Catatan Dari Sharing Keliling Makassar

Maryssa Tunjung Sari membawakan materi kelas fotografi

Fotografi tidak selamanya tentang alat.

Kalimat pendek di atas adalah kesimpulan yang saya tangkap dari kelas fotografi yang merupakan rangkaian acara Sharing Keliling Makassar. Kelas fotografi yang dipandu oleh Maryssa Tunjung Sari adalah salah satu kelas dari tiga kelas yang berjalan bersamaan. Kelas yang lain adalah kelas menulis yang diisi oleh Artashya Sudirman dan kelas Video yang diisi oleh Prisia Nasution bersama Motulz.

Acara ini adalah gelaran dari Saling-Silang yang didukung penuh oleh Acer, XL Axiata, Garuda Indonesia Airlines dan Internet Sehat serta bekerjasama dengan komunitas blogger Makassar ? AngingMammiri.org.

Tiga kelas yang terlihat begitu menggoda, sehingga tidak heran kalau peserta begitu antusias. Kurang dari 24 jam setelah diumumkan di blog AngingMammiri, pendaftaran terpaksa kami tutup karena kuota sudah terpenuhi. Padahal saat mengumumkan pertama kali, kami belum sempat menuliskan nama pembicara karena memang belum mendapat kepastian dari pihak salingsilang. Ini berarti bahwa para peserta benar-benar tertarik pada materi, bukan hanya pada siapa yang membawakan.

Untuk beberapa orang sepertinya memang agak susah menentukan kelas mana yang akan dipilih karena ketiganya sangat menggiurkan. Tidak heran kalau pertanyaan : kenapa kelasnya tidak bergiliran saja ? Adalah pertanyaan yang banyak kami dengar. Tapi mau bagaimana lagi, itu sudah format baku dari sananya, dan jelas tidak dapat diubah lagi.

Saya sendiri bingung memilih antara mau konsentrasi di kelas menulis atau kelas fotografi karena kedua kelas itu sepertinya lumayan menggoda dengan dua orang pemateri yang punya gaya mengajar yang menarik. Akhirnya saya memutuskan untuk konsen lebih lama di kelas fotografi.

Maryssa Tunjung Sari. Terus terang saya yang memang dasarnya kurang gaul ini sama sekali belum pernah mendengar nama beliau sebelumnya, apalagi di negeri ini jumlah fotografer wanita memang kalah jumlah dari fotgrafer pria.

Gaya bicara yang lugas, tegas tapi cukup santai dan nyaman mengantarkan para peserta kepada pengenalan dasar-dasar fotografi. Sebagian besar materi yang dibawakan oleh Maryssa atau yang lebih akrab disapa Sha Sha adalah tentang mobile fotografi, bagaimana mendapatkan momen yang bagus dan hasil foto yang berbicara dengan hanya menggunakan kamera pocket atau bahkan kamera handphone.

Bagi ShaSha, fotografi memang tidak selamanya tentang bagaimana membekukan momen menggunakan kamera DSLR canggih dengan lensa mahal tapi adalah bagaimana momen tersebut dibekukan sehingga hasilnya kemudian dapat berbicara banyak dan langsung menyentuh orang yang melihatnya.

Sambil memberikan tips-tips dan pengetahuan dasar fotografi, ShaSha juga menampilkan slide berisi foto-foto hasil tangkapannya. Saya bisa melihat bahwa foto-foto yang diambil oleh Sha Sha memang sangat mementingkan konsep dan momen, bukan pada teknik atau komposisi seperti yang biasa memusingkan para fotografer pemula.

Konsep. Kalimat itu juga yang menjadi salah satu kalimat sakti yang saya tangkap siang itu. Seorang fotografer yang bagus harus memiliki konsep yang jelas sebelum menekan tombol shutter. Sha Sha bercerita bagaimana dia membuat sebuah foto pra wedding dengan konsep yang sederhana tapi begitu memikat. Melibatkan segelas cappucino dan segelas kopi hitam, melambangkan penyatuan dua rasa yang berbeda.

Konsep yang bagus tentunya hadir lewat kreatifitas yang tak terbatas, dan untuk menumbuhkan kreatifitas itu tentu butuh banyak stimulasi. Sha Sha memberikan satu tips, harus rajin-rajin melihat. Sesuatu yang saat ini sudah tidak begitu sulit lagi. Anda tinggal mengetik kata kunci di Google dan dengan hitungan detik ratusan contoh foto akan terpampang di sana, tinggal bagaimana anda menggunakannya sebagai stimulasi untuk konsep yang ingin anda buat.

Prisa Nasution berfoto bersama seorang fans

Kelas fotografi ini berlangsung begitu menarik sehingga waktu 3 jam rasanya sangat singkat. Gaya Sha Sha membawakan materi yang terkesan santai dan tidak berjarak memang terasa sangat menarik. Dari informasi yang saya dengar, kelas yang lain juga begitu. Semua berjalan menarik. Artasya punya cara sendiri untuk membuat kelas menjadi tidak membosankan, begitu pula dengan duet Prisia Nasution dan Motulz yang mesti membawakan materi tanpa slide karena converter iPad-nya lupa terbawa.

Ada satu kejadian lucu, saya dan teman-teman panitia dari Anging Mammiri baru sadar kalau ternyata Prisia itu adalah seorang artis yang malang melintang di berbagai FTV atau sinetron di TV lokal kita. Kami baru sadar ketika beberapa peserta yang memang masih terhitung remaja begitu gembira ketika melihat sosok Prisa. Beruntung bagi mereka karena Prisa sama sekali bukan tipe artis yang jaim, sebaliknya dia sangat ramah dalam berinteraksi.

Sharing Keliling Makassar akhirnya selesai sekitar pukul 3 sore, sekaligus menandai akhir perjalanan dari Sharing Keliling yang sudah singgah di berbagai kota di Indonesia. Para peserta terlihat begitu senang karena tentu saja mereka menemukan berbagai perspektif baru dan wawasan baru berkat tiga kelas yang luar biasa itu. Kami bersyukur karena acara tersebut ternyata bisa berjalan lumayan lancar di tengah persiapan yang sempit.

Terima kasih untuk semua pihak yang sudah memungkinkan tergelarnya acara Sharing Keliling Makassar dengan lancar. Sampai jumpa lagi di acara Anging Mammiri lainnya. Salam blogger !!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge