Menikmati Senja di Rotterdam

Menikmati Senja di Rotterdam

Salah satu sisi Fort Rotterdam Bila anda berkunjung ke Makassar, Fort Rotterdam bisa jadi satu...

Menikmati Senja di Rotterdam
Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka

Bandara Domine Eduard Osok Dari Depan Sayang sekali memang karena saya hanya berada di Sorong...

Kitorang Su Sampai Sorong Kaka
Packing, Packing!

Packing, Packing!

Perjalanan Kadang saya malah kebanyakan membawa pakaian karena biasanya ada beberapa pakaian yang...

Packing, Packing!
Jogja Memang Istimewa

Jogja Memang Istimewa

Malioboro Di sini waktu rasanya seperti berhenti ya? Semua seperti slow motion Pesawat Sriwijaya...

Jogja Memang Istimewa
Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona, Surga Kecil di Spermonde

Samalona Mudah-mudahan pihak Pemda tergerak hatinya untuk menyelamatkan Samalona sebelum surga...

Samalona, Surga Kecil di Spermonde
Musik dan Wisata

Musik dan Wisata

Pakkacaping ( sumber : disbudpar Polman ) Makassar dan Bugis juga punya musik tradisional, ada...

Musik dan Wisata
Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare

Sepotong Surabaya Akhirnya saya bisa kembali menginjak Surabaya, kali ini bukan sekadar transit...

Surabaya dan Kampung Inggris di Pare
Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung

Pasar Apung Lok Baintan Tulisan ini adalah lanjutan dari dua tulisan terdahulu tentang Borneo....

Borneo 3 ; Kesederhanaan Yang Mengapung
Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah

Sunset di Martapura Dari dulu, setiap mendengar kata Kalimantan dua hal yang selalu terbayang di...

Borneo 2 ; Martapura dan Batunya Yang Indah
Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua

Bandara Syamsudin Noor Akhirnya, kesampaian juga menginjak tanah Borneo. Pulau terbesar kedua di...

Borneo 1 ; Selamat Datang Di Bumi Banua
Makassar ; Surga Sea Food

Makassar ; Surga Sea Food

Ragam Sajian Sea Food Ke Makassar kalau tidak sempat mencicipi hidangan olahan lautnya rasanya...

Makassar ; Surga Sea Food
Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Cara Mudah dan Murah ke Makassar

Pantai Losari di Suatu Pagi Banyak teman yang bermukim di Jawa merasa kalau biaya ke Makassar...

Cara Mudah dan Murah ke Makassar
Mencicipi Alam di Bantimurung

Mencicipi Alam di Bantimurung

Air terjun Bantimurung Sulawesi Selatan punya banyak potensi wisata. Salah satunya adalah deretan...

Mencicipi Alam di Bantimurung
Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi

Bandara Abdul Rachman Saleh, Malang Sudah lama saya ingin ke Malang, kota yang katanya dingin di...

Malang Yang Belum Sempat Dijelajahi
Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan

Salah satu pilihan mie kering Mie kering adalah salah satu makanan khas kota Makassar. Bentuknya...

Mie Kering ; Pilihan Pas Di Kala Hujan
Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Pulau Tinabo ; Takabonerate Tulisan ini adalah lanjutan dari tulisan bagian 1 Malam kian pekat,...

Takabonerate Bag.2 ; Tinabo, Sepotong Surga di Selatan Sulawesi

Archive for May, 2011

Stop Bercanda Dengan Kata Autis

 

sumber : pepetuah.com

Kadang tanpa sadar kita sering menggunakan kalimat “kayak anak autis deh kamu..” kalimat itu biasanya kita sematkan pada mereka yang sedang asyik dengan gadgetnya sendiri, tenggelam di dunianya dan kehilangan atensi pada lingkungan sekitar.

Tapi, tahukah anda kalau kalimat tersebut sangat tidak pantas untuk kita gunakan ? Meski mungkin konteksnya hanya untuk bercanda saja. Saya pernah begitu tersentak ketika di suatu acara seminar besar, seorang pembicara yang juga manager dari sebuah perusahaan telekomunikasi besar di Indonesia masih saja menggunakan kata autis untuk menggambarkan mereka yang begitu sibuk dengan gadget-nya.

Saya dan beberapa teman langsung menepuk jidat. Astagah !! Hari gini masih pake istilah seperti itu ? Dikeluarkan dari mulut seorang manager sebuah perusahaan telekomunikasi besar pula, dan lebih ironis lagi, dilakukan tepat pada perayaan hari autis sedunia.

Tadi pagi saya secara tidak sengaja mengikuti kicauan mbak Silly (@justsilly) di twitter yang bicara banyak tentang autis. Beliau punya dua anak penyandang autis. Sekitar setahun atau dua tahun yang lalu saya sempat berkunjung ke blognya dan membaca sebuah postingan yang isinya kenapa kita sebaiknya berhenti menggunakan kata autis untuk bahan bercandaan. ?Postingan itu yang membuat saya sadar kalau memang tak sopan rasanya kalau kita masih tetap menggunakan kata autis sebagai bahan becandaan.

Berikut ini saya rangkum sebagian isi kicauan Mbak Silly, semoga kita bisa mengambil pelajaran dari keteguhan hati mereka dalam membesarkan anak-anak yang luar biasa itu. Seperti kata Mbak Silly, ?mereka tidak perlu dikasihani karena sesungguhnya mereka adalah orang tua yang luar biasa. Justru kitalah yang harus kasihan pada mereka yang masih saja menggunakan kata autis sebagai bahan becandaan.

May 31, 2011 in Opini
Sihir Dari Catalunya 16

Sihir Dari Catalunya

Kegembiraan Barcelona ( sumber : UEFA.com )

Saya tidak pernah terlalu suka pada Barcelona, tapi pencapaian pada beberapa tahun terakhir ini memaksa saya untuk mengangkat topi pada klub asal Catalunya ini.

Gol dari David Villa di Wembley hari Sabtu 28 Mei 2011 menjadi pamungkas malam itu, sekaligus menandai kali kedua Barcelona memukul Manchester United untuk meraih gelar Liga Champion mereka yang keempat. Pertemuan kedua mereka di partai puncak final liga champion Eropa tahun ini seperti mengulang kisah 2 tahun lalu ketika Barca menekuk MU dengan 2 gol tanpa balas. Tahun ini margin golnya tetap dua meski MU sempat membalas satu lewat Wayne Rooney.

Barca memang luar biasa. Semua orang yang mengerti sepakbola pasti akan setuju kalau Barca adalah klub dengan permainan yang indah. Mereka memainkan sepakbola dari kaki ke kaki atau yang lazim disebut tiki-taka. Sepanjang permainan, pemain mereka selalu bergerak dengan penempatan bola yang akurat.

Barcelona yang menghibur

Saya kenal Barcelona sejak jamannya Ronald Koeman, Hristho Stoijkov dan Romaria Faria dengan Johann Cruijff sebagai pelatih. Tapi waktu itu saya sama sekali belum tertarik pada klub dari propinsi Catalunya itu. Belakangan saya malah lebih tertarik pada Real Madrid.

Ketika Frank Rijkaard menukangi Barca, atensi saya tersedot. Faktor utamanya adalah karena Rijkaard. Sebagai salah satu pilar kesuksesan AC Milan di tahun 90-an, Rijkaard selalu menjadi salah satu idola saya. Jadi ketika dia berada di belakang Barca, mau tak mau pandangan saya ikut menatap ke sana.

Rijkaard menetapkan pondasi awal untuk kesuksesan Barca. Rijkaard yang mulai membawa pakem 4-2-3-1 dengan mengandalkan Ronaldinho dan Deco sebagai kreator lapangan tengah. Barca perlahan melambung ke puncak, pelan tapi pasti. Hingga akhirnya gelar Champion Eropa pun mereka rebut.

May 30, 2011 in Sepakbola

Aroma Jakarta di Jalanan Makassar

Salah satu titik macet di kota Makassar

Jalanan Makassar makin ramai, titik macet makin bertambah dari hari ke hari. Tiba-tiba saya merasakan aroma kota Jakarta di banyak jalan di kota Makassar

Saya jarang menyusuri jalanan kota Makassar, apalagi yang mengarah ke pusat kota di jam-jam sibuk. Jalur rumah-kantor adalah jalur pinggiran kota yang melewati beberapa jalanan sepi dan kadang malah bertemu puluhan hewan ternak. Tidak heran kalau saya akhirnya tidak tahu banyak soal kemacetan kota Makassar kecuali dari cerita orang-orang.

Bulan Mei ini saya kebetulan jadi panitia dua acara besar yang diadakan oleh Anging Mammiri, ada peluncuran Firefox4 dan Blogilicious Makassar. Kedua acara itu membuat saya wara-wiri di jalan raya Makassar tepat ketika waktu bubaran kantor. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama saya mulai merasakan sesuatu yang sepertinya saya benci. Kemacetan parah di berbagai titik.

