondrong tidak boleh pake payung, terlalu feminin dan kebanci-bancian. Gondrong lebih terhormat bila membiarkan tubuhnya basah kuyup terkena air hujan daripada harus menggunakan payung. Apalagi payung warna-warni atau warna pink. Habis sudah kesan sangarnya kalau sampai itu terjadi.

Banyak lagi pantangan yang kadang disematkan kepada orang-orang gondrong itu, sehingga kadang-kadang terasa kalau mereka itu bukan manusia karena sudah kehilangan banyak hak sebagai manusia biasa.

The Gondrongs

Derita sebagai orang gondrong jugalah yang membayangi si Lelaki Bugis selama kurun waktu perjalanan ke Taka Bonerate. Derita pertama adalah ketika kami bersiap melintasi lautan dengan kapal kayu dalam rentang waktu 7 jam. Sebelum naik ke kapal, Daeng Mappe ( salah seorang peserta trip ) membagikan Antimo sebagai bahan untuk penghalang mabuk laut. Semua peserta menelan pil anti mabuk itu, termasuk si Lelaki Bugis.

Ketika peserta yang lain menenggak pil kecil itu, tidak ada yang berkomentar. Tapi lain halnya ketika si Lelaki Bugis yang melakukannya. Saya secara refleks langsung bekomentar : gondrong koq minum antimo ? Dan peserta yang lain sontak tertawa geli. Begitulah, antimo dianggap sebagai salah satu barang haram untuk disentuh para lelaki gondrong karena potensial menurunkan kadar macho dan sangar mereka.

Siksaan untuk Lelaki Bugis menyangkut kredibilitasnya sebagai lelaki gondrong terus berlanjut. Setibanya di pulau Tinabo ketika kami semua mencicipi air laut yang bening itu, si Lelaki Bugis juga menceburkan diri. Parahnya, ternyata dia tidak bisa berenang dan jadilah dia menikmati laut dengan safety jacket melekat di tubuh. Awalnya dia masih sangat ketakutan. Tidak berani berenang jauh dari kayu di dermaga dan memilih berpegangan erat di kayu dermaga. ?Belakangan dia mulai berani berenang agak jauh, masih dengan life jacket di tubuh dan sekarang ditambah dengan memegang erat tambang yang terikat ke dermaga.

” Woii..gondrong koq pake pelampung ? Pake pegang-pegang tali pula..”, itu gurauan yang saya lontarkan. Semua tertawa riuh. Dan si Lelaki Bugis hanya menjawab, ” daripada saya mati tenggelam..? ”

Siksaan belum berakhir. Dalam perjalanan pulang kami menumpang kapal kecil dan mendapati malam di lautan lepas. Suasana yang temaram dan hanya dihiasi jutaan bintang di angkasa potensial membuat pikiran melayang ke sana ke mari. Orang sekarang menyebutnya galau. Dalam perjalanan, ada waktu di mana semua jadi diam dan hanya menatap bintang. Termasuk si Lelaki Bugis.

Saya kembali menyelutuk dengan isengnya, “ gondrong koq galau ? “ Ah sekali lagi si Lelaki Bugis harus menerima siksaan karena rambutnya yang gondrong itu. Sungguh kasihan.

Begitulah, kadang-kadang karena sebuah atribut yang melekat di tubuh kita sampai kita dianggap bukan manusia biasa lagi. Dianggap sudah tidak membutuhkan beberapa hal yang seharusnya juga menjadi hak dasar kita sebagai manusia. Gondrong, meski sering dianggap sebagai perlambang kemachoan dan kesangaran sesungguhnya tetaplah manusia biasa. Gondrong juga punya hak untuk memakai payung, naik becak, minum susu, pake life jacket dan menggalau.

Bagaimanapun gondrong juga manusia. Bukan begitu Lelaki Bugis ?

November 23, 2011 in Opini
Taka Bonerate Bag.3 ; Potensi Yang Terpinggirkan 15

Taka Bonerate Bag.3 ; Potensi Yang Terpinggirkan

Pak Jamil dengan kamera bawah airnya

Indonesia kaya akan potensi alam, tapi masalahnya selalu sama. Selalu saja potensi itu terpinggirkan.

Namanya Nadzrun Jamil, tapi lebih akrab disapa pak Jamil atau Aa Jamil. Lelaki kelahiran Padang-Sumatera Barat ini sekarang menjabat sebagai Kepala Seksi Pengelolaan Taman Nasional Taka Bonerate Wilayah I. ??Perjalanan hidupnya agak unik, sebelum menjejakkan kaki di tanah Selayar dia lebih dulu mengabdi di Taman Nasional Meru Wediri kabupaten Jember. Selayar dan Taka Bonerate adalah persentuhan pertamanya dengan laut. Tak pernah terpikir sebelumnya dia akan jatuh cinta pada laut.

Jalan hidup manusia memang tidak dapat ditebak. Ketika tiba di Selayar tahun 2007, dia mulai jatuh cinta pada laut dan tentu saja pada Taman Nasional Taka Bonerate. Rasa cinta itu juga yang membuatnya belajar menyelam dan mengambil sertifikasi PADI. Tak heran bila dalam waktu singkat dia sudah syah menjadi instruktur. Lebih cepat dari teman-teman seangkatannya.

Lelaki gempal itu sangat ramah ketika pertama kali kami bertemu dengannya di Tinabo Dive Center di kota Benteng, Selayar. TDC adalah sebuah usaha yang dirintis beberapa orang dan diserahkan kepada pak Jamil untuk dikelola. Malam itu pak Jamil antusias menunjukkan kepada kami foto-foto dan rekaman video bawah laut. Selain senang menyelam, beliau juga hobi mendokumentasikan keindahan alam bawah laut dengan kamera Canon 7D lengkap dengan segala perangkatnya. Katanya, total investasinya mencapai harga 65 juta rupiah.

” 65 juta cuma buat dicebur-ceburin”, katanya sambil tertawa renyah.

Ketika menjejakkan kaki di pulau Tinabo, beliau juga menyambut kami dengan ramah. Saat itu beliau sedang bersiap-siap untuk mengantar beberapa tamu dari BRI Selayar untuk melakukan intro dive. Beliau juga menawari kami untuk ikut intro dive, sayangnya karena kami tidak mempersiapkan dana sehingga hanya Syamnsoe seorang yang menangkap tawaran itu. Untuk sekali dive intro dengan durasi sekitar 1 jam biaya yang harus dibayarkan sekitar Rp. 400.000.

Selepas berenang dan snorkling, di bawah sebuah bangunan sederhana kami mulai ngobrol banyak tentang pulau Tinabo dan Takabonerate. Matahari yang cerah serta angin laut yang sejuk menjadi pelengkap obrolan kami siang itu.

Taka Bonerate dan illegal fishing

Taka Bonerate adalah kawasan atoll terbesar ketiga di dunia, ditunjuk menjadi kawasan taman nasional sejak tahun 1998 dan resmi ditetapkan menjadi kawasan taman nasional pada tahun 2001. Taka Bonerate merupakan gugusan pulau berjumlah 21 pulau dengan luas total 530.000 Ha., ?220.000 Ha di antaranya adalah gugusan karang. Dari 21 pulau yang menjadi bagian dari Taka Bonerate, hanya 8 di antaranya yang berpenghuni. Selebihnya adalah pulau tak berpenghuni .

Jernihnya..

Kenapa sampai Taka Bonerate ditetapkan jadi taman nasional ? Tentu karena ada sesuatu yang spesial di sana. Menurut penuturan pak Jamil, selain sebagai atoll terbesar ketiga di dunia, Taka Bonerate juga punya banyak spot diving yang unik. Salah satunya adalah kawasan Tinanja yang mempunyai kawasan soft coral yang flat dan berwarna-warni. Karakteristiknya yang unik itulah yang menjadikan kawasan Taka Bonerate ditetapkan sebagai taman nasional.

Masalah utama yang dihadapi taman nasional Taka Bonerate adalah soal illegal fishing, atau banyaknya nelayan tradisional yang menangkap ikan dengan cara-cara yang haram seperti melakukan pengeboman atau bius. Cara-cara ini jelas merusak ekosistem karena membuat karang-karang yang menjadi rumah para ikan-ikan itu menjadi hancur. Secara tidak langsung juga menurunkan hasil produksi laut di sekitar Taka Bonerate.

Untuk menekan jumlah illegal fishing itu, menurut pak Jamil tidak cukup hanya dengan menambah personil. Saat ini jumlah personil yang menjaga kawasan Taka Bonerate memang masih sangat sedikit, total ada 16 orang untuk tiap-tiap wilayah yang terbagi atas 2 wilayah itu. Sementara untuk Jagawana yang dipersenjatai hanya ada 6 orang. Sangat minim bila dibandingkan dengan luas kawasan Taka Bonerate. Karena itulah, menurut pak Jamil hal terpenting yang harus dilakukan adalah penyadaran. Penyadaran kepada masyarakat untuk meninggalkan praktek illegal fishing.

Nelayan setempat yang perahunya kami sewa

Saat ini pihak taman nasional Taka Bonerate berusaha menggandeng masyarakat sekitar untuk ikut merasa memiliki taman nasional Taka Bonerate. Salah satunya adalah melibatkan mereka dalam segala usaha mengembangkan kawasan wisata Taka Bonerate. Melibatkan masyarakat untuk ikut menyediakan kapal sampai menjadi tenaga penyedia makanan atau melayani turis. Cara-cara ini menurut pak Jamil secara tidak langsung membuat masyarakan merasa dilibatkan dan sedikit demi sedikit rasa memiliki akan tumbuh sehingga diharapkan bisa menekan illegal fishing.

Cara itu memang tidak gampang. Setidaknya butuh waktu panjang sebelum hasilnya benar-benar bisa dirasakan, apalagi sampai saat ini koordinasi dengan pemerintah daerah Selayar masih belum beres sepenuhnya. Pemerintah kabupaten kepulauan Selayar masih terkesan lambat untuk ikut mempromosikan kawasan Taka Bonerate. Infrastruktur masih jadi masalah terbesar bila kita berbicara tentang pariwisata. Sampai saat ini belum ada pelayaran reguler yang menghubungkan antara pulau Selayar dengan pulau-pulau di kawasan Taka Bonerate sehingga tentu saja para calon turis harus merogoh koc ek yang dalam bila memang ingin berkunjung ke sana.

Hasilnya tentu akan berbeda bila pemerintah daerah mau berinvestasi dengan mengadakan jalur pelayaran reguler menuju pulau-pulau di Taka Bonerate, khususnya pulau Tinabo yang jadi pusat pemanfaatan wisata. Setidaknya ini yang menjadi masalah besar, program antara pengelola kawasan Taka Bonerate dengan pemerintah daerah masih belum sepenuhnya bisa berjalan beriringan. Tidak heran bila Taka Bonerate kalah populer bila dibandingkan dengan Wakatobi misalnya, padahal kedua kawasan ini sama-sama ditetapkan sebagai taman nasional dalam waktu yang berdekatan.

Begitulah, negeri kita memang kaya akan potensi tapi tidak semua potensi itu bisa dikembangkan dengan baik terlebih bila bicara tentang potensi wisata.Taka Bonerate adalah bukti miskinnya ide pemerintah daerah dalam mempromosikan kawasan wisatanya. Seandainya mereka serius dan mau mencari ide-ide cemerlang, bukan tidak mungkin kawasan Taka Bonerate akan sangat terkenal mengingat potensi alamnya yang luar biasa. Dan itu jelas akan menjadi sebuah alasan untuk menurunkan jumlah ilegal fishing sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga sekitar. Sederhana tapi saling berkaitan.

Saya hanya berharap suatu hari nanti akses menuju Tinabo di kawasan Taka Bonerate akan lebih mudah daripada sekarang. Saya berharap akan lebih banyak orang yang bisa menikmati sepotong surga di Selatan Sulawesi itu. Karena Tinabo dan Taka Bonerate memang layak untuk dinikmati.

November 22, 2011 in Wisata
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi 20

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate

Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1

Malam kian pekat, sudah lebih dari tujuh jam lamanya kami berada di atas kapal kayu Cahaya Illahi yang mengantarkan kami ke pulau Jinato. Jinato yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate memang menjadi pusat penyelenggaraan Takabonerate Island Expedition, jadi semua rombongan memang diarahkan ke sana. Pulau ini lumayan besar dengan penduduk sekitar 100an KK. Sebagian besar penduduknya berbahasa bugis karena memang asalnya kebanyakan dari kabupaten Sinjai. Dari segi ekonomi, pulau ini terlihat maju. Terbukti dari deretan rumah batu dengan arsitektur yang lumayan modern, ditambah beberapa antena parabola di halaman rumah warga.

Malam itu air laut sedang surut sehingga kapal besar Cahaya Illahi tidak bisa merapat. Kami terdampar cukup jauh dari daratan, penumpangpun akhirnya harus ditransfer ke perahu-perahu kecil untuk bisa mencapai daratan. Proses untuk naik ke kapal kecil dan mencapai daratan tidak mudah. Malam yang gelap membuat proses perpindahan jadi agak sulit dan ketika berhasil naik ke perahu kecil itu, suasana menegangkan kembali terasa. Sang nakhoda hanya mengandalkan perasaan dan sebuah senter yang lebih sering padam.

Akhirnya setelah sempat berdebar-debar, kami tiba juga di dermaga pulau Jinato dan disambut puluhan anak SD berseragam pramuka. Seumur hidup, baru kali ini saya disambut anak-anak SD, rasanya seperti seorang pejabat penting. Meski begitu saya kasihan juga pada anak-anak itu, sudah jauh malam tapi mereka tetap harus terjaga menyambut kami, lengkap dengan seragam pula.

Anak-anak SD yang menyambut kami

Di rumah kepala desa, kami yang termasuk dalam rombongan pejabat kabupaten kepulauan Selayar juga dijamu layaknya tamu penting. Anak-anak SD sudah siap dengan karton ukuran A4 yang berisikan nama dinas. Merekalah para pemandu yang mengantar kami ke rumah penduduk tempat kami diinapkan. Di karton yang dipegang anak-anak SD itu ada tulisan Tim Penggerak PKK, Dinas Pariwisata, Dinas Kesehatan, Bappeda, dan lain-lain. Bangga juga ketika melihat sebuah karton bertuliskan BLOGGER bersanding dengan nama-nama dinas kepemerintahan itu, meski kami yakin mereka tidak paham apa itu blogger.

Setelah berbasa-basi sejenak, kami kemudian diantar ke rumah pak Asfar, lelaki muda dengan dua anak yang masih kecil-kecil. Malam itu kami akan beristirahat di rumah beliau. Pagi harinya kami berencana menyeberang ke pulau Tinabo, pulau yang jadi pusat pemberdayaan wisata diTaman Nasional Takabonerate. Seperti biasa, tidur jadi pilihan terakhir. Kami masih sempat duduk di teras rumah batu itu dan ngobrol sampai menjelang subuh.

Pagi harinya tanpa sempat mandi meski sempat sarapan di rumah pak Asfar, kami langsung menuju pulau Tinabo dengan menumpang sebuah kapal yang lumayan besar. Perjalanan dari Jinato ke Tinabo ditempuh dalam waktu 2 jam, berarti ini kali ketiga kami melintasi lautan untuk waktu yang cukup panjang. Sampai hari kedua sudah 3 jenis kapal yang kami gunakan. Kapal feri, perahu kayu besar dan yang ini perahu kayu sedang. Itu tentu saja belum termasuk dua perahu kecil yang kami pakai ketika menyeberang ke Gusung dan naik ke daratan dari kapal motor Cahaya Illahi.

Suasana di atas kapal menuju Tinabo

Sekali lagi kami beruntung karena di bulan November ini cuaca masih sangat bersahabat. Langit cerah sedikit berawan, dan ombak tenang membuai. Perjalanan betul-betul melenakan. Hamparan laut berwarna biru tua berpadu dengan biru langit dan awan yang putih. Sesekali kami mendapati rombongan ikan terbang yang melintas menjauhi kapal. Cahaya matahari membias dan kadang terpantul sempurna di atas laut. Meski kadang merasa kepanasan, tapi semilir angin laut terasa sangat menyegarkan. Sungguh sebuah pemandangan yang tak membosankan. Laut di sekitar kamipun tidak sepenuhnya berwarna biru tua, kadang berwarna hijau tosca. Kadang kami bisa melihat langsung dasar laut yang dipenuhi soft coral , karang dan ikan-ikan hias. Rasanya sudah tidak sabar untuk menceburkan diri.

Akhirnya, setelah 2,5 jam kemudian sebuah pulau indah tampak di depan mata. Dari kejauhan pulau dengan pasir putih bersih itu sudah terlihat menggoda. Itulah pulau Tinabo yang jadi pulau utama untuk kawasan wisata di Taman Nasional Takabonerate.

Pulau Tinabo

Kami disambut beberapa orang staff Taman Nasional Takabonerate yang memang sudah menantikan kami. Sambutan ramah mereka bersanding sempurna dengan keindahan pulau kecil di selat Flores itu. Kami jadi heboh sendiri ketika melihat ribuan ikan yang bergerombol tidak jauh dari dermaga. Pun ketika kami melihat sendiri betapa jernih air lautnya sehingga pasir putih dan karangnya terlihat sempurna.

Karena sudah tidak sabar untuk mencicipi laut Tinabo, kami jadi tidak membuang-buang waktu. Hanya menaruh tas, menikmati suguhan teh panas dan langsung mencebur. Airnya sungguh jernih, dan pasirnya halus serupa bedak. Bila berdiri di garis pantai maka akan terlihat jelas perpaduan warna yang memikat. Pasir putih kekuningan, air laut jernih berwarna hijau tosca, air laut berwarna biru tua, langit biru cerah dan awan putih bersih. Sungguh perpaduan yang menenangkan.

Alam bawah laut pulau Tinabo

Kami juga beruntung karena mendapat pinjaman kamera bawah laut sehingga kami bisa mengabadikan pemandangan di bawah sana yang sungguh memikat. Termasuk tentu saja mengabadikan gaya dan ekspresi ketika berada di bawah laut. Sebenarnya kami mendapat tawaran untuk mencoba menyelam menggunakan alat, tapi sayang karena kami tidak membawa persiapan dana sehingga tawaran seharga Rp. 400.000,- itu tidak kami sambut. Hanya Daeng Syamsoe seorang yang kemudian mencoba untuk diving.

