Teman-teman,
Saya, iPul daeng Gassing pemilik blog ini mengucapkan selamat merayakan Idul Fitri 1432 H, mohon maaf lahir bathin. Maaf atas segala salah-salah kata dan perbuatan selama anda berkunjung ke blog ini.
Minal Aidin Wal Faidzin
6
Ya, saya akui saya sangat terlambat satu tahun cahaya. Film ini sudah ramai dibicarakan orang di akhir tahun 2010, tapi saya baru menontonnya hampir setahun kemudian. Itupun hanya lewat layar televisi, dan oleh stasiun televisi
Hanung Bramantyo adalah sutradara muda potensial milik Indonesia. Deretan karyanya banyak disukai orang, termasuk beberapa karyanya yang mengusung tema Islam. Meski begitu saya pribadi tidak terlalu suka dengan Hanung. Hanung sangat lumayan ketika menyutradarai film bertema umum, tapi ketika menyutradarai film bertema islam, saya tiba-tiba merasa ada ?sesuatu? dari film-filmnya.
Saya tidak akan mencoba menulis review tentang Sang Pencerah, salah satu film milik Hanung Bramantyo yang paling banyak mendapat pujian karena toh di internet sudah bertebaran ratusan atau mungkin ribuan review tentang film ini.
Selepas menonton Sang Pencerah, ada beberapa hal yang berkelebat dalam kepala saya. Hal-hal yang bisa menjadi renungan, khususnya tentang agama yang saya yakini kebenarannya ini. Sang Pencerah – di luar beberapa kekurangannya ? memang ?menawarkan banyak hal yang jika dipikirkan lebih dalam terasa sangat menggelisahkan, khususnya tentang perilaku beragama kita dewasa ini.
Entah disengaja atau tidak, penggambaran dalam film Sang Pencerah seakan banyak membawa realita yang ada di Indonesia dewasa ini. Pembakaran dan pemusnahan tempat ibadah, pengkerdilan peran seseorang hanya karena dia masih ingusan, dan lain-lain dan lain-lain. Apa yang digambarkan oleh Sang Pencerah ? di luar itu fiksi atau bukan -? seperti terulang di jaman sekarang.
Ada satu hal yang paling melekat dalam ingatan saya tentang film ini. Bagaimana ketika Ahmad Dahlan menganalogikan agama dengan permainan biola. Bagaimana sebuah biola yang digesek oleh ahlinya kemudian membuat suaranya terdengar sangat merdu dan mentramkan. Beda dengan biola yang dimainkan oleh orang yang tidak mengerti, suaranya akan mengganggu, tak nyaman dan meresahkan.
Demikian juga dengan agama. Ketika kita paham dengan ajaran agama yang kita peluk, maka kemudian akan terasa betapa menentramkannya agama itu. Namun, ketika ajaran itu kita pahami setitik tanpa sebuah pendalaman maka bisa jadi akan terasa mengganggu bagi orang lain, bahkan cenderung meresahkan. Anda mungkin bisa melihat contohnya pada ragam kejadian di negeri kita, bagaimana sebuah organisasi massa banyak menyebarkan rasa resah hanya karena mereka menganggap diri mereka lebih mengerti tentang agama.
Sedari kecil saya tahu agama saya adalah rahmatan lil alamin, rahmat bagi seisi bumi. Sesekali saya memang diajarkan juga untuk bersikap keras, terutama pada mereka yang melanggar syariat atau mereka yang telah murtad. Tapi itu bukan sebuah keharusan. Sepanjang yang saya pahami, ada jalan lain yang harus didahulukan, dikedepankan sebelum akhirnya nanti memilih jalan kekerasan untuk menyelesaikan semuanya.
Setahu saya, agama yang saya anut ini adalah agama yang menawarkan kedamaian. Rasulullah sudah memberikan contoh-contohnya, bagaimana dia menaklukkan dan memasuki tanah Mekah dengan damai tanpa pertumpahan darah. Dengan kebesaran hatinyapun dia memaafkan mereka yang telah menyakitinya. Itu yang saya pahami, sejak pertama saya belajar agama Islam hingga sekarang, saat pengetahuan agama saya masih juga berada di level bawa.
Ah, saya tak hendak bicara panjang lebar tentang ajaran agama saya karena saya sama sekali tak punya kemampuan untuk itu. Apa yang saya tulis di sini hanya sekadar renungan sekelebat selepas menonton Sang Pencerah malam tadi.
Ahmad Dahlan yang digambarkan Hanung adalah seorang lelaki yang berpikiran sederhana tentang ajaran agamanya, mungkin seperti itu juga yang saya pikirkan. Tak perlu terlalu rumit, toh Allah sendiri tidak pernah menyusahkan ummatnya.
30
Pesta Blogger 2010 jadi satu momen yang berkesan bagi saya karena pada pagelaran tersebut untuk pertama kalinya saya kopi darat ( kopdar ) dengan seorang teman maya yang sudah lama akrab. Namanya daeng Ruslee. Kami sudah akrab sekitar tahun 2007 ketika kami sama-sama aktif sebagai blogger di Anging Mammiri maupun sebagai citizen reporter di situs Panyingkul!
Sejak awal kenal dan berinteraksi di internet kami sudah langsung akrab. Ada banyak kesamaan dari kami yang kemudian mencairkan interaksi antara kami meskipun hanya di dunia maya. Beberapa kali dia ke Makassar tapi kami sama sekali tidak sempat bertemu. Entah karena saya yang sedang sibuk atau dia yang tidak ada waktu.
Sekitar 3 tahun kemudian akhirnya kesempatan itu muncul juga. Di pagelaran Pesta Blogger kami akhirnya bertatap muka untuk pertamakalinya. Kesan saya, Ruslee berbeda dengan yang saya bayangkan. Ternyata dia orang yang lumayan kalem di dunia nyata, tidak seperti penampilannya di dunia maya yang ceriwis dan nakal. Di dunia nyata, dia lelaki yang tidak seberapa tinggi, berkulit putih, berkacamata dengan suara yang rendah dan halus. Blas, beda 180 derajat dari bayangan saya sebelumnya.
Kami tidak sempat ngobrol lama di pertemuan pertama itu.Selain karena suasana yang terlalu ramai, Ruslee juga harus buru-buru pulang. Kesan perjumpaan pertama di dunia nyata itu berkesan, berkesan karena ternyata berbeda dengan yang saya bayangkan. Pertemuan nyata berikutnya yaitu beberapa hari yang lalu sudah jauh berbeda. Ruslee sudah lebih nakal dari yang saya ingat waktu pertama bertemu dulu. Pada pertemuan nyata kedua ini, dia sudah mendekati bayangan seorang Ruslee yang sejak dulu saya bayangkan.
34
Sederet pertanyaan di atas diajukan daeng Taqdir di milis Blogger Makassar. Katanya sih alasannya cuma karena rasa ingin tahu menyusul sebuah kejadian unfollow massal yang menimpa seseorang. Ragam jawaban kemudian diajukan oleh beberapa orang anggota milis, mulai dari yang santai hingga yang serius.
Jawaban dari anggota milis sebenarnya hampir sama, tapi yang paling umum adalah karena mereka merasa berteman dengan orang tersebut dan merasa kalau orang tersebut berguna bagi mereka termasuk karena twitnya yang mungkin lucu dan menghibur. Ada juga yang mengatakan kalau mereka mem-follow akun tertentu semisal akun media, organisasi dan unit kerja karena merasa perlu untuk mengetahui info-info terbaru.
Bagaimana dengan artis dan publik figure ? Beberapa dari mereka mem-follow akun artis hanya karena iseng, hanya karena ingin tahu kegiatan si artis meski ada juga yang memang sengaja mem-follow artis karena betul-betul suka sama si artis.
Tidak seperti dengan alasan mem-follow, alasan untuk meng-unfollow ternyata sangat beragam meski ada juga beberapa yang sama. Beberapa teman merasa sudah perlu berhenti mengikuti sebuah akun ketika merasa si pemilik akun sudah tidak berguna atau tidak menarik lagi.
Untuk spesifiknya, rata-rata mengaku berhenti mengikuti sebuah akun ketika si pemilik akun ternyata keseringan menjadi RT abuser atau kadang susah memisahkan antara balas (reply ) meretwit ulang ( re tweet ).
Ada juga yang kemudian memutuskan untuk berhenti mengikuti twit seorang artis ketika merasa kalau si artis ternyata sombong berlebihan padahal mutu tidak berlebih.
Saya sendiri memutuskan untuk menekan tombol unfollow sebagian besarnya karena merasa si pemilik akun sudah mulai tidak asyik, twitnya tidak berguna dan terlebih jika dia ternyata seorang RT abuser.
Jawaban untuk ini tidak terlalu beragam. Rata-rata merasa belum bisa menentukan sikap yang tepat apabila suatu waktu nanti ternyata bertemu dengan seseorang yang sudah saling meng-unfollow di twitter. Ada yang bilang sikapnya akan biasa saja dan pura-pura tidak terjadi apa-apa, dan ada juga yang bilang kalau dia akan mem-follow kembali setelah pertemuan itu.
Lucunya karena beberapa orang mengaku kalau sudah lama di-unfollow oleh teman dekatnya sendiri. Ada yang tidak tahu alasannya apa, tapi ada juga yang bercerita kalau sang teman terpaksa meng-unfollow dia karena sang teman menganggapnya terlalu cerewet di timeline. Keputusan unfollow itu tidak berimbas apa-apa pada hubungan mereka. Keputusan unfollow tidak selamanya berimbas pada jalinan silaturahmi di dunia nyata atau di social media yang lain.
Kemudian saya mengajukan pertanyaan,? bagaimana dengan mantan ? apakah setelah anda putus anda akan langsung meng-unfollow nya ?
Pertanyaan yang dianggap sebagai jebakan bagi sebagian orang. Ada yang menjawab akan langsung meng-unfollow supaya lebih cepat melupakan dan bisa move on dengan segera, tapi ada juga yang mengatakan akan tetap memfollow sambil mengintip kesempatan. Siapa tahu sang mantan tidak nyaman dengan pacar barunya sehingga kemudian terbuka kesempatan untuk kembali bersama. Ah, ada-ada saja.
Tapi ada juga yang mengatakan kalau meski putus dia dan sang mantan tetap saling mem-follow di twitter. ?Tidak pacaran lagi bukan alasan untuk memutus silaturahmi, bukan ?
Soal follow dan unfollow ini ada satu cerita unik. Cerita yang menyangkut Rara, sang chairwoman Pesta Blogger 2010 lalu. Ketika dinobatkan sebagai chairwoman, dia difollow oleh beberapa orang dari kalangan EO yang menggelar acara Pesta Blogger tersebut beserta teman-temannya. Ketika pagelaran Pesta Blogger telah berakhir dengan segera juga Rara di-unfollow, sama seperti ketika difollow kali ini dia juga diunfollow massal.
Alasanya apa ? entahlah, toh Rara juga tidak mau ambil pusing. Saya pikir sih alasan utamanya karena Rara sudah tidak berguna lagi, setelah manisnya habis masak sepahnya mau ditelan juga ? Harus dibuang bukan ? Ah, tapi itu analisa saya saja. Belum tentu benar.
Nah, bagaimana dengan anda ? Apa alasan anda memutuskan untuk mem-follow seseorang dan ketika anda memutuskan untuk meng-unfollow seseorang, apa yang mendasarinya ?
Berbagi yuk..
9
Bung, 66 tahun lalu ketika kau bersama dengan Bung Karno memutuskan untuk membubuhkan tanda tangan di atas naskah proklamasi, apa yang ada dalam kepalamu ?
Sebuah negara yang suatu hari nanti bisa kamu hisap semua sumber dayanya ? sebuah negara yang kau harapkan bisa membuatmu, keluargamu dan keturunanmu kaya raya hingga tak perlu bekerja lagi ? Ataukah kau sungguh ikhlas memerdekakan bangsa ini, melepaskannya dari cengkeram erat jemari penjajah dan menuntunnya berdiri sendiri ?
Bung, 66 tahun yang lalu ketika kau memutuskan untuk berjuang memerdekakan bangsa ini, ?pernahkah kau memikirkan berapa banyak uang negara yang bisa kau simpan untuk dirimu sendiri ? atau untuk keluargamu, atau untuk keturunanmu ? Atau kau tak pernah memikirkan itu semua ?
66 tahun setelah naskah itu kau proklamirkan bersama Bung Karno, negeri ini telah mengaku bebas merdeka. Lepas dari orang-orang kulit putih atau kulit kuning seperti yang pernah kau lawan kehadirannya. Bung, kau mungkin akan tersenyum lebar melihatnya.
Saat kau mendampingi si Putra Sang Fajar di Pegangsaan Timur hari itu, mungkin terbersit dalam bayanganmu tentang sebuah negara yang bersatu, merdeka dan bebas dari bayang-bayang cengkeraman negara lain. Hari ini, 66 tahun lebih sehari dari tanggal itu negeri yang turut kau bidani kelahirannya benar telah merdeka. Tapi apakah benar lepas dari bayang-bayang negeri asing ? Sayangnya tidak..
Bung, negeri yang kau bantu kelahirannya sekarang menjadi negeri yang pemimpinnya takut pada raksasa di seberang lautan itu. Negeri yang pemimpinnya merasa negara di seberang lautan itu sebagai negeri keduanya, negeri tempatnya berkiblat, negeri tempatnya menetek dan menggadai harga diri.