Sekitar pukul 4 sore, dari arah pusat kota atau sekitar Karebosi saya menuju ke arah Selatan menyusuri jalan Urip Sumohardjo dan nantinya masuk ke jalan A.P.Pettarani dan kemudian masuk ke Jl. Hertasning. Titik kemacetan mulai dari jalan Urip Sumohardjo sekitar daerah Karuwisi. Mobil dan motor berdesakan tidak karuan.

Masuk ke Jl. A.P.Pettarani macet agak mereda, kecuali di sekitar pasar Pettarani. Macet baru mulai terasa kembali mulai dari depan mall Ramayana, terus ke bagian selatan hingga dekat jalan masuk ke Jl. Hertasning. Masuk Jl. Hertasning masih lumayan lancar hingga kemudian macet lagi begitu sampai di depan kantor PLN.

Hal yang sama berulang ketika saya menyusuri jalan Perintis Kemerdekaan menuju pusat kota di sekitaran Karebosi. Macet bermula di sekitar M’Tos Jl. Perintis Kemerdekaan dan kemudian akan berlanjut di jalur yang sama dengan yang saya ceritakan di paragraf di atas.

Saya benar-benar merasakan aroma Jakarta. Aroma yang maksud adalah bau knalpot kendaraan, seketika aroma tersebut mengingatkan saya pada Jakarta yang sempat saya akrabi sekitar 11 tahun lalu. Macet Jakarta adalah salah satu alasan kenapa saya tidak pernah betah berlama-lama di ibukota itu, mau ke mana saja pasti ketemu macet dan akhirnya aroma knalpot itu seperti terpatri di kepala, pun dengan rasa gerah luar biasa yang membuat badan rasanya jadi lengket karena keringat.

Dari sejak beberapa tahun lalu sebenarnya saya sudah menduga kalau suatu saat nanti Makassar akan bernasib seperti Jakarta, titik-titik kemacetan akan terus bertambah, dan jalanan yang terbebas dari macet makin sedikit. Rupanya tidak perlu menunggu lama karena toh tahun 2011 ini jalanan di kota Makassar sudah hampir sangat mirip dengan jalanan di kota Jakarta.

Saya jadi ingat komentar beberapa tamu dari idblognetwork Jakarta ketika saya menjemput mereka dari bandara menuju hotel.

” Wah, ini kayak di Kelapa Gading ya ”

” Wah, ini rasanya kayak di Kali Malang ya ”

Komentar mereka bukan cuma berdasarkan topografi daerah yang mirip, tapi juga karena model kemacetan yang mungkin hampir sama.

Ada yang bilang, ini adalah ciri khas kota metropolitan. Tapi apa iyya setiap kota metropolitan harus akrab dengan kemacetan ? Saya belum pernah mengunjungi kota-kota metropolitan di Eropa atau Amerika sana sehingga tentu saja tidak bisa bicara banyak untuk membandingkan.

Tapi, sepanjang yang saya tahu segala model kemacetan itu bisa saja diminimalisir dengan sebuah antisipasi dari jauh-jauh hari. Penerapan sistem transportasi yang bagus, penyediaan infrastruktur berupa transportasi massal yang memadai serta tentu saja kebijakan-kebijakan yang lebih mementingkan transportasi publik daripada kendaraan-kendaraan pribadi. Setidaknya itu yang sering saya baca.

Jalanan macet karena jumlah kendaraan pribadi jauh lebih banyak daripada kapasitas yang bisa ditanggung jalanan tersebut. Salah satu teorinya seperti itu, bukan ?

Pertanyaan saya, itu salah siapa ? Salah kami yang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada transportasi publik ? Salah kami ketika kami lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi daripada harus naik angkot ke mana-mana ? Dan hey, angkot bukan transportasi massal kan ?

Ke mana semua para ahli tata kota itu ? Kenapa kondisi ini tidak diantisipasi serius dari awal ? Kondisi seperti apalagi yang akan kami temui di tahun-tahun mendatang? ?

Sudahlah, pertanyaan-pertanyaan itu mungkin sudah terlalu sering dilemparkan dengan ragam jawaban yang mungkin tidak pernah memuaskan selain rentetan retorika yang membuai. Tapi lihatlah ke jalanan kota Makassar, di sana aroma Jakarta makin menusuk. Entah sampai kapan..