Selama tiga jam berada di laut pulau Tinabo, kami tidak? bosan-bosannya mencoba mengintip keindahan bawah lautnya meski hanya dengan berbekal alat snorkle. Saya bisa membayangkan, dengan alat sederhana itu saja kami sudah terpukau sedemikian rupa, bagaimana kalau misalnya kami benar-benar bisa mengintip sampai jauh ke dalam sana ya ?

Menurut pak Nadzrun Jamil yang juga adalah kepala seksi pengelolaan Taman Nasional Takabonerate wilayah 1 itu, Tinabo memang jadi pusat untuk kegiatan wisata di Takabonerate. Di antara 21 pulau yang termasuk dalam gugusan Taman Wisata Takabonerate, Tinabolah yang dikelola secara serius untuk menjadi tujuan wisata. Di sana ada beberapa kamar untuk para pengunjung, termasuk tentu saja paket diving.

Tinabo oh Tinabo

Sayangnya, infrastruktur memang kurang mendukung. Untuk mencapai pulau Tinabo dari Selayar harus menyewa kapal karena tidak ada perjalanan reguler ke sana. Biaya sewa kapal milik nelayan bisa mencapai angka Rp. 2 juta sekali jalan. Biaya paket wisata di Tinabo di luar sewa kapal itu sendiri seharga Rp. 1 juta rupiah per hari per orang, termasuk biaya penginapan, makan dan paket diving. Sedangkan bila hanya berkunjung dan snorkling, biaya yang dipasang adalah sebesar Rp. 2.500 untuk retribusi dan Rp. 40.000 untuk snorkling.

Ketiadaan infrastruktur ini memang jadi penghambat berkembangnya wisata bahari di Takabonerate. Padahal menurut pak Jamil, kawasan Takabonerate yang termasuk atol terbesar ketiga di dunia ini punya banyak potensi yang unik. Gugusan karangnya berbeda dengan Bunaken misalnya. Bila di Bunaken gugusan karangnya membentuk dinding, maka di Takabonerate khususnya di daerah Tinanja karangnya berbentuk padang dengan soft coral yang berwarna-warni.

Sampai saat ini koordinasi memang belum berjalan dengan baik antara pihak pengelola taman nasional yang berada langsung di bawah departemen kehutanan dengan pihak pemerintah daerah kabupaten kepulauan Selayar. Koordinasi yang masih berantakan inilah yang membuat kawasan taman nasional yang ditetapkan sejak tahun 2001 ini kalah pamor dibanding kawasan yang sama di Wakatobi. Padahal menurut pak Jamil, semua punya keunikan yang berbeda dan sama menariknya.

Biaya yang mahal untuk mengunjungi Tinabo jelas membuat orang berpikir dua kali. Dengan biaya yang lebih murah orang sudah bisa berada di Bunaken, atau malah di Wakatobi. Sayang sekali, pemerintah Kabupaten Kepulauan Selayar masih terlihat kurang greget dalam mengelola potensi wisatanya. Padahal seperti yang kami lihat sendiri, Tinabo memang seperti sepotong surga yang diturunkan ke bumi. Alamnya indah, di daratan maupun di bawah laut.

Sekali lagi, Tinabo jadi bukti bagaimana pemerintah kita selalu kesulitan mengembangkan dan mempromosikan potensinya. Tidak heran kita kalah dari negara tetangga dalam urusan wisata. Mereka lebih serius mengelola potensi wisata mereka sehingga menarik perhatian para turis dalam maupun luar negeri.

Sore menjelang pukul 4 kami meninggalkan pulau Tinabo menuju daratan pulau Selayar. Rasanya berat harus meninggalkan pulau indah itu. Rasanya belum puas menikmati sepotong surga di kaki pulau Sulawesi itu, tapi apa boleh buat. Kami harus kembali. Di kapal menuju Selayar saya merasa miris, miris membayangkan betapa sebuah potensi yang sangat besar itu tidak dikelola secara profesional. Sungguh sayang.

foto-foto lain bisa dilihat di album Facebook saya, atau di album Flickr

November 21, 2011 in Jalan-Jalan, Wisata
Takabonerate Bag.1 ; Jalan Panjang Menuju Surga 21

Takabonerate Bag.1 ; Jalan Panjang Menuju Surga

Pemandangan dari dermaga penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba

Kata orang, jalan ke surga itu panjang dan berliku.

Sebuah berita menyenangkan menghampiri kami. Komunitas blogger Makassar mendapat undangan untuk mengunjungi Taman Nasional Takabonerate yang terletak di Kabupaten Kepulauan Selayar bertepatan dengan penyelenggaraan acara Takabonerate Island Expedition (TIE) yang ketiga. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, saya dan 8 orang rekan lainnya langsung mempersiapkan diri menuju sebuah kawasan wisata laut yang sebenarnya memang sudah lama membuat saya penasaran.

Perjalanan dimulai dari terminal bis Mallengkeri, Makassar sekitar jam 9 pagi. Terminal bis yang berada di selatan kota Makassar ini memang menghubungkan Makassar dengan kabupaten lainnya yang berada di sebelah selatan kota, termasuk Selayar tentu saja. Sebuah bis besar mengantar kami di cuaca pagi yang sedikit berawan itu.

Meski termasuk besar dan sekelas dengan bis patas AC di pulau Jawa, tapi bis Aneka yang kami tumpangi ternyata tidak cepat dan tidak terbatas. Laju bis ?tidak terlalu cepat, bahkan beberapa kali mampir untuk mengambil penumpang meski kursi reguler sudah terisi penuh. Akhirnya ?penumpangpun sesak dan bahkan ada yang duduk di lorong antara deretan kursi.

Sekitar pukul 4 sore atau 7 jam kemudian kami tiba di terminal penyeberangan Tanah Beru, Bulukumba. Selayar adalah sebuah pulau besar di Selatan pulau Sulawesi, dan untuk menyeberang ke sana kami harus menggunakan jasa kapal feri yang berlayar dua kali sehari menghubungkan pulau Selayar dengan pulau Sulawesi.

Kapal feri agak terlambat dari jadwal, kami baru berangkat sekitar satu jam kemudian dan selama kurang lebih 2,5 jam kemudian kami habiskan di atas kapal feri. Ini pengalaman pertama saya menumpang kapal feri, dan hampir tidak ada bedanya dengan kapal penyeberangan lainnya selain karena kapal feri memang lebih banyak memberi ruang untuk kendaraan bermotor.

Sunset dari atas Feri

Setelah perjalanan sekitar 2,5 jam melintasi lautan dan sempat menikmati sunset dari atas feri, kami akhirnya menginjakkan kaki di tanah Selayar. Tapi perjalanan belum selesai karena kami masih harus menuju kota Benteng, ibukota kabupaten kepulauan Selayar. Jarak dari dermaga penyeberangan ke kota Benteng ternyata lumayan jauh, total sekitar 1,5 jam kami habiskan sebelum sampai di terminal kota Benteng.

Tinabo Dive Center

Perjalanan jauh dengan waktu tempuh sampai 12 jam lebih itu akhirnya pungkas juga ketika kami tiba di pusat kota Benteng. Setelah mengisi perut dan mengunjungi Tinabo Dive Center, kami beranjak menuju rumah Kadis Pariwisata kabupaten kepulauan Selayar. Di sana kami berbincang sejenak sekaligus berdiskusi soal kondisi taman nasional Takabonerate, tentang sebuah kawasan dengan atol terbesar ketiga di dunia tapi sampai saat ini masih belum dikelola dan dipromosikan secara optimal.

Malam sudah cukup larut ketika kami pamit dari rumah bapak kepala dinas dan menuju penginapan yang sudah disiapkan beliau. Hanya sejenak menaruh barang bawaan dan membasuh muka, kami sudah langsung menuju caf? Tempat Biasa (TB). Sebuah kafe yang berdiri atas inisiatif beberapa pecinta laut, sekaligus jadi tempat berkumpulnya para diver dalam naungan Sileya Dive Center. Di sana kami banyak berbincang tentang Takabonerate, sekaligus menggali banyak informasi tentang sebuah kawasan yang begitu indah namun seperti terlupakan itu.

Gusung dan Perjalanan Panjang Ke Jinato

Seperti umumnya orang liburan, tidur selalu jadi pilihan akhir. Saya yang sekamar dengan Lelakibugis dan Cikal masih sempat ngobrol sampai menjelang subuh sebelum akhirnya memejamkan mata. Pagi itu kami menjadwalkan akan mengunjungi sebuah pulau di seberang Selayar bernama Gusung. Menurut informasi, di sana ada spot keren untuk snorkling.

Perahu cadik yang mengantar kami ke Gusung

Dengan perahu cadik yang memuat sampai 11 orang, kami akhirnya menyeberang. Cuaca sangat mendukung, awan menggantung di atas dan menutupi matahari sehingga kami bisa menikmati perjalanan menyeberang yang memakan waktu hampir 30 menit itu.