66 tahun setelah peristiwa itu, negeri yang kau perjuangkan ini menjadi negeri tempat hidupnya orang-orang yang mencari makan lebih rakus dari tikus-tikus di selokan. Negeri ini menjadi sebuah panggung sandiwara, tempat mereka yang mengaku pemimpin itu berjoget di atas penderitaan kami rakyat kecil ini.
Bung, hari ini genap 66 tahun satu hari sejak peristiwa itu tapi negeri ini belum sepenuhnya merdeka. Mereka yang dulu kau usir itu sekarang kembali, tapi dalam bentuk yang berbeda. Mereka tak lagi bersenjata tank dan bedil, tapi sekotak kalkulator dan setumpuk kontrak. Bung, mereka menjajah dengan riangnya karena anak cucumu juga memberi mereka kesempatan, karena anak cucumu sudah cukup puas dengan perutnya yang gendut, tak peduli harga diri bangsa yang dia gadaikan dan tak peduli pada anak bangsa yang makin hari makin tak mengerti tentang arah negeri ini.
Bung, tahukah kamu ? Makin banyak anak negerimu yang memilih mengais rejeki di luar sana. Di negeri yang dulu pernah kau usir dan negeri-negeri yang lain. Mereka ke sana karena di negeri ini mereka tak diakui, mereka pintar tapi tak cukup cerdik untuk bertahan di negeri yang dulu kau perjuangkan kemerdekaannya ini.
Bung, negeri ini sekarang dipimpin seorang lelaki gagah bertubuh besar yang sangat prihatin. Jika kau melihatnya, mungkin kaupun akan prihatin. Seperti kata yang sering diucapkannya.
Ah, Bung..terima kasih sudah mengantarkan kata bernama merdeka ke negeri ini. Biarlah kami yang akan memaknainya, entah dengan cara apa. Mungkin dengan cara yang sesuai dengan jaman yang sudah digital ini, sehingga benderapun harus dikerek secara digital dan upacara dilakukan secara digital, maya dan semu.
Terima kasih bung, mudah-mudahan kau mendengar kami berteriak merdeka. Meski hanya lewat sebatang perangkat elektronik yang kami pegang.
Merdeka !!
7
Sabtu sore, 13 Agustus 2011 di sebuah rumah sederhana di bilangan kompleks Bung Permai, Jl. Bung sekitar 20 anak-anak yang sebagian besarnya berumur antara 6-10 tahun bermain dengan cerianya. Suara mereka riuh rendah memenuhi sore yang cerah menjelang buka puasa. Beberapa anak berkejar-kejaran, beberapa lainnya ada yang bermain bola plastik, sisanya ada yang mengerubuti beberapa wanita dewasa yang memegang buku. Mereka sedang belajar, khidmat meski tetap terasa santai.
Menjelang pukul enam sore, anak-anak itu duduk melingkar di atas hamparan karpet dan spanduk vinyl bekas yang digelar di samping ?rumah mungil itu. Di hadapan mereka bertebaran panganan kecil berupa kue dan gorengan. Meski duduk melingkar, anak-anak itu tetap tak bisa tertib. Sesekali mereka berteriak, saling mencela dan saling menuding. Anak-anak yang lebih dewasa berteriak-teriak mengatur anak-anak yang lebih muda. Tapi sia-sia, energi anak-anak itu seperti tak ada habisnya.
Ketika waktu berbuka tiba, suasana tak jua menjadi hening. Anak-anak itu menyerbu bergelas-gelas es buah yang tersedia di meja, dan dalam hitungan sekejap kue dan gorengan di atas beberapa piring yang terhidang ludes, berpindah dari tangan ke perut mereka. Tawa ceria kemudian memenuhi udara, ada kebahagiaan yang menyesap dalam senja yang makin tenggelam.
Itulah selintas fragmen yang terjadi sore itu ketika saya bersama beberapa teman Anging Mammiri menyempatkan diri bergabung dan berbuka puasa bersama teman-teman dari Komunitas Pecinta Anak Jalanan ( KPAJ ) dan anak-anak asuh mereka yang diberi nama Pasukan Bintang.
Dari interaksi yang hanya beberapa jam itu saya bisa merasakan langsung sesuatu yang luar biasa yang dimiliki teman-teman KPAJ itu. Mereka pasti punya niat yang sangat kuat dan tulus, serta tentu saja kesabaran yang mungkin nyaris tak terbatas. Anak-anak Pasukan Bintang sekitar 20 orang dengan beragam usia, mulai dari yang baru sekitar 6 tahun hingga yang sudah menjelang remaja sementara kakak-kakak pengajar yang hadir malam itu tidak genap 10 orang.
Seperti layaknya anak-anak, Pasukan Bintang itu tak bisa diam. Mereka terus saja membuat keributan, dari yang cuma bercanda, tak bisa diam, menganggu teman, bahkan hingga yang berkelahi. ?Selepas maghrib, dua orang anak kecil terlibat perkelahian. Entah awalnya bagaimana, tapi cukup sulit mendamaikan mereka. Seorang kakak KPAJ berusaha membujuk mereka supaya mau bersalaman, yang seorang mau tapi yang satu nampaknya berkeras tidak mau memaafkan. Tangannya mengepal ketika sang kakak memaksanya berjabat tangan dan berdamai. Mereka bahkan masih sempat beradu fisik sekali lagi sebelum akhirnya betul-betul melupakan pertikaian itu.
Suasana riuh rendah itu adalah makanan sehari-hari bagi beberapa anak muda yang tergabung dalam KPAJ. Selama setahun lebih mereka sudah akrab dengan puluhan anak-anak yang sehari-harinya bergaul di jalanan, mencari makan dengan menengadahkan tangan. Anak-anak muda KPAJ merasa kalau anak-anak itu juga punya hak untuk hidup lebih baik dan mendapatkan pendidikan seperti layaknya anak-anak lain yang tak perlu turun ke jalan mencari nafkah.
Hal yang membuat saya kagum adalah sifat sabar mereka. Menghadapi anak-anak yang bukan darah daging mereka, anak-anak yang sama sekali tidak punya hubungan keluarga dengan mereka, anak-anak yang karena terbiasa merasakan kerasnya hidup di jalan kemudian menjadi anak-anak yang keras kepala dan susah diatur. Tapi, kakak-kakak KPAJ itu tetap tenang dan sabar dalam mengajarkan banyak hal kepada anak-anak itu.
Sore itu beberapa kali juga saya melihat mereka membentak, atau bersuara dengan nada yang tinggi tapi sama sekali tidak bermuatan emosi. Semua keluar hanya demi menertibkan anak-anak itu.
Sore itu saya belajar kesabaran dari mereka yang bahkan sama sekali belum pernah merasakan mendidik darah daging mereka sendiri. Sore itu juga saya sekali lagi belajar tentang kebahagiaan yang sebenarnya ketika kebahagiaan itu dibagi. Sore itu kami memang hanya menikmati hidangan berbuka yang sederhana dan apa adanya, tapi raut kebahagiaan dan keceriaan di wajah anak-anak pasukan bintang itu adalah hidangan berbuka puasa yang paling membahagiakan.
Salut untuk teman-teman KPAJ yang tahu betul bagaimana menikmati ?kebahagiaan, yaitu dengan membaginya, membaginya kepada anak-anak yang mungkin tidak seberuntung anak-anak kita di rumah. Saya jadi ingat sebuah kata bijak : manusia kaya dari apa yang dia miliki, tapi manusia bahagia dari apa yang dia bagikan.
Sampai ketemu lagi teman-teman, salam untuk pasukan bintang yang luar biasa itu.
12
Ivan Zamorano , striker Chile yang pernah sukses bersama Real Madrid meski gagal bersinar di Inter Milan dikenal sebagai seorang yang sangat menyukai angka sembilan. Ketika sinarnya tak kunjung cerah di klub tetangga AC Milan itu Ivan harus rela posisinya tergeser oleh Ronaldo yang didatangkan dari Barcelona.
Ronaldo bukan hanya mengambil alih posisi Ivan sebagai penyerang, tapi juga nomor punggung 9. Sejak dulu Ronaldo memang terkenal sebagai striker dengan nomor punggung 9, dan ketika tiba di Inter lagi-lagi dia mendapat kehormatan menggunakan nomor tersebut meski berarti harus meminggirkan Ivan Zamorano.
Ivan tidak menyerah, meski dia harus menyerahkan nomor punggung 9, dia kemudian memilih untuk menggunakan nomor punggung 18. Ada keunikan di nomor punggung yang dikenakannya. Ivan menambahkan tanda + , nomor pungunggnya menjadi 1+8. Unik, dan hasilnyapun tetap 9. Itu sekelumit cerita tentang seorang pemain sepakbola yang begitu mengagungkan nomor 9.
Tahun ini, angka 9 membawa arti tersendiri buat saya. Tepat tanggal 11 Agustus 2011, saya genap 9 tahun menjadi suami. Suami dari seorang wanita yang luar biasa, wanita yang selama 9 tahun ini sudah mengajarkan banyak hal kepada saya, wanita yang selama 9 tahun ini terus bertahan dengan ketabahannya dan maafnya yang seluas samudra.
11 Agustus sembilan tahun yang lalu, di sebuah rumah kecil dan sederhana di bilangan Tembalang, Semarang. Di hari yang ?cerah bermandikan matahari. Saya masih ingat debaran itu, debaran yang membuat saya susah memejamkan mata semalam sebelumnya. Ketika penghulu dan para saksi sepakat berucap ?syah !!?, ketika itu juga debaran tersebut berubah menjadi senyum lebar. Lega..
11 Agustus sembilan tahun yang lalu, saya resmi menjadi seorang suami. Posisi yang sampai sekarang kadang belum bisa saya resapi sepenuhnya, posisi yang sampai sembilan tahun kemudian masih juga belum bisa saya jalankan dengan sempurna.
Sembilan tahun, dan entah berapa banyak rasa sakit dan air mata yang menjadi penghias perjalanan kami. Sembilan tahun, dan kami masih terus belajar untul menjadi sepasang suami istri, sepasang orang tua dan sepasang manusia yang ingin menjadi lebih baik.
Sembilan tahun, dan saya selalu berharap akan ada tahun ke sepuluh ke dua puluh, ke lima puluh, ke seratus dan bahkan keseribu.
Sembilan tahun, dan saya harus mengucapkan terima kasih untuk segala warna, keceriaan dan bahkan tangisan yang sudah kami nikmati bersama. Semoga Allah SWT berkenan menerangi jalan kami, memberikan kemudahan, barokah, rahmat, atau bahkan hikmah dari semua kesulitan.
Sembilan tahun, dan kami akan terus berjalan bersama.
21
Pantai yang memanjang di sebelah barat kota Makassar ini punya banyak cerita. Dulu sekitar tahun 80-90an, Losari terkenal dengan ratusan gerobak pedagang yang berjejer di pantai sepanjang kurang lebih 1 KM itu.
Belakangan Losari dirombak. Tidak ada lagi jejeran pedagang tersebut. Pada awalnya para pedagang direlokasi ke jalan Metro Tanjung Bunga, masih dalam kawasan pantai Losari sekitar tahun 2001. Relokasi ini hanya bertahan beberapa lama karena berikutnya para pedagang dipindahkan lagi ke kawasan pantai laguna, juga masih dalam kawasan pantai Losari.
Lokasi yang baru rupanya tidak bersahabat dengan para pedagang, menyusul dimulainya perombakan wajah pantai Losari yang sempat menuai pro dan kontra, sinar para pedagang mulai meredup. Pantai laguna yang tersembunyi dan tidak menghadap ke lautan lepas membuat orang makin enggan berkunjung ke sana hingga pelan-pelan para pedagang memencarkan diri mencari kehidupan lain yang lebih bagus.
Losari yang rencananya akan dibagun dengan 3 buah pelataran ( Bugis, Makassar dan Toraja ) terus berbenah di bawah tudingan beberapa pihak yang merasa kalau pembangunan pelataran itu sebenarnya mengingkari hakekat sebuah pantai. Yah, di sana anda tidak akan menemukan sebuah garis pantai yang lengkap dengan ombak dan pasirnya. Anda hanya akan menemukan beton, karang dan aspal.
Meski begitu publik juga tidak bisa menutup mata kalau anjungan losari yang sudah beroperasi (satu di antara 3 yang direncanakan ) setidaknya telah menjadi tempat berkumpul warga kota Makassar sekaligus menjadi pusat untuk berbagai keramaian.
Salah satu yang keunikan dari Losari adalah sunsetnya. Meski tak berpasir, tapi menanti sunset di Losari bisa mendatangkan sensasi tersendiri utamanya bila cuaca dan awan mendukung.
Berikut adalah rekaman sunset di Losari yang saya rekam ketika berkesempatan menghabiskan waktu menunggu buka puasa di hari Sabtu (6/8) kemarin.
10
Ada yang berbeda dari wajah depan daenggassing.com ini. Lihatlah di side bar sebelah kanan, bagian atas sekarang ada satu banner baru, bronze blog dari internetsehat.org. Sore kemarin saya mendapat email dari internet sehat yang mengabarkan kalau daenggassing.com berhak mendapatkan bronze award di sesi ke 15 dalam rangkaian ISBA ( Internet Sehat Blog and Content Award ).