May 27, 2011 in Keliling Makassar, Opini

Di Balik Layar Blogilicious Makassar

 

Suasana Blogilicious Makassar ( foto by; Denun.net )

Kami boleh dibilang sukses menggelar acara blogilicious di Makassar pada tanggal 21-22 Mei 2011. Tapi kalau mau jujur, saya belum puas. Masih ada beberapa kekurangan dalam penyelenggaraan acara, pun acara ini punya banyak cerita di balik layarnya.

Sabtu pagi, jarum jam sudah hampir menunjuk ke angka 8:30 pagi. Gedung PKP UNHAS mulai ramai, beberapa volunteer sudah bersiap di meja registrasi, beberapa panitia lainnya sudah berada di dalam ruangan, bahkan beberapa peserta sudah duduk manis di dalam ruangan. Sayangnya, backdrop belum terpasang.

Saya panik. Rupanya memang panitia cowok belum ada yang tiba di lokasi, hanya ada Iqko yang sibuk dengan rundown acara. Saya tanya ke Dewi- salah satu panitia- apa dia punya teman cowok yang bisa saya mintai tolong memasang backdrop. Ternyata memang belum ada yang siap di lokasi. Beruntung gedung PKP punya beberapa orang office boy cowok, pada merekalah saya minta tolong untuk memasang backdrop, hanya beberapa menit sebeluma cara betul-betul dimulai.

Berkat bantuan mereka backdrop akhirnya bisa dipasang meski melalui jalan yang berat. Berbekal tangga panjang dua orang Office Boy PKP berhasil memasang backdrop di ketinggian kurang lebih 5 meter. Cukup menegangkan. Oke, backdrop akhirnya beres beberapa menit sebelum peserta mulai membanjir dan panitia pusat serta pembicara utama masuk ke lokasi acara. Saya menghela nafas lega.

May 25, 2011 in angingmammiri, Blogging, Opini

Kota Yang Makin Dingin Dan Sombong [Repost]

Makassar

Ini adalah postingan lama, Januari 2008. Tapi entah kenapa realitasnya masih sama dan saya merasa perlu untuk mempostingnya kembali. Tentang kota yang semakin tidak manusiawi.

Siang itu panas, suatu hari di bulan Januari. Tidak seperti biasanya, siang itu matahari sedang bersahabat. Hujan seakan sedang berhenti sejenak, mengambil ancang-ancang sebelum nantinya datang lagi mengguyur setiap inci kotaku. Dari sebuah tempat makan di sebuah mall terbesar di Makassar, saya bersama dua belahan jiwa sedang duduk menantikan pesanan. Di sisiku, bocah kecil yang belum genap 4 tahun itu mengoceh riang, tak henti-hentinya dia bercerita tentang pakaian dan mainan yang baru saja kami hadiahkan untuknya.

Saya masih menikmati celotehannya ketika Ofie menunjuk ke bawah sana, ke arah pinggir jalan besar tepat di depan mall. Kusapukan pandanganku ke arah telunjuk wanitaku. Empat orang anak sedang tertawa riang di bawah sana. Besarnya mungkin tak lebih dari ukuran anak-anak umur 9 tahun. Di masing-masing bahu mereka tersampir karung goni, sementara di tangan yang lain sepotong besi berbentuk pengait nampak tergenggam erat. Tubuh mereka kumal, selaras dengan pakaian yang sudah nyaris tak terbentuk, lebih mirip kain lap di dapur kita.

Anak-anak itu tampak riang dalam kemarjinalan mereka. Tertawa dan saling berkejaran lalu berhenti di sebuah bak sampah besar. Berikutnya mereka sibuk mengaduk bak sampah dengan kait dari besi, saling berlomba selayaknya kucing yang berebut makanan sisa. Satu-dua benda yang tak kutahu benda apa mereka lemparkan ke dalam karung putih yang sama kumalnya dengan tubuh mereka. Setelah puas mereka kembali berlalu sambil tetap tertawa dan saling menggoda.

” Kasihan . Pernah nggak ya mereka sedih..? “, pertanyaan itu keluar dari bibir istriku. Bisa kurasakan kegetiran di nada bicaranya. Saya diam tak menjawabnya, mataku masih lekat mengawasi keempat bocah kumal itu yang terus tertawa dan akhirnya hilang dari pandangan. Saya sendiri memang tak tahu jawaban yang pasti dari pertanyaan istriku. Entah apakah anak-anak itu pernah berhenti sejenak dari kesusahan mereka dan memikirkan begitu banyak alasan untuk bersedih. Hatiku mendadak miris membayangkannya.

Diam sejenak, kami tak berbicara sepotongpun. Kami sibuk dalam alam pikiran masing-masing. Hanya gadis kecil kami yang masih sibuk bercerita tentang pakaian dan mainan barunya. Saat makanan pesanan kami datang, rasa miris di hati kami mendadak menguap. Bayangan empat anak kecil kumal tadi juga mendadak lenyap. Yang tersisa hanya nafsu untuk sesegera mungkin menyudahi nasib makanan yang sudah kami pesan. Lahap dan penuh semangat, itulah kami. Kami akhirnya kemudian hanya memikirkan perut kami yang sudah terlanjur kosong. Padahal di luar sana empat anak kumal tadi entah apa sudah makan hari ini..

Mungkin inilah sifat yang dimiliki pejabat kita. Pedih sesaat kala melihat rakyat yang seharusnya dia perjuangkan sedang terseok-seok di pinggir jalan hanya untuk sekadar menyambung hidup hari ini, namun detik kemudian tiba-tiba berubah selayaknya monster yang sedang haus dan lapar. Menerjang semua yang ada di depannya. Tak peduli itu bukan haknya, tak peduli itu hanya untuk dirinya dan orang-orang di lingkarannya. Pejabat yang mengatur kota dan kota yang diatur oleh pejabat itu tiba-tiba menjadi sangat kejam pada semua warganya.

Tahun lalu (2007) Makassar sedang riuh, berdandan menor untuk ulang tahunnya yang ke-400 tahun. Segala gincu, bedak, eye shadow dan segala macam produk artifisial kecantikan dijejalkan ke wajah kota yang sebenarnya sudah mulai bopeng dan keriput ini. Label modernisasi yang berkilauan bak topeng para penari yang menutupi wajah asli kota ini. Lihatlah limpahan dana bernilai ratusan miliar yang diguyurkan para pengusaha berkantong tebal di atas tanah kota Makassar.

Saya yakin, di salah satu sudut kantor pemerintahan kota ini, banyak orang-orang berseragam khaki sedang berjoget riang menyambut guyuran modal besar itu. Mereka pasti sedang kuyup oleh duit dan segala materi duniawi. Entah apa mereka masih punya waktu barang sedetik untuk menoleh ke bak sampah besar di depan kantor mereka dan menyapa saudara-saudara kita yang masih betah berpakaian kumal nan lecek.

Seorang pemulung ( courtesy : Ahmade.com )

Bangunan tinggi dengan lantainya yang lebih banyak dari deretan tangga nada dielus-elus agar tegak berdiri. Jalanan bertingkat-tingkat yang ditopang beton yang kuat mulai ditopang agar bisa berdiri dan dipakai. Rawa-rawa air payau yang dulunya untuk dipakai sebagai tempat hidup berbagai ekosistem alamiah mulai ditimbun untuk sebuah arena bermain yang tentu saja tak murah. Lapangan luas tempat warga berkumpul dan bercengkerama mulai dipagari seng dan sebentar lagi ditutup beton sebagian. Adakah tempat bagi saudara-saudara kita yang masih betah mengorek bak sampah yang sering kita tempati meludah itu ?. Nyaris tak ada kukira..

Beton, beton, beton lagi, besi baja dan beton lagi. Tak ada yang manusiawi. Semua bentuknya kokoh, dingin, kasar, tak ramah dan pongah dalam balutan duniawi yang mengkilap. Tak ada ruang bagi yang berbaju kumal di sana. Berani mendekat dan seorang lelaki berseragam dengan kumis melintang dan badan kekar akan menendang pantatmu jauh-jauh. Tak ada ruang bagi kalian yang kumal, mungkin begitu sumpah serapah mereka.

Sementara itu jalan raya beralaskan aspal hitam itu juga ikut-ikutan menjadi makin tidak ramah pada kita pemakainya. Jari-jari di kedua tangan kita serasa tak cukup lagi menampung nama-nama ruas jalan yang pasti macet setiap harinya. Motor makin merajai setiap senti jalanan kita. Sopir-sopir dan para pengendara makin beringas di atas aspal yang kadang tergenang air kala hujan turun. Tak ada tenggang rasa, tak ada sifat mengalah. Jalanan bukan untuk para pecundang dan pengecut. Jalanan adalah metamorfosis rimba raya yang memberlakukan hukum rimba. Yang kuatlah yang menang. Anda takut berebut jalan dengan yang lain ?, pinggirkan kendaraan anda dan tunggulah hingga malam makin pekat agar anda bisa menguasai jalan sendirian. Karena jalan raya bukan tempat buat para pecundang dan pengecut.

Salah satu mall di Makassar

Anak-anak kita tak punya tempat bermain selain ke Mall. Setiap hari libur hanya ada satu kata di bibir mereka. Ibarat robot yang telah terprogram. Setiap libur hanya mall dan mall yang mereka tuju. Mereka merengek minta diantar ke mall. Mereka merengek minta diajak bermain ke mall, mereka merengek bahkan untuk hanya sekedar jalan-jalan dan membuat otot kaki kita kaku kecapean.

Dan lantai-lantai mall yang dingin itu akan menjadi guru terbaik bagi mereka untuk makin mengentalkan faham konsumerisme dan kapitalisme pada otak anak-anak kita. Dinding mall yang berwarna warni kadang terbuat dari kaca bening yang tebal dan tinggi itu mengajarkan sesuatu kepada anak-anak kita. Saya takut kalau yang mereka ajarkan itu adalah kerakusan, egoisme dan individualisme. Dan mall itu makin dingin,angkuh dan tidak manusiawi lagi. Parasnya yang elok seakan mencibir pada gerombolan anak-anak berpakaian kumal yang mengaduk-aduk bak sampah dan menawarkan payung kala hujan turun di seputaran mall. Tapi anak-anak kita menikmatinya..

Hampir tak ada ruang luas yang murah bahkan gratis untuk mereka bermain. Hampir tak ada ruang yang luas yang memungkinkan mereka untuk berbagi dengan temannya yang lain,untuk belajar mengalah dan belajar menghargai perbedaan. Hampir tak ada ruang yang luas dengan rumput dan pohonnya yang hijau tempat untuk kami para orang tua yang sedang menunggui anaknya bermain untuk duduk santai di atas rumput dan menggunjingkan kelakuan pejabat yang makin binal dari hari ke hari. Tak ada ruang luas yang hijau dan teduh untuk kami mempelajari demokrasi yang murah atau malah gratis.

TPA-Biring Romang ( courtesy ; Ahmade.com )

Sementara itu di berbagai sudut kotaku, ibu-ibu masih sibuk menenteng jerigen-jerigen kosong berbaris dengan tak sabar di sebelah sebuah mobil tangki. Anak-anak kecil menangis bosan di gendongan ibu mereka. Wajah kusut para ibu adalah wajah murung kota kita. Di sudut lainnya, ibu yang lain kebingungan mencari sebuah tabung baja berwarna biru untuk masak siang ini. Warung terdekat memasang harga yang sangat jauh di luar batas kewarasan. Pemilik warung menjadi sangat sombong, lebih sombong dari artis yang dimintai tandatangan oleh para penggemarnya. Tanpa sadar dia telah mencontoh pejabat yang dulu mungkin pernah dibencinya.

Kalender baru saja diganti, tapi saya sudah tahu apa yang saya harapkan dari kota ini. Bukan poster besar dan spanduk lebar bergambar senyum sang walikota yang kami mau. Bukan kata-kata, ? masih Walikota kami yang terbaik ?, yang ingin kami dengar. Sudahlah, kami sudah bosan dengan senyum, janji dan manisnya bibir itu. Kami hanya ingin Makassar lebih manusiawi, agar saudara-saudara kita bisa merasakan dirinya sebagai manusia, sama seperti kita. Bukan hanya sebagai sampah yang hanya layak mengaduk-aduk bak sampah. Saya, kamu dan kita semua hanya ingin Makassar lebih manusiawi. Karena sesungguhnya kita cinta kota ini.

May 18, 2011 in Keliling Makassar, Opini, Sekitarku

Saya [pernah] Ngeblog

Saya pernah ngeblog ?

Dulu, para blogger setiap kopdar selalu bertanya : alamat blognya apa ? Sekarang : akun twitternya apa ?

Saya bergabung dengan komunitas blogger sekitar bulan Juni tahun 2007, beberapa bulan setelah untuk pertama kalinya punya blog. Seingat saya pada saat kopdar pertanyaan yang selalu diajukan adalah : alamat blognya apa ? Dan selalu ada daftar hadir di mana salah satu isiannya adalah : URL blog.

2006 dan kemudian dua tahun berikutnya blog adalah fenomena baru. Banyak orang yang jatuh cinta pada blog dan kemudian buru-buru bikin blog. Sepertinya bagi para aktivis dunia maya, blog adalah ikon pergaulan baru. Belum keren kalau belum punya blog.

Beberapa tahun kemudian, pergeseran mulai terjadi. Ada fenomena baru, namanya Facebook. Pelan-pelan para blogger kemudian lebih senang berinteraksi di Facebook. Apalagi mereka yang dasarnya memang hanya bikin blog untuk tempat curhat. Facebook jelas lebih mampu memenuhi hasrat curhat. Lebih praktis, login sekali dan tulis keluh kesahmu di sana dan voila !! seluruh dunia membacanya. Blog lebih repot, login dulu, cari link posting, tulis, tekan tombol publish dan itupun belum tentu langsung dibaca dan dikomentari orang. Lebih lama daripada Facebook tentu saja. Jadi, tidak heran kalau lebih banyak yang terjebak di Facebook.

May 16, 2011 in Blogging, Opini

Anda Berani di Ketinggian ?

dari ketinggian lantai 25 Aston Rasuna

Banyak orang yang takut ketinggian, meski mungkin belum bisa dikategorikan sebagai phobia. Saya salah satunya.

Gambar di atas saya ambil dari lantai 25 apartemen Aston Rasuna. Waktu mengambil gambar itu, rasanya saya lumayan merinding, apalagi pas menengok ke bawah. Lutut sedikit lemas dan ?maaf- lubang pantat serasa berdesir. Hiyyyy?!!

Terbayang bagaimana rasanya kalau sampai saya terpeleset dan jatuh berdebam ke tanah. Padahal tempat saya berdiri sudah cukup aman karena berada di teras yang dikelilingi pagar tinggi, tapi bayangan ketakutan itu tetap ada, bahkan kamera yang say a pegangpun saya genggam sekuat tenaga sambil talinya saya lilitkan di leher. Takut kameranya lepas dan jatuh ke tanah.

Saya bukan orang yang phobia pada ketinggian tapi terus terang saya juga bukan orang yang bisa santai di ketinggian. Yang paling menganggu itu adalah bayangan kalau sampai saya terpeleset dan jatuh ke tanah, ada jeda beberapa detik atau bahkan menit sebelum maut betul-betul menjemput. Aihhh, rasanya koq menyeramkan banget ya ?

Seingat saya ada dua pengalaman yang paling membekas sehubungan dengan ketinggian. Waktu main parasailing di Tanjung Benoa-Bali dan satu lagi waktu masih kerja di proyek Masjid Raya Makassar.

May 11, 2011 in Opini

Rencana Tuhan yang [selalu] lebih indah

Iqko, sukses memimpin acara di depan layar

Manusia berencana, Tuhan yang menentukan. Percayalah pada kata bijak itu.

Jumat sore sekitar jam 16:00 lebih, atau 3 jam sebelum acara puncak launching Firefox 4 Makassar digelar di De Luna Caf? dan Resto. Sebagian panitia masih bertumpuk di kamar 802 Hotel Shantika tempat Rara menginap dan dengan semena-mena kami jadikan sebagai base camp sementara karena tempatnya yang tidak begitu jauh dari De Luna.

Sebuah telepon masuk ke handphone saya, di layar tertera nama yang saya kenal. Adik teman sekantor yang sudah saya kontak untuk jadi salah satu pengisi acara di launching Firefox4 malam nanti. Telepon itu dengan segera memacing emosi saya. Dari seberang, si penelepon ngomong kalau dia tidak bisa tampil malam ini. “Tapi jangan kuatir,” katanya.” Saya ada teman yang bisa menggantikan. Cuma, kayaknya dia tidak bisa kalau tetap dengan harga segitu, dia bisanya dua kali lipat dari itu ”

What..???

Emosi saya dengan cepat memuncak sampai ke ubun-ubun. Bagaimana bisa dia mengabari kalau dia batal tampil hanya 3 jam sebelum acara ? Terus, bagaimana bisa dia bilang kalau ada penggantinya tapi tidak mau kalau dibayar segitu dan minta dua kali lipatnya ? Memangnya acara ini acara nenek moyangmu yang bisa kamu atur seenaknya ?