Sayang sekali karena pagi itu air laut rupanya surut sangat jauh, sehingga spot yang dimaksud jadi tidak terlihat. Akhirnya kami cuma jalan-jalan mengitari pulau yang meski sangat luas namun hanya dihuni sekitar 200an KK itu. Hal yang cukup menghibur adalah banyaknya lukisan alam yang bisa saya abadikan dengan kamera.

Menjelang jumatan, kami akhirnya kembali ke Selayar. Bersiap-siap untuk perjalanan selanjutnya yang merupakan inti dari perjalanan panjang ini.

Pemandangan indah di pulau Gusung

Selepas jumatan dan mengisi perut, kami bergegas ke dermaga Rauf Rahman yang berada dalam kota Benteng. Di sana sudah ada sebuah kapal kayu besar yang bisa memuat 200an penumpang. Kapal inilah yang akan kami gunakan untuk menyeberang ke pulau Jinato, salah satu dari 21 pulau yang termasuk dalam kawasan Taman Nasional Takabonerate. Kapal sudah sesak dipenuhi oleh para undangan dari berbagai instansi yang memang diundang untuk menikmati TIE. Di atas kapal juga ikut rombongan ibu-ibu PKK termasuk ibu bupati.

Menjelang pukul 3 sore kapal akhirnya meninggalkan kota Benteng. Dari informasi yang kami dapat, perjalanan akan ditempuh dalam waktu 7 sampai 8 jam. Perjalanan yang panjang dan melelahkan pastinya. Kami duduk di haluan kapal, beratapkan langit biru karena bagian khusus untuk penumpang tentu saja diutamakan untuk rombongan pejabat dan ibu bupati. ?Lagipula, duduk di haluan rasanya lebih menyenangkan daripada di dalam ruangan yang sumpek.

Suasana di atas kapal motor ke Jinato

Suasanya sungguh berkesan, berbaur dengan puluhan penumpang lainnya kami bisa menikmati hamparan lautan luas dan tentu saja matahari terbenam yang tak terlindungi hutan beton. Ketika malam merambat datang, bintang-bintang terlihat begitu indah. Kerlap-kerlip bintang dan hembusan ringan angin laut sungguh membuaikan. Sebuah pengalaman yang sungguh berkesan.

Selama 8 jam kami melintasi selat Flores menuju pulau Jinato. Beruntung karena cuaca sangat mendukung, pun laut sangat tenang sehingga kekuatiran kami akan mabuk laut tidak menjadi kenyataan. Meski begitu, tak urung saya sempat terserang sakit kepala. Mungkin karena keletihan. Berkali-kali saya mencoba berbaring di atas lantai kayu kapal, sempat tertidur meski tidak terlalu nyenyak.

Betul-betul sebuah perjalanan panjang menuju surga.

( bersambung ke bagian kedua )

November 21, 2011 in Jalan-Jalan, Wisata
Modal Menuju Sukses 10

Modal Menuju Sukses

Sukses itu...

Kesuksesan itu membutuhkan kerja keras, keberanian, kepercayaan diri dan keberuntungan.

Saya tidak tahu siapa nama aslinya, tapi lelaki kurus tinggi dan berkumis itu cukup populer di kompleks perumahan kami. Orang-orang hanya memanggilnya dengan Pak saja. Lelaki asal Lamongan Jawa Timur itu sudah lebih dari 5 tahun menjejakkan kaki di Makassar sambil mencari nafkah dengan memanfaatkan kemampuannya memasak gado-gado, soto dan nasi goreng.

Setelah beberapa bulan berada di Jl. Cendrawasih, dia kemudian memutuskan untuk pindah ke kota lain. Kota Sungguminasa yang cuma berjarak sekitar 8 KM dari pusat kota Makassar. Di kota inilah, tepatnya di sebuah kompleks perumahan tempat saya juga tinggal dia mengembangkan usahanya. Setahu saya awalnya si bapak mengontrak sebuah rumah sederhana tipe 21 yang masih standar. Satu kamar tidur dan satu kamar mandi. Setiap malam tiba si bapak akan mendorong gerobaknya keliling kompleks untuk menjajakan gado-gado, soto dan nasi goreng.

Waktu kemudian berjalan, si bapak menemukan sebuah lahan kosong di perempatan jalan dalam kompleks. Di sanalah dia kemudian mendirikan sebuah warung sederhana dengan tenda biru sebagai atap dan spanduk bekas sebagai dindingnya. Dia tidak perlu susah payah lagi mendorong gerobak setiap malam. Cukup menanti pengunjung datang untuk makan di warung sederhananya.

Hari berganti, warungnya semakin laris. Si bapak kemudian bisa menyewa sebuah rumah yang lebih luas dan layak, masih dalam kompleks yang sama. Di halaman yang cukup luas itulah dia kemudian membangun warung yang baru. Lantainya semen, dindingnya kayu dan atapnya seng. Jauh lebih layak dari warung yang sebelumnya. Dan bisa diduga, warung yang baru itu juga semakin laris.

Di awal usahanya, si bapak meracik semua bahan dan menjajakan dagangan hanya berdua dengan istrinya sambil merawat anak mereka yang masih kecil-kecil. Sebuah motor Suzuki kredit menjadi kendaraan mereka utamanya untuk belanja bahan masakan ke pasar.

Sekarang kondisinya sudah berubah. Si bapak bisa mengajak dua orang anak muda keluarganya dari Lamongan untuk membantu usahanya. Dua anak muda itulah yang kemudian lebih banyak melayani pelanggan, si bapak dan istrinya bisa lebih santai mengurus anak-anak mereka. Kendaraan merekapun sudah bukan motor lagi. Sebuah Suzuki Jimmy warna perak parkir di depan warung. Meski mobil bekas, setidaknya tanda kemakmuran sudah tampak nyata.

Mereka mungkin belum merasa sukses 100%, tapi setidaknya mereka sedang meretas jalan panjang menuju kesuksesan. Setidaknya kehidupan mereka sudah jauh lebih nyaman daripada masa-masa ketika baru menjejakkan kaki di kota Makassar.

Tak jauh dari kompleks saya tinggal ada kisah yang hampir sama. Kisah tentang perantau dari seberang yang meretas jalan sukses lewat jalur kuliner. Entah siapa nama aslinya, kami hanya mengenalnya dengan nama mas Gedhe, mungkin karena badannya yang memang besar.

Bersama istrinya, mas Gedhe yang berasal dari Banyuwangi juga memulai usaha makanannya dari bawah. Awalnya dia adalah pedagang keliling, menjajakan ayam dan tempe dengan bekal motor tuanya. Ketika kemudian mereka memutuskan untuk membuka warung, semua masih benar-benar sederhana. Warung beratapkan tenda biru di pinggir jalan.

Waktu berjalan, dan usaha makanan yang menjajakan ayam goreng dan ayam bakar punya mas Gedhe makin berkibar. Dari satu warung, dia kemudian bisa membuat cabang di tempat lain. ?Awalnya hanya bekerja berdua, sekarang mereka sudah punya karyawan. Bahkan terakhir mas Gedhe sudah berhasil membeli sebuah ruko yang halamannya disulap jadi tempat makan sederhana. Jalan sukses juga sedang mereka rangkai.

SADAMDA BASEMEN

Namanya Haerul, dulu kami mengenalnya dengan nama Haerul Sohib. Belakangan dia lebih sering memperkenalkan diri dengan nama Daeng Oprek. Saya lupa kapan pertama kali bertemu dengan dia, yang saya ingat belakangan dia aktif dalam komunitas Anging Mammiri.

Mungkin sekitar setahun belakangan ini, daeng Oprek mulai rajin memperkenalkan sebuah kalimat. SADAMDA BASEMEN yang merupakan akronim dari ; Salam Damai Dan Bahagia Selalu Menyertai. Saya tidak tahu prosesnya seperti apa sehingga kalimat itu kemudian muncul. Daeng Oprek begitu seringnya mengeluarkan kalimat itu, bahkan sudah seperti sebuah signature dalam setiap email yang dia kirimkan ke milis. Dia bahkan menyebutnya sebagai mantra. Terus terang, lama kelamaan terasa agak mengganggu meski kemudian akhirnya saya menjadi terbiasa.

buku SADAMDA BASEMEN

Sosok Haerul atau daeng Oprek ini seperti sebuah anomali. Dia datang dengan gaya humor yang tak lazim bahkan kadang sulit dicari lucunya. Itu belum termasuk kalimat saktinya yang terus dia ulang-ulang. Semuanya kemudian dibungkus dengan rasa percaya diri yang luar biasa. ?Lengkap sudah sosoknya menjadi sosok yang unik di komunitas kami.

Akhir bulan Oktober kemarin, Dang Oprek datang dengan sebuah kejutan baru. Sebuah buku kecil dan tipis adalah penanda kejutannya. Rupanya diam-diam dia telah membukukan beberapa tulisannya di blog dalam sebuah buku yang judulnya menggunakan mantra khasnya ; SADAMDA BASEMEN. Terus terang saya cukup kaget, tidak menyangka dia seberani itu.

Saya sudah membaca bukunya dan terus terang saya memang kurang bisa menikmatinya. Mungkin karena selera humor kami yang berbeda, sehingga cerita demi cerita di buku itu tidak sepenuhnya bisa saya mengerti. ?Tapi saya kira itu tidak penting.

Di balik gayanya yang unik, aneh dan kadang susah dipahami saya melihat ada sesuatu yang luar biasa. Sebuah keberanian dan sebuah kerja keras yang dilengkapi dengan rasa percaya diri yang tinggi dari seorang Haerul atau Daeng Oprek. ?Ini adalah sebuah hal yang jujur harus saya acungi jempol. Bukankah orang-orang macam Einstein dan Thomas Alva Edison dulu juga dianggap orang gila ? Mereka dianggap orang aneh sebelum akhirnya karya besarnya justru bisa mengubah perjalanan sejarah.

Keberanian Haerul dan kepercayaan dirinya memproduksi sebuah buku dan kemudian menyebarkannya secara indie adalah sebuah bukti nyata kalau dia memang berbeda. Lupakan soal kualitas bukunya, karena setidaknya dia mempunyai sebuah modal besar menjadi seorang yang sukses. Saya tahu, banyak orang yang sebenarnya punya kualitas bagus dalam dunia tulis menulis, tapi mereka tidak punya keberanian dan kepercayaan diri sehingga kualitasnya perlahan hilang ditelan jaman. Tapi Haerul memang berbeda.

Cerita tentang dua pengusaha makanan di awal tulisan ini yang kemudian saya sandingkan dengan cerita tentang Haerul a.k.a Daeng Oprek adalah sebuah renungan bahwa kesuksesan memang dibangun dengan kerja keras, keberanian, kepercayaan diri dan tentu saja berharap pada keberuntungan. Tidak ada orang yang sukses hanya dengan berleha-leha menanti keberuntungan menghampiri.

Saya tidak akan kaget kalau suatu hari nanti Daeng Oprek menjadi seorang yang sukses, entah dari jalur menulis atau dari jalur lainnya. Dia pantas untuk itu, karena setidaknya dia sudah punya modal keberanian dan kepercayaan diri. Tinggal bagaimana dia meningkatkan kualitasnya, bila itu berhasil maka tinggal berharap keberuntungan datang menghampiri.

Jadi, anda mau sukses juga ? kerja keras, berani dan percaya dirilah. SALAM SUKSES !!

November 16, 2011 in Opini
Komodo ; Setelah New 7 Wonders, Lalu Apa ? 6

Komodo ; Setelah New 7 Wonders, Lalu Apa ?

Komodo ( foto dari : bagpeker.com )

Akhirnya kontroversi soal Komodo selesai sudah, meski mungkin untuk sementara.

Bangsa kita memang gampang dihebohkan oleh sesuatu, bukan sekadar heboh karena kadang-kadang perpecahan juga mengikutinya. Yang paling hangat belakangan ini adalah tentang keberadaan yayasan New 7 Wonders yang mengundang kehebohan sendiri. Beberapa orang menganggap kalau yayasan yang bermarkas di Swiss itu adalah yayasan bodong alias tidak bonafid dan karenanya ajang New 7 Wonders yang diadakannya dianggap tidak valid dan tidak akan menguntungkan bagi pesertanya.

Di sisi lain ( dan banyak yang percaya ) ajang yang digelar oleh yayasan itu adalah sebuah jalan lapang untuk memajukan pariwisata Indonesia termasuk tujuan jangka panjang mensejahterakan masyarakat yang berada di sekitar pulau Komodo. Keberadaan Jusuf Kalla sebagai sosok duta pulau Komodo ternyata sukses mendulang dukungan dari banyak pihak di negeri ini sekaligus memancing debat dari sisi yang berseberangan.

Pro dan kontra terus bergulir. Mereka yang tidak percaya pada yayasan New 7 Wonders mengajukan banyak bukti kalau ajang ini hanya sebuah pembodohan semata. Di sisi lain para pendukung JK dan mereka yang percaya terus saja mengirimkan SMS dukungan untuk pulau Komodo.

Akhirnya, pulau Komodo memang dinyatakan sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia baru tepat di tanggal 11 bulan 11 tahun 2011. Mereka yang mendukung bersorak senang, mereka yang tidak setuju mungkin saja mencibir. Tapi setidaknya semua menarik nafas lega, untuk sementara kehebohan yang sempat menarik urat leher itu reda. Mungkin cuma untuk sesaat.

Saya sendiri jujur berada pada pihak yang tidak setuju. Sebagian besar karena alasan dan bukti-bukti nyata yang saya baca dari blog Priyadi ( FAQ Tentang New 7 Wonders ). Hanya sekali saya mengirimkan SMS ke 9818, itupun dengan keyword : KADAL yang segera dibalas dengan ucapan : Terima kasih telah memilih Komodo. Sebuah keisengan karena penasaran pada sebuah artikel tentang kejanggalan program SMS komodo tersebut.

Tapi kita tinggalkan saja soal itu, toh saya juga tidak lantas mencibir ketika Komodo dinyatakan menang dan masuk sebagai 7 keajaiban dunia baru. Saya hanya lantas terpikir suatu hal, suatu pertanyaan yang entah kenapa tiba-tiba saja melintas di kepala : Selanjutnya Apa ?

Kita semua mungkin setuju kalau saya bilang negeri kita ini negeri para pelupa. Jangankan SMS Komodo yang hanya Rp. 1 per sms ( tapi mungkin saja bernilai miliaran bila dilakukan oleh jutaan orang dalam banyak kesempatan ) para koruptor saja yang jelas-jelas merugikan negara triliunan rupiah saja bisa hilang dengan gampangnya dari memori kita, atau setidaknya memori para penguasa.

Negeri ini negeri para pelupa. Apa yang heboh hari ini sepertinya hanya menunggu waktu sebelum benar-benar hilang dari ingatan dan bahkan tak berbekas. Hari ini kita heboh berdebat dan mengangankan tentang kesejahteraaan rakyat dari pariwisata pulau Komodo, tapi siapa yang bisa menjamin tahun depan kita masih ingat tentang pulau itu ? Tentang rencana mensejahterakan masyarakat di sekitar pulau itu, apa masih ada yang ingat ?

Indonesia negeri besar yang selalu mengulang kesalahan yang sama. Salah urus dan salah rawat. Kurang apa sih negara kita di sektor pariwisata ? Pantai ? Laut ? Sejarah ? Eksotisme budaya ? Semua kita punya. Lalu, kenapa Indonesia selalu kalah bahkan dari Thailand yang lebih banyak memamerkan pantainya itu ? Apalagi jawabnya kalau bukan salah urus dan salah rawat.

Jalanlah ke berbagai daerah di Indonesia dan temukan kecantikan alamnya yang mungkin seribu kali lebih cantik dari pantai yang dijual Thailand itu. Tapi kenapa kita selalu kalah ? Kenapa sektor pariwisata kita hanya bergerak semacam keong dari tahun ke tahun ?

Jalanlah ke berbagai tempat wisata di negeri kita dan anda akan menemukan jawabannya. Infrastruktur ?yang tidak mendukung, strategi promosi yang tidak berkelanjutan dan tidak tepat sasaran dan apalagi ? Kalau anda rasakan sendiri daftarnya mungkin bisa sangat panjang. Tengok pariwisata Sulawesi Selatan. Propinsi tempat saya tinggal ini mencanangkan : Visit Sulawesi Selatan 2012, tapi apa yang terjadi ? Konon brosur yang disebar di luar negeri malah dipenuhi gambar wajah sang gubernur. Doh !! Wisatawan tidak datang ke sini hanya untuk melihat wajah tampan pak gubernur bukan ? Sungguh sebuah strategi promosi yang buruk.

Sebenarnya bila pemerintah mampu mengelola dengan baik, tak perlulah kita bersusah payah memohon kepada yayasan apapun di dunia ini untuk memasukkan salah satu tempat wisata kita sebagai keajaiban dunia atau apapun itu. Tak perlulah kita bersusah payah untuk saling berdebat mempertahankan pendapat hanya gara-gara yayasan yang tidak jelas. Cukuplah kita rawat dan susun strategi yang berkelanjutan agar dengan sendirinya sektor pariwisata kita kedatangan tamu tanpa harus mengirim SMS.

Oke, Komodo sudah dianggap sebagai New 7 Wonders. Lalu apa ? Apa langkah selanjutnya supaya SMS yang dikirim masyarakat Indonesia itu tidak sia-sia ? Karena jangankan pulau Komodo, bahkan Borobudur saja yang selama belasan tahun saya percaya sebagai salah satu dari 7 keajaiban dunia ( dan ternyata bukan ) sudah terancam dicoret dari daftar warisan dunia oleh UNESCO karena kekumuhan dan kekotorannya. ?Bukankah itu bukti nyata kalau negeri kita memang selalu salah urus ? Punya potensi banyak tapi tidak pernah bisa mengurus dengan baik. Sungguh sayang bukan ?

Komodo sudah masuk dalam daftar 7 keajaiban dunia baru. Saya tidak peduli siapa yang mendaftarkannya dan siapa yang mengakuinya, selama pemerintah kita masih menggunakan pola yang sama dan pada strategi yang sama semua akan sia-sia. Jangan sampai kita berpecah untuk hal yang sia-sia, bukan begitu ?

Setelah pulau Komodo masuk daftar 7 keajaiban dunia baru, lalu apa ? Mari sama-sama kita tanyakan.

November 14, 2011 in Opini
Cerita Kumbang dan Kembang 17

Cerita Kumbang dan Kembang

Kumbang dan Kembang ( foto by : irwinday.web.id)

Ini kisah nyata, nama dan lokasi kejadian sengaja disamarkan demi keselamatan pelaku

Tersebutlah seorang gadis, sebut saja Kembang ( bukan nama sebenarnya ) yang hidup di sebuah kota besar, jauh dari orang tuanya yang terpisah jarak ratusan kilometer. Si Kembang seorang gadis manis, usianya sudah matang, siap untuk mengubah status menjadi istri bahkan ibu. Tapi, meski usianya perlahan merambat mendekati angka 30 tapi ternyata tidak gampang baginya membuka hati untuk para lelaki yang ingin meminangnya.

Tersebutlah seorang lelaki bernama Kumbang ( bukan nama sebenarnya ). Lelaki matang berperawakan tampan dan berekonomi mapan. Nasiblah yang kemudian mempertemukan Kumbang dengan Kembang. Hari-hari mereka lalui bersama, ke mana-mana sering berdua. Kembang butuh lelaki yang bisa menemaninya dan Kumbang butuh wanita yang bisa dia temani. Klop sudah. Semakin hari mereka semakin dekat, perlahan mereka makin mengenali karakter masing-masing.

Entah siapa yang memulai, tapi rupanya Kumbang merasakan ada sesuatu yang berbeda untuk Kembang. Mungkin cinta, mungkin sayang yang berlebih.? Di sisi lain, si Kembang sepertinya sulit merasakan hal yang sama. Dia sama sekali tidak merasakan hal yang khusus dari kebersamaannya dengan si Kumbang. Sifat Kumbang yang kekanak-kanakan dan gampang emosi serta tak bisa menunjukkan rasa sayangnya jadi penghalang untuk tumbuhnya rasa sayang di sisi yang berbeda.

Hari berganti, orang luar tahunya Kumbang dan Kembang pacaran atau setidaknya saling menyimpan rasa yang tidak biasa. Ke mana-mana selalu bersama, meski sedikit yang tahu kalau si Kembang menjalaninya hanya karena dia tak sanggup berkata TIDAK untuk semua ajakan Kumbang. Orang-orang mengira mereka sepasang kekasih.

Hanya sedikit orang yang tahu kalau Kembang ternyata mendamba lelaki lain. Lelaki yang katanya berjarak ratusan kilometer dari dia dan Kumbang. Lelaki yang kadang menumpahkan rasa sayangnya tapi kadang tak juga jelas perhatiannya. Entah kenapa Kembang sama sekali tak bisa mengalihkan hatinya dari lelaki itu, lelaki yang meski jauh tapi telah terlanjur mencuri hatinya. Jauh di dalam hatinya Kembang menanti si lelaki dating memintanya kepada orangtuanya. Bilangan hari berganti bulan dan berganti tahun, tapi si lelaki yang didambanya tak kunjung datang.

Bila ada yang bertanya ke Kembang tentang siapa sebenarnya pilihan hatinya, maka jawaban enteng meluncur dari mulutnya : saya sih siapa saja yang berani datang melamar, dia yang akan saya terima. Mungkin Kumbang memegang teguh kalimat itu dan menjadikannya pegangan hingga suatu hari keberaniannya sampai di ubun-ubun. Berbekal keberanian dan niat yang kuat, Kumbang menempuh jarak ratusan kilometer menuju rumah orang tua Kembang dan memintanya baik-baik. Orang tua Kembang yang tahu Kumbang dekat dengan anaknya langsung setuju. Palu diketuk, Kembang resmi menjadi calon suami Kumbang.

Berita itu bagai petir di siang bolong untuk Kembang. Tak terbayang di benaknya Kumbang akan senekad itu. Dia bingung bagai terpuruk ke pusaran tanpa dasar. Memohon kepada orang tuanya untuk membatalkan lamaran adalah hal yang sia-sia. Orang tuanya bergeming, harga diri keluarga besar akan jadi taruhannya bila lamaran yang sudah diterima itu dibatalkan. Kembang terjebak, tak bisa ke mana-mana, tak ada pilihan lain selain menantikan hari pernikahan yang sudah ditetapkan. Meski marah pada si Kumbang yang dianggapnya kurang ajar karena tidak berkonsultasi pada dirinya sebelum melamar, Kembang tak bisa apa-apa lagi.

Kisah di atas adalah kisah nyata. Kisah tentang sebuah cerita antara sepasang muda-mudi yang meski akrab dan selalu bersama tapi tidak berarti keduanya menyimpan rasa. Saya tidak tahu harus menyalahkan siapa di kisah ini, apakah si Kembang yang tak tegas menarik garis tegas dan terus memberi harapan pada si Kumbang, atau si Kumbang yang terlalu percaya diri melamar si Kembang meski mungkin dia tahu Kembang tak sepenuhnya mencintainya.

Atau mungkin saya harus menyalahkan orang tua si Kembang yang menerima begitu saja sebuah pinangan tanpa bertanya kepada sang anak hanya karena dia tahu anaknya dekat dengan sang pelamar ? Tapi bukankah hal seperti itu biasa terjadi di Indonesia ? Ketika anak gadisnya sudah mulai mendekati umur 30 tahun, orang tua akan kebingungan. Ketika sebuah lamaran datang dan dianggapnya tidak ada yang salah maka kalimat setuju bisa saja terucap dengan ringannya. Sebagian besar orang tua di Indonesia masih menganggap pernikahan anaknya masih mutlak menjadi urusan mereka meski bukan mereka yang akan menjalaninya.

Beberapa hari yang lalu mata si Kembang masih sembab oleh tangis yang panjang di malam hari. Dia rupanya belum rela 100% menerima pinangan si Kumbang, entah apa yang ada dalam pikirannya. Entah karena merasa tak sanggup hidup bersama lelaki yang dianggapnya masih kekanak-kanakan, emosional dan tak bisa menunjukkan kasih sayangnya , atau mungkin karena dia masih merindukan lelaki nun jauh di sana itu.

Entahlah..

November 10, 2011 in Opini
Makassar, 404 Tahun dan Terus Bersolek 10

Makassar, 404 Tahun dan Terus Bersolek

Losari di Sore Hari

9 November 2011, Makassar katanya resmi berusia 404 tahun. Rentang waktu yang tidak sedikit, sebanding dengan polesan makeup dari kota terbesar di Timur Indonesia ini.

Sepuluh tahun lalu kawasan Tanjung Bunga yang berada di barat kota Makassar belum seramai sekarang. Kawasan perumahan sudah ada, pun dengan kawasan wisata pantainya. Tapi Tanjung Bunga masih dominan berisi rawa-rawa dan pohon bakau yang membuatnya terasa seram di malam hari.? Waktu kemudian bergulir. Sebuah mall besar di bawah korporasi Lippo berdiri tegak di kawasan yang berada sepelemparan batu dari garis pantai kota Makassar itu.

Bertahun-tahun kemudian kawasan Tanjung Bunga kemudian jadi semakin ramai ketika sebuah mall lain tumbuh. Bukan sekadar mall tapi juga tempat permainan besar nan ramai yang katanya sekaliber dengan permainan serupa di negeri Paman Sam sana. Itulah Mall Trans dengan Trans Studio-nya.

Bermeter-meter dari sana, di sepanjang pantai yang jadi ikon kota Makassar yaitu pantai Losari, perubahan juga terasa. Lupakan jejeran pedagang makanan yang dulu sampai disebut sebagai restoran terpanjang di dunia. Losari sudah berubah, sebuah anjungan besar berbentuk setengah lingkaran berlantai beton menjadi pusat keramaian baru di kota ini. Dulu ditentang meski kemudian banyak yang menikmatinya ketika dia sudah tegak.

Di nol kilometer kota ini polesan make up juga terasa. Lapangan yang dulu lebih rendah dari jalan, jadi penampung air di musim hujan dan nyaris gelap gulita di malam hari kini dirombak total. Sebagian lahannya menjadi milik pengusaha yang kemudian menyulapnya menjadi pusat perbelanjaan di bawah tanah, lengkap dengan terowongan menuju sebuah pusat perbelanjaan besar miliknya di seberang. Protes juga mewarnai polesan make up ini, tapi mereka jalan terus. Sekarang pusat perbelanjaan itu jadi salah satu pusat transaksi elektronik di kota Makassar.

Makassar terus bersolek. Dalam kurun 10 tahun belakangan ini kota di pesisir pantai ini mulai berdandan biar tampak keren. Satu persatu bangunan berbahan beton berdiri tegak, satu persatu pusat keramaian dan pusat perbelanjaan dihadirkan. Sayangnya karena satu persatu jejak rekam kearifan lokal dan kearifan sejaran dihilangkan. Deretan bangunan tua yang dulunya terlihat indah di pusat kota berganti dengan bangunan baru beraksitektur modern. Makassar memang terlihat begitu mengidolakan Jakartra sehingga semua aspek seperti meniru Jakarta.