Internet Sehat Blog & Content Award (ISBA) 2011 adalah sebuah penghargaan sepanjang tahun yang diberikan kepada pengelola Blog, Wiki, Forum, Portal dan berbagai jenis layanan konten lainnya, baik perseorangan ataupun berkelompok, yang dengan segenap daya kreatifitasnya telah menuangkan ide, gagasan dan pikirannya dalam bentuk tulisan secara online. Tulisan tersebut tentunya yang harus dapat memberikan ide ataupun mengarahkan pembaca untuk melakukan tindakan yang positif dan bermanfaat, bagi dirinya ataupun masyarakat sekitarnya di Indonesia. Goal dari program ini adalah untuk men-generate tumbuhnya konten-konten lokal sehingga semakin banyak generasi muda Indonesia yang aktif menulis di blog. ISBA 2011 diinisiasi oleh ICT for Partnership (www.ictwatch.com), didukung oleh XL Axiata (www.xl.co.id), Norton Symantec (www.symantec.com), dan detikINET (www.detikinet.com).
Saya sendiri sudah lupa kapan saya mendaftarkan blog ini untuk ikut ISBA, yang jelas setelah mendaftar saya tidak pernah lagi terlalu berambisi untuk mendapatkan award tersebut karena bagi saya award itu hanya bonus. Saya lebih senang fokus kepada kegiatan ngeblog, sesering mungkin mengisi blog ini dengan hal-hal yang mudah-mudahan bisa berguna bagi orang, atau setidaknya hal-hal yang bisa mengurangi kebuntuan di dalam kepala saya.
Ngeblog sudah menjadi candu bagi saya. Sejak memulainya sekitar pertengahan tahun 2007 saya sudah seperti jatuh cinta pada blog, kegemaran menulis dan menghayal yang sudah ada sejak kecil seperti mendapatkan tempat pelampiasan, apalagi ketika saya menyadari beberapa orang memberikan apresiasi positif pada blog ini.
Saya tidak bisa bohong kalau saya sangat gembira mendapatkan anugerah Bronze Award sesi 15 ini. Perjalanan selama kurang lebih 4 tahun mendapatkan apresiasi yang lebih luas, bukan cuma dari perseorangan. Terima kasih untuk dukungan teman-teman semua yang selama kurang lebih 4 tahun ini menjadi sahabat dan pengunjung setia blog ini, kontribusi teman-teman adalah bahan bakar untuk api semangat yang Insya Allah tidak akan pernah padam.
Dan, maaf kalau saya terlalu norak membuat postingan seperti ini. Saya hanya tidak bisa membohongi diri sendiri kalau saya senang dengan penghargaan ini.
44
Sebelumnya saya mau minta maaf dulu kepada suhu-suhu fotografi karena lancang membuat artikel seperti ini. Tanpa bermaksud sombong, karena sebenarnya saya juga masih baru belajar untuk memotret, artikel ini semata-mata saya buat berdasarkan pengalaman saya, sekaligus berbagi kepada teman-teman yang mungkin memerlukan.
Dua hari ini seorang teman, sebut saja Gerhana Pink ( nama sengaja disamarkan demi keamanan si pelaku ) sedang kebingungan untuk menentukan pilihan antara kamera Canon atau Nikon. Entah mendapat kucuran dana dari mana, tapi anak muda itu tiba-tiba berkeinginan kuat untuk membeli kamera DSLR, padahal selama ini setahu saya dia anak muda yang hidup dalam kemelaratan karena uangnya lebih banyak dihabiskan untuk membiayai sejumlah gadis yang jadi tanggungannya.
Pertanyaan yang diajukan si Gerhana adalah pertanyaan biasa yang diajukan oleh para penggemar fotografi pemula. Canon dan Nikon adalah dua produsen besar dalam dunia fotografi, istilahnya dua agama terbesar dengan pengikut terbanyak. Sebenarnya masih ada merek lain sebangsa Sony, Pentax, Panasonic, Hasselblad atau merek yang bisa bikin miskin dalam sekejap, Leica tapi entah kenapa Canon dan Nikon sudah terlanjur lekat di kepala penggemar fotografi sehingga pilihan pertama biasanya jatuh kepada dua merek dari Jepang itu.
Kebetulan saya pernah memegang keduanya, minimal menjepret seratus-dua ratus jepretan dan cukup lama menggenggam kedua merek tersebut. Dulu di awal-awal berkeinginan belajar fotografi saya juga sempat bertanya hal yang sama ke beberapa orang yang sudah lebih dulu kenal fotografi. Jawabannya beragam, ada yang secara frontal menyarankan Canon ada juga yang sebaliknya dan malah berkata : emangnya mau beli mesin fotokopi ? kalau kamera ya jelas Nikonlah.