Dua hari sebelumnya saya sudah menelepon mereka dan dengan yakinnya mereka bilang siap untuk tampil. Soal harga mereka bilang tidak masalah. Jadi wajar dong kalau saya emosi pas mereka dengan seenaknya bilang tidak bisa tampil tapi merekomendasikan penggantinya yang bisa tampil dengan bayaran dua kali lipat. Sejuta prett..!!! untuk kamu, band kampunganmu yang sama sekali tidak profesional. Bagaimana bisa berkembang kalau modelnya kayak begitu ? seenaknya saja menyalahi perjanjian walaupun itu cuma perjanjian lisan. Manusia itu yang dipegang kata-katanya bukan ? Jadi kalau berkata-kata saja sudah tidak bisa dipercaya, apalagi yang bisa dipercaya ?

Saya sudah lupa kapan terakhir kalinya mengumpat dengan kalimat TA****O, itu umpatan yang cukup kasar untuk orang Bugis-Makassar, dan saya ? umpatan itu biasanya hanya keluar kalau saya benar-benar emosi. Seperti sore itu.

May 09, 2011 in angingmammiri
Mou Kena Batunya 7

Mou Kena Batunya

Gaya khas Mourinho

The Special One sudah berkoar di tiga negara berbeda. Kemampuannya dan mulut besarnya membungkam banyak pelatih senior. Tapi di Spanyol, dia kena batunya

Semifinal leg kedua Liga Champion Eropa di Camp Nou kota Barcelona. Mou tidak bisa mendampingi anak asuhnya menuntaskan misi yang hampir mustahil. Menang dengan lebih dari 3 gol atas Barcelona di kandang sang lawan agar bisa menjejakkan kaki di final.

Sayangnya, itu betul-betul jadi misi yang tidak mungkin. An impossible mission. Jangankan unggul dengan tiga gol, unggul satu golpun tidak. Beruntung mereka tidak sampai kalah dan hanya bermain imbang. Seminggu sebelumnya Mou dan anak asuhnya menelan malu di kandang sendiri, kalah 0-2 dari tamu mereka.

Mou mendarat di Santiago Bernabeu sebagai bagian dari kampanye ambisius sang presiden Real Madrid, Florentino Perez. Kedatangan Mou dianggap pelengkap untuk taburan bintang yang dihuni Christiano Ronaldo dan Kaka. Mou kemudian juga menggandeng Sami Khedira, Mezut Ozil dan Xabi Alonzo sebagai bagian dari ambisi besarnya menguasai Spanyol dan Eropa.

Mou sudah pernah membuktikannya di tiga negara berbeda sebelumnya.

May 04, 2011 in Sepakbola

Kota Ini Milik Kita, Kawan !

Suasana diskusi dengan pak Marco

Hari jumat, 29 April 2011 Anging Mammiri kedatangan tamu spesial. Pak Marco Kusumawijaya, seorang jurnalis, urban planner dan aktivis perkotaan. Banyak hal menarik yang kami seduh pada diskusi singkat dengan beliau.

Pertama kali saya bertemu pak Maro adalah pada bulan Oktober 2010 dalam sebuah workshop Unesco yang diadakan oleh HIVOS. Waktu itu beliau jadi moderator dan saya jadi peserta. Kami memang tidak sempat ngobrol banyak jadi tidak heran kalau beliau tidak kenal saya.

Malam itu beliau tetap tampil dengan gayanya yang santai dan humble, seperti yang pertama saya tangkap di bulan Oktober itu. Sama sekali tidak ada kesan sombong dan jaga jarak. Akibatnya diskusi berjalan santai dan menarik.

? Selepas perang kemerdekaan, hampir tidak ada satupun kota di Indonesia yang jadi lebih baik karena perencanaan. Kalaupun ada, itu biasanya karena kebetulan?, itu komentar awal pak Marco yang cukup mengejutkan. Sepertinya memang betul, sebagian besar kota di Indonesia memang malah menjadi makin ruwet karena sesuatu yang dinamakan perencanaan kota. Bahkan kota yang dulunya mungkin lebih nyaman saat masih di bawah kendali pemerintahan Hindia Belanda, sekarang malah rusak oleh orang kita sendiri.

Perencanaan tanpa pengetahuan yang solid lebih rentan untuk dilanggar. Ini memang menjadi sebuah kenyataan pahit yang terjadi pada hampir semua kota di Indonesia. Sebuah perencanaan awal biasanya akan mengalami perubahan yang sangat signifikan pada perkembangannya, tergantung kesepakatan pemodal dan pemerintah.

Kampanye

Kalender Post

May 2011
M T W T F S S
« Apr   Jun »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
3031  

Switch to our mobile site