Meniru Jakarta ? Salah satunya adalah soal transportasi. Makassar makin padat, jalan-jalannya makin tak ramah. Satu persatu ruas jalan berubah jadi titik macet. Satu per satu jalanan jadi tempat menumpuknya kendaraan. Persis seperti Jakarta, kota yang mungkin sangat diidolakannya.

Makassar sudah tua, 404 tahun bukan waktu yang singkat. Kota yang dulunya hanya jadi bagian dari kerajaan Gowa ini kini menjadi gerbang Indonesia Timur, kota terbesar di sebelah timur pulau Jawa. Tak heran kalau Makassar juga makin bersolek, makin rajin menumpuk bangunan berbahan beton, makin rajin menumpuk kendaraan di jalanan. Mungkin seperti Jakarta, role model-nya.

Coto ; kuliner khas Makassar

Tapi saya bersyukur bahwa di Makassar ini saya masih gampang menikmati deburan ombak dan belaian angin laut. Saya bersyukur di Makassar ini saya masih bisa merasakan halusnya pasir putih di pulau tak berpenghuni yang tak begitu jauh dari kota Makassar. Saya bersyukur saya masih bisa mencicipi ragam kuliner khas kota ini yang belum sepenuhnya terpinggirkan oleh serangan makanan modern dari seberang benua. Makassar masih punya banyak orang yang mencintai makanan daerahnya. Makassar masih punya banyak orang yang mencintai ikan dan produk lautnya.

Tahun ini Makassar berusia 404 tahun. Meski bukan warga Makassar tapi saya yang nyaris setiap hari menginjakkan kaki di kotanya, mencari rejeki di kotanya dan membuang kotoran di kotanya selalu berharap kota ini tidak sampai menjadi kota yang sekejam ibukota. Selalu berharap Makassar bisa menjadi kota yang nyaman, selalu menghargai kearifan lokalnya dan tak pernah lupa untuk terus mempromosikan keindahan baharinya.

Makassar berulangtahun, Makassar bersolek dan sayangnya, Makassar makin kotor oleh baliho. Semoga pemerintah kota, siapapun itu ? terbuka mata hatinya untuk membuat Makassar menjadi jauh lebih manusiawi. Apa gunanya menjadi kota modern tapi kemudian menjadi sombong pada warganya ? Semoga Makassar tidak sampai seperti itu.

Selamat ulang tahun Makassar..!!

November 09, 2011 in Jalan-Jalan, Keliling Makassar
Blogger Nusantara ; Cerita dari Camp 22

Blogger Nusantara ; Cerita dari Camp

Camp Blogger Nusantara

3 malam tidur di camp Blogger Nusantara membuat saya bersyukur

Ratusan kasur tergeletak begitu saja di atas lantai semen yang dilapisi plastik. Di atas tiap kasur ada sebuah bantal yang masih terbungkus plastik. Udara terasa gerah di dalam bangunan beratap semi dome yang sejatinya adalah lapangan tennis indoor itu. Beberapa kipas angin besar memang berdiri kokoh di beberapa titik ruangan tersebut, tapi hembusan yang dihasilkan kurang mampu mendatangkan rasa sejuk.

Malam pertama di tennis indoor Delta Sidoarjo kami habiskan dengan sedikit kesulitan untuk memejamkan mata. Selain udara gerah yang tak mampu diusir oleh kipas angin, serbuan nyamuk juga cukup mengganggu kenyamanan tidur. Walhasil, saya baru bisa memejamkan mata menjelang pukul 3 dinihari. Saya sempat kagum pada beberapa orang di sekitar saya yang tanpa basa-basi nampak sangat menikmati tidurnya, beberapa bahkan mengeluarkan suara ngorok.

Suasana malam pertama di Camp Blogger Nusantara. Masih sepi

Malam pertama kemudian berhasil terlewati. Pagi datang menjelang, matahari Sidoarjo ternyata lebih cepat menyala dengan garang. Jarum jam masih menunjukkan pukul 6 pagi tapi panasnya sudah serupa pukul 7 di Makassar. Saya dan teman-teman rombongan pertama dari Anging Mammiri beringsut mencari warung yang buka di pagi hari. Sekadar pengisi perut dan pengisi kerongkongan cukuplah. Pagi itu kami lewati dengan segelas kopi dan gorengan yang harganya membuat kami kaget saking murahnya bila dibandingkan dengan harga makanan dan minuman sejenis di Makassar.

Pagi itu juga kami lewati dengan ritual mandi yang tidak terlalu merepotkan. Deretan kamar mandi darurat yang katanya baru selesai tepat sehari sebelum hari H rupanya masih belum terisi banyak orang. Maklumlah, tamu dari luar kota Sidoarjo dan Surabaya memang baru beberapa orang, masih bisa ditampung dengan baik oleh kamar mandi darurat yang beratapkan langit itu. Semua berjalan lancar.

Ketika rangkaian acara di Sun City Convention Hall berakhir di sore hari dan kami kembali ke camp, suasana terasa berbeda. Camp sudah jauh lebih ramai. Bila malam sebelumnya kami masih bebas mencari tempat yang kosong, kali ini malah tempat kami yang sempat diserobot orang. Para tetamu dari luar kota nampaknya mulai mengalir datang dan memenuhi tennis indoor GOR Delta Sidoarjo. Malam harinya, udara terasa makin gerah. Mungkin Sidoarjo memang sepanas itu, ditambah lagi jumlah orang yang mencapai angka 400 orang dalam gedung GOR.

Berebut colokan kosong

Di jaman digital seperti sekarang, berapa orang sih yang tidak memegang satupun handphone ? belum lagi laptop atau perangkat lainnya yang membutuhkan aliran listik. Butuh aliran listrik berarti butuh colokan bukan ? Dan itu yang kemudian jadi tujuan favorit sebagian besar penghuni camp. Mereka seperti para musafir di padang pasir yang matanya langsung berbinar melihat colokan nganggur. Tidak heran bila kemudian ada beberapa colokan yang sudah seperti rambut Medusa saking ruwetnya. Colokan seri kemudian ditambah dengan colokan bercabang tiga dan semuanya terisi charger. Ramai dan ruwet.

Ketika pagi datang, masalah menghadang. Jumlah penghuni yang bertambah drastis jelas tidak sebanding dengan jumlah kamar mandi darurat yang tersedia, begitu pula dengan jumlah air. Akibatnya antri kamar mandi mulai terjadi, awalnya hanya karena semua kamar mandi terpakai. Berikutnya menjadi makin parah ketika air menjadi barang langka. Ketika 4 kamar mandi yang paling dekat dengan pusat air bersih membuka kerannya lebar-lebar, maka deretan kamar mandi setelahnya bahkan sama sekali tidak mendapatkan asupan air. Lengkaplah kemudian alasan untuk antri di depan bilik kamar mandi.

Tiga malam di camp Blogger Nusantara memang memberi banyak kenangan. Beruntung karena saya dan teman-teman dari Anging Mammiri bukanlah segerombolan anak cengeng yang rajin mencela. Kondisi minim yang disediakan panitia selama 3 hari 3 malam di perhelatan Blogger Nusantara tersebut malah menjadi sebuah cerita menyenangkan yang akan kami kenang dalam waktu lama. Beberapa hari ketika acara tersebut pungkas digelar dan kami kembali ke kehidupan masing-masing, yang kemudian tersisa adalah canda tawa dan cerita lucu mengenang kesan yang tertinggal di camp Blogger Nusantara.

Deretan Kamar Mandi Darurat di Camp Blogger Nusantara

Menginap di hotel adalah hal yang mudah. Siapkan uang anda dan anda? bisa menikmati layanan hotel sesuai keinginan. Tapi, menginap di sebuah GOR bersama ratusan orang lainnya adalah barang mewah yang tak begitu saja bisa didapatkan. Mewah bukan dari segi pelayanan, tapi dari segi pengalaman, kenangan dan tentu saja keakraban yang tercipta. Tak ada yang bisa membeli keakraban dan kebersamaan yang tulus bukan ?

Panitia Blogger Nusantara berujar kalau pemilihan lokasi penginapan massal tersebut adalah upaya untuk menumbuhkan rasa kebersamaan sekaligus simulasi merasakan derita saudara kita yang tertimpa bencana lumpur di Porong. Saya yakin keinginan panitia tercapai. Kebersamaan yang terbangun sungguh berkesan dan kami juga sekaligus bisa merasakan beratnya kehidupan mereka yang tidak beruntung hidup di camp pengungsian.

3 malam di camp Blogger Nusantara membuat saya bersyukur. Bersyukur bahwa selepas acara saya bisa kembali ke kehidupan saya yang nyaman. Kasur yang empuk, kamar mandi dengan air yang melimpah dan colokan yang selalu kosong. Tertinggal doa untuk semua saudara di seluruh penjuru dunia yang mungkin tidak seberuntung saya. Mereka yang harus menikmati fasilitas yang sangat minim dan terbatas. Semoga mereka diberi kekuatan dan ketabahan untuk melewati semuanya.