Ketika kemudian saya mencoba menggunakan keduanya dalam waktu yang berbeda dan agak lama, saya meyakini kalau jawaban salah seorang suhu fotografi idola saya adalah benar. Lelaki yang tidak perlu saya sebutkan namanya itu bilang : Canon atau Nikon sama saja, yang penting nyaman memakainya dan yang penting siapa yang memakainya.
Nah, jawaban inilah yang kemudian saya ulang setiap kali ada yang bertanya, lebih bagus mana Canon atau Nikon ? Dan lewat tulisan ini juga saya mau coba berbagi kepada teman-teman yang mungkin bernasib sama dengan Gerhana, sama-sama bingung memilih Canon atau Nikon.
Berikut adalah pertimbangannya :
Nah, setidaknya itu beberapa tips yang bisa saya bagi menurut pengamatan dan pengalaman saya yang masih seumur jagung ini. Para ahli mungkin bisa menambahkan, utamanya kalau anda sudah membaca postingan ini dan masih tetap bingung menentukan pilihan seperti teman saya si Gerhana itu.
Oh ya, satu tambahan lagi. Kalau benar-benar bingung, cobalah untuk bersabar sedikit. Coba luangkan waktu untuk mencoba kamera Canon dan Nikon, caranya pinjamlah kamera punya teman anda. Luangkan waktu untuk menengok semua fitur dan kelebihan-kelebihan dari tiap-tiap kamera, setelah berbulan-bulan saya yakin anda akan bisa menentukan pilihan dengan catatan dana yang disiapkan belum keburu habis.
Intinya, apapun pilihan anda selama itu diambil menggunakan pikiran yang jernih dan tanpa paksaan dari pihak manapun maka Insya Allah semua akan membawa berkah. Fotografi bukan melulu soal senjata yang digunakan, tapi siapa yang memegangnya. Betul ??
Jadi, pilih mana ? Canon atau Nikon ?
Dan, kalau mau membaca review yang lebih lengkap dan serius yang ditulis oleh yang lebih berpengalaman, silakan kunjungi laman ini.
8
Di Makassar, di sebuah kawasan bernama Tamalanrea ada beberapa anak muda yang meluangkan waktu mereka berusaha mengembalikan anak-anak itu ke sekolah. Anak-anak muda yang seharusnya lebih fokus memikirkan kuliah mereka atau karir mereka ternyata masih meluangkan waktu untuk memikirkan anak-anak jalanan di seputaran kampus UNHAS Tamalanrea.
Anak-anak muda itu tergabung dalam Komunitas Pecinta Anak Jalanan ( KPAJ ) mereka bergerak didasari rasa kemanusiaan yang tinggi, mereka percaya kalau anak-anak itu juga punya hak untuk bersekolah, punya hak untuk ikut merasakan pendidikan yang bisa mengubah jalan hidup mereka. KPAJ percaya kalau jalanan bukan tempat buat anak-anak itu, mereka harusnya ada di sekolah. Bukan di jalanan dan mencari uang, entah untuk makan atau sekadar untuk menyalurkan hobi mereka bermain game online di game centre.
KPAJ yang mulai terbentuk sekitar Februari 2010 berawal dari keprihatinan seorang mahasiswa Teknik Sipil melihat anak-anak jalanan sekitar kampus UNHAS yang tidak bersekolah. Bersama teman-temannya mereka kemudian menggelar Sekolah Ahad, sekolah non formil di mana mereka mengumpulkan anak-anak itu untuk diajar membaca,menulis dan berhitung setiap minggu pagi di dekat danau UNHAS.
Setelah setahun lebih KPAJ sudah semakin mapan. Berbekal donasi dari banyak pihak mereka sekarang sudah punya sekertariat yang mapan sehingga anak-anak itu bisa lebih enak untuk menimba ilmu. KPAJ juga punya program lain, mengembalikan anak-anak itu ke sekolah formil berbekal beasiswa dari beberapa orang tua asuh.
24
Berikut adalah beberapa tips yang bisa saya bagi, mudah-mudahan berguna untuk anda yang akan menjalankan ibadah puasa.
Nah, begitulah tips-tips berpuasa a la Daeng Gassing yang mungkin saja menyesatkan. Tidak usah terlalu dipercaya, atau dimasukkan ke hati. Berpuasalah secara ikhlas, Insya Allah akan ada hikmah dan berkahnya untuk kita semua.
Selamat berpuasaaaa !!