Terima kasih teman-teman panitia Blogger Nusantara 2011, ide kalian luar biasa. Ide yang membangkitkan rasa syukur yang mungkin lama tidak terasakan lagi. Sampai jumpa di gelaran Blogger Nusantara berikutnya.

November 08, 2011 in Blogging
CDLVI 2

CDLVI

Ferrari 456GTi ( saya tahu ini tidak hubungannya dengan postingan..tapi whatever lah :D )

Postingan ini adalah postingan yang ke-456 dalam kurun waktu 4 tahun ngeblog.

Senin 14 Mei 2007 untuk pertama kalinya saya membuat postingan di blog. Awalnya bukan di blog ini, tapi di sebuah blog di laman blogspot yang sekarang namanya dipakai orang lain. Postingan perdana saya berjudul “?Cakar – Kemarin, Hari ini Entah Besok “?bercerita tentang fenomena pakaian bekas import yang di Makassar lazim disebut cakar.

Empat tahun enam bulan kemudian, blog ini genap berisi 456 postingan. Itu berarti rata-rata dalam setahun saya memposting 116.25 postingan atau rata-rata 9,7 postingan sebulan. Bukan jumlah yang terlalu produktif saya kira.

Di awal-awal ngeblog, saya memang tidak terlalu terpaku pada kuantitas. Ada masa di mana blog ini lama tidak terisi postingan.? Belakangan saya mulai makin rajin mengisi postingan, bahkan puncak grafik tertinggi saya dapatkan di bulan Februari 2011 ini di mana saya memposting 29 tulisan atau satu tulisan setiap hari plus tambahan satu tulisan.

Hari ini ketika blog tidak lagi menjadi sebuah trend mainstream, ketika banyak blogger yang beralih menjadi sekadar pemilik blog atau bahkan blogger yang lupa password, saya tetap berusaha untuk terus ngeblog. Bahkan saya berusaha untuk lebih giat ngeblog.

Empat tahun enam bulan yang lalu saya memulainya murni dengan keinginan untuk mendokumentasikan apa yang saya rasa atau yang saya lihat. Saya hanya ingin mencatat apa saja yang saya temui sambil tentu saja mencari saluran yang tepat untuk hobi menulis saya. Saya tidak pernah bercita-cita menjadi seorang blogger yang terkenal, seleb atau semacamnya. Saya hanya ingin menjadi blogger yang biasa saja, yang punya keinginan besar untuk tetap ngeblog meski blog bukan lagi sebuah trend mainstream.

Sepanjang 4 tahun 6 bulan menjadi blogger saya belum merasa memberi banyak manfaat untuk teman-teman yang telah datang berkunjung ke blog ini. Selama ini tulisan saya lebih banyak bersifat personal, belum banyak yang bersifat tutorial atau bahkan solusi untuk sebuah masalah. Sampai sekarang saya belum merasa menjadi blogger yang berguna, masih banyak blogger lainnya yang pasti lebih banyak manfaatnya dari saya.

Empat tahun enam bulan sejak pertama kali ngeblog, setidaknya saya sudah merasakan banyak manfaat dari laman kecil yang kehadirannyapun lewat bantuan dari banyak tangan. Saya menemukan banyak berkah dari sini, teman-teman yang luar biasa dan tentu saja beberapa materi yang meski kecil tapi rasanya sangat berguna dan berkesan.

Untuk semua teman-teman yang sengaja hadir atau datang ke blog ini karena tersesat belaka, saya ucapkan banyak terima kasih. Kehadiran teman-teman semua yang sekadar lewat, atau membaca dan meninggalkan jejak adalah bahan bakar terbesar yang membuat saya selalu semangat untuk ngeblog.

456 postingan, dan semoga akan terus bertambah. Salam blogger !!

November 07, 2011 in Blogging
Blogger Nusantara ; Kopdar Kopdar dan Kopdar 44

Blogger Nusantara ; Kopdar Kopdar dan Kopdar

Tawa riang di acara Kopdar 1000 Blogger

Blogger sejati selain punya blog biasanya juga punya kaos komunitas, kaos event dan goodie bag.

Punya blog biasanya secara otomatis membuat kita banyak teman baru. Salah satunya tentu dari kebiasaan blogwalking atau berkunjung ke blog orang lain. Cara lainnya adalah dengan menjerumuskan diri ke dalam sebuah komunitas blogger. Itu juga yang terjadi pada saya.

Sebelum berangkat ke Sidoarjo, ada beberapa nama yang memang ingin saya temui. Teman-teman yang selama ini sudah sering berinteraksi di milis komunitas atau teman-teman yang selama ini sudah sering mengunjungi blog saya dan saya kunjungi blognya. Ketika tahu mereka akan datang sebagai peserta atau bahkan ada yang jadi panitia, sungguh saya merasa sangat bersemangat ingin segera berjumpa dengan mereka.

Kopdar pertama sudah saya jalani ketika masih berada di bandara Sultan Hasanuddin. Bertemu dengan teman-teman dari blogger Maros yang ternyata sama-sama menumpang pesawat yang sama. Selama ini kami sudah sesekali berinteraksi utamanya ketika mereka hadir di acara bloglicious yang pernah kami adakan di bulan Mei kemarin.

Bukan blogger namanya kalau tidak foto-foto

Ketika mendarat di Surabaya, kopdar berikutnya sudah langsung terjadi lagi. Kali ini dengan seorang lelaki muda yang selama ini sudah sering jadi teman berinteraksi saya di dunia maya. Namanya Sibair, kebetulan dia juga menjadi panitia yang bertanggung jawab dengan urusan penjemputan. Kesan pertama, saya tidak menyangka orangnya ternyata lebih tinggi dan besar dari selama ini saya duga. Tadinya saya kira Bair (panggilan akrabnya ) adalah seorang lelaki muda yang mungil, rupanya selama ini saya tertipu oleh alamat emailnya : masih cupuk

Setiba di camp dengan suasana yang seperti saya tulis di tulisan pertama, kopdar kemudian berlanjut. Kali ini dengan sang tanase dari Arumbai ( komunitas blogger Ambon ) yaitu Almascatie. Ini kopdar ketiga dengan dia setelah setahun lalu pertama bertemu di acara Sumpah Pemuda dan sebulan lalu di acara FGD Internet Sehat di Jakarta.

Almas masih seperti dulu, hangat dan akrab. Kali ini dia membawa dua teman sesama anggota Arumbai yang rupanya sedang menimba ilmu di pulau Jawa. Malam itu kami habiskan dengan berbagi cerita meski cuma sebentar. Badan yang letih membuat kami tertidur dengan cepat.

Keesokan harinya ketika acara mulai berlangsung, kopdarpun terus bergulir. Teman kopdar tentu makin bertambah, karena peserta yang datang juga makin banyak. Salah satunya adalah sang kawan baik dari blogger Depok, om Bradley. Sebulan sebelumnya kami sudah bertemu di Jakarta dan bulan ini ternyata kami kembali bertemu. Bradley datang ke Sidoarjo bersama rombongan dari deBlogger, ikut juga dua anak AM di sana. Jadilah kami membuat sedikit keributan ketika kami saling bertegur sapa.

Kodpar Loenpia bersama Slam dan Elafiq

Satu lagi teman yang akhirnya saya temui. Dialah Slams , salah seorang member dari Loenpia ( komunitas blogger Semarang ) Kami juga sudah lama berinteraksi di milis dan akhirnya bisa bertemu. Kembali saya salah sangka, ternyata Slam lebih tinggi dari yang saya bayangkan. Sepertinya saya memang gampang tertipu foto . Slam ternyata juga lebih pendiam dan cool, tidak seperti kebiasaannya di milis Loenpia. Tapi, pertemuan dengan Slam tetap menyenangkan. Rasanya seperti bertemu kawan lama yang sudah lama tidak bersua.

Begitulah, sebuah ajang besar yang sejatinya memang ingin mengumpulkan para blogger dari seluruh penjuru nusantara mencapai tujuannya ketika seluruh peserta bisa saling berinteraksi, bertukar sapa dan bersalaman. Ada yang bertemu kembali, dan ada juga yang memang untuk pertamakalinya bertemu.

Apalah artinya menjadi seorang penggiat di dunia maya bila sama sekali tidak dibarengi dengan sebuah pertemuan nyata, dan acara ini kemudian menjadi sebuah ajang untuk membuat yang maya itu menjadi nyata. Bertemu langsung dengan mereka yang selama ini hanya dikenal lewat dunia maya adalah sebuah hal yang menyenangkan.

Untungnya lagi karena kopdar kali ini tidak berlangsung begitu saja. Setidaknya ada kenang-kenangan dari kopdar kali ini. Sebuah tas ransel, pin Blogger Nusantara dan tentu saja selembar kaos Blogger Nusantara. Secara bercanda saya ngetwit dan bilang kalau blogger sejati itu biasanya selain punya blog juga punya kaos komunitas, kaos event dan goodie bag.

Satu lagi yang tidak boleh dilupakan, blogger sejati seharusnya juga selalu punya hasrat untuk kopdar. Jadi ? kapan kita kopdar ?

November 02, 2011 in Blogging

Kampanye

Kalender Post

November 2011
M T W T F S S
« Oct   Dec »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
282930  

Switch to our mobile site